Mentari hari ini tersenyum cerah pada bumi. Terbukti siang ini sangat terik dan panas. Tesa berjalan menuju lapangan sekolah bersama dengan temannya, Anjani. Sebelumnya gadis itu pergi ke kantin untuk membeli cemilan dan juga minuman.
Kata Anjani, hari ini kelas XII IPA 2 akan bertanding basket dengan kelas XII IPA 4. Hanya pertandingan untuk main-main saja sebenarnya, tetapi Tesa dengan semangat ingin menontonnya karena kelas XII IPA 4 adalah kelas Abian.
Lelaki yang ia cintai diam-diam. Lelaki yang ia cintai sendirian. Lelaki yang telah membuatnya terluka berkali-kali. Namun, dengan bodohnya ia masih mempertahankan rasa itu dan memendamnya erat. Sendirian.
"Gimana kalo kita taruhan, Sa?" ajak Anjani pada Tesa.
"Apaan?" tanya Tesa.
"Gue bertaruh kelas kita bakal kalah tanding sama kelas sebelah. Kalau gue kalah, gue bakal traktir lo seminggu. Dan kalau lo yang kalah, lo yang harus traktir gue. Gimana?" Penawaran Anjani menarik untuk dicoba. Jadi Tesa menyetujuinya. "Oke, aku dukung kelas kita."
Tesa tersenyum misterius menanggapi taruhan yang Anjani buat dengan dirinya. "Kamu bakal kalah Anjani," ujar Tesa yang membuat temannya itu kebingungan.
Namun sepersekian detik Anjani malah tertawa. Tentu saja, Abian sangat pandai bermain basket, ia bahkan sudah mewakili sekolahnya untuk lomba dan memenangkan perlombaan itu.
Setelahnya mereka berdua berjalan bersama menuju lapangan basket, suasana tampak ramai, banyak siswa yang menonton.
Anjani menarik lengan Tesa untuk mencari tempat yang kosong. Akhirnya mereka duduk setelah menemukan tempat kosong. Posisi yang sangat strategis menurut Tesa, karena dari posisi itu, dirinya bisa menonton tanpa halangan. Tentunya itu akan melancarkan aksi nakalnya juga.
Guru olahraga yang akan menjadi wasit. Setelah persiapan selesai, mereka mulai bermain. Seperti yang dikatakan tadi, Abian memang sangat lihai dalam bermain. Baru beberapa menit permainan dimulai, ia sudah mencetak tiga angka untuk timnya.
Anjani dengan kencangnya berteriak menyemangati Abian. Begitu juga siswa lainnya. Tesa hanya diam mengamati jalannya pertandingan.
Abian mendribble bola lalu melemparkannya ke ring lawan. Namun bola itu tak masuk. Kini bola dipegang oleh kelas XII IPA 2 dan mereka berhasil mencetak angka.
Lagi-lagi Abian berhasil mengambil alih bola dari tim lawan. Namun sayangnya, ia sama sekali tidak bisa mencetak angka. Bola itu selalu melayang ke samping ring dan tak bisa masuk. Abian bahkan heran, tak biasanya ia seperti ini. Bahkan lelaki itu sampai dimarahi oleh teman satu timnya karena lemparannya selalu meleset. Seolah ada sesuatu yang menghalangi bola untuk masuk ke ring.
Setelah setengah jam bermain, akhirnya pertandingan usai dengan kelas XII IPA 2 yang keluar sebagai juara. Dengan score akhir 12 : 3 untuk kelas IPA 2 dan IPA 4.
Semua penonton mendesah kecewa, apalagi teman-teman satu kelas Abian. Tapi tidak dengan Tesa. Gadis itu bersorak sorai dengan heboh karena kelasnya yang memenangkan pertandingan.
Bahkan ia berteriak menyebutkan satu per satu nama siswa yang ikut bermain basket dan memberikan love sign pada mereka. Lalu setelahnya ia tertawa keras dan mengejek Anjani. Kena kamu Anjani, gak tau aja kamu kalo aku kerjain, kekehnya dalam hati.
Anjani yang kalah harus menepati janjinya pada Tesa. Gadis itu menghela napas kasar. Menyesal mengajak Tesa bertaruh. Ia pikir kelas Abian yang akan menang. Akhirnya ia sendiri yang tekor karena harus mentraktir Tesa selama seminggu. Gadis itu pasti tak akan menyia-nyiakan kesempatan makan gratis yang ditawarkan temannya.
Karena bel masuk sudah berbunyi, akhirnya semua siswa kembali ke kelas untuk kembali belajar.
"Baik anak-anak, kita sudah membahas tentang novel di pertemuan sebelumnya. Hari ini kita akan membuat kelompok yang terdiri dari dua orang. Pergi ke perpustakaan dan cari satu novel, jangan ada yang sama! Karena setiap kelompok akan membedah dan menganalisis kebahasaan novel. Kelompok bisa memilih sendiri," jelas sang guru pada siswanya.
"Maaf, Bu, tapi kelas kami ganjil. Sisa satu orang," ujar Ridwan sang ketua kelas.
"Ah, ya, silakan bergabung ke kelompok lain! Jadi satu kelompok ada yang tiga orang, ya," jawab sang guru.
Tesa mengangkat tangannya, ia berkata pada sang guru jika dirinya akan mengerjakan tugas sendiri tanpa kelompok. Hal itu sontak membuat teman-temannya yang lain membelalak tak percaya.
Sang guru akhirnya mengizinkan. Ridwan mendesah kecewa ketika mendengar jawaban sang guru. Sebenarnya ia ingin mengajak Tesa untuk bergabung bersama kelompoknya. Namun, sayang, hal itu tak dapat direalisasikan untuk sekarang.
Semua siswa langsung menuju ke perpustakaan sesuai perintah dari gurunya. Mereka dengam heboh mencari novel-novel yang akan mereka jadikan bahan. Tesa langsung mengambil novel dengan acak lalu membacanya di pojok baca. Ruangan yang terletak di sudut itu cukup sepi, jadi Tesa memilihnya. Apalagi tempatnya yang dekat dengan jendela dan langsung mengarah ke jalanan membuat Tesa nyaman karena ia bisa menikmati langit juga. Sama seperti jika di kelasnya.
Tesa mulai membaca judul dan ringkasan cerita di belakang sampul bukunya. Mencatatnya di buku kecil sebelum di salin ke buku tugasnya.
Baris demi baris ia baca novel itu, namun pandangannya teralihkan ketika ada yang memanggilnya.
Tesa mendongak menatap Ridwan yang tadi memanggil namanya. Gadis itu bertanya pada Ridwan ada keperluan apa hingga memanggil dirinya.
Ridwan duduk di samping Tesa dan menjelaskan tujuannya untuk mengajak Tesa masuk ke kelompoknya, namun, sayang Tesa menolak dengan cara yang halus. Hal itu membuat Ridwan hanya bisa pasrah. Lalu, lelaki itu pergi dari sana.
Tesa hendak melanjutkan membaca novel itu. Namun atensinya tertarik untuk menoleh ke samping. Ke jendela yang langsung mengarah ke jalanan. Gedung perpustakaan di sekolah ini berada di lantai dua. Jadi jalanan terlihat dengan jelas dari jendela.
Tesa melihat lelaki yang kemarin ia lihat di toko roti ibunya. Lelaki itu celingukan seperti mencari sesuatu. Mungkin sesuatu miliknya hilang dan ia tengah mencarinya. Itu yang ada di pikiran Tesa sekarang.
Gadis itu melupakan tugas awalnya di perpustakaan dan malah memandangi sang lelaki dari kejauhan. Jika orang lain yang melihatnya, mungkin mereka akan kesulitan karena jaraknya yang cukup jauh. Namun, tidak bagi Tesa, gadis itu memiliki penglihatan yang begitu jeli meski obyek berada jauh dari hadapannya dan hal itu disyukuri oleh Tesa saat ini, karena ia bisa memandang sang lelaki tampan tanpa harus takut ketahuan.
Namun, ketika sedang asik menguntit, sang lelaki yang ada di jalanan itu melihat ke arah Tesa. Mata mereka bersitatap. Tesa sangat tekejut lalu memalingkan wajahnya. Melirik sebentar apakah lelaki itu masih di sana. Tesa langsung melangkahkan kakinya menjauh dari jendela setelahnya. Lelaki itu masih memandangi Tesa dengan tatapan tajamnya hingga Tesa pergi dan sudah tak terlihat.
"Apa barusan dia melihatku? Dia juga bisa melihat dari jarak sejauh itu?" monolog Tesa. Ia memegangi dadanya yang bergemuruh. Jantungnya berdetak cepat tak beraturan. Ia juga malu karena ketahuan memandangi orang yang tak dikenalnya.
"Dasar Tesa b**o, kalau ketemu lagi sama dia, mau di taruh di mana muka kamu?" rengeknya pada diri sendiri merutuki kebodohannya.
Sementara lelaki tadi, ia masih setia memandangi jendela tempat Tesa mengintipnya. Yang ada di pikirannya juga sama seperti Tesa sekarang. Ia juga bingung kenapa gadis itu bisa menatapnya dari jarak sejauh itu. "Siapa dia?" tanya lelaki itu pada dirinya sendiri. Lalu setelahnya ia kembali melanjutkan perjalanannya yang masih tertunda.
Tesa. Gadis itu memutuskan untuk melanjutkan tugasnya yang sempat tertunda di kelasnya saja karena suasana perpustakaan yang ramai membuatnya tak nyaman. Ia meminta izin dan pamit kepada sang guru lalu pergi setelah mendapat izin.
Selama perjalanan menuju kelasnya di lantai satu. Pikiran Tesa tak bisa teralihkan dari lelaki tampan yang tadi ia pandangi secara diam-diam.
Bahkan ia tak sadar jika sudah sampai di kelasnya. Berhenti sejenak untuk mengambil napas, Tesa masuk ke kelas dan mendudukkan dirinya di kursi lalu mulai melanjutkan tugasnya agar cepat selesai.
to be continue