19. Sean VS Yuujin

3605 Kata
Lutfian menatap kosong lelaki yang telah menghilang dibalik pintu lift. She is not yours! Mood Lutfian memburuk. Dengan cuaca dan suasana hati yang memburuk, Lutfian tidak bisa memaksakan diri untuk pergi menuju alamat yang diberikan. Terlebih lagi bagaimana dia bisa datang tanpa Mio? Dengan ekspresi terluka Lutfian memasuki kembali apartemen. Yang Lutfian tidak mengetahui adalah sosok gadis kecil bermata biru lembut persis seperti miliknya berdiri di depan pintu apartemen. Memandang sayu punggung Lutfian. Berganti menatap lift apartemen, sosok gadis kecil itu perlahan menghilang. Meninggalkan apartemen Lutfian, suasana beku tidak jauh beda di dalam Limosin hitam yang menembus jalanan kota Los Angeless. Mio duduk kaku di belakang hampir seperti tikus kecil bersembunyi. Berharap dapat menghilang daripada harus merasakan aura mencekik dari sosok di sebelahnya. Sean dengan setelan jas hitam dan sorot mata tajam menatapnya, membuat Mio mengkerut takut. Dan hal itu juga dirasakan oleh supir di depan. Penghangat mobil telah dinyalakan, namun Supir merasa justru pendingin yang bekerja. Mengintip dua sosok yang duduk di belakang mereka, Supir tidak bisa membantu merasa kasihan pada calon nyonya masa depan mereka. Dia terlalu rapuh. Bersanding dengan sosok mendominasi tuan mudanya. Jika Mio tahu apa yang dipikirkan supir, bisa dipastikan gadis itu akan langsung berdiri dan berteriak mengatakan dia bukan 'calon nyonya tuan muda!' Namun sayang saat ini gadis itu masih berkonflik dengan sikap Sean yang menakutkan. Dia seolah merasa bersalah karena ketahuan berbuat asusila. Selingkuh? Tunggu! Mata Mio mengerjap.Kenapa dia harus takut? Kenapa dia merasa bersalah? Mio sadar. Bukankah hubungan mereka bukan apa-apa ? Bukankah dia dan Sean hanya sebatas hubungan kerja. Setelah memikirkan hal itu seperti disuntik darah ayam (idiom china artinya booster) rasa takut Mio langsung menghilang begitu saja. Dia menengok Sean. Kini lelaki itu tidak lagi menatapnya. Dia hanya memainkan tab di pahanya. Tidak jelas apa yang lelaki itu lihat, namun raut wajah dingin dan kerutan di dahinya membuat penampilan Sean makin tidak terjangkau. Nyali Mio mendadak kempis kembali. Duduk manis merapat di dekat pintu mobil mencoba menyamarkan keberadaannya. Tidak disadari Mio, meski terlihat memainkan tab ditangannya, namun mata Sean dengan jeli mengawasi setiap gerak gerik gadis kecil disampingnya. Sean tidak tahu apakah harus marah atau tertawa melihat tingkah gadis itu. Merapat ke dekat pintu mobil menjauh darinya? Berusaha menyembunyikan diri? Dia bahkan seperti kucing kecil ketakutan. Jika itu dulu ketika Mio melakukan hal yang sama dengan penampilannya , maka Sean akan dengan tegas mengatai Mio 'babi merah bodoh' karena pipi chubby nya yang selalu tidak berhenti mengunyah, penampilan sembrono, hanya berhias ketika bekerja, dan pendendam. Namun kini Sean memandangi gadis di sampingnya yang kini menunduk sambil memainkan tangan kecilnya. Gadis itu kini berubah. Wajah chubby nya mengempis menjadikan pipi tirus menawan. Hidungnya tidak mancung namun mungil seperti kucing menggemaskan. Rambutnya lebih panjang dibandingkan dua bulan lalu dan di cat cokelat terang, sedangkan kulitnya kini lebih cerah dan halus hingga membuat siapapun yang melihatnya gatal untuk menyentuhnya. Jika melihatnya seperti ini, wajah ketakutan Mio justru terlihat seperti 'kucing manis' yang ketakutan. Sean terlihat tidak tega. Namun setelah mengingat bagaimana gadis itu bermalam dengan lelaki asing tanpa mengabari secara sengaja, menjadikan unit tim khusus investigasi melacak, membuat darah Sean kembali mendidih. Pada akhirnya Sean hanya mendengus memalingkan wajahnya. Jika dia melihat terus, Sean takut dia menjadi lunak. "Hm?" Mio menoleh. Melihat Sean menatap jendela, dia kembali menunduk. Apa cuma perasaanku saja Sean terlihat melihatku? Suasana tetap tenang hingga sampai pada penthouse. Tidak seperti biasanya ketika Sean akan membukakan pintu dan membimbing Mio turun. Namun kali ini Sean turun seorang diri setelah supir membukakan pintu. Tanpa mengucapkan sepatahpun pada Mio. Mendadak Mio merasa hatinya sedih. Bukan sakit hati, lebih pada rasa takut. Jatah bulananku apakah akan tetap jika dia marah? menunduk sedih menyeret kakinya turun dari mobil. Gelagat seperti itu jelas terlihat oleh supir. "Nona tidak perlu kuatir." "Eh?" Mio mendongak menatap supir yang terlihat tua. Supir ini terlihat seperti orang Asia. Apakah Sean membawanya dari Indonesia? Bahasa Indonesianya juga bagus. "Saya Dirga. Supir utama keluarga Guan. Maaf sebelumnya nona, tuan muda mungkin hanya merasa lelah. Tuan muda melakukan penerbangan malam dan baru sampai fajar. Saat itu tuan muda langsung memilih menjemput nona." "Sean langsung menjemputku?" Mio terkejut. Mio mengira Sean telah berada di LA kemarin dan menjemputnya setelahnya. Tidak menyangka dia akan langsung menjemputnya begitu sampai dari bandara. "Saya akan masuk dulu nona. Nona juga harus masuk. Salju sangat dingin hari ini." "Ah? Ya..." Mio termenung di samping mobil. Jika dia tadi merasakan rasa takut akan kehilangan uang , maka saat ini dia merasa bersalah. Entah karena apa. Menatap Dirga yang membuka bagasi dan menurunkan barang-barang, Mio memiliki perasaan rumit. Tapi Mio bertekad, mungkin dia akan meminta maaf. Mungki jika saja sosok gadis kecil tembus pandang tidak datang tiba-tiba membuat Mio melompat ketakutan. *** "You!" Mio segera menutup mulut dengan kedua tangannya. "Ada yang bisa saya bantu nona?" Mio sadar bahwa Dirga masih di sekitarnya. Dengan dia berteriak tentu menimbulkan pertanyaan. Menggeleng cepat Mio tersenyum canggung, "tidak ada. Aku akan masuk dulu." "Hm?" Dirga menatap calon nyonya mudanya bingung. Namun tidak mengatakan apapun mendapati Mio memasuki penthouse. Mio disambut oleh dua orang pelayan ketika memasuki penthouse. Dia langsung diberi handuk hangat dan dibimbing untuk memasuki kamar mandi dengan air hangat yang telah disiapkan. Jika ini hari biasa, Mio akan sangat menyukai hal yang berhubungan dengan mandi. Namun kini tidak! Dengan kepala buntung Maudy yang menatapnya marah. "Kalian dapat keluar. Saya akan melakukan sendiri." Mio mengusir dua pelayan yang biasa mendandaninya. Mio tidak gila untuk membiarkan dua pelayan ini melihatnya berbicara seorang diri. Setelah kepergian kedua pelayannya, memastikan mereka sudah jauh, Mio langsung berbalik menatap Maudy. "Ada apa dengan penampilanmu?Kau ingin aku mati terkena serangan jantung?" "Kau pembohong!" Maudy terlihat melotot. Kali ini penampilan mania Maudy menghilang tanpa bekas. Hanya menyisakan kepala putus dengan raut wajah marah dan tangan kecil yang menentengnya. Sial! Demi apapun meski sudah sering melihat hal seperti ini tetap saja penampilan luar dari biasa itu menakuti Mio. Apalagi dengan darah seolah menetes meski tanpa bekas di lantai. "Aku tidak berbohong. Kau tau Sean datang tiba-tiba. Kau juga tau saat itu kami sudah bersiap untuk melacak alamat yang kau berikan." Mio membela diri. "Mari bicara baik-baik. Pasang kepalamu sebelum bicara!" "Oh? Maudy lupa." Dengan tampang polos Maudy seolah baru menyadari bahwa kepalanya tidak berada di tempatnya. Dengan gerakan sangat cepat gadis itu memasang kembali kepalanya. Lupa kepalamu! Kau hampir membuatku mati terkejut dan kau hanya mengatakan lupa! Mio ingin mengutuk, namun dia sadar disini dialah yang bersalah. Jadi dia hanya bisa menelan kembali kata-katanya. "Sudah." Maudy menampilkan senyum manis. Namun seolah sadar bahwa dia sedang marah, dia kembali melotot. Melihat bagaimana tingkah hantu kecil itu Mio bingung apakah dia harus tertawa atau menangis. Bagaimanapun dia memang masih anak-anak. Bahkan hantupun memiliki psikologis yang sinkron dengan umur kematiannya. "Kau berbohong! Kau membiarkan kakakku sedih!" "Sudah kubilang aku tidak berbohong. Seanlah yang menjemputku sebelum kami berangkat. Tapi aku janji aku akan menghubungi Lut besok." "Apakah benar?" Melihat Maudy memiringkan kepalanya dan mengerjap, Mio langsung terkekeh. "Sungguh!" Mio berjanji. "Oke. Maudy akan datang kembali besok. Jika Mio berbohong, Maudy akan mengutuk Mio!" Setelah mengatakan hal itu sebelum Mio sempat membalas, tubuh Maudy sudah menghilang. Mio mengerang frustasi. Kenapa dia sial? Sean yang menyebabkan tapi dia yang dikutuk? Betapa adil dunia! ? *** Persuit Hotel room Los Angeles. "Yuujin sama, mobil telah saya dapatkan sesuai pesanan anda. Sport, silver metalik, dan tentu saja itu sewa." Alis Yuujin berkerut, " apa aku menyuruhmu menyewa? Aku tidak kekurangan uang." Hiroshi ingin menangis saat ini, selain hidup terlalu lama dan kelebihan aneh- tuannya tidak tahu apa-apa tentang tata cara dunia bergerak pada saat ini. Lebih buruk lagi temperamen tuannya jika mengenai cucu kesayangannya sungguh selalu over. "tuan ini bukan masalah uang. Kita harus menunggu minimal satu minggu untuk mobil agar dapat kita kendarai. Mobil sport memiliki serangkaian surat yang harus ditandatangani - jadi saat ini saya hanya bisa menyewa." Hiro menjelaskan sungguh-sungguh. Berharap tuannya tidak merasa tidak senang. "Oh? Bukan karena kekurangan uang?" "Tentu bukan!" Jawab Hiro. Siapa yang akan kekurangan uang jika kamu hidup lama seperti vampir dan mengumpulkan emas seperti goblin? Yuujin akhirnya mengangguk. Tapi tetap mengatakan hal yang membuat Hiroshi ingin menangis, "tapi untuk cucuku tetap saja aku tidak bisa memberikannya mobil sewa. Bagaimana jika kucing kecilku menyukainya? Aku tidak bisa memberikannya karena sewa. Dia itu kurcaci kecilku yang menyukai uang dan barang bagus." Hiroshi meratap. Huhu...saya kini tau bagaimana Mio sama memiliki sifat. "Kalau begitu saya akan mengembalikan mobilnya. Namun tuan, untuk membelinya anda harus ikut dengan saya." "Aku tidak suka dilihat kerumunan. Tidak sepertimu yang memiliki wajah standar sedikit kebawah, tapi Aku terlalu tampan." Lalu Hiroshi ingin sekali memukulkan kepalanya ke dinding. Bisakah anda tidak membuat hati saya berdarah? Yuujin sama sekali tidak terganggu ekspresi sembelit bawahannya. Pandangannya justru terbawa pada bola kristal di tangannya yang berkedip samar. Hanya beberapa saat melihat, seringai kecil muncul di bibirnya. "Aku benci ketika lelaki botak penyembah budha membuka segel pelindung cucuku. Tapi aku lebih benci lelaki tak tahu diri itu mengganggu kucing kecilku." Hiroshi memiringkan kepalanya tidak mengerti. Kadang, ada saat Yuujin akan berbicara hal yang tidak dia mengerti. "Segera urus hal itu. Saat ini aku akan melakukan hal lain. Saat aku datang aku ingin semua beres." "Eh?" Hiroshi belum bisa menjawab namun tuannya sudah menghilang dari pandangan. "Tuan! Apa yang harus saya urus??!!" Saat ini Hiroshi ingin sekali segera mewariskan 'kehormatan' melayani tetua Nakamura pada cucunya. Kenapa tuanku makin eksentrik? *** Sinar putih datang dengan kecepatan tinggi turun dan menetap di salah satu atap kastil megah mawar berduri. Sosok lelaki tegap muncul dari balik cahaya. Rambut peraknya berkibar oleh angin musim dingin nyaris tidak dapat dibedakan dengan butiran salju yang menumpuk. Menjejakkan kakinya diatas genting-sosok itu pertama kali memandang hamparan mawar putih yang masih mekar diantara tumpukan salju. Bibir lelaki itu tertarik. "Oh?" Dengan satu loncatan tunggal, lelaki itu melompat ringan yang anehnya dapat mendarat dengan ringan. Hampir tidak meninggalkan jejak kaki di salju seolah tubuhnya hanya mengambang. Jelas dia adalah Yuujin. Yuujin menatap pintu kokoh di depan matanya. Iris matanya yang semula biru, kini telah berubah warna merah dan hijau toska. Berjalan ringan menuju kastil. Namun sebelum dia mencapai pintu, sosok lain keluar dari balik pintu. Rambutnya berwarna campuran yang didominasi putih. Sepasang mata onyx dan wajah pucat menatap Yuujin datar. "Oh? Kau sangat baik dengan menyambut kedatanganku, Shu." *** Los Angeless--Guan Penthouse Mio merasa tertekan. Para pelayan masih melayaninya dengan baik. Namun dia makan sendiri, menonton televisi sendiri, berbicara sendiri? Oke Mio mulai tidak waras. Ini karena dia merasa dia sedang dihukum oleh Sean. Dia didiamkan meski lelaki itu datang. Mio benci hal itu. Lebih sebal lagi dia seperti diasingkan setelah Philip membawa Miss Han keluar. Tidak membiarkannya bermain dengan kucing jantan itu. Karena terlalu bosan dan Mio juva perlu melakukan sesuatu untuk besok, Mio memutuskan untuk mencari Sean. Berjalan seperti pencuri, Mio menanyai para pelayan dengan berbisik keberadaan Sean. Lalu setelah mengetahui dimana lelaki itu, Mio tidak lagi menunggu untuk naik menuju ruang kerja dengan langkah pelan. Berhatap Sean tidak kabur menghindarinya . Malangnya, Mio tidak menyadari bahwa sepelan apapun langkahnya, dia tidak akan bisa melewati mata Sean. Karena saat itu lelaki itu terlibat sedang menatap tab miliknya dan disana terlihat semua gerak-gerik Mio. Sean mengangguk puas. CCTV baru memang membantu. Dengan santai lelaki itu terus mengamati Mio. Kini gadis itu sudah di depan pintu namun tidak segera masuk. Mio tampak mondar-mandir. Lalu kemudian menggaruk dinding, setelahnya gadis itu membenturkan pelan kepalanya ke tembok. Semua tingkah konyolnya itu jelas membuat Sean yang memiliki sedikit amarah menguap begitu saja. "Gadis konyol." Sean mengangkat sedikit bibirnya. Suara ketukan pintu terdengar. Itu jelas Mio. Sean mengamati bagaimana wajah Mio yang terlihat sembelit. Sean meluruskan kembali wajahnya sebelum mulai berbicara. "Masuk." Saat berbicara, Sean tidak lupa menutup kembali aplikasi cctv tab. Tak lama kepala kecil kucing kecilnya terlihat. Bukan memasang wajah sembelit lago, kini Mio menampakkan senyum polos merayu. "Sean kamu di sini?" Sean menaikkan satu alisnya. Apakah gadis ini perlu kacamata? "Kamu perlu aku membelikan kacamata?" "Eh? Kenapa?" Mio jelas bingung. "Sepertinya kamu membutuhkannya dengan pertanyaanmu tadi." BADAS! Ingin mengutuk Sean begitu mendengar jawaban sadis lelaki itu. Dalam hati Mio mengeluarkan serangkaian kutukan namun setelah melihat wajah Sean...Lelaki itu jelas menggambarkan penampilan Agung-tampan-galak-iblis-sexy-eh? Melihat Sean seperti itu entah kenapa yang keluar dari bibir Mio menjadi hanya tawa palsu sangat jelas palsu. "He-he." "Hm?" Sean menatap Mio tanpa ekspresi. Seolah dia menunggu Mio berbicara. Mio menggigit bibirnya. Memilin-milin ujing gaun tidurnya kebiasaan saat dia gugup. "Maaf." Mio mencicit. "Aku tidak mendengar." Sialan! Mio mengutuk. "Aku minta maaf." Mio menaikkan suaranya. "Untuk?" Mio merasa ingin menelan Sean saat ini juga. Dia mengangkat kepalanya hanya untuk melihat Sean yang juga menatapnya. Ketika melihat wajah Sean, Mio baru menyadari bahwa ada dua kantung mata yang pekat di kedua mata Sean. Wajahnya pucat dan dia tampak sangat lelah. Melihat kenyataan di depannya membuat amarah Mio langsung menguap. Apakah dia tidak tidur baik karena mencemaskanku? Dia bahkan langsung menjemputku setelah sampai LA. "Sean aku salah. Seharusnya aku memberitahukan terlebih dahulu jika aku baik-baik saja." "Jadi kamu sadar kamu salah?" "Iya." Mio menunduk " kamu sengaja terlambat menelepon meski kamu bisa?" "Iya." Kepala Mio makin menunduk. "Dan kamu dengan bodoh menginap di lelaki asing?" "Kalau itu kamu juga termasuk asing dan aku juga menginap disini." "Apa?" Sean melotot. Melihat hal itu Mio buru-buru menunduk takut. " iya aku salah," "Kamu harus ingat...bla...bla" Kali ini Mio tidak menjawab hanya mendengarkan Sean yang menurut Mio seolah menjelaskan rumus persegi. Panjang kali lebar. Dia memainkan liontin biru safir yang dipakainya sambil menahan rasa kantuk meski hari masih pagi . "Kamu mengantuk?" "Iya eh tidak!" Mio meralat. Namun jelas Sean dapat melihat gadis itu berbohong. Wajahnya jelas-jelas menunjukkan sebaliknya. Sean ingat apa yang dikatakan mama Mio bahwa gadis itu sangat menyukai tidur. Tidur siang, tidur di waktu hujan, dan tidur lama di hari libur. Salju telah turun sejak beberapa hari yang lalu dan jelas gadis itu mendambakan tempat tidur. "Kemari." Sean memerintah. "Apa?" "just do it." Mio terlihat ragu. Namun karena Sean menampilkan wajah dingin, Mio hanya bisa menurut. Mio maju beberapa langkah untuk sampai di depan Sean. Dia memandang Sean penuh tanya. Melihat Sean duduk di meja kerjanya dengan tampilan kemeja dan sweater hitam dari dekat -Sean terlihat santai dan menawan. Dia lebih terlihat generasi kedua artis dibandingkan pewaris keluarga Guan. "Ada ap Ach!" Tubuh Mio mengambang di udara. Bukan terbang, tapi tubuhnya dengan mudah diangkat oleh Sean tiba-tiba. "Apa yang kamu lakukan?" Mata Mio melotot. Baginya interaksi seperti ini hanyalah untuk pasangan. Bukan mereka tentu saja! Sedangkan reaksi Sean jauh lebih buruk mendengar pertanyaan Mio. Apa yang dia lakukan? Sean tidak bisa menjawab. Dia hanya melakukan hal ini karena insting. Dia marah melihat Mio ternyata ditolong oleh Lutfian. Dia marah karena gadis ini begitu bodoh untuk tinggal di rumah Lut. Sean memiliki gangguan obsesif. Dia tidak pernah mau berbagi apa yang menjadi miliknya. Karena marah, Sean secara otomatis akan memenjarakan 'barang miliknya' agar tidak terlihat orang lain lagi atau di inginkan yang lain. "Turunkan Auw!" Kali ini tubuh Mio terjatuh di atas tempat tidur one Size yang berada di ruang kerja. "Kenapa kamu membantingku?" "Kamu meminta turun." Mio tidak dapat menjawab. Mio baru saja ingin bangun ketika tubuhnya kembali diturunkan oleh Sean kali ini dengan lilitan yang mengekangnya. Jantung Mio bergolak . Ooi oi oi...Sean tidak dalam mood untuk ‘sesuatu yang mungkin harus di sensor’ kan? Mio takut setengah mati. Bagaimanapun dia masih polos sungguh! Dia psikolog yang memberi saran rumah tangga namun dia seratus persen zero dalam pengalaman real. Melihat gadis di depannya meringkuk ketakutan, Sean tidak bisa menahan jarinya untuk mengetuk dahi gadis itu. "Aw! Kenapa sekarang memukulku?" Mio ingin menangis. Sumpah dahinya sakit dengan jentikan jari Sean. "Gadis bodoh!" Sean merengut. Namun melihat tanda merah kecil di dahi mulus Mio. Sedikit merasa bersalah karenanya. Jadi lelaki itu mengusap tanda merah menggantikan tangan Mio. Dia berujar, "apa yang kamu pikirkan?" Mio merengut, " menebak otak mesummu. Aw!" Kembali Mio merasakan jentikan jari Sean. "Your mouth." Sean memperingati. Menatap kebawah pada gadis dalam pelukannya, Sean hanya bisa menghela nafas. Jika itu orang lain, bukankah adegan ini akan romantis? Tapi sayangnya ketika jatuh pada Mio, adegan mereka justru seperti adegan ayah yang tengah mendisiplinkan putrinya. Namun tidak apa. Perasaan memeluk sesuatu yang hangat di tengah insomnia beberapa harinya membuat otot Sean sedikit mengendur. Sean, lelaki dan wanita dewasa terlarang melakukan hal seperti ini sebelum menikah atau tanpa hubungan asal kamu tau." "Lima juta." "Oke!" Sikap Mio langsung berubah. Binar mata jelas sekali terlihat. Kembali Sean menghela nafas. Kapan dia tidak didominasi uang? "Apa yang ingin kamu katakan?" Sean bertanya tidak menghiraukan ucapan Mio sebelumnya. "Ah?" "Kamu tidak akan kesini hanya untuk meminta maaf." "Ah benar!" Karena diingatkan, Mio langsung menjelaskan apa maksud menemuinya. "Apa itu benar?" Mio mengangguk, " kapan aku berbohong? Karena itu aku harus menemani Lut mencari keluarganya." mengerutkan alis tidak suka ketika Mio memanggil Lutfian dengan akrab. Namun dia tidak mengatakannya. Hanya memberikan satu lagi jentikan di dahi Mio. Karena ini ketiga kalinya, dahi Mio benar-benar merah bata sekarang. "Baik. Namun dengan aku." Mio mengerjap, " eh? Boleh? Begitu saja? kenapa kamu menjadi sangat baik?" "Kamu ingin aku mempersulit?" "Tentu saja tidak!" Mio buru-buru menjawab. Karena yakin Sean tidak melakukan hal aneh, Mio dengan santai memperbaiki posisi rebahnya agar nyaman. Ranjang di ruang kerja tidak terlalu besar. Namun cukup untuk dua orang. Tentu saja dengan berhimpitan jika Sean dan Mio lah yang menempatinya. Tubuh Sean terbentuk dengan baik oleh latihan rutinnya. Dia memiliki d**a bidang dan tubuh tegap. Sedangkan Mio lebih tepat disebut mungil jika bersanding dengan Sean. "Sean, kenapa kamu memiliki kantung mata? Bukankah aku sudah memberimu gelang dari rambutku? Seharusnya kamu bisa tidur cukup." Sean menatap Mio dingin. Sedikit marah karena ketebalan wajah gadis ini. Karena siapa dia tidak tenang? Bukankah jelas? Tapi Sean ingat bahwa Mio adalah psikolog dengan tingkat kepekaan pada dirinya mendekati nol. "Tidak manjur." Sean berbohong dengan mulus. "Benarkah? Kalau begitu kemarikan tanganmu. Aku akan membuatmu tidur nyenyak." Jelas sekali Mio menjilat agar mendapatkan uang lebih. Namun Sean tidak melakukan apapun kecuali menurutinya. Mengulurkan tangan dan Mio dengan cepat menyelimuti Sean dengan tangan mungilnya. "Ca...tidurlah...tidur... nanti jangan lupa bonusku oke." Sean sungguh kehilangan kata-kata. Namun entah kenapa kali ini seolah semua beban beratnya menghilang, Sean merasa tubuhnya sangat rileks. Matanya menjadi berat dan dia dengan mudah terhanyut oleh rasa kantuk dan terlelap. Sean bahkan melupakan bahwa seharusnya hari ini dia memberitahukan hal penting pada Mio bahwa mereka akan segera menikah. Hanya butuh waktu sepuluh menit, Sean sungguh terlelap. Ketika Mio mendongak hanya untuk melihat betapa tampannya wajah tertidur dewa ini. Alis phoenik, bulu mata lentik, hidung mancung, dan kulit indah untuk ukuran pria. Ide nakal langsung terbesit di otak Mio. Sudah kama sejak dia melakukan hal konyol pada adikknya. Sekarang, Riou jauh- dan dihadapannya ada wajah imut lelaki. Bagaimana Mio melewatkan. Sangat pelan Mio bangkit dari ranjang, mengambil ponsel di saku gaunnya-membuka aplikasi foto lucu- memilih bentuk kucing- meletakkan buku yang dia buka diselipkan di tangan Sean dan klik Mio berhasil mengabadikan gambar Sean. Mio mengamati gambar. "Ah! Aku memiliki bakat fotografer ternyata." Mio puas dengan gambarnya. Dia langsung menyimpan gambar dan mengirim pada ponsel Sean. Setelah mengambil gambar beberapa kali dengan emoji yang berbeda Mio akhirnya meletakkan ponselnya dan kembali pada posisi tidur semula. Dia menguap lalu mengikuti Sean tidur. *** Pagi selanjutnya cuaca masih seperti biasa. Hanya saja intensitas salju yang turun lebih sedikit dibandingkan dengan kemarin. Namun cuaca dingin itu tidak membuat suasana di penthouse Guan dingin tapi justru sebaliknya. Para pelayan jelas merasakan suasana baik Sean. Mereka memasak dan melayani dengan lega. Kemarin, ketika Sean baru saja kembali, mereka tahu bahwa baik tuan muda maupun calon nyonya guan tengah dalam suasana buruk. Namun setelah hari menjelang siang, tiba-tiba saja keduanya keluar dari ruang kerja, wajah tuannya tampak baik. Dan nona Mio juga terlihat energik kembali. Berbagai spekulasi di kepala pelayan menjadi liar . Namun baik Mio maupun Sean tidak memperdulikan hal itu. Dan pagi ini keduanya juga keluar bersama dari kamar. Mio tampak bersemangat dengan rekeningnya yang menggendut, sedangkan Sean tampak baik setelah tidur pulas semalaman.Jadi pelayan merasa aneh ketika Sean terlihat biasa saja ketika Mio menghubungi Lutfian. Menginformasikan kepergian mereka ke kota X. Sean memakan sarapannya dengan tenang sama sekali tidak marah. Ada yang salahkah pada temperamen tuannya? Hampir semua pelayan memikirkan hal sama. "Sean, kita akan berangkat pukul sembilan." Setelah menutup telepon Mio berbicara pada Sean. "Baik." "Aku tidak akan memiliki kelas etiket kan?" "Sudah berakhir, lusa kita kembali." Mio segera berbinar, "Benarkah? Aku ingin-" "Nona Mio," Betty menginterupsi kata-kata Sean. "Maaf mengganggu. Seorang lelaki muda datang untuk bertemu denganmu." "Eh? Siapa?" Mio merasa aneh. Bukankah disini dia tidak memiliki kenalan? "Apakah Lut?" Sean bertanya. Agak masam ketika memikirkan Lut lancang datang ke sini untuk Mio. Hanya saja Sean lupa bahwa itu tidak mungkin. "Bukan tuan muda. Dia mengaku bernama Yuujin." "Apa?" Mendengar nama itu Mio bereaksi berlebihan. Wajahnya jelas terlihat sangat gembira. Bahkan tanpa kata-kata Mio segera berdiri dari kursi dan berlari menuju ruang tamu. Wajah Sean langsung menggelap. Kemarin Lut, sekarang Yuujin? Apa nama feminim itu? Bagaimana bisa gadis jelek sepertinya memiliki banyak kenalan lelaki? Dengan wajah mengeras, Sean mengikuti Mio untuk melihat siapa tamu itu. Namun adegan selanjutnya di depan matanya membuat wajah dingin Sean semakin menggelap. Disana, didepan pintu terlihat sosok asing berambut perak tengah memeluk Mio seolah akrab. Beraninya dia berpelukan di depan hidungku!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN