Biar kutambahkan catatan tentang alasan mengapa aku terlalu malas berurusan dengan orang-orang populer di sekolah, yaitu;
Pertama, mereka adalah kelompok yang sangat menyukai drama. Contohnya seperti, siapa saja yang menonton perkelahian antara aku dan Aubrey (jika mereka tidak menyaksikan sejak awal) pasti akan berpikiran, bahwa kami melakukan hal tersebut demi memperebutkan seorang Aiden Kowalsky.
Kedua, mereka yang merekam peristiwa tersebut biasanya akan memberikan sentuhan editing penuh kontroversi, sehingga siapa pun yang tidak mengetahui kebenarannya tentu akan berpikir negatif tentangku. Pastinya setelah ini akan ada dua kubu, yakni kubu pendukung Aubrey dan kubu pendukung Megan.
Ketiga, orang populer sangat suka bergosip. Sebenarnya kebanyakan manusia menyukai aktivitas tersebut, tetapi biasanya mereka melakukan hal tersebut secara terang-terangan. Sehingga aku merasa risi karena harus menerima tatapan intens, sejak pertama menginjakkan kaki di kafetaria.
"Demi menyelesaikan masalah dengan cepat, segera saja kuberikan dia Dr Pepper pemberian Aiden yang sama sekali belum kusentuh. Lalu kuseret Aubrey ke hadapan Mr. Lee dan bersandiwara bahwa kami telah berbaikan," kukatakan hal tersebut kepada Alma--tanpa perlu ditutup-tutupi--setelah menjemput gadis itu di ruang kesehatan lalu berakhir mengantri makanan di kafetaria.
"Kau yakin itu saja sudah cukup membuatnya berakhir?" Alma bertanya padaku, sambil mengetuk pelan pelipisnya yang kini telah terpasang plester transparan. "Aku rasa tidak karena gara-gara kalian, aku harus berdarah dan nyaris pingsan."
"Itu karena kau yang sangat takut darah, Alma." Jackson ikut berkomentar, tetapi tidak menatap ke arah kami karena sibuk mengambil ayam goreng popcorn, kentang tumbuk, kacang polong, apel, dan chip cookie di meja prasmanan.
Aku mengangguk setuju dengan komentar yang memiliki kandungan seratus persen kebenaran dari Jackson. Alma memiliki hemophobia di mana menurut pengakuannya hal itu terjadi saat ia masih kecil di mana kecelakaan hebat telah menimpa Alma, hingga beberapa tulangnya patah dan harus menjalani operasi.
Pun berteman lama dengan Alma membuat kami menjadi paham bagaimana gejala yang dialami gadis itu, jika hemophobia-nya kambuh yakni; pertama-tama wajah Alma memucat, sesak napas, dan yang paling parah bisa mengakibatkan pingsan. Itu pernah terjadi setahun lalu, di mana kami sedang berlibur bersama lalu secara tidak sengaja menyaksikan sisa-sisa kecelakaan di jalan poros.
"Tapi, apa yang dilakukan Aubrey menurutku sangat keterlaluan!" seru Alma lalu meletakkan apel dengan begitu kasar ke nampan makan siangnnya. "Melibatkan nama orangtua dalam urusan pribadi sangat tidak dibenarkan, wajar jika Megan melawan. Untung saja dia tidak mengeluarkan jurus taekwondo-nya."
"Oh, ya?" ujar Aubrey sambil menghalangi langkah kami secara tiba-tiba. Bersama teman--yang mungkin adalah kaki tangannya--Aubrey berdiri dengan begitu congkak (dagu diangkat sedikit, kedua lengan saling terlilit di bawah d**a, dan berdiri dengan gaya menopang separuh berat badan di salah satu kaki). "What if i do this, Megan?"
"s**t!"
"Ups." Aubrey menaikkan kedua alisnya, sembari memberikan tatapan merasa bersalah paling memuakkan. "Sorry, my hands are slippery," katanya, sambil mengedikkan bahu setelah menumpahkan roti lapis di bajuku. "Sebaiknya kau gunakan lidahmu untuk membersihkannya, daripada menggunakannya untuk berciuman dengan pacarku." Dan tanpa rasa bersalah ia pun melenggang pergi.
Dan lagi andai Jackson tidak segera menahan lenganku, maka sudah pasti rambut pirang Aubrey juga akan memiliki noda saus tomat seperti kemeja biruku. Aku mendesah kesal karena tak kuasa membalas, sedangkan Alma menertawaiku karena menganggap tebakannya benar.
Yeah, memang benar dan itu sangat menyebalkan.
Alma berkata, "Sudah kukatakan bahwa persoalannya tidak akan semudah itu."
"Apa kau tidak tahu bagaimana cara bersimpati?"
"Sepertinya tidak."
"Pakai ini."
Refleks kami bertiga; aku, Alma, dan Jackson menoleh ke arah suara yang tiba-tiba masuk, menginterupsi sembari mengulurkan jaketnya. Aiden berdiri tepat di hadapanku, mengatakan kalimat tak terduga barusan yang membuatku seketika berpikir. Maksudku, sebuah jaket untuk noda saus tomat pada roti lapis adalah hal yang berlebihan. Aku hanya membutuhkan sapu tangan dan sedikit air untuk membersihkannya jadi ....
"Aku bisa membersihkannya sendiri." Kukatakan pada Aiden dengan nada ketus. "Lagipula semua ini terjadi karena pacar primadonamu cemburu, mengira bahwa aku merebutmu darinya. Padahal ... oh, ayolah! Aku sama sekali tidak tertarik denganmu."
Bohong! Yang barusan kukatakan adalah kebohongan besar. Seharusnya aku menerima penghargaan karena mampu mengatakan hal tidak benar secara lugas.
Aiden menatapku tajam. Tampak jelas bahwa raut wajah Aiden memperlihatkan ketidaksetujuan, sampai dalam hitungan detik yang tidak mampu kuprediksi, lelaki itu melangkah mendekat, menunduk sedikit hingga dagunya menyentuh bahuku, dan kedua lengannya melingkar di pinggang untuk melilitkan jaket kebanggannya.
"Aku yakin kau tidak ingin mempertontonkannya dan membuat hal yang tidak seharusnya, menjadi bahan lelucon." Aiden berujar pelan tepat di telinga, membuatku sadar tentang keadaan saat ini.
Siklus haid tidak teratur, sehingga sulit untuk diprediksi. Sialnya aku tidak tahu sejak kapan darah s****n itu memamerkan diri di celana jins-ku.
"Trims."
"Kau membawa sesuatu yang mereka sebut--"
"Jangan lanjutkan." Secepat mungkin aku menarik pergelangan tangan Alma, demi memangkas ucapan Aiden yang aku tahu jelas ke mana arah tujuannya. "Akan kukembalikan jaketmu setelah kucuci."
"Yeah, aku punya banyak di loker." Alma sungguh cepat tanggap, sehingga ia segera mendorongku pergi setelah menyuruh Jackson untuk menyantap makan siangnya tanpa harus menunggu kami.
***
Jackson baru saja menyelesaikan makan siangnya saat kami sampai di kafetaria dan di waktu bersamaan, lebih tepatnya di salah satu meja dekat jendela kaca super besar, aku melihat Aiden sedang berdebat dengan Aubrey. Aku ingin bertanya tentang apa yang terjadi di antara mereka, tetapi Jackson lebih cepat tanggap di mana ia membuka pembicaraan sebelum kami sempat bertanya.
"Beberapa detik kalian pergi ke toilet, Aubrey melakukan kekacauan dengan mengamuk karena Aiden memberikan jaketnya untukmu."
Aku melirik ke arah jaket milik Aiden yang masih terlilit di pinggangku. Memang, Alma telah menetapi janjinya untuk memberikan pembalut, tapi jika harus kusebutkan itu saja tidak cukup untuk menghilangkan noda tersebut sebab semakin dicuci, warnanya semakin melebar dan memberikan bercak kecokelatan.
Alhasil mau tidak mau, secara terpaksa harus kukenakan jaket milik Aiden. Meskipun secara sadar bisa kukatakan tindakan tersebut, berhasil mengundang banyak perhatian dan memperkuat statement bahwa aku dan Aiden memiliki suatu hubungan.
Sial!
Aku benar-benar berada di jalan buntu sekarang.
"Dan sekarang mereka masih bertengkar."
"Jackson, apa kau menguping?"
"Well, secara harfia tidak. Tapi pembicaraan yang terlalu keras, membuatku mau tidak mau harus mendengar perdebatan rumah tangga mereka."
"Benar." Alma menjentikkan jemarinya. "Lalu apa kau pikir mereka benar-benar sudah putus?"
"Seriously, Alma, aku bukan penggosip. Jadi kau bertanya pada orang yang salah."
"Status hubungan Aiden dan Aubrey masih sangat abu-abu. Tapi, setelah kulihat i********: mereka, kupikir hanya Aubrey yang tidak rela kehilangan Aiden." Refleks kami bertiga menoleh ke arah kiri, di mana suara itu berasal yang rupanya adalah Sierra.
Sierra salah satu teman di beberapa kelas. Kami tidak terlalu akrab, tetapi sesekali mengobrol karena dia selalu membawa cupcake terlezat di dunia.
"Kami tidak sedang bicara denganmu, Sierra," tukas Alma memperingatkan.
"Bukan masalah, Sierra," sergahku cepat, sebelum gadis itu merasa kurang nyaman yang menimbulkan keringat berlebih beraroma keju busuk. "Apa kau bisa mengira-ngira kenapa mereka putus? Maksudku Aiden mencampakkan Aubrey."
Kedua mata Sierra membesar. Ia menatapku seolah tak percaya kemudian bangkit dari tempat duduknya. "Tentu saja karena dia jatuh cinta denganmu, Megan!"
Sial. s**l. s**l. Apa gadis itu baru saja menelan speaker hingga harus berbicara sekeras itu?! Demi Tuhan, siapa pun itu, tolong bawa aku ke lubang hitam untuk melenyapkan diri agar bisa kabur dalam situasi ini!
Seluruh kulit wajahku mengerut, seiring dengan ucapan penuh tenaga dari Sierra karena detik itu juga seluruh penghuni kafetaria mengalami kebisuan mendadak. Aku melirik ke arah Aiden dan Aubrey, mereka juga berhenti bertengkar. Sayup-sayup aku bisa mendengar langkah kaki Aiden yang semakin dekat.
Aku menoleh ke arah Aiden lalu bangkit dari bangku kafetaria dengan sangat cepat, dan sambil melangkah menghampiri Aiden, aku merogoh saku celana depan, tanpa ragu sekali pun.
"Detik ini juga, jika itu benar, aku menolak perasaanmu." Mengambil tangan Aiden dengan kasar, aku segera meletakkan secarik kertas berisi nomor ponsel Aiden lalu bergegas pergi meninggalkannya. Namun, belum sempat melangkah, tangan besar Aiden mencekal lenganku menariknya cukup kuat, hingga tubuhku secara refleks berputar kembali ke arahnya.
"What did you say, Babe?" tanya Aiden dengan suara yang dibuat rendah. Andai situasinya tidak seperti ini, maka sudah jelas aku akan mabuk kepayang. "I think I have amnesia because I can't remember when you rejected me."
Oh, s**t! Detik ini juga aku harus menggarisbawahi, bahwa aku membenci Aiden, tetapi di waktu bersamaan, juga merasakan pukulan kuat oleh para robot kecil yang berada di dalam dadaku.