Rinaldy memandangi tembok di depannya dengan tatapan kosong. Seolah tidak ada kehidupan di sana. Jhon yang baru tiba menghela nafas, perlahan mendatangi putranya itu. Infus terpasang di tangannya lagi. “Nak!” “Ayah?” Rinaldy tersenyum, memberikan sapaan hangat. Dia melamun sehingga tidak sadar jika ada yang memasuki ruangannya, “ada apa?” lanjut Rinaldy saat Jhon duduk di kursi dekat dengan ranjangnya. Butuh beberapa menit bagi Jhon untuk menenangkan pikirannya yang kini berkeliaran tanpa ada jalan keluar. Menatap Rinaldy yang terlihat sudah sangat pasrah membuat Jhon kasihan. Keluarga putranya itu memang tidak diberikan jalan yang mudah. “Ada yang ingin ayah sampaikan padamu, ini mengenai masa depan kalian.” “Masalah bayi kami?” Jhon sedikit terkejut bahwa Rinadly berpikiran sampai

