Rasanya sungguh gugup, beruntung Harry memberiku coklat tadi pagi. Proses recruitment berlangsung dengan cepat. Orang-orang yang sudah keluar dari ruang wawancara menampilkan berbagai macam ekspresi. Ada yang terlihat senang, namun ada juga yang terlihat cemas. Hal lumrah yang membuatku semakin merasa tegang. Aku duduk di deret kursi tunggu paling akhir, sepertinya aku yang paling telat datang.
ting
Sebuah notif masuk ke dalam ponselku, dan bibirku refleks membentuk sebuah senyuman. Itu pesan semangat dari Harry.
“Tuan muda, jangan berlari sembarangan!”
Dari jauh, aku mendengar keributan. Terlihat seorang anak kecil yang tengah berlarian sambil berteriak dan menangis serta seorang wanita tua yang berusaha untuk mengejarnya. Aku refleks berdiri dan menangkap lelaki kecil itu. Beruntung aku tepat waktu, jika tidak, lelaki kecil itu pasti sudah semakin menangis karena terjatuh.
Matanya sembab karena habis menangis, dia melihatku lamat-lamat untuk beberapa saat. Namun yang tidak terduga, dia memelukku dengan erat, sambil menangis. Membasahi kemeja putih yang aku kenakan.
“Nak, jangan begitu. Sini, sama bibi ayo!”
Wanita tua tadi berusaha membujuk dengan nafas ngos-ngosan. Tatapanku masih terpaku pada punggung bocah kecil yang memelukku erat. Tanganku refleks mengelus punggungnya, lalu menatap wanita tua tadi. Ekspresinya terlihat tidak enak, dan merasa bersalah padaku.
“Maafkan saya nak, sejak tadi pagi…”
“Tidak mau, tidak mau, tidak mau!”
Bocah di pelukanku berteriak keras saat wanita tua tadi hendak mengambilnya. Aku semakin tidak tahu apa yang harus aku perbuat saat ini.
“Hey adik kecil, jangan berteriak ya! Ini di depan umum, apa kamu mau disalahkan karena sudah mengganggu pekerjaan di sini?”
Teriakan itu refleks berhenti, aku mengerti. Perlahan, aku melepas pelukannya, sekalipun sedikit sulit. Mata kami saling bertemu, dan bisa aku lihat bahwa bocah kecil ini begitu tampan, sungguh, aku tidak sedang melebih-lebihkan. Wajahnya putih bersih, terlihat jelas bahwa dia memang berasal dari keluarga kaya. Rambutnya pirang, serta bola matanya coklat terang. Dia, sepertinya keturunan darah campuran.
Melihat masih ada waktu, aku membawa bocah itu duduk di kursi. Menghapus jejak air mata di wajahnya, lalu mengeluarkan coklat yang tadi Harry berikan.
“Kau mau ini? Ini enak, dan…”
“Tidak, aku mau kakak. Jangan tinggalkan aku!”
Teriakan itu membuatku tertegun, tangan kecilnya, yang bahkan hanya setengah dari ukuran tanganku, menggenggam erat jari telunjukku. Matanya tertuju lurus padaku, dan menatapku dengan tatapan memohon. Ya Tuhan, gumamku dalam hati sambil menatap wajahnya yang luar biasa sempurna.
Namun, sebelum aku sempat mengatakan apa-apa, namaku sudah di panggil. Ini berarti sudah giliranku untuk wawancara. Orang-orang menatapku dan bocah kecil ini. Rasanya aku tidak ingin melepaskannya, namun aku harus pergi juga.
“Jangan kakak, jangan tinggalin Abi!”
Abi namanya, aku refleks mencium keningnya lama.
“Kakak mau wawancara dulu ya adik kecil, kamu baik-baik sama bibi itu. Jika tidak baik, maka kakak akan pergi!”
“Tapi…”
“Tidak boleh melawan, janji?”
Aku tahu berat untuk berjanji di saat dia merasa tidak nyaman. Tatapannya masih berkaca-kaca, dan tersirat permintaan agar aku tidak pergi meninggalkannya.
“Janji, tapi kakak harus kembali lagi. Aku akan menunggu kakak di sini!”
“Iya!”
Dengan begitu, aku bisa memasuki ruangan dimana beberapa orang tengah duduk disana sambil menatapku. Seorang gadis dengan wajah tegas, rahangnya sempurna, serta dibalut dengan dress branded menarik perhatianku, sebab dia tersenyum sebelum aku benar-benar memasuki ruangan.
Proses perekrutan berjalan dengan lancar, aku sedikit legah usai menjawab pertanyaan terakhir dengan sebaik yang bisa aku lakukan.
“Baiklah, terima kasih sudah datang wawancara hari ini, Nina. Kau bisa keluar sekarang!”
Aku tersenyum, lalu beranjak berdiri.
“Nina, tunggu dulu!”
Panggilan itu refleks membuat langkahku terhenti, aku berbalik dan menatapi Elisabeth–si pemilik wajah tegas itu–bangkit dari duduknya. Dia tersenyum ramah, seolah kami adalah sahabat lama yang sudah lama tidak bertemu.
“Ada apa, mam?”
“Panggil Elsa saja, tidak perlu terlalu kaku. Aku ingin bertanya, apa kamu ada hubungan sebelumnya dengan Tuan Muda Abian? Tadi, aku tidak sengaja melihat interakhir kalian. Sepertinya kalian sudah akrab, kalian ada hubungan apa?”
Aku tersenyum canggung, “Maaf sebelumnya Elsa, tapi kami tidak ada hubungan sebelumnya. Aku hanya tidak sengaja menangkap bocah itu tadi ketika hampir terjatuh, dan interakhir itu terjadi begitu saja!”
Wajah Elsa terlihat ragu, namun aku sudah mengatakan apa adanya.
“Benarkah? Berarti itu memang sebuah keajaiban, sebab Tuan Muda Abian tidak pernah mau disentuh oleh orang tidak dikenal, bahkan pamanya sekalipun. Dia sangat sensitif kepada orang. Aku hanya bertanya soal itu, silahkan melanjutkan kegiatanmu, senang berkenalan denganmu!”
Anggukanku mengakhiri percakapan dengan Elsa. Dengan buru-buru aku keluar, berharap bahwa bocah kecil itu masih menungguku, seperti apa yang dia katakan tadi. Namun, begitu aku berada di ruang tunggu, tidak ada siapapun di sana. Aku tersenyum sendiri, menertawakan kenaifanku. Menghela nafas, aku memilih untuk segera keluar, sebab hari sudah mulai gelap.
“Ayah, Abi mau ketemu kakak tadi!”
“Di bilang tidak, ya tidak, Abian. Kamu mengerti tidak, kalau bertemu orang asing itu seperti apa? Jangan melawan Ayah, jika tidak…”
“Akan apa? Apa ayah bakal ngurung Abi?”
Teriakan itu terdengar jelas ketika aku melewati salah satu ruangan di lantai 3. Liftnya rusak, jadi aku memilih untuk lewat tangga darurat. Namun, seorang pegawai mengatakan lift di lantai 3 bisa digunakan. Alhasil aku harus melewati beberapa ruangan untuk sampai ke lift. Teriakan tadi jelas-jelas adalah milik Abian, namun aku juga mendengar bahwa dia meneriakkan nama ‘ayah’.
“Kakak tadi baik ayah, Abi pengen ketemu kakak.”
Langkahku yang hendak berlalu kembali terhenti.
“Abi, kenapa kamu sangat keras kepala akhir-akhir ini. Apa kamu tau ayah banyak kerjaan juga? Jangan buat ayah semakin pusing dengan tingkahmu ini!”
Hiks. Suara isakan yang juga terdengar jelas. Aku bergetar di tempat aku berdiri, mendengar pembicaraan orang lain adalah sebuah kejahatan, aku tahu akan hal itu. Ingin aku berlalu dengan segera, namun entah kenapa, kakiku terasa berat untuk meninggalkan tempat pijakanku saat ini.
“Hey, jangan menangis. Ayah…ayah minta maaf, sayang. Tapi, kakak yang kamu bilang pasti sudah pulang juga, ini sudah malam. Sebaiknya kita pulang juga ya. Kenapa…kenapa kamu bisa suka dengan kakak yang kamu maksud itu?”
Kakiku semakin melangkah mendekati pintu. Beruntung ada sedikit celah yang membuatku bisa melihat bahwa sosok anak kecil memang adalah Abian. Tapi, Ya Tuhan, lelaki yang tengah berdiri di hadapan Abian itu. Bibirku mendadak kelu, tubuhku mendadak sangat lemas.
Berkali-kali aku mengucek mataku untuk memastikan bahwa penglihatanku tidak salah. Namun, lelaki itu nyata. Bahkan interaksi mereka begitu nyata. Dadaku tiba-tiba terasa sesak, kenapa…kenapa aku harus mengetahui bahwa Abian adalah putranya? Kenapa?
Bug
Keterkejutanku mendadak digantikan dengan rasa takut saat aku menjatuhkan botol minum. Aku melihat bahwa kedua orang di dalam ruangan itu juga mendengarnya. Dengan segera aku berlari menuju lift yang kebetulan terbuka setelah mengambil botol minumku. Dengan langkah gontai, aku berlari di lobby.
Ya Tuhan, aku masih tidak siap dengan kenyataan ini. Tapi, kenapa harus sekarang, kenapa aku harus melihatnya?
“Nina?”
Panggilan itu mengalihkan perhatianku, aku menatap Harry yang melambai-lambaikan tangannya di seberang jalan. Segera aku menyebrang dan menaiki motornya, tanpa mengatakan apa-apa.
“Wajahmu pucat, ada apa?”
“Tolong segera lajukan motormu, Harry. Aku sedang tidak ingin ditanya!”
Motor Harry melaju usai aku mengatakan hal itu. Tanpa disadari, sepanjang jalan air mataku ternyata mengalir. Tuhan, aku masih tidak tahan dengan kejutan dariMu. Selama ini, aku bisa berpura-pura kuat karena tidak melihat Dia, tapi kenapa di saat hatiku sudah mulai membaik, aku kembali dipertemukan dengannya?
Sakit…terlalu berat, aku ingin menyerah Tuhan.