Begitu tersadar, hal pertama yang Rinaldy lihat adalah wajah putranya—Abian. Anak kecil itu tengah tertidur tepat di sebelahnya, menggenggam erat tangannya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi hari. Suara burung-burung bahkan terdengar di luar. “Ayah?” Suara serak itu menyadarkan Rinaldy dari lamunannya. Mata Abian yang masih setengah terbuka menatapnya dengan sebuah senyuman. Rinaldy ingat hari ini hari apa, dia lekas memeluk tubuh kecil itu, dan tidak sadar jika air matanya sudah mengalir lagi. Itu adalah sesuatu yang tidak bisa Rinaldy kontrol dalam hidupnya. Dia tidak akan pernah ingat, dan tidak bisa melupakannya sama-sekali. “Ayah….ayah kenapa menangis?” “Tidak ada…” Rinaldy menghapus jejak air matanya, “hari ini mau ketemu sama mama tidak?” Dengan semangat Abian naik ke

