Bab 14. Amplop Warna Coklat
Malam di Markas Besar biasanya membawa keheningan yang disiplin, namun bagi Arya dan Kinanti, keheningan kali ini terasa lebih cair. Setelah badai investigasi yang hampir meruntuhkan reputasi Kinanti, rumah dinas mereka tidak lagi terasa seperti barak sementara. Ada aroma teh melati yang mengepul di ruang tengah, dan suara gemerisik kertas saat Kinanti mencoba menyusun kembali beberapa catatan logistik yang tersisa.
Arya masuk ke ruangan dengan membawa kotak P3K. Ia memperhatikan Kinanti yang sesekali memijat pergelangan tangan kanannya, saraf motoriknya memang sudah membaik berkat kesaksian medis Arya, namun rasa nyeri itu masih sering datang sebagai pengingat akan peluru di Kerajaan Sumedang.
"Tolong berhenti bekerja sejenak, Letnan," ujar Arya lembut.
Ia mengambil posisi duduk di lantai, tepat di depan kaki Kinanti yang sedang duduk di sofa.
Kinanti menurunkan pulpennya.
"Hanya sedikit lagi, Arya. Aku harus memastikan nggak ada celah yang bisa digunakan Jenderal itu untuk menyerang unitku lagi."
Arya tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru mengambil tangan kanan Kinanti, lalu mulai mengoleskan gel pereda nyeri dengan gerakan memutar yang sangat hati-hati. Interaksi ini, yang dulunya akan membuat Kinanti merasa canggung atau waspada, kini diterima dengan hembusan napas lega.
"Kenapa kamu melakukan ini, Kapten?" tanya Kinanti pelan, matanya menatap ubun-ubun Arya yang sedang fokus pada tangannya.
"Karena aku doktermu," jawab Arya tanpa mendongak.
Ia diam sejenak sebelum menambahkan, "Dan karena aku ingin kamu tahu bahwa di rumah ini, kamu nggak perlu selalu menjadi perwira yang sempurna. Kamu boleh sakit. Kamu juga boleh lelah."
Kinanti merasakan tenggorokannya menyempit. Selama bertahun-tahun di militer, ia dilatih untuk menjadi baja. Namun, di tangan Arya, ia merasa seperti manusia kembali.
"Terima kasih, Arya. Dukungan kamu di ruang investigasi kemarin... itu adalah pertama kalinya seseorang benar-benar berdiri di depanku untuk menerima peluru verbal."
Arya mendongak, matanya bertemu dengan mata Kinanti.
"Aku hanya mengembalikan hutang nyawa, Nan. Meskipun sebenarnya, aku tahu aku nggak akan pernah bisa melunasi semuanya."
Interaksi positif itu berlanjut dengan obrolan ringan tentang masa kecil Arya yang nakal di sekolah kedokteran, membuat Kinanti tertawa lepas, sebuah pemandangan yang membuat jantung Arya berdegup lebih kencang dari biasanya. Namun, suasana hangat itu terusik ketika sebuah amplop coklat tanpa identitas terselip di bawah pintu depan.
Arya bangkit dengan sigap, insting militernya segera menyala. Ia mengambil amplop itu menggunakan sapu tangan, memastikan tidak ada bahan berbahaya. Begitu ia membukanya di meja makan, wajahnya berubah pucat.
Di dalam amplop itu terdapat kliping koran lama yang sudah menguning dan beberapa foto buram. Foto-foto itu menunjukkan seorang pria paruh baya yang memakai seragam narapidana, dan seorang gadis kecil yang sangat mirip dengan Kinanti sedang menangis di depan sebuah gedung pengadilan militer.
"Nan, apa ini?" tanya Arya, suaranya bergetar antara bingung dan cemas.
Kinanti berjalan mendekat, dan begitu melihat isi amplop itu, tubuhnya gemetar hebat. Ia hampir terjatuh jika Arya tidak segera menangkap pinggangnya.
"Ayah..." bisik Kinanti. Suaranya pecah.
Kliping itu berisi berita tentang "Pengkhianatan Kolonel Pramudya" sebuah kasus spionase dua puluh tahun lalu yang mencoreng nama besar militer. Ayah Kinanti dituduh menjual rahasia pertahanan, sebuah aib yang membuat keluarga mereka dikucilkan dan memaksa Kinanti mengubah nama belakangnya saat masuk akademi agar bisa bertahan.
Sebuah catatan tertulis di balik foto, "Seorang putri pengkhianat tidak pantas menjadi Nadi Kedua. Arya, kamu sedang tidur dengan musuh. — N"
"Naira..." desis Arya.
Ia tahu tulisan tangan itu. Ini adalah serangan personal yang dijanjikan Naira.
Kinanti melepaskan diri dari pelukan Arya. Ia mundur beberapa langkah, matanya dipenuhi ketakutan akan penolakan. Ia teringat bagaimana Arya dulu merendahkannya hanya karena rumor kecil. Sekarang, dengan bukti aib keluarga sebesar ini, ia yakin Arya akan membuangnya.
"Sekarang kamu tahu," ujar Kinanti dengan nada pahit, air mata mulai mengalir.
"Aku adalah noda dalam sistem ini. Ayahku... dia dihukum karena pengkhianatan. Itulah sebabnya aku sangat kaku dengan protokol, Arya. Aku mencoba menebus dosa yang bukan milikku."
Kinanti menarik napas gemetar. "Kamu boleh pergi, Arya. Aku akan menandatangani surat cerai malam ini. Kamu nggak perlu dikaitkan dengan putri seorang pengkhianat negara. Karena ini akan menghancurkan karier bedah kamu."
Arya terdiam. Di kepalanya, logika militer yang kaku berperang dengan rasa cinta yang mulai bersemi. Secara protokol, berhubungan erat dengan keluarga terpidana spionase adalah bunuh diri karier. Namun, ia melihat Kinanti, wanita yang mempertaruhkan nyawa untuknya di Kerajaan Sumedang, wanita yang logikanya menyelamatkan sandera, dan wanita yang tangannya baru saja ia obati dengan penuh kasih.
"Nan," panggil Arya.
"Pergilah, Arya! Kamu tolak saja aku sekarang, seperti yang kamu lakukan di hari pertama kita menikah!" teriak Kinanti, menutup wajahnya dengan tangan.
Namun, yang dirasakan Kinanti bukanlah langkah kaki menjauh. Ia merasakan sepasang lengan yang kuat memeluknya dari belakang, mendekapnya begitu erat seolah-olah ingin menyatukan kembali kepingan hatinya yang pecah.
"Aku pernah menolakmu, Kinanti. Dan itu adalah kebodohan terbesar dalam hidupku," bisik Arya di telinganya.
"Dunia mungkin juga akan menolak ayahmu, dan dunia mungkin akan menolakmu karena darah yang mengalir di nadimu. Tapi aku?"
Arya memutar tubuh Kinanti agar menghadapnya. Ia memegang wajah Kinanti, menghapus air mata dengan ibu jarinya.
"Aku memilih untuk mempercayaimu. Bukan karena apa yang dilakukan ayahmu dua puluh tahun lalu, tapi karena apa yang kamu lakukan untukku hari ini. Kamu bukan ayahmu, Nan. Kamu adalah Letnan Kinanti, istriku, dan satu-satunya orang yang aku percayai di markas penuh serigala ini."
Kinanti menatap Arya dengan tidak percaya.
"Tapi karierku... Jenderal itu akan menggunakan ini untuk menghancurkanmu."
Arya tersenyum, senyum yang penuh dengan determinasi.
"Biarkan mereka mencoba. Kita akan hadapi ini bersama. Jika mereka ingin menyerang masa lalumu, mereka harus melewati aku dulu."
Momen pembangunan emosional ini menjadi fondasi baru bagi mereka. Malam itu, alih-alih berpisah, mereka duduk bersama di meja makan, bukan untuk makan, melainkan untuk membedah isi amplop itu dengan kacamata intelijen.
"Lihat ini," Arya menunjuk pada tanggal di kliping koran.
"Ayahmu dituduh menjual rahasia pada tanggal yang sama dengan kenaikan pangkat Jenderal yang kita curigai. Nan, apakah mungkin ayahmu justru adalah korban fitnah untuk menutupi jejak Jenderal ini?"
Mata Kinanti membelalak. Selama ini ia terlalu malu untuk menyelidiki kasus ayahnya.
"Aku nggak pernah berpikir ke sana... Aku terlalu takut untuk mencari tahu."
"Kita akan cari tahu sekarang," ujar Arya tegas.
"Interaksi kita tidak akan lagi hanya soal bertahan hidup dari GSH, tapi soal membersihkan namamu. Naira pikir dia bisa memisahkan kita dengan ini, tapi dia justru memberi kita kunci untuk menjatuhkan mereka semua."
Di kegelapan malam, di sebuah sudut gedung komando, Naira berdiri bersama sosok Jenderal tersebut.
"Arya tidak meninggalkan rumah itu," lapor Naira, suaranya terdengar goyah.
"Dia justru terlihat semakin dekat dengan Kinanti setelah membaca dokumen itu."
Sang Jenderal menyesap cerutunya, bara apinya menyala merah di kegelapan.
"Cinta adalah bentuk kegilaan yang paling berbahaya, Naira. Dia memilih untuk mempercayai seorang pengkhianat. Bagus. Itu artinya, saat kita menjatuhkan Kinanti, Arya akan ikut terseret jatuh bersamanya. Siapkan berkas penangkapan untuk besok pagi. Dengan tuduhan kolusi dengan elemen anti-pemerintah berdasarkan latar belakang keluarga."
Naira terdiam. Ada bagian kecil dari hatinya yang merasa perih melihat kesetiaan Arya pada Kinanti, sebuah kesetiaan yang tak pernah ia dapatkan sepenuhnya. Namun, ambisi dan rasa sakit hati karena ditolak Arya telah mengubahnya menjadi pion yang sempurna.
Kembali di rumah dinas, Arya dan Kinanti masih terjaga. Arya sedang menyeduh kopi kedua untuk mereka berdua. Saat ia memberikan cangkir itu pada Kinanti, jari mereka bersentuhan, dan kali ini, Kinanti tidak menarik tangannya. Ia menggenggam tangan Arya, memberikan remasan kecil yang penuh arti.
"Terima kasih sudah memilih untuk percaya, Arya," bisik Kinanti.
Arya mencium punggung tangan Kinanti. "Terima kasih sudah nggak menyerah padaku, Nan. Besok akan menjadi hari yang berat, tapi malam ini... malam ini kita menang."
Meskipun ditolak oleh sejarah dan dikhianati oleh bayangan masa lalu, di dalam rumah kecil itu, sebuah aliansi yang lebih kuat dari baja telah terbentuk. Nadi Kedua kini tidak hanya berdetak untuk bertahan hidup, tapi untuk membalas keadilan.