16. OH MY! RAMALAN HAN ssi BENAR! Part 2

3002 Kata
"Bagaimana kau tahu?" Bahkan hantupun bisa berbohong. Jadi Mio tidak langsung mempercayainya. "Jangan berbohong." "Aunty, bagaimana gadis imut sepertiku berbohong?" Oh jangan salah, wajahku imut. Dan aku suka white lies oke? Berhenti menyamakan dengan diri sendiri, Mio menggeleng kembali menatap roh anak kecil itu. "Jadi? Mengapa mereka belum menangkapku? Aku sudah sendirian. Oh sebelum itu siapa namamu?" "Maudy." Maudy memiringkan kepalanya hingga Mio hampir melihat kepala itu akan putus dari kepalanya. "Tolong kendalikan kepalamu ." Maudy terkikik, " aunty, mereka belum menangkapmu karena ini Griffith Park. Disini polisi berjaga dan berkeliling setiap sepuluh menit sekali. Sebentar lagi ketika polisi pergi, maka mereka akan bergerak." "Begitukah?" Mio tidak pernah tau bahwa ada aturan tak tertulis seperti itu. Tunggu! Jika mereka masih takut dengan polisi, bukankah seharusnya mereka bukan bagian yang memusuhi Guan dan William kan? Mio tampak berpikir sejenak. Entah kenapa Philip seakan sangat lama untuk datang. Oke, memang jarak antara tempat mesin minuman cukup jauh. Jika menunggu Philip, bisa jadi para penjahat itu menangkapnya duluan kan? Jika dia lari, bagaimana cara mengabari Philip? Dia tidak membawa handphone, juga tidak membawa uang sepeserpun di bajunya. "Aunty! Jika kau lambat kau akan celaka!" "Ah!" Mio tersadar. "Apa kau bisa meminta bantuan teman-temanmu untuk menolongku? Aku akan memberi mereka energi spiritualku." menggeleng, "aunty, apa kau yakin? Sekali mencicipi energimu, mereka akan selalu tertarik mengikutimu.Bagaimanapun disini jarang orang seperti aunty. Jika aunty tidak memakai kalung safir itu, aku yakin para hantu akan tertarik padamu." Badan Mio lemas. Benar...keserakahan. "Kalau begitu kita gunakan jurus pamungkas. Jadi dimana kantor polisi terdekat?" Tanya Mio "Beberapa meter dari sini. Cukup lari sepuluh menit . Polisi patroli rata-rata memegang senjata. Kenapa tidak meminta bantuannya?" "Memang berapa polisi yang disini saat ini?" "Dua." "Baik tujuh lawan dua. Itu ekstrim " "Kemana harus lari?" Tanya Mio "Selatan." "Oke. Eh? Ngomong-ngomong arah mana selatan itu?" Maudy memutar ekor matanya sebelum menunjuk arah belakangnya, "Itu yang aunty katakan jurus pamungkas? Lari?" "Gadis kecil tidak perlu tau." Mio tidak berlari. Sebaliknya dia tampak berjalan seperti biasa bertindak seolah-olah tidak menyadari bahwa dia tengah diikuti. Lagipula, bagaimana bisa dia lari melawan mereka? Sekarang dalam pikiran Mio, dia ingin menemui salah satu polisi dan membuntuti hingga kantor. Jadi Mio berdiri di depan pohon seolah menikmati keindahan sambil mencari-cari jarak polisi patroli yang terdekat. *** Philip tengah berdiri di depan mesin minuman otomatis untuk waktu yang lama. "Apa minuman kesukaan nona?" "Meow." Miss Han diatas kepalanya mengeong. Philip mendesah, " aku tidak mengerti bahasa kucing walau aku merawatmu hampir lima tahun." Jika Philip dapat melihat, dia pasti akan mati terkejut melihat Miss Han memutar matanya jengah. "Baiklah mari beli dua. Sekaleng s**u dan air mineral." Philip memencet tombol dua minuman setelah memasukkan uang kedalam mesin. Beberapa saat dua kaleng minuman jatuh. Philip memungutnya. "Oke mari kembali." sepuluh menit berjalan antara mesin minuman dengan tempat terakhir mereka berdiri. Itupun dengan Philip yang berlari kecil menemui Mio. Namun sayang ketika sampai pada bangku tempat dimana Mio seharusnya duduk, Philip mendapati bangku itu kosong. "Apa kita salah tempat?" Tanya Philip heran. Dia menyapu pandangan ke sekeliling. Tidak menemukan tanda-tanda bangku lain yang serupa dengan yang disini. Lalu samar-samar Philip melihat bayangan wanita kurus berjalan agak tergesa di belakang polisi. "Non-" dering ponsel mencegah langkah Philip memanggil Mio. Philip membuka ponsel di saku jasnya menjawab. "CEO?" "apa yang kamu lakukan?" "Oh?" Philip ingat dia lupa mengirim file kegiatan nona Mio. "Saya akan segera mengirim file sebentar lagi." Di seberang terdapat jeda beberapa saat sebelum Sean menjawab. "Aku ada sedikit masalah. Kepulanganku terlambat. Awasi dia." Lalu sambungan telepon dimatikan. "Heh?" Philip terbengong. Bahkan Philip tidak mendengar bagian akhir di penekanan Sean. Yang dia pikirkan adalah CEO tidak dapat kembali karena masalah? Bukankah itu berarti ramalan acak nona Mio dan kucing ini benar? *** Lutfian tidak tahu mengapa dibandingkan harus menghindari masalah, dia justru tertarik untuk mengikuti Mio. Ketika melihat bagaimana gadis itu berjalan cepat menuju polisi yang berpatroli, Lutfian sadar bahwa gadis itu tidak bodoh. Namun jika dibandingkan tingkat kriminal di LA, bagaimana bisa mereka menangani kriminalitas? Entah sejak kapan Lutfian menyadari kakinya sudah berada di dekat gadis itu. Dengan dorongan hati nurani, sebelum gadis itu menemui polisi, Lutfian menarik tangan gadis itu. "Ikut aku ." "Tung-" Bahkan dia tidak menunggu respon gadis di genggaman tangannya sebelum menarik gadis itu berlari. Mereka berlari tidak menengok kebelakang. Tepat ketika mereka berhenti di depan pemberhentian bus, bus berhenti. Lutfian menuntun gadis itu melompat memasuki bus. "Save..." Lutfian mendesah. Beberapa orang masuk menabrak keduanya. Karena sudah siang banyak diantara para pelancong mulai meninggalkan taman dengan menaiki bus. Bus terlihat ramai. Dari celah jendela bus Lutfian melihat orang yang mengejar gadis di depannya seolah mencari. "Setidaknya mereka tidak menemukan kita dalam bus." Ketika berbicara Lutfian melupakan dirinya bukan di Indonesia. Dia memakai bahasa Indonesia yang fasih. "Bukankah seharusnya kamu meminta izinku sebelum menyeretku?" Suara itu lembut agak kekanakan tapi tegas. Lutfian terkesiap reflek melihat kebawah hanya untuk menemukan sepasang mata cokelat terang menatapnya curiga. "Eh?" Lutfian merasa familiar dengan mata itu. *** GUAN CORP, Indonesia Lantai 18 Guan grup tengah dalam keadaan sibuk-sibuknya. Persaingan antar devisi mulai terlihat pada titik beku menjelang natal. Departemen fashion mulai membuat draf halus yang di berikan pada penjahit. Acara lelang akhir tahun dengan separuh hasil diberikan untuk acara amal adalah rutinitas tahunan Guan Corp. Hanya saja tahun ini, setelah Sean menjabat posisi CEO beberapa bagian telah diubah oleh Sean. Beban kerja semakin bertambah. Ditambah dengan standar Sean yang menuntut kesempurnaan membuat para karyawan kehilangan jiwa mereka. Departemen arsip sibuk merekap dana tahunan. Tiga hari bahkan tidur di kantor untuk menyelesaikan anggaran yang terambil setengah tahun ini. Departemen perancang sibuk menghubungi desiner yang bertanggung jawab atas deadline gaun lelang dan rancangan musim ini. Departemen pemasaran mulai mengadakan pencarian sponsor dan relasi majalah. Semua terlihat kacau. Cukup bagus kamu hanya akan mencium bau kaus kaki di atas meja. Beberapa bungkus mie cup berserak dan bau koyo di sepanjang ruangan. "Ya ampun,mataku...bolehkan aku tidur?" Dengan tubuh gemuk, Leo jelas tidak menarik bagi wanita . Namun sekarang dengan kantung mata panda dan bengkak di lingkar matanya, bahkan mungkin hantupun malas untuk melihatnya. "Leo berhenti mengeluh. Kamu bahkan bukan mengkopi file. Lihat ini!" Clare melemparkan setumpuk kertas yang bergambar wajah babi tidur keatas meja. "Oh? Aku ketiduran. Aku akan mengkopi lagi." Gill Antonio-dengan tangan berada di dalam saku celananya, menggelengkan kepala melihat pemandangan mengenaskan itu. Gill menerima panggilan dari Sean untuk acara fashion week Guan. Sebenarnya setelah syuting drama pendek miliknya, Gill memiliki jadwal satu syuting iklan. Hanya saja Ciel menyeretnya ke Guan bahkan sebelum managernya mengetahui. Bertindak seolah tidak melihat kehancuran karyawan Guan, Gill berbalik pada Ciel dengan wajah masam. "Kamu menyeretku disaat jam sibukku. Bagaimana kamu bertanggung jawab?" "Ini jauh lebih menguntungkan dibanding iklan itu. Jadi mari kita masuk." "Oke." Gill tidak menolak. Memang dibanding iklan produk kosmetik itu, rencana model di Guan jauh lebih menguntungkan. Plus wartawan akan lebih tertarik apapun tentang Guan dibanding yang lain. Sebagai artis dengan backing latar belakang orang tua kuat, Gill tidak pernah kekurangan uang. Namun Gill mencintai popularitas. Dan bekerjasama dengan Guan adalah hal terbaik dalam mendobrak popularitas. Ruangan Sean masih harus memasuki satu lift lagi. Ciel memimpin Gill menggunakan lift khusus menuju ruangan Sean. Ruangan Sean ada di lantai sembilan belas. Bukan gedung tertinggi namun dari lantai delapan belas keatas di grup Guan, itu dapat dipastikan adalah ruangan elit di Guan Corp. Lift berhenti. Ciel kembali memimpin Gill berjalan menuju ruangan Sean. Ciel mengetuk pintu. "CEO, saya Ciel kepala devisi pemasaran." Gill hanya bisa menggelengkan kepala takjub. Bagaimanapun mereka masih memiliki ikatan darah. Namun begitu di kantor, semua Guan akan bersikap profesional. Menempatkan dirinya sesuai bagiannya. Luar biasa. "Masuk." Terdengar suara dari dalam. Setelah melihat bagaimana kacaunya setiap departemen di lantai bawah, Begitu memasuki ruangan Sean, apa yang Gill rasakan pertama kali adalah diskriminasi! Bagaimana tidak? Jika lantai sebelumnya dapat dikatakan sebagai pusat penjara arwah bawah tanah, maka ruangan Sean dapat dicerminkan setengah surga. Jika ruangan sebelumnya kamu akan mencium bau kaus kaki dan sisa-sisa makanan sampah, maka di ruangan Sean kamu dapat merasakan udara sejuk, dengan pendingin ruangan berada dalam suhu yang tepat. Jika di lantai bawah melihat gunung dokumen, sampah berserakan, kertas berhamburan , maka di ruangan Sean hanya ada tumpukan dokumen di atas meja memenuhi namun terlihat rapi. Terdapat tiga bonsai tanaman aromaterapi yang masing-masing di tempatkan di setiap sudut ruangan dan satu pot kecil diatas meja Sean. Gill bersiul, " tidak heran semua orang menginginkan posisi atas." "Terimakasih atas sarkasmu." Masih dengan pemindaian file Sean menimpali. "Oh sama-sama." Berbeda dengan Ciel yang menempatkan dirinya sebagai atasan dan bawahan, Gill masih menggunakan nada dan bahasa seperti biasanya mereka berkomunikasi. "Kontrak ada di atas meja. Setelah baca bisa kamu tandatangani. Kamu bisa keluar." Sean mengatakan hal itu tanpa mengangkat kepalanya dari tumpukan dokumen. "Apa sih yang membuatmu begitu gila? Itu masih kontrak dua bulan lagi ." Gill tidak bisa berkomentar setelah membaca sekilas kontrak. Sean mendongak menatap Gill beberapa saat sebelum kembali membenamkan diri di arsip-arsip tampa berkomentar. "Ck." Ciel mendekati Gill dan berbisik, " beberapa hari mood nya sangat buruk. Terutama setelah dia tidak bisa ke LA karena pertemuan keluarga." "Oh?" Gill tersenyum miring. "Hehe..." aku mencium bau gosip. *** Setelah berhasil menendang Gill keluar dari ruangannya, Sean memijit ruang diantara alisnya. Gill itu...bagaimana lelaki bisa secerewet dan senarsis dirinya? Jika bukan karena kawan baik dan kepopulerannya, Sean pasti akan menjadikannya daftar hitam dalam artis model pakaiannya. Di belakang, Ciel yang mengamati bagaimana Sean menendang Gill tidak bertindak gegabah dengan berani. Demi Tuhan! Menendang disini benar-benar menendang! Ciel melihat bagaimana Sean menjinjing kerah belakang lelaki tampan itu menyeretnya di depan pintu dan langsung menendang p****t Gill ganas. Ciel masih ingat bagaimana tampang bodoh para karyawan yang ternganga melihat bagaimana konyolnya Gill ketika dilempar keluar dan BAM Sean langsung menutup pintu. "Jika kamu tidak mau sepertinya,maka jaga mulutmu." Mendengar hal itu Ciel langsung mengangguk patuh. Pelatihan boxing dan taekwondo sedari kanak-kanak pada Sean memang tidak bisa diremehkan dalam hal kekuatan. Siapa yang menyangka wajah dingin, acuh, dan ramping dibalik jas Sean memiliki kekuatan tersembunyi untuk menendang Gill mantan juara taekwondo nasional. "Minta Siska memberikan laporan bulan depan. Aku ingin semua finish setidaknya draf bukan draf kasar." Ciel mengangguk, "oke." "Oh, apa kita sudah berhasil menghubungi model Victoria?" "Sejauh ini belum. Jadwalnya telah direncanakan untuk satu tahun penuh. Jika kita mengambilnya , aku takut akan terlalu banyak biaya yang dikeluarkan." Sean mendesah. Meski kehidupan pribadi Victoria tidak sebaik di depan lensa, namun wanita itu memiliki wajah polos dan berkarakter. Apalagi temperamennya yang baik di depan publik, itu sangat cocok dengan tema gaun pengantin tahun ini. Tapi karena kebodohan stafnya, Sean harus memutar otak untuk menarik Victoria. "Mengganti kompensasi jelas tidak mungkin. Ah, aku ingin kamu mencaritahu iklan apa saja dan jadwal iklan yang diberikan pada Victoria. Jika ada iklan yang tidak terlalu besar kita bisa mengambil alih." Ciel sekeptis, " Victor jelas menjadi model A list yang memiliki job fantastis. Apa kamu yakin ada iklan yang tidak kecil yang merekutnya?" "Hanya cari tahu saja." Ciel ingin menangis tapi tidak memiliki air mata. Dia pasti dendam karena membocorkan mood buruknya lada Gill. Sean, bisakah kamu tidak kekanakan? Sean mendongak. Mendapati Ciel yang masih berdiri di belakangnya, Sean mengerutkan kening. "Apa kamu menunggu tugas tambahan?" "Oh?" Ciel linglung. Lalu sadar bentuk ancaman verbal itu. "Aku akan segera mencari tau jadwal victoria." "Hm." Setelah melihat bagaimana Ciel terburu-buru keluar dari ruangannya, Sean menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi roda. Bahunya terasa tegang, kepalanya juga berat. Akibat dari banyaknya pekerjaan yang dia tangani dan kualitas tidur yang tidak cukup baik. Kualitas tidur... Sean langsung teringat gadis materialistis yang cerewet. Meski materialistis, Sean entah kenapa todak terganggu dengan hal itu. Kenapa? Pertama, Mio hanya menyukai uang, menumpuk uang, menabung uang, namun gadis itu akan sangat cerewet pada keborosan. Kedua, selama pemantauannya, gadis itu bahkan tidak pernah menggunakan uang yang telah dia kirim. Satu malam gadis itu meminta uang dua dolar hanya untuk membeli celengan bening berbentuk angsa odet. Mengisinya dengan uang dolar dan koin kecil dan memajangnya di kamarnya. Menurut Philip, Mio akan memandangi celengannya beberapa saat sebelum tidur, memeluknya bahkan memberinya nama Royal Snow. Bibir Sean sedikit terangkat. Jika karyawannya melihat hal ini mereka pasti mengira mereka berhalusinasi karena terlalu banyak lembur. Seorang Sean tersenyum? Bahkan jika mereka di suap, mereka paling banter akan mengatakan Sean menyeringai. Tapi kali ini lelaki itu benar-benar tersenyum lebih lebar ketika mengambil tab di laci meja kerja. Namun ketika membuka kunci tab, senyum itu mendadak menghilang. Dia kadang begitu tiba-tiba dan menghilang begitu cepat. Pandangan Sean terkunci pada inbox email. Tidak ada pesan baru yang muncul. Mata Sean memicing. Berpikir apakah Philip melukai kepalanya hingga berani mengabaikan tugasnya. Segera setelah meletakkan tabletnya, Sean mengambil ponsel miliknya lalu mendial nomor asing. sempat Sean mengucapkan kata-kata, namun suara di seberang sontak membuat Sean membeku. "Ceo! Nona Mio menghilang!" *** Di belahan bumi lain, dua orang berbeda jenis kelamin tampak turun dari bus. Satu memiliki rambut biru dengan mata biru lembut berdiri menjulang di tengah keramaian. Penampilannya eyecacting menarik perhatian banyak orang eropa. Lelaki itu memiliki pesona gabungan dari Asia dan Eropa yang berpadu menjadikan wajahnya khas. Sedangkan di sampingnya ada gadis imut yang tidak kalah menarik perhatian. Hanya saja hal yang membuatnya menarik bukanlah penampilan luar biasa seperti mahluk disampingnya. Tapi melainkan gaya busananya yang sangat abnormal menjelang musim dingin. Jika dikatakan dia lebih memakai pakaian tropis daripada musiman. Gadis itu tidak lain adalah Mio. Setelah dikejar-kejar orang aneh, dibuntuti hantu kecil, dan diseret lelaki disampingnya, Mio merasa dalam mood buruk. Apalagi kini dia diperhatikan karena pakaiannya. Mio sadar hal itu. Namun dengan tebal muka mengipas-ngipasi lehernya dengan tangannya sambil berbicara, “wah cuaca benar-benar panas." Tes Tes Tes Gerimis mendadak muncul. Mio memandang ke langit dimana gerimis mendadak muncul. Dia tidak bisa tidak mengutuk pada alam. Jika mau hujan setidaknya tunggu sampai aku kembali! "Aish" Sudut bibir Lutfian tertarik. Merasa lucu dengan gadis di depannya. "Mari mencari tempat berteduh." Lutfian lebih baik dalam menangani hati gadis. Setidaknya dia belajar bagaimana menyenangkan Grace. Jadi daripada membahas tindakan konyol Mio , dia memilih mengalihkan perhatian. "Bagaimana dengan kafe?" "Apapun yang memiliki penghangat ruangan." Lutfian terkekeh. Lalu keduanya berlari kecil sesuai petunjuk Lutfian. Mereka memasuki kafe perancis. Begitu memasukinya, bel berdenting di depan pintu dan udara hangat langsung menerpa tubuh Mio. Mio menggosok dirinya sendiri sebelum mengikuti Lutfian menuju kursi kosong. "Kamu kedinginan?" Mendengar pertanyaan Lutfian, Mio tidak malu untuk mengangguk. Dia sudah mempermalukan diri tadi, sekarang Mio hanya ingin menyelamatkan tubuhnya bukan harga dirinya. "Aku salah kostum. Tentu saja aku dingin." Lutfian tersenyum, dia melepaskan hoodie tebal yang dipakainya mengulurkannya pada Mio. "Pakai ini. Pakaianku masih cukup tebal. Mungkin salju akan turun malam ini. Jadi lebih baik kamu memakainya jika tidak ingin terkena flu." "Kalau begitu aku tidak akan sopan." Mio mengambil hoodie itu dan memakainya. "Terimakasih." Mereka memesan hot cokelat dan dua piring pie buah ukuran sedang. Sambil menunggu pesanan, Lutfian mengamati gadis di depannya dengan seksama. Beberapa waktu lalu, Lutfian sempat memikirkan bahwa mata gadis itu familiar. Itu agak mirip dengan milik Grace jadi Lutcfian mengingatnya. Namun yang mengagetkan adalah tanggapan Mio yang langsung menebak bahwa dia adalah Lutfian-kakak Grace. Selama ini tidak akan ada orang yang mengenalinya jika dia mengubah warna rambutnya memakai warna asli apalagi kini rambut Lutfian dipotong dengan style terbaru. Bagaimana gadis di depannya mengetahuinya dalam sekali pandang? Mereka hanya bertemu sekali kan? "Kenapa kamu melihatku begitu? Kamu tidak berniat menodongkan pistol padaku kan? Seperti apa yang kamu lakukan pada Sean?" Mio tidak tahan karena dipandangi seolah sedang dinilai. Tentu saja dia waspada. Mengingat temperamen asli kakak Grace ini. "Bagaimana kamu mengenaliku?" "Apa?" Mio balik bertanya. "Bukan aku sombong, dengan penampilanku saat ini jika kamu melihatku saat di Indonesia bagaimana kamu langsung tahu bahwa aku adalah Lutfian?" "Memang ada apa dengan penampilanmu?" Tanya Mio. Jika Lutfian tidak melihat jelas wajah bodoh Mio, Lutfian pasti akan mengira Mio sengaja menggodanya untuk mencari perhatian. "Bukan sombong, tapi penampilanku saat ini ehem aku sangat tampan. Sangat berbeda ketika kita bertemu." Semburat merah di pipi Lutfian tidak bisa tertutupi ketika selesai berbicara. Bagaimanapun ini kali pertama lelaki mengatakan dirinya tamban bukan? Sangat memalukan! "Oh..." Mio mengangguk lalu menjelaskan. "Baumu familiar. Sama dengan aroma parfum langka yang kamu pakai saat malam itu. Oh dan aku juga melihat penampilanmu seperti ini sebelumnya. Hm...bagaimana mengatakannya ya? Pokoknya aku melihat penampilanmu melalui Grace. Karena kamu sudah mengetahui kelebihan Grace maka kamu pasti paham maksudku." "Oh." Lutfian tidak mengatakan apa-apa lagi. Lalu keduanya terlibat dalam keheningan canggung. Lutfian entah apa yang dipikirannya. Namun Mio hanya memiliki satu pikiran. Mengamati Lutfian, Mio langsung teringat ramalannya dan kucing tampan di penthouse. Keterlambatan Sean pulang, berjumpa lelaki tampan? Mio kembali mengamati Lutfian. Dari segi manapun lelaki di depannya jelas tampan kan? "Heh?" Oh My! bukankah Ramalan Miss Han benar????!!! "Aku mungkin bisa membuka jasa ramalan dengan nya." Gumam Mio tidak sadar. Namun masih terdengar Lutfian dengan jelas. "Apa?" Lutfian memandang Mio bingung. Mio mengibaskan tangan, " bukan apa-apa." Lalu memamerkan senyum polos andalannya. Keduanya kembali diam hingga pelayan datang membawa pesanan mereka. Di luar kaca meski suara hujan teredam dari kafe, tapi Mio masih melihat bagaimana hujan semaki lebat di luar sana. Bel pintu berdenting semakin sering ketika hujan semakin lebat. Berteduh di kafe adalah pilihan pertama bagi pelancong. Karena kafe semakin ramai, keduanya tidak lagi canggung dengan keheningan. Hanya ketika mereka makan dalam diam, Mio terganggu dengan Maudy yang memutar-mutar kepalanya hingga seratus delapan puluh derajat. "Bisakah kamu diam? Kamu menghilangkan nafsu makanku." "Aku sudah diam." Lutfian reflek menjawab. Mio tersenyum canggung, "hehe...maksudku bukan kamu." Iblis kecil ini... Awalnya Mio mengabaikannya karena tidak ingin manarik perhatian karena berbicara sendiri. Tapi hantu kecil itu terus mengganggunya menuntut imbalannya. "Maaf aku harus ke toilet sebentar." Mio meletakkan pisau dan garpu ditangannya. Memberi isyarat pada loli kecil itu untuk mengikutinya. Melihat punggung Mio yang menghilang, Lutfian melengkungkan bibirnya, "sedikit mirip."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN