1

751 Kata
Punya seseorang yang menarik perhatianmu dalam keluarga besar memang sudah wajar. Apalagi usiaku bisa dibilang tepat untuk memikirkan jenjang selanjutnya. Tapi kalau yang menarik itu adalah sepupu jauh, yang merupakan anak dari sepupu ibuku? Yang bahkan walaupun hidup di kota yang bersebelahan, bertemu setahun sekali saja tidak. Yang bahkan jika aku pergi ke kota asal ibuku dan ibunya, aku juga tidak pernah bertemu dengannya di sana, karena kenyataannya dia juga tidak pernah kembali ke sana. Yang bahkan kami pada dasarnya berada di universitas yang sama, tapi tidak pernah sekalipun bertemu dengannya. Kalau sampai ada yang bertanya, sudah berapa lama aku menyimpan ini, mereka mungkin akan tidak percaya, laki-laki sepertiku yang cukup frontal dengan pilihan hidupku memilih mengagumi seseorang dalam diam sejak masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Aku bisa memutuskan dengan cepat ingin menjadi apa saat besar nanti ketika aku bahkan masih duduk di bangku SD. Tidak pernah sekali pun mengubah keinginanku soal itu, dan akhirnya berhasil sampai di titik sekarang. Jadi apa ini? Lebih seperti secret admirer? Tidak ada satu orang pun yang tahu soal perasaanku ini. Bahkan tidak sepupu dekatnya, yang cukup akrab denganku. Saat mereka ke Jakarta, kami biasanya bertemu. Tapi tidak ada alasanku untuk menanyakan soal dia, dan mereka juga sama sekali tidak membicarakan soal sepupu mereka itu. Awalnya hanya kekaguman biasa. Maksudku, anak laki-laki mana yang tidak akan terpengaruh dengan penampilan fisik? Betul, kan? Tapi semakin lama, aku semakin sering membandingkan sosoknya yang ada di ingatanku, atau bahkan di imajinasiku, dengan orang-orang di sekitarku yang berani jujur dengan perasaannya sendiri. Aku kemudian bersembunyi dibalik alasan, aku hanya tidak tahu bagaimana caranya. Aku masih terlalu muda, dan ini adalah hal baru bagiku. Tapi, aku terus berpegang pada pikiran konyol itu tanpa mau bertindak untuk mengajaknya bicara setidaknya sebentar. Pada akhirnya, aku hanyalah seseorang yang terlalu penakut untuk memastikan sesuatu yang tidak pasti. Secret Admirer: Somebody who loves you but too afraid to tell you. -unknown. Kurasa umurku sudah terlalu tua untuk terus mempertahankan ini. Tapi di sisi lain, memang harus kuakui dia masih sangat menarik, bahkan ketika orang-orang disekitarku mencoba mengenalkanku dengan orang-orang lain yang jelas bisa kutemui. Jadi, semakin lemah alasanku untuk mempertahankan harapan ini. *** “Please lah,” kataku kesal, “Belanda gede, engga mungkin juga bisa langsung ketemu. Mama juga engga tahu dia di mana. Engga usah ngerepotin suruh ngejemput, toh ada yang jemput kok. Tenant-nya Tante Mer.” Mama masih berusaha untuk membiarkanku mengontak anak sepupunya yang sedang di Belanda. Yang aku sangat tahu siapa itu dan di mana dia. Tapi masalahnya, kami tidak pernah mengobrol dan sama sekali tidak pernah mengontak satu sama lain. Akan aneh kalau mama tiba-tiba memintanya menjemputku. “Ya kan sodara juga, masa putus hubungan?” mama terus mencoba mengubah pikiranku. Putus hubungan bagaimana kalau pada awalnya saja memang tidak ada hubungannya yang bisa disebut sama sekali selain hanya kami adalah saudara jauh. Aku menghela napas, “Nanti Be yang nelpon ngajakin ketemu. Engga usah mama yang ngontak. Aneh nanti.” Mama masih terus meneruskan ocehannya. Aku memilih diam dan sesekali mengiyakan pendapatnya sambil terus mengemasi barangku. Entahlah apa wajar mama masih mengkhawatirkanku seolah aku masih remaja yang akan berangkat study tour dengan sekolahnya selama beberapa hari. Maksudku, aku adalah perempuan usia 25 tahun yang diberangkatkan karena usaha dan kerja kerasku akhirnya diapresiasi oleh kantor pusat. Menerima kenaikan jabatan dan dipindah tugaskan ke kantor pusat di Belanda. Bukankah dengan mendengar alasan keberangkatanku saja mama sudah tidak lagi punya alasan untuk berpikir macam-macam tentang anak perempuannya ini? Yah, walaupun sebagai ibu, mama tetap punya hak di atas segala situasi yang ada. Tapi setidaknya, setelah menjadi ibuku selama 25 tahun, mama seharusnya tahu kalau anak bungsunya ini bisa diandalkan dan dipercaya. Bahkan dibandingkan kakak perempuan dan laki-lakinya. “Terus rencananya mau pulang kapan?” tanya mama yang langsung membuat fokusku kembali seratus persen jatuh padanya. Aku mengalihkan pandangan dari tumpukan pakaian yang sedang kuusahakan untuk muat di koperku, dan langsung menatapnya tak percaya. Aku bahkan belum berangkat? “Ma? Be masih di sini udah ditanya pulang kapan? Ketemu bos barunya Be aja belum, ma?” Mama menghela napasnya, “Yah, seenggaknya pas puasa sama lebaran pulang. Pas idul adha juga kalo bisa. Pas tahun baru juga. Pas…” “Ma, Be engga sekaya itu bisa pulang tiap liburan, kalau mama mau tahu soal gaji Be,” kataku memotong daftar panjang keinginan mama terkait waktu yang tepat untukku kembali ke Indonesia. Kalimatku itu langsung membuat mama cemberut dan memilih meninggalkanku di kamar sendirian. Sibuk dengan persiapanku. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN