"Kamu dan dia, terikatkah kalian?" —Tertanda, wanita bodoh yang masih berharap padamu.
NADINE'S POV
Aku terdiam. Kutundukkan kepala untuk segera memutuskan pandangan dari Razza. Napasku menderu, dan ini bukanlah pertanda baik. Kugigit bibir mencoba menenangkan pikiran di kepala.
Ini Razza, Nad. Cuman Razza. Nggak seharusnya lo takut.
"Nad?" Aku menatap Satria tidak fokus.
"Nad?!" Kini kutatap Kiya sambil mengerjapkan mata beberapa kali.
"Nad lihat aku! Ikut aku sekarang ya?" Aku menggeleng cepat. Aku pasti bisa menerima kembali seorang Razza, bukan? Tapi ternyata, gejolak itu datang bagaikan tamu tak diundang yang dapat menjatuhkanku kapan saja. "Nadine ikut aku sekarang!" Aku tidak lagi membantah perintah Satria dan membiarkan pria itu membawaku.
Aku tiba di ruangan yang sepertinya milik Satria, lalu pria itu mendudukkan tubuhku di sofa. Seperti biasa, dia membantuku agar kembali bernapas dengan teratur. Memintaku menenangkan pikiran.
Maafin dia, Nad.
Dia pembohong.
Bukan berarti dia niat untuk bohong, Nad. Mungkin dia cuma gatau gimana caranya jujur sama kamu.
Hah? Sampah.
Berhenti musuhan sama masa lalu. Kalau kamu terus nganggep masa lalu itu musuh, kamu nggak akan pernah dapet masa depan kamu. Kehidupan ini terikat. Disaat kamu punya masa depan yang kamu harepin, masa lalu punya peran penting disana. Kemarin, hari ini, dan besok. Ketiga hal itu punya ikatan yang nggak bisa kamu gunting gitu aja.
Aku terisak karena perdebatan yang dilakukan oleh hati dan otakku. "Nggak mau," ujarku sesegukan. "Aku nggak bisa maafin dia. Aku nggak mau. Aku benci dia." Napasku terengah, kutatap Satria yang kini berdiri dengan lutut sebagai tumpuannya. Kuusap kepala yang terasa berat. Ini menyakitkan ya Tuhan. Sangat.
Kalau kamu bisa maafin Aqila setelah dengerin penjelasan dia, kamu juga bisa maafin Razza, Nadine. Damai, Nad.
"Dia salah satu masa lalu aku." Kugenggam kedua tangan. "Pertama kali, aku ketemu sama dia di café. Dari awal, aku tau satu hal tentang dia. Dia benci hujan. Malemnya, aku ketemu lagi sama dia. Nggak sengaja waktu aku lagi makan bareng adikku. Kejutan lainnya kalau ternyata dia jadi anak baru di kelas waktu itu."
"Pelan, aku mulai temenan sama dia. Tapi aku gatau, kalau ternyata dia bakalan suka sama aku. Aku gak jawab apa-apa, aku akui aku jahat karena gantungin jawaban ke dia. Tapi beneran, waktu itu, gak ada yang tau, kalau aku pengen ngasih jawaban ke dia. Aku pengen coba buka hati ke dia, belajar nerima dia pelan-pelan. Tapi lucu, lucu banget, karna malem itu, aku denger semuanya.
"Adik aku, suka sama dia. Adik yang selama ini aku kira suka sama sahabat aku sendiri, ternyata suka sama laki-laki ini. Laki-laki yang jelas-jelas udah nyatain perasaannya ke aku. Mereka udah kenal lama. Dan bodohnya aku gak sadar tentang itu. Kenapa mereka harus bohong? Kenapa mereka jahat biarin aku nanggung sakit itu sendirian, Sat?"
Aku mengeraskan suara di akhir kalimatku. Bertanya pada Satria, berharap dia dapat menjawab segala rasa sakit itu.
"Dan pria yang kamu liat di Bali waktu itu, dia, Sat. Dia sahabat aku. Sahabat yang selama ini jadi pengecut karna gak pernah jujur ke aku. Sahabat yang selalu bilang kalau dia sayang sama adikku sendiri. Sahabat yang dengan enaknya godain adikku di depan mata aku. Dia sahabat aku. Sahabat yang sayangnya udah aku jadiin daftar orang asing di hidup aku."
Aku memegangi kepala. Mengutuk pria-pria itu.
"Lihat aku." Kutatap sepasang coklat gelap menenangkan milik Satria. Dan ini pertama kalinya aku bercerita lebih jelas pada Satria. "Kadang, kamu cuma lihat dari satu sisi, Nad. Kamu nggak bisa kayak gitu. Buat narik sebuah kesimpulan, kamu harus liat dari banyak sisi. Aku tau kamu ngerasain sakit hati itu, aku tau kalau sekarang kamu pasti ngutuk mereka yang pernah buat kamu sakit." Aku mendengarkan kalimat itu sambil menidurkan badan di sofa. Menarik napas dan membuangnya perlahan.
"Tapi, Nad, biarin aku nanya satu hal sama kamu. Kamu pernah mikirin sakit hati mereka? Kita nggak pernah tau apa hal yang orang lain rasain. Kecuali, kalau kita nanya ke mereka. Kalau kita biarin mereka jelasin semuanya tanpa harus kita sangkal. Kamu terlalu takut, Nad. Dan kamu terlalu fokus sama sakit hati kamu sendiri sampai lupa kalau orang lain mungkin juga sakit karna kamu."
Aku membeku beberapa saat. Mereka sakit karena aku? Satria bercanda? Semuanya sudah jelas bukan? Aku yang menanggung sakit itu. Kuputar kepala untuk menatap Satria yang duduk di sofa seberangku.
"Maksud kamu apa, Sat?" tanyaku berpura-pura tidak paham.
"Aku tau kamu ngerti maksud aku."
"Aku males ngertiin kalimat kamu."
"Biarin mereka jelasin semuanya, Nad. Bunuh rasa takut kamu. Jangan biarin takut itu nguasain kamu. Aku bakal nemenin kamu. Aku disini, Nad. Di samping kamu. Karna kesembuhan kamu yang aku harepin sekarang."
"Aku laper." Satria terdengar menghela napas dan setelah itu berdiri.
"Mau makan apa?"
"Sat."
"Iya?"
"Kamu bilang kamu bakal nemenin aku, kan? Aku bakal pergi ke acara reuni akbar minggu ini. Dan aku harap kamu mau ikut," ujarku takut. Dan diluar dugaan, Satria tersenyum sambil mengangguk.
"Ayo makan," ajaknya sambil mengulurkan tangan.
"Aku nggak mau makan sama kamu."
***
Disini aku berada sekarang. Di salah satu meja yang posisinya berada di dekat jendela sebuah rumah makan yang terletak di depan rumah sakit. Kupegangi d**a untuk merasakan detak jantungku. Setelah mengatakan bahwa aku tidak ingin makan bersama Satria, aku kembali meminta tolong padanya untuk mengabari Razza bahwa aku menunggunya disini.
Kuhela napas lagi dan lagi. Semuanya pasti akan baik-baik saja. Kepalaku terus saja memutarkan kalimat tersebut. Dengarkan pria itu bercerita tanpa menyangkal kalimatnya. Mencoba berdamai adalah salah satu langkah agar aku dapat menerima keadaan.
Napasku tertahan ketika pria itu berjalan perlahan ke arahku. Tubuhku seakan ditahan oleh sesuatu sehingga aku tidak dapat berdiri untuk menyambutnya dengan lebih sopan. Kutatap matanya sambil sesekali melirik ke arah lain.
"Boleh aku duduk?" Suaranya terdengar, membuatku meresponnya dengan mengangguk kikuk. Dan sekarang, jarak kami hanya dipisahkan oleh meja berukuran sedang.
"Apa kabar, Nad?" tanyanya. Dia tersenyum tipis ke arahku.
"Aku disini bukan untuk jawab pertanyaan itu," ujarku datar dan pelan. Namun sekilas, kulihat senyum tipis menghias wajah pria di depanku. "Kamu nggak perlu tau kabar aku. Nggak ada yang perlu tau itu."
"Aku sering main basket di bawah hujan, Nad," ujarnya membuat gerakan tanganku pada sedotan terhenti. "Aku ngerasa kalau kamu juga main bareng aku."
Aku tidak merespon kalimat tersebut. Membiarkan pria ini melanjutkan sampai tuntas dan aku akan mendapatkan sudut pandang berdasarkan apa yang ia rasakan.
"Ada hal yang berubah setelah kamu pergi. Hujan yang mulai jadi sahabat aku, terus Nara yang sekarang pelan-pelan jadi lebih terbuka. Tapi, Nad, perasaan aku nggak sekalipun berubah buat kamu. Semua malam yang aku lewatin dalam tujuh tahun ini, selalu ingetin aku sama kamu. Wajah, senyum, ketawa, bahkan cara kamu nguap, semuanya selalu aku bayangin tanpa cela."
"Setelah semua kebohongan kamu? Setelah apa yang udah kamu ukir di hidup aku? Dan sekarang, dengan gampangnya kamu bilang kalau perasaan kamu tetep sama?" Napasku mulai tidak beraturan. Tanpa harus mendengar penjelasan pria ini lebih jauh, aku memilih bersuara. "Aku nggak peduli sama kamu dan hujan. Yang aku mau tau, apa alasan kamu bohong selama ini? Kalau aja kamu tau, gimana sulitnya aku buat napas karena luka itu banyak banget. Aku percaya sama kamu. Percaya sampai aku nggak pernah mikir kalau kamu bakal jatuhin aku gitu aja."
"Karna aku sayang kamu, Nad. Sayang sampai aku takut kamu pergi."
"Itu obsesi, Razza."
"Aku cuma mau kamu, Nad."
"Dan kamu pikir aku bakalan kasih kamu kesempatan?"
"Karna dia? Azka?"
Sialan.
"Nad, dia berubah. Kamu gak perlu berharap sama dia lagi. Kamu gak perlu berharap sama pria pengecut."
"Dan kamu pikir kamu apa? Bukan pengecut? Berhenti ngejelekin orang lain dan cari cermin buat ngaca, Za."
"Dia udah punya pengganti kamu, Nad." Aku terbungkam ketika kalimat Razza menyerangku telak tepat di hati. Kutatap matanya, menahan amarah yang sekuat tenaga aku tahan.
"Kamu bener, selama ini ternyata kamu emang berubah. Kamu bukan lagi malaikat, Za. Kamu bukan lagi Razza lembut yang aku kenal."
"Nad.."
"Kamu pikir kamu bisa boongin aku lagi?"
"Aku nggak bohong, Nadine. Temen kita sendiri yang ngabarin kalau bulan depan Azka bakal tunangan."
"Kamu bohong."
"Nadine aku nggak bohong, Demi Tuhan."
"Nggak usah bawa-bawa Tuhan! Aku nggak bakal pernah bisa kamu boongin lagi, Razza. Kalau kamu tau, beberapa waktu lalu aku ketemu sama dia. Dan kabar baiknya, aku juga ketemu sama kakaknya. Dan kamu tau apa? Dia masih sendiri. Nggak terikat sama siapapun." Aku berdiri, meninggalkan selembar uang di atas meja dan berlalu dari sana.
Aku mengusap wajah, menghapus cepat air mata sialan yang mengalir di pipiku. Aku marah. Aku kecewa. Dan persetan pada siapapun sekarang. Aku benci segalanya.
"Nad!" Aku menyeberangi jalanan dengan cepat ketika teriakannya terdengar, menuju parkiran untuk segera masuk ke mobil. Kupukul setir berkali-kali, menumpahkan amarah disana. Tisu beserta kotaknya berhamburan karena kulempar. Kupeluk lutut sambil menarik geram rambutku dengan jemari.
Tidak. Kak Zeydan tidak pernah mengatakan apapun. Itu hanya bualan agar aku bertahan. Agar hatiku tidak terlalu sakit. Namun kenyataannya, aku terluka. Benarkah yang Razza katakan?
"LO BILANG LO BAKAL NUNGGU GUE, AL!"
"LO UDAH JANJI."
"ALDRIC LO UDAH JANJI SAMA GUE!"
"JANGAN INGKARIN JANJI ITU, AL!"
"ALDRIC GUE SAYANG SAMA LO, b******k!"
Napasku terengah diikuti oleh rasa sesal yang datang menyerbu. "Aldric ... Aldric gue sayang sama lo. Jangan tinggalin gue, Al."
Aku tahu, sia-sia semua suaraku. Terbuang tenagaku karena berteriak. Tapi aku hanya ingin bebas dari rasa menyakitkan ini. Hanya berharap bahwa pria itu tau perasaanku kini. Kenapa Tuhan memintaku untuk terus berjuang? Mengapa aku tidak boleh bersikap egois? Berdosakah jika aku berharap pria itu berjuang untukku?
Tuhan, aku lelah.
***
Aku membuka mata perlahan dan mengerjapkannya beberapa kali. Kutatap ruangan putih yang sudah biasa kudatangi kala tubuhku melemah. Entah bagaimana caranya aku bisa disini, karena yang aku ingat, terakhir kali aku memejamkan mata karena lelah berteriak di mobil.
Kutatap pintu ruangan yang terbuka. Mama masuk dan segera berlari ke arahku. Wajah lembut itu kini menatapku panik dengan mata memerah.
"Aku baik-baik aja, Ma."
"Enggak baik kalau kayak gini, Nadine."
Aku memilih memejamkan mata, malas berdebat dengan mama. Karena akan percuma, mama akan terus menyerangku. Dan pada akhirnya aku akan makin kelelahan.
"Tante." Suara pintu terbuka dan disusul suara pelan Kiya terdengar. Percakapan mama dan Kiya tetap kudengar walau mataku terpejam.
"Nadine kecapean, Tante. Tapi mungkin ada hubungan sama masalah batin yang gak bisa Kiya tebak gitu aja. Bagian psikiatris yang bakal ambil bagian kalau buat masalah ini. Oh iya tante, Satria, psikiater yang nanganin Nadine selama di London sekarang kerja disini."
"Beneran?"
"Iya, Tante."
"Tapi, kamu tau sebelumnya Nadine kenapa?"
"Aku nggak tau, Tante. Mungkin Tante bisa tanya secara pribadi ke Satria. Juga tante, aku mohon, jangan ngekang dan terlalu paksa Nadine apalagi nganggep seakan-akan dia punya penyakit berbahaya. Karena dia gak cuman butuh seorang psikiater tante, dia butuh mama sama papanya buat selalu jadi temennya. Malem ini biarin Nadine nginep, besok Kiya yang bakal anterin Nadine pulang. Kalau Tante udah mau pulang, kasih tau Kiya. Tante gak baik ada disini semaleman. Jadi Kiya yang bakal ganti buat jaga Nadine. Kalau gitu, Kiya permisi dulu Tante."
Tidak kudengar lagi apapun selain isak tangis mama. Sebuah elusan ringan di kepala membuatku lebih nyaman dan dilindungi.
"Nadine, mama disini sayang. Mama sayang kamu. Kita lewatin ini sama-sama. Anak mama bakal sembuh."
Dan setelah mendengarkan kalimat penuh keajaiban tersebut, aku memilih untuk tidur.
***
"Jadi nanti sebelum makan malem lo bisa, kan?"
"Gue usahain."
"Harus, tau."
"Lagian kenapa gue mesti ikutan, sih?"
"Lo kan calon sepupu ipar gue."
"Sialan. Tu mulut ya, asal ngomong aja. Calon sepupu ipar darimana kalau terakhir kali gue ngeliat sepupu lo itu delapan tahun lalu? Lagian juga gue nggak minat sama dia."
"Eh? Jadi Sean beneran belom ngehubungin lo?"
"Ngehubungin gimana?"
"Ya, nelfon, sms, chat?"
"Lo beneran butuh tidur kayaknya, Nad. Udah sana masuk, gue jemput jam tujuh ya."
"Masasih, Ki? Dia beneran belom ngapa-ngapain?"
"Apaansih? Gue gak ngerti lo ngomong apaan."
"Sean suka sama lo," ujarku cepat.
Wajah perempuan di depanku berubah seketika. Kiya sepertinya kaget mendengar ucapanku barusan.
"Nih ya, Nad. Gue bener-bener nggak pernah deket sama sepupu lo itu, iya maksud gue Sean. Dan aneh aja kenapa tiba-tiba lo bilang kalau Sean suka gue. Gue gak mau mikirin hal kayak gini dulu, Nad. Gue cuma mau karir gue makin bagus."
"Nikah bukan berarti lo nggak bisa berkarirkan, Ki?"
"Nikah? Nad, pacaran aja gue ogah lah lo malah bahas nikah."
Aku menggigit bibir bagian dalam, berusaha mengerti maksud Kiya. Kuhela napas berat, mengangguk pada Kiya. "Yaudah deh. Gue masuk dulu ya. Jam tujuh inget."
"Sana lo." Aku mencibir mendengar usirannya.
"Jam tujuh!"
"Gue nggak pikun, Bego."
Kulambaikan tangan padanya setelah itu membuka pagar rumah. Aku masuk ke rumah dan tidak menemukan siapapun. Sama saja, selalu sepi. Terkadang aku sering merasa kesal, kenapa mama hanya melahirkan dua orang anak. Jika saja mama melahirkan tujuh orang, mungkin rumah ini akan lebih ramai. Aku mendesah pelan, mengabaikan bayangan gila tersebut.
Aku mendatangi mbak Hike yang tengah sibuk di dapur. Kutuang minum ke dalam gelas sambil mengajak mbak Hike bicara.
"Mama papa mana, Mbak?" tanyaku setelah meneguk habis air putih dari gelas.
"Bapak ya kerja, Non, ibuk lagi di rumah opa." Aku mengangguk mengerti, lalu memilih pergi ke kamar. "Non." Langkahku terhenti saat mbak Hike kembali memanggil.
"Kenapa, Mbak?"
"Ibuk pesenin ke mbak, katanya suruh bilang ke Non Nadine, kalau urusannya hari ini udah selesai, langsung nyusul buat makan malem di rumah opa." Aku terdiam dan hanya mengangguk perlahan, lalu melanjutkan langkah.
Sampai di kamar, aku memilih mandi dan bersiap-siap. Hari ini aku akan bertemu dengan istri pak Adam, melanjutkan kerja yang sempat tertunda kemarin. Ya, sebenarnya memang istri pak Adam yang seharusnya bertemu denganku hari itu untuk membahas perihal design wedding dress. Namun ternyata, dia tidak dapat datang dan meminta pak Adam selaku suami untuk mengurusnya. Pak Adam yang memang memiliki jadwal meeting bersama Aldric hari itu terpaksa juga harus mengajakku karena dia tidak punya waktu lain.
Reva sendiri masih kuberikan libur, sudah lama sejak dia berpisah dengan keluarga dan pasti sangat berat menahan rindu yang membuncah. Perihal makan malam di rumah opa malam ini, karena Sean yang akan pulang.
Aku merias wajah sedikit sambil sesekali menatap layar televisi yang tengah menampilkan berita para selebritis. Aku mengernyit bingung. Apa yang salah dengan wanita beranak satu yang menikah dengan pria yang tampak lebih muda darinya? Aku menggelengkan kepala kala mendengar beberapa komentar. Tidak cocok? Hei! Kebahagiaan sepasang insan beda usia itu tidak akan berpengaruh bukan pada si pekomentar? Jika saja pernikahan mereka membuat pekomentar jatuh miskin, mungkin akan lebih masuk akal.
Aku memukul kepala beberapa kali, membuang semua pikiran di kepala mengenai berita tersebut. Bergegas mengambil tas lalu keluar dari kamar. Aku berpamitan sebentar kepada mbak Hike lalu berjalan keluar rumah. Pak Budi, supir yang menggantikan Pak Ujang sudah siap siaga. Sedikit sial, karena mobilku harus masuk bengkel karena terdapat beberapa kerusakan yang lumayan parah. Tapi sebentar, siapa yang menolongku kemarin?
***
"Lo telat empat puluh menit. Bahkan gue udah tiga kali minum disini."
"Tai, sih."
"Gue capek tau nungguin. Malah ditaiin."
"Ya gimana? Pasien butuh gue."
"Iya deh orang sibuk, ya."
"Sibuk banget!"
"Ayo, ntar ngaret lagi."
"Eh gue mau minum dulu."
"Punya gue aja. Biar sweet kita."
Muka Kiya tampak kesal sedangkan aku hanya terkekeh pelan. Minumanku sudah dirampas olehnya. Kuikuti langkah Kiya menuju mobil, tetapi ponsel yang berbunyi membuatku berhenti sebentar. Nama Sean yang muncul membuatku mengernyit. Jangan katakan bahwa pria itu telah tiba? Aku dengan cepat masuk mobil lalu menyuruh Kiya mempercepat perjalanan. Sial. Kiya yang sedang kesal menjadi bertambah kesal karena perintahku yang seenaknya.
"Lo tu ya."
"Udah buruan."
"Sabar ini macet, begok."
"Tai banget sih."
"Lah? Elo kenapa nggak taksi aja tadi coba?"
"Kan gue nungguin elo."
"Kan gue suruh duluan aja kalo gamau nungguin."
"Tapi gue maunya sama lo. Gamau sama taksi."
"Yaudah, terima aja kalau perginya baru sekarang."
"Iya udah ih cepetan aja bawanya. Lo lama amat kayak siput—nah tu maju."
"Bawel banget sih. Tu ponsel lo bunyi."
"Gamau jawab, biarin aja."
"Ntar dia pulang pake taksi gimana? Percuma dong kita kesana tu orang udah pulang duluan."
"Ahh."
"Gausah ah ah ah. Buruan."
Aku terdiam menatap ponsel, benar juga yang Kiya katakan. Setelah menarik napas perlahan, aku akhirnya menjawab panggilan Sean.
"Halo?- Ini udah di jalan- Serius? Jadi pulang berdua?- nah makan aja dulu.- Iya ini macet parah.- Lo sih pake pulang malem minggu begini. Ya gak jalan-jalan mobilnya.- Bukan, bukan gue yang bawa, ada supir."
"Iblis lo!" Aku mencebik kesal ketika Kiya bersuara.
"Bareng Kiya- Eh? Yan? Sean?- Kampret dimatiin."
"Kasian."
"Setan lo."
Kurang lebih satu jam, aku dan Kiya akhirnya sampai. Setelah memarkirkan mobil, kami segera menuju ke tempat dimana Sean berada. Dia memberi tahukan bahwa dia tengah makan. Aku menghela napas lega kala melihat Sean tengah melahap makanannya. Tapi sebentar, kenapa ada tiga orang? Bukankah hanya dua? Sean dan Mario. Ya, Mario juga pulang bersama Sean.
Shit.
Jangan katakan bahwa..
"Woi!" Aku terkesiap saat Sean memanggil dan melambaikan tangannya. Apa dia sudah gila? Tidak pahamkah pria itu tentang perasaanku sekarang? Bukankah Sean yang paling mengerti keadaanku?
Napasku kembali menderu kala dua pria lainnya ikut menoleh. Benar. Mario dan sepupu terbaiknya. Aldric. Pria itu tampak santai dengan kemaja maroon yang tengah dikenakan. Kiya di sebelahku sepertinya tak kalah kaget, terbaca dari pegangannya di lenganku.
Tidak, tidak, tidak. Tidak seharusnya aku mundur. Sialan. Percakapan Razza terakhir kali membuatku kembali takut dan khawatir. Benarkah lelaki itu sudah memiliki seseorang?
"Hai, Dedek Gemes! Beanienya mana?" Kutatap tajam Mario yang wajahnya terhias dengan cengiran lebar. Ini benar-benar tidak lucu jika mereka ingin tahu.
"Duduk, Nad." Aku beralih menatap Sean. Meneriakkan lewat mata bahwa aku begitu membenci cara seperti ini.
"Kalian janjian?" Suara tanya Mario terdengar. Membuatku mengernyit bingung tanda tidak mengerti. Siapa kalian yang Mario maksud? Aku? Kiya? Atau yang lainnya? "Azka Nadine janjian?" Baiklah. Aku tidak mengerti sekarang. "Kemeja sama higheelsnya samaan maroon."
Sialan. Mario sialan.
"Oh iya, kemarin kalian sempet ketemuankan di Bali? Udah kangen-kangenan belum?"
"Kangen-kangenan gimana kalau si cowok malah kabur."
"Masa?"
"Terus yang cewek juga kabur."
"Stress."
Aku menarik napas panjang. Menatap Mario dan Sean sambil tersenyum, terluka. Mereka keterlaluan. Kupegangi kepala yang sepertinya mulai bereaksi. Tuhan, jangan di depan pria ini.
"Nad?" Panggilan Kiya kuabaikan dan aku segera berdiri.
"Gue ke toilet sebentar."
Aku berjalan cepat, memasuki toilet dan mencari bilik kosong. Aku duduk di atas closet sambil mengacak isi tas untuk mencari benda yang begitu aku hindari. Ku ambil sebutir pil dan dengan cepat kutelan benda itu. Kupijit kepala beberapa kali sambil mengatur pernapasan.
Setelah merasa lebih baik, aku segera keluar dan menatap sebentar bayanganku pada cermin. Aku bergegas keluar setelah memparbaiki keadaan rambut. Tepat setelah keluar dari toilet, langkahku terhenti. Kutatap pria di depanku tajam.
"Maksud lo apa?"
"Nad gue cuma mau kalian kayak dulu lagi."
"Buat apalagi sih, Yan? Lo pasti taukan tentang dia yang bakalan tunangan bulan depan? Lo udah taukan?"
"Nad...."
"Gue udah kalah, Yan."
"Gue minta maaf." Sean menarikku dalam dekapannya dan tangannya membelai lembut rambutku. "Lo masih punya kesempatan itu, dan gue bakal bantuin lo. Yang harus lo lakuin, dengerin semua penjelasan Azka. Dan jujur, Nad. Coba buat jujur."
"Lo yakin?"
Tidak ada jawaban, melainkan hanya dekapan yang kian mengerat. Lalu kulepaskan diri dari Sean dan berjalan lebih dulu menuju tempat semula.
"Yan, jadikan? Kita bareng Kiya aja, dia mau nemenin soalnya." Aku menatap Mario penasaran.
"Pada mau kemana?"
"Nyari kerak telor, cireng dan kawan-kawan."
"Kok bareng Kiya sih?"
"Soalnya gue juga lagi kepengen cireng keju, Nad," ujar Kiya tiba-tiba.
"Buruan, ntar yang jual kaya duluan abistu malah pulang."
"Bego," semprot Kiya pada Mario.
"Yaudah, kita duluan, ya," ucap Sean menatapku.
"Kok lo natep gue? Kan gue juga ikutan," balasku tidak terima. Apa-apaan maksud mereka?
"Nggak muat anjir, Nad. Koper kita lo nggak liat?"
"Udah, udah, buruan." Sean dan Mario berjalan dengan koper mereka. Sedangkan Kiya menatapku dengan pandangan tak terbaca.
"Lo hati-hati. Nanti gue beliin cireng sepuluh buat lo. Lo suka yang ayam, kan?" Aku mencebik sebal pada Kiya, sedangkan perempuan itu memilih pergi setelah mengacak rambutku.
Aku menoleh takut ke belakang, kutarik napas dan menghembuskannya perlahan. Tidak. Tidak bisa. Aku memilih keluar untuk mencari taksi. Namun baru saja membuka pintunya, tangan lain dengan cepat menutupnya.
"Aku yang anterin kamu." Jantungku berdetak tidak karuan. Pria ini, Aldric, tepat berdiri di depanku. "Ayo." Aku masih membeku menatapnya. Kenapa sekarang dia berlagak kenal denganku setelah apa yang dia lakukan di Bali beberapa waktu lalu? Malam ini, dia sedikit berbeda. Tidak lagi terlihat dingin dan jauh. Tidak lagi terlihat susah untuk dijangkau.
Aku terkesiap kala tangannya menggenggam tanganku. Membawaku berjalan menuju parkiran. Kutatap tangan kami yang saling bertautan. Aksi biasanya ini sukses menghasilkan reaksi luar biasa di tubuhku. Tahukah pria ini aku menahan napas sejak tadi? Tahukah dia bahwa aku bahagia karena dapat merasakan lagi hangat tangannya? Taukah dia jantungku sudah ingin meledak?
Perlakuan kecilnya kembali kurasakan. Ketika dia membukakan pintu mobil untukku dan memintaku masuk perlahan. Beberapa saat kemudian, aku dan Aldric sudah duduk bersampingan. Dan suasana awkward ini sangat memuakkan.
Kudengar Aldric berdehem, dan sukses membuat jantungku makin meloncat riang di tempat. Macet sialan yang terjadi membuat perutku seperti di pelintir. Badanku berkeringat dan perutku sangat sakit. Oh Tuhan, suasana macam apa ini?
Aku menatap kosong ke luar jendela. Dan pernyataan yang dulu pernah kukatakan kepada Aldric kembali berputar di kepala. Tentang aku yang berkata bahwa suatu saat, jika Aldric menemukan seseorang, aku akan menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat untuknya. Sialan. Demi Tuhan, aku benar-benar tidak rela.
"Aku denger dari Sean kamu udah sukses jadi designer." Aku menoleh cepat, menatap Aldric yang tetap fokus melihat jalanan di depan. "Kamu makin cantik, Nad." Tuhan!
"Gimana London?" Kutatap lagi pria ini sekilas. "Gimana orang-orangnya? Kamu bahagia, Nad?"
Enggak, Al. Bahagia aku cuma kamu.
"Yang kemarin nyusul kamu di resto, dia pacar kamu?"
Bukan, Al. Dia psikiaterku.
"Maaf buat sifat pengecut aku selama ini, Nad." Kudengar helaan napasnya yang berat lalu hening.
"Aku—"
"Selamet, ya," kupotong cepat ucapannya, takut jika Aldric malah membahas pertunangannya. Akan lebih baik jika aku yang lebih dulu mengucapkan selamat. "Selamat buat kamu, sama calon tunangan kamu."
Keadaan hening. Tidak ada yang berinisiatif untuk bersuara. Kami berdua terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Kamu inget, Nad? Waktu kita liburan di Jogja. Waktu aku berhasil lewatin dua pohon beringin itu. Kamu tanya apa permintaan aku, kan? Tapi aku nggak jawab, karena aku pikir kamu udah tau jawaban aku. Tapi kayaknya kamu belum tau. Permintaan aku itu—" Kutatap pria itu dalam, rasa penasaranku membuncah minta dipuaskan.
"Kamu, Nad. Aku mau kamu."
...tbc...