7

1321 Kata
Keputusan untuk bukannya menghindari tapi justru memberikan kesempatan pada diriku melihat Be yang sesungguhnya ternyata tepat. Aku bukan mau mengatakan kalau Be tidak seperti yang kupikirkan sama sekali, atau mengatakan kalau aku selama ini mengagumi orang yang salah. Aku lebih ingin mengatakan kalau akulah yang selama ini salah. Coba saja kalau aku bisa melakukan ini lebih dulu. Memberanikan diri mencari topik dan berbicara dengan Be saat masih SMP atau SMA. atau setidaknya saat kuliah. Aku akan dengan segera menyadari kalau aku hanya menyukai Be yang ada di dalam pikiranku. Bayangan Be yang sempurna yang dibuat oleh diriku sendiri. Bukan Be yang asli. Kalau aku melakukan itu sejak dulu, Maka aku tidak akan kesulitan menghabiskan waktu satu setengah tahunku mencoba membuangnya dari pikiranku. Bahkan, tidak perlu repot menjadi pengagumnya selama lebih dari 6 tahun. Yah, manusia memang terkadang dibodohi dengan rekayasa mereka sendiri. Kita hanya ingin melihat apa yang ingin dilihat, karena melihat kenyataan mungkin akan menyakitkan dan kita merasa tidak cukup tangguh untuk menerimanya. Tapi, ketika akhirnya seorang manusia cukup dewasa dan memberanikan diri untuk menghadapi yang sebenarnya, maka saat itu juga dia keluar dari belenggu dan bisa melangkah lebih jauh. Dan dia itu adalah aku. Aku melihat Be yang kekanak-kanakkan. Walaupun tidak setiap saat. Maksudku, dia masih seperti apa yang selama ini kulihat dan kukagumi. Bisa sangat mandiri. Dia tahu apa yang diinginkannya dan bagaimana cara mendapatkannya. Dia bekerja keras. Dia punya social skills yang lebih baik dibandingkan denganku. Dia cekatan dan otaknya cemerlang. Dia bisa mengikuti topik pembicaraanku atau bahkan Bagas dan Chacha ketika mereka sedang serius membahas hal-hal berat yang terkadang membuat Bianca memilih mundur dan menyibukkan diri dengan ponselnya. Tapi setidaknya, itu ditabrakkan dengan kenyataan kalau Be yang sempurna ini punya sifat kekanak-kanakkan yang tidak begitu memerdulikan waktu makannya. Tidak terlalu memerdulikan kesehatannya. Tidak memberikan perhatian yang cukup untuk hal-hal mendasar yang dipikirnya sepele, tapi kemudian akan semakin lama semakin membesar seperti bola salju. Keluar dari rumah sakit, dia sudah beberapa kali mengajakku untuk makan bersama, tapi jadwal kami tidak pernah cocok. Kalau aku tidak tiba-tiba mendapat panggilan darurat, Be tiba-tiba saja harus rapat atau mengerjakan sesuatu yang mendesak. Hasilnya, bahkan sampai hampir dua bulan setelah dia keluar dari rumah sakit, dia masih juga belum melakukan janjinya itu. Sayangnya, dia belum juga mengubah kebiasaannya bahkan setelah keluar dari rumah sakit. Aku masih beberapa kali mendapati Be pulang nyaris tengah malam dalam keadaan belum makan. Aku sering mendapatinya berada di dapur dan sedang sibuk dengan entah sereal, oatmeal atau makanan cepat saji yang hanya butuh dihangatkan menggunakan microwave. Aku bisa dibilang mengomelinya berkali-kali karena hal itu. Tapi nampaknya tidak berguna. Jadi akhirnya, aku pun memastikan kalau perempuan satu ini menyantap makan siangnya. Walaupun aku tidak bisa memastikan kapan, setidaknya dia memberikan asupan yang sehat untuk tubuhnya. Dengan itu, aku pun memaksanya memasak makan siangnya untuk satu minggu ke depan setiap Sabtu, entah Sabtu siang atau malam. Tidak sampai di sana. Jika aku kebetulan tidak sedang berjaga malam dan Be belum pulang. Aku akan sengaja berada di dapur untuk menghentikannya memasukkan makanan tidak bergizi cukup itu ke tubuhnya dan memaksanya mengkonsumsi makanan yang lebih baik. Aku benar-benar seperti seorang baby sitter. Sekarang ini salah satu buktinya. Be masuk dengan langkah diseret menuju dapur dan postur badan yang cukup membungkuk. Saat menyadari keberadaanku di kursi meja makan, dia langsung menghela napasnya dan bicara dengan suara yang sedikit berat, “Kalo lo mau nyeramahin gue besok aja.” Dengan itu aku segera berdiri dan membawanya ke kursi meja makan terdekat dan duduk, “Lo engga makan siang lagi?” Be meletakkan kepalanya di meja dan menutup matanya. Dia kelihatan pucat dan keringat dingin keluar dari pori-pori kulitnya. “Be?” panggilku memintanya menjawabku. Setidaknya aku butuh tahu keadaannya. “Engga ada yang bisa masuk. Muntah terus,” jawabnya dengan suara parau dan tertahan karena dia menghadap ke meja makan, bukannya padaku. Dia muntah-muntah? Keracunan? Atau maag? “Be lo…” aku baru mau memulai peranku sebagai dokter untuk mengecek keadaan pasienku yang tiba-tiba ini ketika dia memotongku, “Co, mending ke kamar. Dari pada kena omel. Selagi gue masih bisa ngontrol.” Aku menatapnya bingung. Dia tidak balas menatapku. Dia masih menghadap ke permukaan meja dengan posisi membungkuk. Perutnya terlipat, tapi kakinya bergerak-gerak tak sabaran. Tiba-tiba saja dia berhenti dan berdiri dalam hitungan detik. Dia mendorongku yang kelihatannya menghalangi langkahnya sambil menekan telapak tangan kanannya di mulutnya. Seolah menahan sesuatu keluar dari sana. Be berlari seperti sedang marathon menuju kamar mandi di bawah. Tempat tamu yang berkunjung jika mereka membutuhkan kamar kecil. Tanpa menutup pintunya dia terus masuk ke arah toilet dan kemudian membungkuk di sana. Muntah? Dengan segera aku melangkah mendekat dan menepuk punggungnya. Be kelihatan kesulitan mengeluarkan hasil kerja lambungnya itu. Tapi bahkan dari tempatku berdiri, aku bisa melihat kalau tidak ada yang bisa dikeluarkannya. Yang ada hanya zat asam lambung putih berbusa yang menggumpal karena tidak ada hal lain yang bisa diproses di lambungnya. Dia tidak keracunan. Kemungkinan besar maag nya kambuh. Dia pasti belum makan. “Chard?” suara seseorang menarik perhatianku dari Be. Bianca. Dia berdiri di pintu dan menatap Be khawatir. Saat menyadari aku sedang membalasnya dengan tatapan bertanya, dia membuka mulutnya tanpa bersuara dan bertanya, “Florimel kenapa?” “Just threw up. She hasn't eaten, I guess,” jawabku. Sekali lagi dia harus kesulitan begini karena ulahnya sendiri yang tidak cukup dewasa. Bianca kelihatannya tidak sependapat. Dia menatap Be yang sedang membersihkan mulutnya di wastafel, kemudian menurunkan pandangannya pada perut Be yang masih sedikit tertekuk karena posturnya yang masih membungkuk. Seolah menyadari apa yang terjadi, dia kemudian bicara pada Be, “Astaga, lo mending ke kamar, nanti gue bawain air madunya. Udah bisa minum obat, Flo?” Eh? Kenapa rasanya dia lebih tahu kondisi Be dibandingkan aku yang sejak tadi bersamanya dan merupakan seorang dokter. Be mengangguk lemas dan berjalan melangkahiku dan Bianca keluar dari kamar mandi. Aku menatap Bianca bingung tapi yang kutatap malah menatapku kesal, “Bantuin sepupu lo, Chard. Mau lo biarin naik tangga sendiri lagi kayak gitu?” Aku masih tidak yakin dengan apa yang terjadi. Aku tidak bisa menahan eskpresi wajah bingungku, dan kelihatannya Bianca memahaminya. Dia segera menjawab pertanyaan yang bahkan belum kulontarkan, “Girl’s problem,” jawabnya, “Sekarang mending lo bantuin Florimel sebelum tambah parah.” Dengan itu aku memercepat langkahku dan menyusul Be yang hampir berada di tangga. Dengan sigap aku berdiri di sampingnya dan membawanya merapat ke sisiku. Dia masih sedikit membungkuk, jadi untuk memastikan keamanannya, aku meletakkan tangan kiriku di pundak kirinya, sementara tangan kananku bertengger di pinggangnya, memastikan dia tidak oleng ke samping. Be kelihatannya terlalu sibuk untuk keberatan sekarang. Dan aku juga tidak punya waktu untuk berpikir macam-macam di saat Be sudah pucat seperti ini. Dia melangkah dengan sangat pelan dan berat. Kelihatannya bahkan tidak punya cukup tenaga untuk mencapai kamarnya. Jelas saja, tidak ada apapun yang bisa diproses saluran cernanya untuk dijadikan sumber energi. Atas dasar itu, aku pun memilih memberikan bantuan yang kurasa dibutuhkannya. Kupindahkan tangan kananku ke bahu kanannya dan menariknya berdiri tegak, lalu menyusupkan lengan kiriku ke belakang lututnya. Mengangkatnya dan membuatnya bertumpu padaku. Dia bahkan terlalu tidak bertenaga untuk melingkarkan lengannya pada leherku supaya tidak terjatuh. Saat akhirnya sampai di kamarnya, aku pun segera membukanya dan meletakkannya di tempat tidur. Ini pertama kalinya aku masuk ke kamar tidurnya, tapi bukan saatnya aku melihat-lihat dan melakukan room tour. Kenyataannya, Be yang baru saja kubaringkan di tempat tidurnya langsung menggulung badannya seperti bola satu detik setelah kuletakkan. Separah ini? Tapi kenapa dia sama sekali tidak mengeluarkan suara bahkan untuk merintih? Kelihatannya yang dialaminya seharusnya bisa membuat pasien menjerit dan menangis kesakitan, kan? Kelihatannya, sekali lagi aku melihat Be yang tidak pernah kubayangkan selama ini ketika dia sedang tidak dalam keadaan terbaiknya. Apa selama ini aku terlalu picik dan kejam menilainya hanya dengan satu kejadian itu? ‘Bahwa hidup harus dimengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami pemahaman yang tulus’ - Tere Liye. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN