003 - So Many Question On My Mind

1337 Kata
Biar kuperjelas bagaimana ini bisa terjadi. Maksudku ... oke, meski suka, tidak pernah sekalipun aku tergagap di hadapan Aiden apalagi kehilangan kata-kata. Kegugupan, hingga keringat bermunculan di kening, d**a, ketiak, dan telapak tangan akibat seorang lelaki bukanlah gayaku. Tapi bagaimana jika sejak pertama kau membuka pintu untuk menyambut pagi, dia telah mengacaukan suasana hatimu? Kurasa itu akan menjadi salah satu pengecualian karena sebenarnya, Aiden telah melakukan hal yang lebih dari ciuman pipi selamat pagi di kelas barusan. Ugh! Jadi mari kilas balik di mana aku masih membenarkan tali sepatu di tengah-tengah pintu utama, dengan sepotong roti gandum tersangkut di antara dua bibirku, dan seseorang tiba-tiba saja menyapaku. "Hari yang menyenangkan untuk menjemput seorang gadis, terlebih jika itu adalah seorang pacar, bukan?" "What the f*ck?" desisku dengan nada berbisik,nyaris menjatuhkan sepotong roti gandum yang kugigit sebelumnya. Beruntung tingkat refleksiku berada di atas rata-rata karena jika tidak, aku akan membuang snack berat tersebut secara percuma. "Kau mau apa? Bagaimana kau bisa tahu rumahku? Dan ... seriously, apa-apaan ucapanmu tadi? Tidak langsung menjawab, Aiden justru terkekeh kemudian menyisir rambut cokelat gelapnya ke belakang menggunakan jemari, dan bersandar pada salah satu pilar teras. "Ngomong-ngomong kursi penumpang mobilku kosong, bukankah akan lebih menyenangkan jika kau--" "No way." "Hai, listen, Megan." Aiden mengekoriku melangkah di sisi kanan, di saat aku masih terjebak di jalanan kecil halaman rumah. "Kalau boleh kukatakan, yang kemarin itu adalah sungguhan. Tidak ada lelucon sama sekali. Yeah, jika kau memang berpikiran demikian, maka kau harus percaya padaku." "Aku tidak peduli." Tapi dewi batinku berteriak bahwa ia sangat peduli. Hanya orang sinting yang menolak pujaan hatinya mentah-mentah. "Kau dan aku tidak saling kenal. Sungguh aneh jika tiba-tiba saja kau melakukan itu kemudian mengklaimku sebagi--" "Let's talk in my car, Megan," ujarnya menyela ucapanku, sambil membuka pintu mobil. Aku mengembuskan napas kasar. Apa yang dilakukan Aiden juga seringkali dilakukan Jeff kepada semua gadisnya dan di saat melihat Aiden melakukan hal tersebut, praduga bahwa ia juga bersikap demikian terhadap mantan-mantannya pun menghantui pikiranku. Terlebih, kabar berakhirnya hubungan antara Aiden dan Aubrey belum berembus ke permukaan. Maksudku, apa dia sedang main belakang? Aku menolak keras menjadi pihak ketiga, meski batinku bersorak karena memiliki akses berdekatan dengan Aiden. Buru-buru Aiden menutup pintu mobil yang sama sekali tidak kusentuh kemudian dari balik punggung, aku juga bisa mendengar suara mesin menyala. Awalnya, kupikir Aiden akan pergi meninggalkanku. Namun, kenyataan jauh lebih merepotkan karena Aiden adalah sosok--lumayan--keras kepala. Lelaki itu mengikutiku, mengendarai mobil selambat mungkin, mengikuti langkah kaki yang sengaja kubuat sesantai mungkin untuk mengetes seberapa sabar dirinya. "Kau tidak akan mungkin berkendara selambat itu setelah kita keluar dari jalur perumahan nanti." Kuberitahu Aiden, tanpa perlu menatapnya. "Memang benar. Tetapi sebelum kita sampai di jalur terakhir perumahan, aku akan jauh lebih senang jika kau duduk di sampingku, Megan," sahutnya. "Oh, ayolah, Megan, aku hanya ingin menjadi pacar yang perhatian." "s**l! Seharusnya aku marah padamu. Tetapi kutolak untuk melakukan hal tersebut karena marah hanya membuang waktu dan tidak akan mengubah hal sebelumnya." Langkahku terhenti sedetik setelah Aiden menyalakan lagu Bruno Marz di mobilnya, lalu melilitkan kedua lenganku di bawah d**a. Tentu saja, aku kesulitan menahan diri untuk tidak memutar mata. "Kau tahu apa yang tidak kusukai, eh?" "No," sahutnya singkat, sambil memamerkan senyum kharismatik paling s****n itu. Jantungku berdebar kencang setiap kali melihat lengkungan bibir paling sempurna itu. Namun, kali ini terasa berbeda karena kami sedang mengobrol dalam situasi super aneh. Menurutku. "Berhenti mengikutiku dan mengklaim diriku sebagai pacarmu," ujarku penuh keyakin. Meskipun untuk kesekian kalinya dewi batinku melakukan pemberontakan secara besar-besaran. "Asal kau tahu saja, jika yang kau lakukan didasari oleh salah satu adegan fiksi, maka demi Tuhan aku sama sekali tidak terkesan. Jadi berikan saja jok penumpang di sebelahmu itu untuk Aubrey sebab sejak awal sudah jelas bahwa tempat itu adalah miliknya ... oh, hai, Jeff." Perhatianku refleks teralihkan pada sosok penyelamat dengan kuda besinya. "Aku akan ikut dengamu." Dan urusan bersama Aiden di pagi hari pun selesai dengan kehadiran Jeff sebagai sosok penyelamatku. Sayangnya, hidup tidak akan menyelesaikan masalah semudah demikian karena meskipun tidak bersama Aiden, untuk pertama kali pemikiran selain pujian terhadap lelaki itu seketika tersamarkan oleh pertanyaan-pertanyaan kritis mengenai mengapa Aiden bersikap seperti barusan. Seperti pertama, meskipun sekelas di beberapa mata pelajaran, kami tidak pernah bertegur sapa. Menandakan bahwa kami tidak saling kenal dan bagaimana--seolah ada badai datang--ia mengetahui segala hal tentangku? Baiklah, biar kujelaskan sedikit--untuk kesekian kali--bahwa hanya aku yang mengenal Aiden, karena dia populer dan dia adalah cinta diam-diam pada pandangan pertamaku. Seharusnya aku senang mendapat perlakuan seperti ini, tetapi serius aku tidak bisa dan justru merasa aneh. Kedua, Apa Aiden sudah putus dengan Aubrey? Di mana jika itu memang terjadi, Aiden benar-benar dalam kondisi paling buruk, sehingga ia begitu frustrasi, tidak tahu di mana harus mencari sangkar bagi gagak seksinya. Lalu ketiga, kuharap ini tidak terjadi dalam hidupku. Apa Aiden mendekatiku karena permainan konyol milik orang-orang populer itu? Jeff pernah bercerita padaku, bahwa ada permainan terselubung. Namun, terkenal dikalangan murid-murid populer di mana mereka menyebutnya sebagai 'The Lady Killer'. Nicely, tidak ada otak terbang apalagi bola mata yang berjatuhan di lantai, jika kita berbicara tentang The Lady Killer karena Jeff berulang kali mengingatkan bahwa permainan tersebut bukan berkenaan dengan bunuh-membunuh. Melainkan hanya sekadar bagaimana menaklukkan seorang gadis kemudian menghancurkan hatinya di detik kemudian. Kejam memang, tetapi para lelaki menyukai hal tersebut sebagai bentuk tantangan sekaligus apresiasi seberapa berpengaruh mereka. Aku pribadi, menolak keras jika Jeff ikut dalam permainan konyol tersebut. Sebab meskipun tidak dapat dibuktikan secara teori, aku sebenarnya memercayai karma. "Kau benar-benar gila, Megan." Lamunanku seketika buyar oleh ucapan penuh dramatis yang berhasil hinggap di indra pendengaran, bersamaan dengan benda dingin yang menyentuh pipiku. "Kurasa sekarang kau tidak akan mampu menolak untuk menjadi seorang populer lagi." "Sama sekali tidak lucu, Alma." Mengambil benda dingin yang menyentuh pipiku barusan--Dr Pepper--aku segera bangkit dari tempat dudukku. "Tidak perlu klarifikasi karena aku akan memperlihatkan pada mereka, bahwa tidak ada jalang di sini." Entah sejak kapan aku tenggelam dalam lamunan, ketika berdiri sambil memegang Dr Pepper aku bisa melihat bagaimana anak-anak di kelas memandangku. Tatapan mereka--para gadis-gadis--tampak seperti seorang penganut kanibalisme. Tanpa berpikir keras pun aku sudah mengerti sekali bahwa siapa dalang dari semua ini. Yaitu Aiden lelaki dengan rasa kepercayaan diri sangat tinggi, yang mengganggu hariku sejak pertama kali membuka pintu rumah. Aku tidak perlu berbohong mengenai bagaimana perasaanku karena kenyataan mengatakan ada dua rasa yang di dalam dadaku, yakni senang dan cemas. Senang karena bisa memiliki kesempatan dekat dengan lelaki yang diam-diam kusukai. Dan cemas karena siapa pun di sekolah ini akan mengganggapku jalang sebab merebut kekasih dari gadis populer. Yeah, gadis populer yang kumaksud adalah Aubrey Paper. Seorang primadona Santa Monica High School di mana sialnya, aku baru menyadari bahwa ia berada di satu ruangan dengan kami yang tentunya menyaksikan bagaimana Aiden memperlakukanku. Aku meneguk saliva kuat-kuat, mengambil napas dalam kemudian mengembuskannya secara perlahan, lalu berdiri di balik punggung Aiden yang sedang mengobrol mengenai pertandingan semalam bersama teman-temannya. "Hai, Kowalsky. Terima kasih atas perhatianmu tadi, tapi kupikir aku tidak membutuhkan ini dan seharusnya aku menamparmu saja agar kau sadar siapa pacarmu yang sebenarnya." Aiden menoleh saat aku meletakkan sekaleng Dr Pepper dengan sangat kasar di atas mejanya. "Siapa lagi kalau bukan kau? Kupikir kita sudah meresmikan itu semalam dan--" "f**k off, Aiden! Kau--" "Good morning everyone and please sit down." Pandangan kami refleks menoleh ke arah sumber suara, bersamaan dengan keributan beberapa murid yang berpindah posisi akibat kehadiran Mrs. Pamela. Wanita itu menatapku, sebagai satu-satunya yang masih berdiri kemudian melilitkan kedua lengannya di atas d**a. "Bisa kau duduk, Miss Ave? Aku tidak memintamu untuk bertahan di sana karena keberadaanmu hanya akan merusak pandanganku." Merusak pandangan katanya? Kurasa Mrs. Pamela perlu memeriksa kembali kacamatanya karena aku tidak seburuk itu. Aku mengerutkan kedua alisku sambil menatap Mrs. Pamela dan setelah beradu pandang selama beberapa detik, akhirnya aku pun mengalah dengan mengembuskan napas kasar. "Well, thank you for your attention so that I pay more attention to appearance." Setidaknya kalimat itu cukup untuk menyinggung Mrs. Pamela karena apa yang ia katakan barusan, termasuk dalam kategori body shaming secara verbal, tetapi tersirat. Aku menarik kursi cukup kasar dan sedetik itu pula tatapanku bertemu dengan Alma di mana ia berbisik satu kalimat penuh kekaguman, hingga menimbulkan senyum tipis di wajahku. "Wow, kau mulai belajar menjadi gadis pemberontak rupanya." *** Hai guys, what do you think about this chap? Comment and vote this story, please because I'd like to read ur comment
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN