"Menjadi pemaaf itu mulia. Meminta maaf itu bukan berarti kalah. Semuanya sama rata. Asal satu, kamu ikhlas." —Dengan tangis berderai dalam pelukan hangat eyang.
NADINE'S POV
Setelah berlibur beberapa hari bersama keluarga, akhirnya aku memijakkan kaki di tanah air. Benar-benar di kota kelahiranku. Udara disini, sesuatu yang sudah lama tidak aku hirup masih saja terasa sama. Hiruk pikuknya. Wajah-wajahnya. Dan bentuk remaja yang makin beraneka ragam. Demi Tuhan, aku rindu.
Kini aku tengah berada dalam mobil yang seperti biasa, terjebak di antara banjirnya kendaraan lain. Kemacetan. Hal yang satu ini memang tidak pernah berubah. Aku paham, paham sekali. Bunyi klackson yang saling bersahutan, teriakan para manusia yang berkendara motor, umpatan kesal, emosi ingin cepat tiba di tujuan masing-masing. Semuanya melebur jadi satu dalam satu ruang.
Supir baru yang dipekerjakan oleh mama menggantikan posisi pak Ujang. Padahal sebelumnya, aku begitu antusias untuk menyapa pak Ujang. Dan bang Igo, juga sudah tidak bekerja lagi. Bang Igo mencoba melamar pekerjaan disana-sini dan membuahkan hasil yang setidaknya lebih baik daripada harus menjadi penjaga rumah. Mama mengerti ketika bang Igo mengatakan bahwa ia tidak lagi dapat bekerja, alasannya karena dia akan segera meminang seorang wanita. Mungkin sekarang mereka telah menimang anak. Memikirkan hal tersebut membuat hatiku dipenuhi rasa haru.
Jika Satria, lelaki itu memilih pamit dan pulang sendiri. Reva juga sudah dijemput oleh kakak lelakinya. Aku tertawa ketika perempuan itu berteriak dan memeluk sang kakak. Dia pasti sangat rindu. Kak Fiko dan keluarga juga memilih pulang dengan taksi. Lulu yang tadinya ingin bermain bersamaku tidak diizinkan oleh sang bunda. Takut bocah itu kecapekan. Aku mengangguk tanda setuju, lalu membujuk Lulu untuk pulang.
Selama di Bali, Lulu selalu memegang camera miliknya. Memotret segalanya. Hasilnya memang tidak seperti photographer handal. Hasilnya standar, tapi layak diberi pujian. Fotoku dengannya begitu banyak disana. Dia selalu tertawa. Dan itu membuatku bahagia luar biasa. Rasa sakit yang aku rasakan selama ini seperti terangkat kala melihat Lulu tertawa lepas. Melihat pipinya terangkat kala lengkungan sabit tercipta disana. Saat mulutnya mengeluarkan suara lembut khas anak-anak ketika bernyanyi.
Aku menoleh ketika suara mama memanggil. "Opa mau ketemu kamu."
"Aku tau. Aku bakalan kesana nanti."
"Opa udah nggak bisa duduk lagi sejak sebulan lalu."
"HA?!"
"Namanya penyakit, Nad. Umur kayak opa pasti banyak banget ditemenin penyakit. Tapi opa nggak mau dibawa ke rumah sakit. Kamar opa udah kayak apa karena penuh sama alat-alat kedokteran."
"Bentaran deh, Ma. Kenapa nggak bilang sama aku masalah ini dari awal?"
"Mama nggak mau kamu kepikiran disana, Nad. Mama cuma mau kamu fokus sama kesehatan kamu."
"Iya, terus kalau aku nggak pulang, Mama baru ngasih tau hal ini waktu opa udah pergi. Iyakan?"
"Nadine!"
"Emang benerkan, Ma? Persis kayak oma. Mama nggak pernah bilang ke aku tentang oma yang jatuh sakit dan ngerasain kamar rumah sakit satu bulan setengah lamanya. Ma, aku sama Sean juga cucu oma. Kita berhak tau. Nggak ada aturan hal kayak gini harus disembunyiin. Nggak ada, Ma! Dan opa? Mama baru ngasih tau sekarang? Omong kosong, Ma, sama kesehatan aku."
Aku menyandarkan punggung di sandaran kursi, memijit pertemuan alis dengan mata terpejam sempurna. Aku butuh istirahat. Aku butuh tidur panjang. Berapa lama tadi? Satu bulan? Tuhan, apa saja yang opa rasakan selama satu bulan belakangan ini?
"Maafin mama, Nad. Itu karena permintaan papa." Aku membuka mata ketika suara berat papa terdengar, menatap jok depan yang papa duduki. Lalu, jika papa berkata seperti itu, apa positifnya? Aku tetap saja kesal, bukan? Rasa bersalah karena tidak mengetahui apa-apa tentang opa tetap kurasakan, bukan?
Aku kembali memejamkan mata setelah mengenakan headset. Sembarang lagu kuputar, dan aku sedikit lebih tenang. Iringan musik yang menghentak gendang telingaku serasa seperti suara dewi surga. Entah sudah berapa lagu yang aku dengar sampai akhirnya merasakan sentuhan di pundakku.
Aku membuka mata. Dan demi Tuhan, pemandangan rumah yang aku tinggalkan tujuh tahun lalu tetap terlihat sama. Aku membuka pintu mobil, melangkahkan kaki mendekat menuju pagar. Seorang berbadan gempal berjalan membuka pagar sambil menyapaku. Aku menatapnya sebentar, setelah itu kembali menatap tiap sudut halaman yang sudah lama aku tinggalkan.
Ini sungguh, menyakitkan. Melihat benda yang dulunya penuh dengan kenanganku dan keluarga. Melihat benda itu tetap berdiri kokoh dengan pondasi kuat sebagai penyokongnya. Tapi, bagaimana dengan suasana di dalamnya? Bagaimana dengan setiap daging bernapas yang hidup disana? Masih samakah? Masih hangatkah?
Entah dosa siapa atau memang begini alur yang tercipta. Aku menghapus air mata yang meluncur lancar tanpa malu. Pikiranku tiba-tiba saja dihantam oleh satu pertanyaan menyakitkan. Pertanyaan yang hingga sekarang tidak pernah kuucap lewat kata-kata. Bahkan bibirku enggan menyebut namanya.
Apa kabar adikku?
Pertanyaan yang hingga sekarang masih tertata rapi. Mama benar saat bercerita bahwa darah lebih kental dari air. Darahku dan darahnya sama. Sama-sama terdapat darah papa. Bagaimana pula aku dapat mengelak bahwa sebenarnya, hati kecilku berteriak bahwa aku begitu merindukannya. Merindukan sosoknya yang dulu selalu berlindung padaku kala papa membuatnya kecewa. Merindukan sosok cerewetnya saat apa yang ia damba tidak bisa ia dapatkan. Aku rindu sosok tersebut. Sosok sebelum ia mengenal kata suka pada lelaki. Sosok polos dengan mulut hangat memanggilku dengan sebutan kakak. Iya, kakak.
Apa kabar perempuan itu?
Air mataku tidak dapat ku kontrol saat langkah demi langkah kian mendekat memasuki rumah. Kupegang pegangan pintu, tidak terkunci. Sepertinya sudah dibuka terlebih dahulu oleh penjaga berbadan gempal tadi. Kubuka perlahan dan mulutku sukses melebar dengan pemandangan di depan mata.
"NADINE!!!" Aku hampir saja terjerembab tatkala seorang yang berteriak tadi melompat dan langsung memelukku. Tangisku pecah lagi karena kaget. Aku menangis, dia menangis. Suara tangis kami bersatu, membentuk satu kata rindu yang selama ini dibatasi oleh berkilometer jarak yang membentang.
"LO APA KABAR, NAD?"
Aku tidak menjawab, masih sibuk menumpahkan air mata. Aku rindu, sangat rindu. Aku baik! Saat dia dengan lantang menyebut namaku, aku merasakan satu kata bahagia yang tidak dapat dideskripsikan begitu saja. Tujuh tahun, Tuhan, tujuh tahun aku tidak memeluk tubuh ini.
Saat pelukan kami terlepas, aku dapat melihat wajahnya dengan sempurna. Perempuan ini, tumbuh dengan baik. Dia benar-benar terlihat sempurna dengan rambut menyentuh bahunya. Terlihat begitu lembut tatkala senyumnya tampak.
"Tujuh tahun lo ninggalin gue, Woi!" tawaku pecah ditengah tangis. "Sadar nggak gue kangennya gimana? Mau kesana selalu aja ada halangan. Sukur lo, ah, punya temen sesabar gue."
Aku kembali memeluknya, dan tangisnya kembali terdengar. Pintanya agar aku tidak lagi pergi kurespon dengan anggukan cepat. Setelah dia mulai tenang, kulepaskan lagi pelukan dan menatap sekeliling.
Aku benar-benar tidak percaya. Ada om Arya dan om Rega beserta istri mereka. Kak Fiko dan keluarganya ternyata berada disini. Zifana dan Erick yang tampak tersemyum sambil berjalan mendekat.
"Apa kabar, Kak?" Aku berpelukan erat dengan Zifana, mengusap punggungnya dengan lembut.
"Baik banget."
"Aku masih nggak percaya Kakak disini."
"Aku apalagi, Zi."
"Kakak nggak bisa dihubungin. Tapi kata Tante kakak baik-baik aja. Yaudahlah mungkin Kakak emang nggak bisa diganggu." Aku tersenyum kecut pada Zifana setelah melepaskan pelukannya. Dia tampak cantik dalam balutan dress denimnya.
"Oleh-oleh buat gue mana?" Aku menoleh ketika Erick mendekat, menarikku ke dalam pelukannya. Sialan, kenapa dia makin tampan dengan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya?
"Tuh baju kotor."
"Apa kabar, Designer Muda?" Aku melepas pelukan Erick lalu menatap sepasang cokelat itu sambil mencibir.
"Baik, Bapak Pengacara. Sangat baik."
Dia tertawa, lalu kembali mendekapku. "Jujur aja, gue kangen sama lo." Aku tersenyum dalam pelukan hangat ini, mengangguk tanda bahwa aku juga rindu.
"Gue rindu bacotan nggak penting lo, Rick."
"Gue rindu gangguin lo kalau lagi ngelamun kayak perawan ditinggal nikah."
Aku melepaskan pelukannya seketika. Dan kuberi hadiah cubitan pada perutnya. "Enak aja!"
"Sakit, Nad. Gak boleh nyubit gini, lo bisa dikenai pasal tentang kekerasan." Aku menatap Erick geram. Sialan. Dia tampak tersenyum penuh kemenangan. Awas lo ya, nikah ntar gue yang bakalan design bajunya. Tunggu aja gimana indahnya design gue buat lo nanti, Rick. Batinku kesal. Pria gila ini tetap saja sering berbicara omong kosong padaku, dan sukses membuatku kesal bukan kepalang. Tapi sungguh, hal inilah yang kurindukan.
Aku memilih menatap ke arah lain dan mengabaikan Erick. Menyapa om dan tante yang sejak tadi tersenyum haru. Lulu yang memegang terompet kecil sibuk meniupnya bersama Lala. Kupeluk satu persatu, mengucapkan kata maaf dan dibalas dengan gelengan. Ya, maaf karena pergi tanpa pamit, dan setelah itu menyendiri, hilang dan tanpa kabar.
Aku tidak melihat opa. Aku benar-benar khawatir sekarang. Membayangi sosok yang begitu berwibawa tengah tertidur tidak berdaya dengan selang-selang yang terus menemani. Aku menghela napas, mendoakan yang terbaik untuk opa. Sesegera mungkin, aku akan menemui opa.
Aku menoleh ketika suara lembut yang begitu aku rindukan terdengar. Mbak Hike disana, menatapku dengan mata merahnya. Aku berlari cepat, berhambur ke dalam pelukannya. Tuhan, terima kasih karena tetap memberi wanita ini kesehatan. Mbak Hike membelai rambutku, merapalkan kalimat rindu, dan bertanya terus bagaimana kabarku. Sekian lama kami berpelukan, aku melepaskan pelukan lalu tersenyum.
"Nadine kangen, Mbak."
"Gimana selama disana? Makin tinggi aja."
"Ya kayak gitu, Mbak. Kadang baik kadang enggak. Iya ya, si Sean soalnya rajin ngajakin olahraga walaupun kadang aku suka ogahan. Abisan dia sering ngajakin renang," ujarku kesal mebayangkan wajah menyebalkan Sean. Kapan pria itu akan menyusul?!
Setelah mendengar rengekan lapar dari Lulu dan Lala, akhirnya kami semua memilih makan. Aku duduk di samping Kiya yang sedari tadi terus berbicara panjang lebar. Mendengarkannya mendesah tentang pekerjaan membuatku iba, tapi beruntung dia menyukai pekerjaan itu. Hanya saja, dia sering kelelahan.
"Nadine permisi sebentar, ya." Aku berdiri, Kiya juga ikut berdiri. Kami tinggalkan keluarga yang tetap berada di meja makan. Berjalan pelan menaiki anak tangga. Ketika melewati satu kamar, keinginan untuk memasuki kamar tersebut muncul, dan akhirnya kuurungkan. Tidak sekarang.
Kamar berikutnya, aku mendekat menuju pintu. Menyentuh kenop pintu sebelum akhirnya mendorong ke bawah. Terbuka. Aku tertegun beberapa saat ketika aroma kamar ini menyerbu hidungku. Mataku menyisir segala sudut, tanganku menyentuh dinding kamar, kakiku perlahan membawaku masuk.
Ini masih tetap sama. Deretan novel yang kutinggalkan tetap tersusun rapi. Mereka seperti tersenyum dan menyapa kepulanganku. Tempat tidur yang sudah lama tidak kutiduri, dia pasti sangat rindu memeluk tubuhku, bukan?
"Semuanya masih sama, ya," ujarku menatap jendela.
"Emang apa yang harus berubah?"
"Gue kira bakalan berubah."
"Kamar ini bakalan tetep sama, Nad, demi lo tuannya."
"Ki."
"Hm?"
"Dia berubah ya?" tanyaku pelan, lebih kepada diriku sendiri.
Kulirik Kiya yang tampak mengernyit. "Maksud lo—"
"Iya, maksud gue dia, Ki."
Kiya menghela napas. Ikut duduk di sampingku. "Lo ketemu dia?" Suara Kiya terdengar bergetar. Aku mengangguk sambil tersenyum kecut.
"Bali," jawabku sambil tertawa singkat. Tidak ikhlas.
"Dia kenapa, Ki?"
Kiya menatapku ragu dan aku tetap tersenyum. Kulihat dia menghela napas. "Dulu, dia ngilang gitu aja, nerusin pendidikannya dan nggak ada yang tau kalau New York tujuan dia." Benarkah? Pria itu? "Waktu reunian tahun lalu, gue kaget karena ngeliat dia untuk pertama kalinya, Nad. Dia kebanyakan diem. Dan kita semua tau, Azka udah berubah. Dia bukan lagi Azka dulu yang mudah ketawa. Dia bukan lagi sosok periang yang mudah nebar kebahagiaan. Senyumnya mahal, Nad. Gue pengen ngasih tau lo, tapi gue takut lo malah kepikiran."
Air mata yang mengalir buru-buru kuhapus. Kutatap Kiya dalam diam, aku tidak tau ingin mengatakan apa lagi. Napasku memburu diikuti pandangan yang mengabur. Sialan. Jangan di depan Kiya.
Kucengkram bagian tempat tidur sambil memegangi kepala yang terasa menyakitkan. Dan di detik berikutnya, kujatuhkan badan dalam pelukan Kiya.
"Nad, lo kenapa?"
"Jangan teriak, Ki. Gue mohon, jangan teriak. Cukup peluk gue, Ki. Bisikin di telinga gue kalau gue masih punya kesempatan buat terbitin senyum dia. Bisikin ke gue kalau semuanya bakalan baik-baik aja."
Kiya menuruti keinginanku. Dia mengelus punggungku sambil merapalkan kalimat yang kupinta. Kucoba menarik napas, lalu melepaskannya perlahan. Kuulangi terus hingga semuanya terasa lebih baik. Dan wajah tanpa ekspresi milik pria itu tanpa permisi muncul di kepalaku.
"Jujur sama gue lo kenapa?
"Yang kayak lo liat tadi."
"Nadine lo kenapa?"
"Gue pergi bawa luka, selama disana juga dapet beban. Iya, gue emang lemah. Gue tau. Beberapa kali gue sempet lari ke pub, tapi nggak pernah sampai minum, sih. Gue kesana karena ngerasa disana lebih baik, lebih tenang. Dengerin hiruk pikuk musik yang ngentak telinga gue bikin gue ngerasa lebih baik. Walaupun Sean selalu tau gue dimana dan gak lama, dia pasti dateng buat jemput gue."
"Nad?"
"Makanya Sean ngalihin gue ke Satria. Minta tolong ke Satria."
"Satria?"
"Psikiater gue."
"Ha?" Aku menatap Kiya sambil menggigit bibir, suara kagetnya tidak terdengar lantang. Hanya suara kecil, seperti memang tidak percaya dengan jawabanku. "Nad...."
"Kenapa?"
"Gue yang harusnya nanya ke elo. Kenapa lo nggak pernah bilang? Kenapa lo nyimpen semuanya sendirian? Gue nggak suka lo nahan semuanya sendirian, Nad. Lo bisa pinjem bahu gue, Nad. Kapanpun, berapa lamapun, gue rela."
"Makasih, ya."
"Cukup bilang makasih, Nadine. Gue bahagia bisa ada di samping lo, bisa bantuin lo, bisa jadi temen lo. Kenapa lo nggak pernah cerita, Nad?"
"Maaf, Ki."
"Nad! Jangan ucapin itu. Gue yang seharusnya minta maaf karena gatau sama apa yang terjadi di elo."
"Jangan khawatir. Gue juga udah baikan."
"Baik yang kayak apa? Kayak tadi? Nad, kalau-kalau lo lupa, gue dokter. Walaupun bukan di bagian itu, tapi gue tau kalau lo gak baik-baik aja, Nad."
"Gue janji bakal sembuh."
"Inget, gue disini. Di samping lo. Bahu gue selalu buat lo." Wanita itu kembali memelukku, membuat hatiku dibanjiri perasaan haru. Aku merasa beruntung. Sungguh.
Namun dibalik rasa haru itu, tetap terselip sebuah perasaan kurang. Aku memang tidak siap bertemu adikku, tapi karena hadirnya yang tidak tampak, jujur aku merasa aneh.
***
Ya Tuhan!
Hanya itu yang berputar di otakku sejak penerbangan mendadak menuju Yogyakarta. Tiga hari setelah aku tinggal, aku memilih mengunjungi opa. Badan itu tampak kurus dengan wajahnya yang pucat. Membuat hatiku seperti tersayat karena menatap orang yang begitu kusayang tengah terbaring lemah tak berdaya.
Di perjalanan pulang, mama mendapat panggilan—yang entah dari siapa—bahwa eyang sedang dalam keadaan buruk. Semua pikiran negatif langsung saja menyapa pikiranku. Eyang meminta kami datang, untuk sekali ini saja. Tuhan, aku tidak siap.
Rumah eyang sudah kian dekat, membuatku bersiap-siap membuka pintu mobil dan akan segera melompat turun. Ketika mobil belum berhenti sempurna, aku sudah membuka pintu mobil, turun dengan cepat dan pada akhirnya terjatuh. Kuabaikan rasa perih pada telapak tangan, meneriaki sang penjaga rumah agar cepat membuka pagar.
Aku berlari kesetanan, menggedor pintu rumah yang terkunci. Ayolah! Tidak bisakah pintu ini sedikit lebih pintar dalam keadaan begini? Tidak lama, seorang pelayan paruh baya membuka pintu. Tanpa berkata apapun, aku langsung berlari ke kamar eyang yang terletak di bawah tangga. Kubuka pintu dengan cepat dan pandangan di depanku benar-benar meremas jantungku hebat.
"Eyang?" panggilku bergetar.
"Nadine? Nadine cucu eyang?"
"Iya, ini Nadine. Nadine cucu eyang."
"Sini, Nduk. Eyang kangen. Sini peluk eyang."
"Eyang," tangisku pecah. Kupeluk eyang dengan pelan. Meminta maaf karena tidak pernah berkunjung. Aku benar-benar merasa bersalah.
"Nadine."
"Iya, Eyang?"
"Eyang kangen eyang kakungmu." Tangisku makin menggila. Aku menggeleng, mengerti ucapan eyang. "Eyang kakungmu muncul di mimpi Eyang, katanya dia juga kangen eyang." Tuhan, kenapa kalimat eyang membuatku terluka?
"Nadine sayang Eyang. Eyang maafin Nadine ya karena jadi cucu udah bandel."
"Enggak. Nggak ada yang bandel. Eyang bangga sama Nadine. Eyang bangga sama cucu-cucu eyang. Nadine ingetkan, Eyang pernah bilang, menjadi pemaaf itu mulia, Ndduk. Menjadi pemaaf itu berarti kamu mengerti makna keikhlasan. Jangan pernah menaruh dendam, karena Tuhan sendiripun tidak pernah dendam sebagaimanapun hamba-Nya menghianati-Nya." Aku sesegukan. Kalimat eyang menohok keras hatiku. Menampar kesadaranku. Saat merasakan usapan lembut di bahu, aku menoleh. Dan melihat mama juga sudah dipenuhi air mata.
"Nadine, eyang haus. Kamu ambilin eyang minum, ya." Aku mengangguk cepat. Segera beranjak dan berjalan cepat menuju dapur.
Kuusap air mata sambil menyisir pandangan ke seluruh dapur. Mencari botol dan sedotan. Aku benar-benar tidak tahu dimana benda itu berada.
"Nyari ini?" Jantungku berdetak keras seketika. Suara itu. "Eyang haus, ya?" Tuhan!
Perlahan, aku menoleh. Dan mataku reflek melotot ketika dia berdiri lima langkah di depanku. Jadi selama ini? Dia disini? Bersama eyang?
Napasku menderu. Menatap sosok perempuan berwajah malaikat yang tampak cantik dalam balutan baju dan rok batik. Bibirku bergetar. Dan untuk pertama kalinya, bibirku mendobrak segala pertahan yang kubuat selama ini. Menyebut satu nama yang seharusnya tidak disebut.
"Aqila?"
...tbc...