Almira membuka amplop putih yang digenggamnya sejak pulang dari kantor. Senyum masih terus terukir di bibirnya. Perlahan dia mengeluarkan kertas dari dalam amplop dan membaca kata demi kata yang tertulis. Sesekali keningnya berkerut, tetapi lantas tersenyum kembali. Dia tidak tahu apakah yang dilakukannya ini benar atau salah.
Ketika Alfa meminta Almira menanyakan segala hal yang ingin diketahuinya. Almira malah memberi ide konyol untuk menulis setiap pertanyaan mereka dan saling menjawab. Yang lebih konyol adalah ketika Alfa menyetujui usulan itu.
“Kenapa harus ditulis?” tanya Midah saat itu.
“Sudah jelas, kan?” Alfa yang menjawab. Midah menatap pria itu tak mengerti. “Almira terlalu malu bertanya ataupun menjawab di depan kalian.”
“Lalu, kenapa tidak bertemu berdua saja?” Midah masih tidak mengerti.
“Ya ampun, Mi. Sebenarnya yang sahabat Almira itu kamu atau kami, sih?” tanya Haris geram.
“Aku,” jawab Midah polos. Membuat Almira nyaris tertawa. Untung saja dia ingat kalau kedua calon mertuanya masih ada di sana.
“Apa menurutmu Almira mau berduaan dengan Alfa?” Midah meringis, Haris mencubit hidung istrinya pelan. “Istri Mas ini memang menggemaskan.”
“Enggak usah pamer kemesraan, deh,” cibir Alfa. Dia menyilangkan kedua tangan di d**a dan menatap Haris lurus. Haris tergelak, lalu melayangkan tinju ke bahu Alfa.
“Kenapa? Pengin?” balas Haris.
“Iya, dong. Kamu enggak pengin, Al?” Ditanya tiba-tiba begitu, Almira menjadi gelagapan. Dia mengerjapkan mata dan melirik Midah yang sudah siap meledakkan tawa, tetapi ditahan.
“Mas Alfa,” rajuk Almira. Sifat manjanya muncul. Alfa malah tertawa pelan.
“Nikahnya malam ini saja, bagaimana?” Mata Almira melebar. Ternyata Alfa tipe pria yang suka sekali menggoda. “Takutnya Mas khilaf, terus ngelakuin sesuatu,” lanjut Alfa. Alisnya naik turun, sementara tangannya sudah menopang dagu. Dia terus menatap Almira yang mulai terganggu dengan debaran jantung menggilanya. Gadis itu mengembuskan napas berat, lalu tangannya mulai sibuk memainkan gelas.
Alfa kembali tertawa, kali ini diikuti oleh Haris. Midah hanya tersenyum penuh arti dan terus saja menyenggol bahu Almira. Sayangnya, Almira tidak menanggapi hal itu. Dia masih terus memainkan gelas berisi teh hangat.
“Almira itu lebih pemalu dari pada Midah. Kamu harus lebih pengertian, Al,” ujar Haris. Bukannya merasa tertolong dari jurang rasa malu, Almira justru didorong lebih jauh memasukinya.
“Mas Haris enggak usah ikut-ikutan,” kata Almira. Wajahnya sudah tidak bisa dibaca lagi, datar tanpa ekspresi.
“Oke. Maaf,” ucap Haris penuh sesal. Dia jadi merasa bersalah karena membuat Almira malu di depan Alfa. Lagi pula, sejak kapan Alfa suka menggoda wanita seperti tadi? Dulu mungkin iya, tetapi tidak setelah kejadian delapan tahun silam. Kejadian yang mengubah kepribadian pria itu.
“Lalu siapa yang akan bertugas sebagai tukang posnya?” tanya Alfa mengalihkan topik pembicaraan.
“Menurut Mas siapa lagi? Tentu saja Midah dan Mas Haris,” jawab Almira.
“Dibayar berapa, nih?” kelakar Haris.
“Minta bayaran?” Alfa tersenyum lebar pada Haris yang mengangguk. “Boleh saja, tapi potong gaji sebulan. Mau?”
“Ya elah. Sama teman perhitungan amat.”
“Kalo sama kamu memang perlu perhitungan, Ris.” Alfa berbalik ke Almira yang ternyata sedang memperhatikannya. Begitu dia menoleh, Almira kembali sibuk bermain gelas. “Jadi, kapan pertanyaannya harus dibuat? Banyak hal yang ingin Mas tanyakan.”
“Hari Senin saja.”
“Setuju. Enggak boleh jabatan tangan, nih?” goda Alfa. Almira mendelik.
*** Gadis berjilbab krim tidak menyangka akan mendapatkan jawaban sepanjang dan sedetail ini. Dia kira Alfa akan menjawab dengan singkat. Sepertinya pria itu sedang menjelaskan segala hal tanpa perlu repot-repot menutupi.
Ketika menerima pertanyaan dari Alfa kemarin, Almira cukup terkejut melihatnya. Pria itu memberi banyak pertanyaan dan sebagian besar berhubungan dengan hal yang remeh. Seperti, warna kesukaan, makanan dan minuman yang sering dimakannya, atau ukuran sepatu.
Lain ceritanya dengan Almira yang memberikan pertanyaan-pertanyaan rumit. Dia begitu penasaran dengan kehidupan Alfa dan tidak bisa menahan diri untuk menanyakan semua itu. Tidak salah, bukan?
Mata Almira terus menatap jawaban untuk pertanyaan terakhirnya. Mengapa Alfa bisa putus dengan mantan kekasihnya dan di mana wanita itu sekarang. Berapa kali pun dia membaca, untaian kata-kata Alfa membuatnya bertambah menyukai sosok sang calon suami.
Mas rasa ini adalah pertanyaan yang paling penting sekaligus paling ingin kamu tanyakan. Benar, kan? Sebelumnya Mas minta maaf jika nantinya ada penjelasan yang membuatmu tersinggung. Mas akui kalau Mas bukan pria yang agamis. Salat saja masih suka bolong. Tapi sejak ada gadis berjilbab yang membuat Mas terpesona, Mas mulai memperbaiki diri. Mas ingin mengenal gadis itu lebih dekat.
Kamu ingat saat pertama kali kita bertemu di lampu merah? Sebelum itu Mas sudah menyelidiki banyak hal tentangmu. Mas bahkan sesekali mengikutimu karena rasa penasaran. Waktu melihatmu melamun seperti itu, rasa penasaran Mas semakin menggebu. Mas tidak tahan untuk tidak menyapa. Jadi, Mas langsung menyapa.
Senang akhirnya bisa bertatap muka denganmu setelah hanya melihat diam-diam. Ternyata kamu lebih cantik dari dekat (ini bukan gombalan, Mas serius. Semoga Mas cukup tampan untuk wanita secantik kamu).
Mengenai mantan. Mas memang punya, namanya Hana. Dia teman Mas sejak SMP. Sejujurnya Mas sudah lama suka, tapi baru ketika kelas dua SMA kami jadian. Hubungan kami berjalan selama hampir lima tahun. Mas pikir kami baik-baik saja, ternyata tidak. Mas cuma selingkuhannya. Dia sudah punya pacar saat Mas menyatakan perasaan.
Hana menerima Mas karena tidak tega menyakiti hari sahabat baiknya. Sejak saat itu Mas seolah tidak percaya dengan cinta. Bisa-bisanya dia membohongi Mas selama itu. Bodohnya lagi, Mas tidak sadar sudah dibohongi. Padahal terkadang Haris mengatakan kalau ada yang aneh dengan sikap Hana. Sayangnya, Mas sudah dibutakan oleh cinta.
Begitu mengetahui kenyataan itu, Mas langsung kecewa berat. Rasa bersalah membuat Hana memutuskan untuk pergi dan tidak pernah kembali. Terus terang, Mas sedih sekaligus senang. Sedih karena dikhianati dan senang karena sang pengkhianat tidak pernah muncul.
Begitulah cerita masa lalu Mas. Mas harap kamu tidak merasa kecewa. Tenang saja, sekarang Mas hanya menyukai dirimu seorang. Eh, boleh nembak calon istri, kan? Maaf.
Mas hanya ingin memastikan jika penjelasan mengenai mantan ini tidak akan mengubah apa pun.
Kamu tidak akan membatalkan pernikahan hanya karena Mas punya mantan, kan? Saat ini Mas sudah bertekad untuk menjadi orang yang lebih baik. Setidaknya Mas bisa menjadi imam yang baik untuk wanita baik sepertimu, Al.
Mas sedang berjuang belajar. Doakan Mas berhasil, ya. Untuk hasilnya, kamu bisa langsung menilai setelah kita menjadi suami istri.
That’s all. Mas tidak sabar menunggu balasan surat darimu. Semoga kamu tidak menyembunyikan sesuatu dari Mas (ketawa ngakak). Mana mungkin seorang Almira Nafisha berbohong. Kata Midah, kamu tidak pernah tenang jika ingin berbohong. Ya Allah! Calon istri Mas baik sekali. Tidak sabar untuk segera menghalalkannya.
Salam manis dari calon suamimu. Fauzan Alfarizi.
“Serius sekali. Sedang membaca surat dari siapa, Al? Ibu panggil dari tadi tidak dengar.” Almira memasukkan surat Alfa ke dalam tas dengan cepat. Dia mencoba tersenyum pada sang ibu yang kini menatapnya tanpa berkedip.
“Itu ... Al baca ....”
“Sudah, tidak usah dijawab. Ibu tahu kamu pasti akan merasa bersalah kalau berbohong,” ujar Ibu. Dia berjalan mendekati Almira. “Gimana, Al? Alfa memang pria baik, kan?”
Almira memandang wajah tua ibunya, lalu mengangguk. “Sejauh ini Mas Alfa terlihat baik, semoga kami memang berjodoh.”
“Amin. Ibu ikut senang kalau kamu bahagia.” Ibu menggenggam tangan Almira. “Ya sudah, sekarang mandi sana. Sudah mau Magrib.”
“Iya, Bu,” ujar Almira. Ibu beranjak, tetapi sebelum benar-benar keluar dari kamar sang anak, Ibu berbalik.
“Jangan keseringan berkirim pesan. Takutnya nanti kebablasan.” Ucapan Ibu membuat Almira mematung. Dia hanya menatap Ibu tanpa mengiyakan atau menyangkal. Sepeninggalan Ibu, matanya lantas melihat tas. Tepatnya pada apa yang ada di dalam tas itu.
Apa aku sudah melakukan hal salah? Perasaan senang ini sepertinya terlalu berlebihan. Ya Allah, rasa suka ini begitu mengerikan. Lindungi hamba-Mu, Ya Rab.