Kecemburuan memang tidak hinggap di hati Helio melihat istrinya bersama laki-laki lain. Tapi, entah apa yang membuat dadanya kian riuh. Ada semacam hal yang bahkan laki-laki itu sendiri tidak tahu cara menjelaskannya.
Sederhananya begini, Helio tidak cemburu. Tapi, juga tidak suka melihat Kiara mengapit lengan laki-laki itu. Yang Helio akui, jika dia kalah jauh darinya.
Lain halnya dengan Anna, tiap kali melihat Kiara, wanita itu merasa panas. Padahal, suami Kiara pun selalu berada di bawah kendalinya.
Reuni kali ini, sepertinya tidak berpihak pada pasangan kekasih Helio dan Anna. Sebab sepanjang acara berlangsung, batin kedua gundah gulana.
Terlebih bagi laki-laki yang sudah dua tahun menjadi suami Kiara, setelah lampu utama dipadamkan, dalam keremangan, matanya menangkap Kiara dan laki-laki asing itu berdansa begitu mesra. Entah kejutan apa yang menanti. Entah ide siapa yang tiba-tiba memberlakukan agenda dansa.
Dansa dalam reuni mereka kali ini, memang bukan suatu keharusan, bagian ini hanya diperuntukkan bagi siapa saja yang ingin melakukannya. Terbukti hanya beberapa pasangan saja. Sementara Helio dan Anna, hanya salah satu penonton saja.
"Kenapa Tuan, mengajakku berdansa?" tanya Kiara yang terus bergerak sesuai irama musik yang tengah berputar.
"Sudah kepalang basah. Jadi, sekalian mandi saja."
"Maksudnya?" tanya Kiara sesaat setelah tubuhnya berputar dan disambut pasangan dansanya.
"Kamu sudah mengajakku ke sini, jadi sekalian saja kunikmati apapun yang disediakan. Ngomong-ngomong ini acara reuni apa? Sekolah?"
"Teman-teman kampus."
"Eum. Nona."
"Ya, Tuan."
"Aku ingin berkenalan. Tapi, sebelumnya, aku ingin berkata kalau kau cantik sekali malam ini. Di antara semua teman-teman wanitamu, kuperhatikan kau yang paling bersinar," bisik laki-laki itu terdengar mesra dekat telinga Kiara. Tapi, bagi wanita itu terdengar biasa saja.
"Terima kasih atas pujian Anda, Tuan. Entah itu sungguh-sungguh atau hanya sekedar bualan, sama sekali tidak terdengar spesial di telingaku. Kau tidak tahu apa yang terjadi padaku sebelum kita bertemu. Hatiku baru saja mati sesaat sebelum bertemu denganmu."
Laki-laki bermata coklat terang itu tertohok mendengar jawaban pasangan dansanya. Menit kemudian, otak jeniusnya menyimpulkan satu hal. Bahwa wanita di depannya itu memiliki maksud tertentu mengajaknya kemari.
"Tidak masalah kalau kau tidak percaya, Nona. Tapi, yang baru saja kukatakan bukan omong kosong. Aku tidak tahu wanita mana yang telah menyakitimu di ruangan ini, tapi, satu hal yang perlu kau ingat. Aku yakin, saat ini wanita itu tengah menatap iri padamu."
Sangking dekatnya posisi mereka, bahkan hangatnya nafas laki-laki itu dapat dirasakan oleh Kiara.
"Siapa namamu, Tuan? Bukankah kita ingin berkenalan?"
Wanita bermata amber itu sengaja mengalihkan pembicaraan, meski dalam hati dia berharap jika apa yang baru saja laki-laki itu katakan akan menjadi kenyataan. Dia ingin Anna merasa iri. Meski hanya untuk saat ini saja.
"Jacob Ismail Geraldino. Kau bisa memangggilnya Jacob," bisik Jacob terdengar seksi. Laki-laki itu hampir larut dalam riuh rendah musik yang sedang mengalun menemani gerakan mereka.
"Terdengar keren. Aku Renjana Kiara. Cukup panggil Kiara, kalau Tuan ingin menyapa saat kita bertemu di lain waktu."
"Tentu saja aku akan menyapa. Tapi, ubah dulu panggilanmu itu, Nona."
"Hehe. Sorry, aku belum terbiasa memangggilmu dengan nama."
Sepanjang acara berlangsung, Kiara lewati dengan kebahagiaan, apalagi saat Jacob menyuruhnya memperkenalkan dirinya sebagai kekasihnya pada teman-teman Kiara.
Semua berlalu di luar yang Kiara bayangkan. Jacob dengan sikap dan perhatiannya sampai membuat Kiara lupa dengan kehadiran Helio di antara mereka.
Baru kali ini Helio terabaikan. Hingga tanda tanya besar muncul dalam hati laki-laki itu. Kiara yang dikenalnya sosok yang bucin dan selalu menunjukkan sinyal kecemburuan ketika melihatnya bersama Anna. Bukan seperti yang dilihatnya malam ini. Menurut Helio, itu bukan Kiara.
.
Helio, Kiara dan Anna, bersahabat dari semester pertama masa perkulihan mereka. Berbeda dengan Kiara yang merupakan anak tunggal dari pemilik bisnis real estate terbesar di negaranya, Anna dan Helio berasal dari keluarga sederhana. Namun begitu, tak sedikitpun Kiara keberatan untuk berteman dengan mereka.
Dan seiring waktu. Melihat Helio sebagai sosok baik yang perhatian, dalam hati Kiara perlahan timbul sebuah rasa. Namun, tertahan dalam diam, meski kian hari kian menyiksa. Wanita itu tidak ingin menghancurkan persahabatan yang selama ini terjalin.
Namun, pada suatu hari, Helio dan Anna telah membuat semuanya porak-poranda. Mereka mengumumkan tentang hubungan spesial keduanya pada Kiara.
Tidak ada yang tahu bagaimana perasaan Kiara saat itu, hatinya hancur jutaan keping. Hingga akhirnya, setelah masa studi selesai, dia memutuskan pergi jauh demi persahabatan yang sudah terjalin tidak hancur sia-sia.
Biarpun setelah hari di mana Helio dan Anna mengumumkan status mereka, Kiara mulai tersisihkan. Semuanya tidak lagi sama. Dan wanita itu hanya mampu menangis dalam diam. Lalu, menepuk-nepuk d**a ketika sedang sendirian. Sesak.
Itu yang Kiara rasa.
Atas izin orangtuanya, Kiara malang itu akhirnya bertolak ke Perancis, melanjutkan sekolah fashion, sembari membunuh cinta terlarang yang kian hari kian bertumbuh.
Setelah dua tahun berakhir, Kiara kembali dengan bekal pengetahuan tentang fashion yang dibawanya, wanita itu memutuskan untuk membuka butik, tentu saja dengan sokongan material dari orangtuanya. Tuan Aimantino dan Nyonya Angelina.
Mengetahui sahabat mereka telah kembali, Anna dan Helio mengajak bertemu. Merajut kembali hubungan persahabatan yang sempat merenggang, ceritanya. Yang tanpa mereka sadari Kiara kembali sakit dalam keterdiaman.
Cinta itu belum sepenuhnya pergi. Melihat keseharian Helio dan Anna, Kiara tersiksa kembali. Beruntungnya, wanita itu cukup tangguh menyembunyikan semuanya. Tersimpan begitu rapi hingga tidak ada yang tahu rasa sakitnya.
Namun, suatu hari sebuah petaka mulai terjadi. Tepatnya saat Helio dan Anna meminta Kiara untuk menemani mereka untuk bertemu ibu Helio. Meminta restu untuk menikahi Anna.
"Aku lebih menyukai wanita yang ikut bersama kalian tadi, untuk menjadi istrimu, Helio."
Door!
Helio bagai dihantam palu godam. Berbagai cara laki-laki itu usahakan untuk membujuk ibunya. Namun, tidak membuahkan hasil.
"Ibu sangat menyukai wanita bernama Kiara itu.Pembawaanya anggun, dia juga ramah dan baik. Dia bahkan bersedia membantu ibu di dapur, tidak seperti pacarmu yang sibuk menempel padamu seperti lem sepanjang hari."
"Tapi, Bu. Dia itu anak orang kaya. Tidak sepadan dengan kita."
"Kita coba untuk melamarnya dulu, setelah itu baru kamu ambil kesimpulan. Tidak semua orang kaya peduli dengan status sosial."
"Tapi, Bu, bagaimana dengan Anna?"
"Helio, Ibu rasa umur Ibu tidak lama lagi. Jadi, Ibu mohon, turuti permintaan terakhir Ibu, ya."
Mendengar Ibunya berkata seperti itu, Helio hanya bisa pasrah, terlebih kondisi kesehatan wanita paruh baya itu akhir-akhir ini sedang tidak baik.
Sementara Bu Zulaikha, punya maksud tersendiri mendesak anaknya untuk menikah dengan Kiara.
Bu Zulaikha tidak ingin putranya salah pilih pasangan hidup. Sebab pernah suatu hari di depan sebuah swalayan, tanpa sengaja Bu Zulaikha melihat Anna tengah memarahi seorang wanita tua yang tidak sengaja menabraknya.
Aduh, kalau jalan lihat-lihat, dong!"
"Maaf, Nak. Saya benar-benar tidak sengaja."
"Makanya punya mata itu dipake. Lagian udah tua bukannya duduk di rumah, malah berkeliaran di luar, bikin susah aja!"
Bersambung ...