Aku diam, bukan berarti berniat mengalah. Tapi akan sangat berbahaya jika aku membalas setiap aksi sampahnya. —di depan cermin, dengan senyum yakin.
NADINE'S POV
Jantungku masih berdetak tidak karuan. Perlahan kuambil kertas yang setengah bagiannya dihimpit oleh badan kucing yang telah sepenuhnya tegang. Kugigit bibir sambil menatap takut sekitar. Tidak ada yang aneh pagi ini, tentu saja. Karena keanehan ini terjadi semalam.
Aku berbalik, menuju dapur untuk mencari sesuatu yang bisa membungkus kucing tersebut dan berniat menguburkannya. Tidak hanya kertas ini yang menjadi pikiranku, tetapi kucing itu. Kenapa ada yang tega membunuhnya hanya untuk mendapatkan darah dan menjadikannya tinta pada kertas ini. Untuk apa? Padahal dia bisa menggunakan hal lain. Seperti cat? Jika aku mengetahui siapa yang melakukan ini semua, hal pertama yang akan aku tanyakan adalah mengapa dia melakukan pembunuhan.
Aku berjalan ke kamar mandi. Kutatap sekali lagi tulisan jelek pada kertas di tanganku. "Hai!" tuturku datar untuk membalas sapaan si pengirim, sebelum akhirnya menekan macis dan membiarkan kertas itu terbakar cepat di lantai kamar mandi. Kemudian, setelah mendapatkan sesuatu untuk membungkus badan kucing, dengan segera aku kembali. Keadaanku masih belum tenang. Rasa khawatir jika Lulu terbangun dan melihat hal ini tiba-tiba saja menyapa kepalaku. Terlebih, jika Lulu memberi tahu Sean, dan selanjutnya Aldric juga ikut mengetahui.
Kutahan napas dan dengan hati-hati mengangkat badan kucing tersebut. Lumayan berat. Karena kucing ini tergolong kucing dengan badan basar. Sekitar sepuluh menit aku mengurus kucing dan penguburannya di halaman belakang yang tidak terlalu besar. Sambil mencuci tangan, kepalaku sedang sibuk menebak siapa orang sakit jiwa yang telah melakukan hal ini.
"Tante." Aku terlonjak, kutatap Lulu yang sedang mengucek mata dengan satu tangan, sedangkan tangan lainnya menyodorkan ponsel padaku.
"Siapa, Lu?" Tanyaku sambil menerima ponsel dan melihat nama Aldric di layar. Tanpa sadar aku menghela napas, memilih mengabaikan pria itu sebentar dan fokus pada Lulu. "Lulu mau sarapan apa?" Kutatap gadis lucu tersebut sedang duduk dan menumpukan pipi di meja makan.
"Lulu kepengen sarapan di luar, tante." Pintanya dengan suara serak. Sepertinya dia masih mengingat keinginannya semalam.
"Gitu ya? Emangnya mau sarapan apa?"
"Terserah, tante. Yang penting sarapannya dibeli di luar dimakan di sana." Aku tetap setia berpikir, selalu takut rasanya jika membawa Lulu makan di luar.
"Kalau sarapan di rumah terus siangan kita jalan, gimana?"
"Nggak mau. Lulu capek, tante. Maunya sarapan di luar terus di rumah aja nemenin tante." Aku yang ingin membalas ucapan tersebut seketika merasa janggal. Entahlah, mungkin memang aku yang terlalu sensitif saat mendengar kata menemani.
"Nemenin tante? Buat apa?" Tanyaku mencoba memancing dengan tangan mengambil sendok dan kotak s**u.
"Eh? Maksud Lulu itu mau di rumah aja sama tante." Anak itu seketika menegakkan kepalanya, membuatku dapat dengan mudah membaca ekspresi Lulu.
"Lu-" Panggilku pelan. "Lulu nggak mau cerita sama tante?"
"Emangnya Lulu harus cerita apa ke tante?"
"Tentang foto itu?"
"Foto apasih, tante? Lulu nggak tau."
"Lulu tau siapa orang yang lewat di samping rumah semalem?" Tanyaku langsung, dan Lulu tampak membuang muka.
"Perempuan-"
"Terus?" Tuturku perlahan.
"Rambut panjang."
"Lulu tau mukanya?" Dan napasku tertahan kala mendapati Lulu mengangguk perlahan.
"Lulu baru aja ambil tisu dari meja samping yang di deket dinding itu, terus kedengeran suara pager kayak susah dibuka. Lulu intipin dari balik dinding sambil megang camera, terus waktu dia lewat, Lulu buru-buru ambil fotonya." Aku mendengarkannya dalam diam, membiarkan Lulu menyambung ceritanya.
"Lulu jalan pelan-pelan ke ruang tamu. Ngintipin tante itu letakin sesuatu di depan pintu, tapi Lulu nggak tau apa yang diletakin. Lulu nggak berani liat. Terus waktu tante itu muter lagi ke samping, Lulu teriakin tentang gordennya. Lulu liat tante itu lari buru-buru." Aku menggigit bibir sambil memikirkan bagaimana caranya agar Lulu dapat memberi tahukan bentuk perempuan itu.
"Tante!" Teriak Lulu.
"Eh? Kenapa?"
"Kok tante nggak ngomong-ngomong sama omnya?" Om? Om siapa? Astaga! Aku lupa jika Aldric menelepon. Jantungku seketika berdegub kencang, takut jika pria itu mendengar pembicaraan kami. Kenapa aku begitu bodoh!
Buru-buru aku menatap ponsel, dan salivaku tiba-tiba saja sulit untuk ditelan. Panggilan ini masih tersambung. Aku mengatur napas, pelan meletakkan ponsel di telinga. "Hallo?"
"Aku ke rumah kamu sekarang."
"Al-" Terlambat, Aldric sudah lebih dulu memutuskan panggilan.
Aku mengusap wajah, merasa bodoh. Kutatap Lulu sejenak, dan mengulurkan tangan untuk mengajaknya sarapan di luar.
***
"Ayo tante buruan!" Aku tertawa, melihat tampilan Lulu dengan sweater besar kepunyaanku sedang membuka pagar.
Aku berniat membawanya berkeliling dengan berjalan kaki, sekaligus olahraga. Dan akan sarapan jika melihat makanan yang Lulu inginkan. Aku menyusulnya keluar, lalu membiarkan Lulu mengunci kembali pagar tersebut. Aku menggenggam tangan Lulu dengan tangan kanan, dengan ponsel dan dompet di tangan kiri.
"Tante Lulu mau makan yang banyak. Banyak banyak banyak banyak banyak. Sampai gendut."
"Emang nggak takut kalau gendut?"
"Gendut itu lucu, tante. Lulu punya temen gendut, terus Lulu suka banget peluk dia, abisnya enak."
"Yaudah Lulu minta lemaknya deh coba." Aku tersenyum geli ketika melihat Lulu terkikik mendengar kalimatku. Tuhan, kenapa gadis ini begitu menggemaskan?
"Lulu pernah bilang gini, Ghi, Ghia kan punya banyak lemak, Lulu minta sedikit boleh ya? Terus dia jawab gini, Ghia nggak tau caranya, Lu." Aku tertawa, menatap ekspresi Lulu yang menirukan cara temannya berbicara dengan menggembungkan pipi.
"Jangan gitu ah mukanya." Ujarku setelah puas tertawa. "Nanti kalau gede Ghia juga bakalan jadi cantik, Lu."
"Tuhkan! Lulu juga pernah bilang begitu. Katanya Ghia dia bakalan diet, soalnya mau jadi model, tante."
"Wah bagus dong. Terus Lulu mau jadi apa gedenya?"
"Jadi dokter binatang! Biar nanti kalau ada semut yang kakinya dipincangin manusia, Lulu bisa bantu. Atau kasih ikan napas buatan. Atau bantuin kucing melahirkan." Aku ingin sekali tertawa karena jawaban polosnya, tapi takut jika tawaku ternyata membuatnya berpikir bahwa mimpinya konyol. Tidak, itu tidak konyol. Itu luar biasa. Membantu binatang. Tidak seperti perempuan sakit jiwa tukang teror yang tega membunuh binatang hanya untuk tinta darah agar memberi kesan menyeramkan.
"Makanya belajar yang bener."
"Iya, papa sama bunda juga bilang gitu." Aku mengangguk setuju sambil menjawil pipinya. "Eh, ayo makan disana, tante."
"Rame. Lulu nggak apa-apa rame gitu?"
"Berarti enak, tante." Kubiarkan Lulu berjalan cepat menuju warung makan tersebut. Terlihat sangat ramai dengan banyak suara saling bersahutan. Sepertinya gossip merupakan salah satu kebiasaan yang tidak dapat dipisahkan dari banyak diri individu.
"Yang tinggal di sebelah rumahnya pak Abram ya?" Aku menoleh, mengangguk sambil tersenyum pada seorang ibuk yang tadi bertanya. "Kemarin ibuk liat anaknya pak Abram, terus ada dua laki-laki lagi keluar dari rumah kamu. Siapanya kalau boleh tau?"
"Eh?" Aku diam untuk berpikir sesaat, bingung harus menjawab seperti apa. "itu buk, yang satu sepupu saya, kalau anaknya pak Abram sama yang satu lagi itu temen saya, buk."
"Itu anak kecil siapa?"
"Keponakan."
"Ooh gitu, oh iya, ibuk tinggal di depan rumah kamu lho." Aku mengangguk sambil tersenyum meringis, baru mengetahui bahwa wanita paruh baya di depanku merupakan tetangga dekat. "Oh iya."
"Kenapa, buk?"
"Semalem ngapain di luar rumah malem-malem?" Aku membeku, ternyata ada orang lain yang melihat peneror tersebut selain Lulu.
Ketika ingin menjawab, suara Lulu terdengar. "Tante bayarin." Ujarnya sambil melompat girang dengan tangan yang sudah terisi makanan.
"Nggak makan disini?"
"Nggak, di rumah aja. Cartoon kesukaan Lulu lagi tayang." Aku mengangguk mengerti lalu segera mengeluarkan uang untuk membayar.
"Kita duluan ya, buk."
"Oh iya, hati-hati."
Tidak sampai lima langkah, suara klackson mobil terdengar. Membuatku menoleh dan mendapati mobil Aldric mendekat. Dia menurunkan kaca mobil, membuat Lulu berteriak girang dan langsung masuk ke mobil.
"Beli sarapan Lulu?"
"Hm." Responku seadanya.
"Masuk dulu deh."
"Nggak ah jalan aja."
"Nad.."
Kuhela napas, lalu memutar agar masuk ke pintu penumpang sebelah Aldric. Tidak memerlukan waktu lama hanya untuk tiba di depan rumahku. Lulu keluar cepat lalu membuka pagar, kemudian mendesakku agar segera membuka pintu rumah.
"Jangan lari gitu dong, nanti Lulu jatoh."
"Ayo, tante. Episode hari ini kesukaannya Lulu."
"Iya, sayang, iya."
Ketika pintu terbuka, gadis itu dengan cepat masuk rumah dan menyalakan televisi. Aku memilih mengambil kantong sarapan milik Lulu dan berjalan ke dapur. Ponselku berbunyi.
Kak Riri is calling...
Aku menggeser layar, menjawab panggilan tersebut. "Hallo, kak." Sapaku sambil mencari piring. "Iya, abis beli sarapan. Dari semalem kepengen makan di luar tapi aku nggak ngasih, jadinya pagi ini Lulu ulang nagih." Aku menatap Aldric dengan pakaian santainya tengah mengambil minum.
"Iya, dia minta dinyalain musik kenceng. Katanya—eh? Kenapa, kak?—masasih? Lulu bilang kalau nggak nyalain musik nggak bisa tidur." Aku membalikkan badan agar Aldric tidak dapat melihat perubahan ekspresiku. Sepertinya aku paham mengapa Lulu meminta musik kencang ketika hendak tidur, agar keadaan rumah tidak sepi.
"Mungkin dia mau cobain hal baru, kak." Dalihku asal. "Ok deh, kak. Aku sama Lulu sarapan dulu ya." Setelah panggilan terputus, aku dengan cepat meninggalkan dapur, lebih tepatnya meninggalkan Aldric. Takut jika pria itu bertanya macam-macam.
Ketika tiba di ruang keluarga, kulihat Lulu yang sedang memeluk lutut tampak serius memperhatikan cartoon favoritnya. Tanpa suara, kuulurkan tangan dan memberikan sarapan itu pada Lulu.
"Aku denger semuanya, Nad." Aku membalikkan badan, melihat Aldric dan menggeleng perlahan. "Kenapa kamu nggak bilang sama aku?" Aku mendekat, memegang pergelangan tangan Aldric dan membawanya ke lantai dua. Aku mengambil tempat di bed sofa dan begitupun Aldric.
"Kamu tau siapa yang ngelakuin?" Aku menggeleng, walaupun kepalaku dengan jahatnya terus saja memikirkan satu nama yang tidak bisa aku sebutkan dengan gamblang di depan Aldric. Lagipula, aku tidak punya bukti kuat. "Apa yang dia letakin di depan pintu rumah kamu?"
"Kucing, udah mati, terus darahnya dijadiin tinta buat nyapa aku di kertas kosong."
"Bangkai kucing?!"
"Hm-hm." Anggukku pada Aldric. "Aku temuin pagi ini." Kuhela napas panjang, sambil menumpukan kepala pada pundak Aldric dan membiarkan pria itu mengecup sekilas kepalaku. "Udahlah, mungkin dia nggak bakal lakuin itu lagi."
"Nggak bisa gitu, Nad. Aku nggak mungkin biarin orang gila di luar sana neror kamu. Nanti aku coba minta tolong Dirma sama Aksa."
"Masih sering main bareng?" Tanyaku mencoba mengalihkan topik. Aku tau kalau Aldric tengah mengalihkan tatapannya padaku, seperti tidak terima karena topik baru yang aku mulai. Tapi akhirnya pria itu tetap menjawab.
"Masih."
"Cuma kalian bertiga?"
"Seringnya bertiga, tapi kalau ada bola biasanya ngumpul semua di rumah Aksa. Derby, Cio, Obet, Opi, Kiwi, termasuk Ali yang kerja Bandung. Hampir semua."
"Razza?"
"Kayaknya dia yang paling sibuk di antara kita semua."
"Gitu ya?" Aldric diam, tidak menanggapi suaraku. Kuangkat kepala lalu menatap pria itu. "Kemarinkan aku sebel sama kamu, tapi kalau sekarang aku tunda dulu nggak apa-apa ya?" Aldric terkekeh, menatapku ingin tau. "Aku kangen kamu." Rengekku dan berikutnya yang aku lakukan adalah dengan cepat memeluk pinggang Aldric, menyembunyikan kepala di d**a hangatnya.
Kurasakan tangan Aldric mengelus punggungku, mengusap kepala sambil sesekali menciumnya. Ini nyaman, sangat nyaman. Sehingga membuatku malas untuk merubah posisi. Wangi parfum pria ini membuatku betah berlama-lama menghirupnya. Ya, wangi yang tetap sama seperti dulu.
"Nad, kamu mau nemenin aku ke resepsi nikahan rekan kerja malem ini?" Aku yang sedang dalam proses ingin tidur terpaksa menatap wajah Aldric.
"Malem ini juga aku harus datengin pesta resepsi klien, Al." Jawabku pelan. Merasa tidak ada tanggapan apapun dari Aldric, aku akhirnya kembali bersuara. "Kita pergi sendiri-sendiri aja ya?"
"Nggak. Aku ikut kamu."
"Tapikan—"
"Aku gak mungkin biarin kamu sendirian, Nadine."
"Al, ya ampun. Disana rame kok, nggak usah khawatir."
"Aku ikut kamu, Nad." Ujar pria itu lebih tegas, membuatku tidak bisa menolak keputusannya. "Kali ini klien kamu yang mana?" Tanya Aldric lebih santai.
"Namanya Aries. Keponakannya pak Adam. Kamu ingetkan? Bali waktu itu." Aku tersenyum pada Aldric yang tampak tengah berpikir.
"Keponakan pak Adam? Resepsi yang aku maksud juga resepsi nikahan keponakannya pak Adam, Nad." Mulutku reflek terbuka karena kaget, lalu tertawa dan merasa bodoh. Baiklah, ternyata tujuan kami sama.
"Shtt, tante, tante!!" Aku tersentak saat melihat Lulu tengah berlari lalu menabrak aku dan Aldric.
"Lulu kenapa?" Tanyaku panik, lalu Aldric segera berdiri dan berjalan pelan menuju balkon. "Lu, jawab, tante!"
"Ayo, tante, ikutin omnya." Aku menahan napas, mengikuti langkah pelan Aldric yang sudah berdiri di balkon dan mencuri pandang sesekali ke bawah.
"Siapa, Al?" Tanyaku terlampau pelan.
"Kamu nggak bakalan percaya ini." Akhirnya aku memberanikan diri melihat ke bawah, dan tubuhku seketika membeku. Wanita itu tengah berjongkok dan memegang amplop coklat.
Oh Tuhan, jadi dia? Adikku?
Aku membalikkan badan dan melihat Lulu, gadis kecil itu sepertinya penasaran dan ingin sekali melihat ke bawah. "Lu, jawab tante jujur! Yang Lulu liat semalem, itu bukan tante Aqila, kan?" Gadis di depanku tampak mengernyit, oh Tuhan, jangan katakan bahwa memang benar Aqila yang melakukan ini.
Belum sempat kudengar jawaban Lulu, suara bel rumah berbunyi. Aldric yang lebih dulu turun ke bawah untuk membuka pintu. Aku dan Lulu menyusul di belakang.
"Bukan, tante. Bukan tante Aqila." Aku berhenti, menatap Lulu dengan sedikit perasaan lega. "Orang yang Lulu liat semalem, punya sesuatu di lengan kirinya yang atas."
"Lulu yakin?"
"Yakin banget, tante."
"Kak!" Aku tersentak ketika melihat Aqila yang masuk terdesak ke rumah. "Aku nemuin ini di depan pintu, dan aku yakin banget, kalau tadi ada orang yang masuk lewat pager samping karna aku juga masuk dari sana."
Aku menerima dengan tangan bergetar amplop coklat yang Aqila bawakan. Setidaknya memang bukan Aqila yang melakukan hal sia-sia seperti ini. Perlahan, kubuka amplop tersebut dan mengeluarkan sesuatu yang ada di dalamnya.
Aku sukses terbelalak ketika melihat banyak fotoku dan Aldric. Tetapi bagian wajahku disilang, dicoret sesuka hati oleh pengirim. Ini benar-benar tidak lucu. Maksudku, untuk apa dia melakukan hal seperti ini? Tidak bisakah dia langsung menatap wajahku dan mengatakan apapun yang dia mau? Melakukan hal konyol seperti ini tidak akan membuatnya ditakuti, melainkan terlihat bodoh di mataku. Kubalikkan foto, dan mengernyit ketika menemukan kalimat perintah darinya.
Go away from him, you b***h!
Aku tertawa sinis. Apa sekarang seperti ini? Setelah menyapaku dengan darah kucing, dan sekarang ia lanjut memintaku menjauhi—tentu saja Aldric—dengan cara pengecut seperti ini? Hei, tujuh tahun lamanya aku menanti kebahagiaanku, dan wanita ini dengan tidak berpikirnya memintaku pergi. Dia seratus persen sakit jiwa.
Tebakanku tidak akan salah kali ini. Dia Amira. Wanita gila penuh keobsesian terhadap priaku. Ya, priaku.
***
Aku kembali menatap wajah pada cermin di depanku. Mematut sekali lagi penampilanku yang dibalut dress panjang berwarna peach yang jatuh dan menutupi sampai bagian betisku. Higheels hitam dengan model banyak tali membalut kaki, membiarkan jariku terlihat. Kuambil clutch bag berwarna hitam yang terletak di atas tempat tidur, setelah itu berjalan keluar kamar dan segera menuju pintu utama.
Bertepatan dengan aku yang keluar, mobil Aldric tiba. Setelah urusan dengan pagar selesai, aku membuka pintu mobil, dan menemukan Aldric yang tengah menatapku dengan sorotan khawatirnya. Aku hanya tersenyum samar, lalu duduk dalam diam. Selama perjalanan, satu tangan Aldric selalu menggenggam erat tanganku. Aku membiarkan, tentu saja. Rasa cemas terhadap kejadian selanjutnya berhasil menghantuiku.
"Aku disini, Nad." Aku tetep bergeming, membiarkan kepalaku memikirkan segalanya. Setelah memohon pada Aqila untuk tidak memberi tahukan perihal masalah ini kepada mama, papa, juga Sean. Terlebih Satria. Lulu sendiri ternyata lebih mudah diajak kerja sama. Gadis itu terlihat sangat khawatir padaku.
Sekitar tiga puluh menit, kami akhirnya tiba di gedung dimana resepsi diselenggarakan. Terkadang hatiku sedikit tercubit saat melihat pasangan yang tersenyum bahagia di hari pernikahan mereka. Awalnya memang tidak ada sedikitpun keinginan menikah dalam kepalaku. Tapi ketika melihat senyum Aries dan sang suami, aku menjadi penasaran. Bagaimana jika aku yang berada pada posisi seperti itu?
Aku lumayan banyak bertemu kenalan, begitupun Aldric. Aku juga sempat bertemu pak Adam. Dan rasa bersalah kembali mendatangiku. Kuulang maaf kepada pak Adam, namun pria itu malah tertawa. Membalas dengan mengatakan betapa berlebihannya aku.
Hingga sampai ketika kami bersalaman dengan Aries. Perempuan itu tersenyum cerah menatapku. "Selamet ya! Semoga kehidupan kalian berdua penuh sama kebahagiaan."
"Ayo dong, nyusul." Ujar Aries sambil tersenyum lembut. Walaupun tampak tenang di luar, tapi tidak dengan jantungku. Menyusul menikah? Akankah orang seperti aku berhasil dalam hubungan serius dan sesakral pernikahan?
Karena banyaknya orang yang terus berdatangan, aku dan Aldric tentu saja meneruskan langkah. Sebelum kami pulang, aku memilih untuk pergi ke toilet terlebih dahulu. Aldric yang mengatakan bahwa dia ingin menemaniku, langsung saja aku tolak. Itu konyol. Dengan banyaknya pengaman disini, mustahil aku akan di teror, bukan?
Aku masuk ke salah satu bilik kosong, sekitar lima menit, aku keluar dan memilih mematut diri sebentar pada cermin. Gerakan tanganku yang sedang mengambil sesuatu di dalam clutch bag tiba-tiba terhenti. Kutegakkan kepala dan seketika kaget ketika melihat wanita itu keluar dengan senyum dari bilik paling sudut.
"Eh, Nad?" Jantungku seketika berdegub kencang. Aku benar-benar ingin melarikan diri, tapi rasa penasaran terhadap wanita ini membuatku bertahan.
"Hi." Jawabku seadanya.
"Sendirian?"
"Bareng Aldric." Kuperhatikan gerakan wanita ini dengan seksama. Terlihat jelas raut tidak terima terhadap jawabanku, walau dia terlihat berusaha menutupinya.
Aku memilih menatap ke depan. Mengeluarkan pelembab bibir dan mulai mempolesnya di bibirku dengan gerakan rapi dan percaya diri. Wanita di sampingku, akan kubuat dia paham bahwa dia tengah salah memilih lawan. Akan kubuat dia mengerti bahwa semua aksi pengecutnya merupakan sampah.
"Gue boleh bilang sesuatu?" Ucapku sambil memasukkan kembali pelembab bibir ke dalam clutch bag.
"Kenapa?"
"Malem itu gue liat semuanya." Aku tersenyum lembut padanya, memainkan jari dengan gerakan pelan.
"Maksud lo?"
"Iya, semuanya. Darah, kucing, kertas, digabung pake rasa benci."
Aku yang sebelumnya mengira bahwa wanita ini akan berakting pura-pura tidak tau ternyata salah. Dia bereaksi berlebihan dengan tertawa.
"Takut, Nadine? Gue bunuh kucing itu pake tangan gue sendiri. Nulisin sapaan pake jari gue sendiri. Dan ngeletakin bangkainya tepat di depan pintu rumah lo." Aku sekuat tenaga menahan ringisan terhadap pernyataan menjijikannya.
"Jadi bener ternyata lo orangnya. Orang yang neror gue pake cara sampah, ternyata itu lo. Informasi aja, gue nggak liat apa-apa. Gue ngarang buat yang tadi. Tapi kayaknya mancing emosi lo emang lebih mudah." Ekspresi wanita itu terlihat panik. Oh Tuhan, bahkan aku dapat dengan mudah membaca ekspresinya.
"Seharusnya lo nggak balik kesini. Seharusnya lo mati gila di Benua sebelah sana. Lo pengganggu. Dan gue bakal habisin lo pelan-pelan karena udah jadi pengganggu. Nggak seharusnya lo rebut Azka. Nggak seharusnya lo ada. Dan gue bakal jadiin lo tikus mainan yang bisa gue lempar kemana aja." Aku menatap wanita ini tajam.
"Kalau-kalau lo lupa, Amira, Jerry nggak pernah bisa dikalahin sama Tom. Oh iya, elo kan bukan kucing. Elo aja tega ngebunuh kucing, iyakan? Dan satu lagi, lo nggak bakalan bisa dapetin Aldric. Nggak dulu, sekarang, atau nanti. Bahkan di dalam mimpi terliar lo, lo nggak bakalan bisa milikin dia. Lo salah milih lawan, Amira. Nggak seharusnya lo punya masalah sama gue."
"Kita liat, siapa yang bakalan Azka pilih di akhir. Lo pikir Azka bakalan percaya kalau lo bilang gue yang ngelakuin itu semua?" Aku tersenyum, menertawakan kalimatnya. Memang benar, mungkin Aldric akan sulit percaya jika kukatakan bahwa Amira dalang dari ini semua. Tapi seperti yang kukatakan pada Amira, dia telah salah memilih lawan. Karena aku akan berusaha membuat wanita itu berhenti.
Aku berbalik, berjalan menuju pintu. Dapat kurasakan Amira yang tergesa mengikutiku. Dan ketika pintu kubuka, kudapati Aldric yang berdiri menyandar pada dinding dan sibuk dengan ponsel mendongak menatapku.
"Nad? Ra? Kalian berdua—" belum sempat Aldric menyelesaikan kalimatnya, aku sudah lebih dulu mendekat dan mengalungkan tangan di lehernya. Dan tanpa permisi, aku menyapu perlahan bibir Aldric dengan bibirku. Kupikir ciuman ini akan selesai, ternyata tidak. Aldric menarik pinggangku lembut agar lebih mendekat padanya. Tubuhku merinding hebat ketika Aldric meletakkan satu tangannya pada tengkukku dan yang satunya tetap berada di pinggang. Tuhan, ini hal baru yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.
Suara hentak kaki terdengar kuat dan semakin lama menghilang. Amira pergi. Walau jauh di dalam diriku, terdapat rasa bersalah terhadap Amira. Aku tau bagaimana perasaan sakit yang Amira rasakan kini. Memang suatu hal yang wajar jika ia ingin memperjuangkan Aldric. Tapi jika akhirnya ternyata aku yang dijadikan objek oleh wanita itu, maka harus kuperjelas, bahwa aku tidak ingin mengalah lagi.
Aku ingin bahagia, dengan usaha dan dengan caraku sendiri. Memperjuangkan dan menjaga sesuatu yang sejak lama kusia-siakan. Jika wanita itu lupa, maka akan dengan senang hati kukatakan sambil tersenyum lembut di depan wajahnya, bahwa Aldric milikku.
Tbc...