MAFIA LOVE STRUGGLE-9

1137 Kata
Di New York Fredi telah sampai di kota tersebut. Ia memutar otaknya bagaimana Cara mendekati wanita bernama Laura Mexim. Ia menginap sebuah salah satu hotel ternama di New York. "Ed, bagaimana cara aku mendekati wanita itu." Fredi berucap lalu meneguk sebuah wine di tenggorokannya. "Biar aku pikirkan nanti. Lebih baik kau istirahat dan jangan lupa berikan kabar pada argetta, dia pasti mencemaskan mu. Aku sudah berikan ponsel padanya." Kata Edwin lalu meninggal kan pria gagah tersebut untuk mencari angin. Edwin berpikir apa argetta sudah memberitahu rencananya pada Laura. Bagaimana kalau Laura menolaknya. Apa mungkin ini akan lancar. Edwin memutuskan menemui Laura sebelum Fredi menemuinya. Edwin, mendapatkan no ponsel laura dari argetta. Ia minta Laura menemuinya tak jauh dari mansion Emran. Laura bingung bagaimana dia harus keluar dari rumah ini, sedangkan ada pengawal Emran mengawasinya atas perintah Emran. Ia harus menemui Edwin sebelum Emran kembali. Jika Emran tau, pria itu pasti tentu tak mengijinkannya. Ia sangat mengenal sifat protektiv Emran. "Apa yang harus aku lakukan. Apa aku mengikuti cara argetta saja." Laura bicara sendiri seraya ia memondar mandir di ambang pintu kamar Emran. Laura pun tak punya cara lain, ia mengatur guling di atas ranjang Emran lalu menutupi dengan selimut. Selayak orang berpikir itu dirinya. Wanita itu sungguh melakukan apa yang sahabatnya lakukan. Ia turun melewati balkon, untung saja dirinya memakai sepatu sport jika ia memakai high hells pasti sudah lecet kakinya. Akhirnya Laura sampai di taman tersebut yang sudah ada Edwin di sana. "Maaf, sudah menunggu lama. Aku tidak bisa berlama, cepat katakan." Laura berucap tergesa. Edwin bisa melihat itu, napas wanita bernama Laura ini terhengap. "Baik. Apa argetta sudah menelponmu. Aku hanya sedikit menjelaskan jangan sampai fredi mengetahui jika kau dan argetta saling mengenal. Apalagi mengetahui argetta adiknya Emran." "Iya, Aku sudah memahaminya. Katakan dimana aku bisa menemuinya nanti malam." "Temui dia di hotel tempat kami menginap, agar tidak Ada seorang mengetahui pertemuan kalian termasuk Emran." Edwin berkata tegas. Laura kembali sebelum Emran pulang dengan tempat waktu, ini pertama kali ia berbohong dengan Emran. Bahkan napas Laura masih terjengap, wanita itu tau jika Emran telah kembali. CEKLEK. Emran memasuki kamarnya yang sudah ada Laura di ranjangnya dengan napas tak beraturan. "Laura, Apa yang sedang kau lakukan." Tanya Emran yang baru saja datang seraya membuka jas yang di kenakannya. Laura bahkan belum bisa menjawab pertanyaan yang di luncurkan emran. "Kenapa dengan napasmu itu, sayang." Emran kembali bertanya. Wanita itu menarik napas panjangnya untuk mengatur napasnya. "Maaf, aku tadi mengikuti dance ala korea." "Astaga, sayang. Kau sedikit konyol hari ini." Emran berucap lalu mengecup bibir Laura. Laura sedikit bernapas lega, Emran tidak sedikit pun curiga padanya. Hari ini tuhan menyelamatkan hidupnya. "Aku ingin pulang. Nanti malam aku juga hanya ingin dirumah." Lagi lagi Laura harus berbohong dengan prianya. Emran mengangguk mengerti. Ia mengganti pakaiannya lebih casual saat ini. Setelah itu ia mengantar Laura pulang. Sekarang Laura bernapas sedikit lega, ia berada di mansion miliknya. Apalagi yang bisa di lakukannya selain menghempas tubuh di ranjang miliknya. Argetta kau membuat aku mendapat masalah besar. Hampir saja, aku nyaris mati. Batin Laura berteriak. *** Sedangkan kan argetta sangat begitu gelisah, harinya kembali tanpa Fredi. Ia bahkan hanya berdiam di kamar padahal faro sudah bersedia menemaninya jika wanita cantik ini ingin keluar rumah. Hanya tergeletak sendiri di ranjang besar yang biasa ia tiduri bersama fredi. Hidupnya benar hambar tanpa sosok Fredi. Tok..Tok..Tok.. "Masuk." Perintah argetta. "Kau benar tak ingin keluar." Tanya faro yang baru saja masuk kamarnya. Argetta menggeleng tegas. "Baiklah. Aku ingin mengatakan suatu. Tadi tuan Ambrik menelponku, ia meminta kau datang menemuinya besok." Ucap faro. "Kenapa dia ingin bertemu denganku." Argetta mengerut dahinya, seakan ada bom yang akan menghantamnya kembali. Faro memgerdikkan bahunya dengan kedua tangannya yang seakan melayang di udara. "Besok aku akan mengantarmu ke mansion tuan Ambrik." Argetta pun tak menjawab apa pun, ia malas mendengar nama Ambrik. Telinganya merasakan panas berlebihan. - - - Malam hari tiba, dimana Laura harus menemui Fredi yang ia tau seorang mafia dan pengusaha cukup besar di London. Bahkan saingan perusahaan emran, namun sayang perusahaan Emran lebih jauh hebat dari fredi. Laura sudah berjalan melangkah di lorong sebuah hotel. Ia mencari dimana kamar sang mafia berada. Akhirnya Laura mendapat kan kamar tersebut. Ting Tong Terdengar bunyi kamar Emran, "Sepertinya wanita itu sudah datang, Fred. Jangan membuat kesalahan." Ucap Edwin yang akan membuka pintu tersebut. "Hmmmm." Emran hanya berdehem tanpa mengatakan sepatah kata. Laura memasuki kamar Fredi dengan elegant. Ia tak percaya, lelaki di hadapannya ini. Berhasil merebut hati sahabatnya yang sulit di buka untuk pria lain termasuk Farel. "Silakan duduk." Fredi berucap dingin. "Tuan, Saya akan menunggu di luar." Kata Edwin dengan jawaban Fredi mengibas tangan kanannya pada Edwin. Fredi mengeluarkan ke angkuhannya yang sulit sekali di tebaknya. "Silakan, duduk. Aku sudah menyiap kan makan malam." Pria ini harus pasrah memperlakukan Laura sebaik mungkin, tapi itu tidak mungkin. Ia tak bisa berbuat baik pada wanita mana pun terkecuali argetta. "Terima kasih." Ternyata Laura tak kalah dingin darinya. Kesan pertama cukup kagum, Fredi sebenarnya tak perduli. Tapi ini akan cukup sulit untuknya. "Apa kau kekasih Emran." Fredi bertanya tanpa berpikir. Laura memberikan senyum miris pada pria di depannya. "Menurutmu bagaimana." Laura berketus. "Menurutku iya." Kalimat singkat keluar dari fredi. Laura harus sedikit bermain agar lebih muda. "Bisa jadi. Aku sahabat adiknya Emran." "Jadi kau bukan kekasihnya." Fredi kali ini sedikit penasaran. Laura mengerdik bahunya dengan kaki bersilang di sebuah sofa di dudukinya. "Tak bisa kah ka----" Drrrttttt... Drrrttttt. Ponsel Fredi berbunyi. "Maaf, aku harus mengangkat telpon." "Silakan." Seraya tangan kanan Laura melayang di udara. "Halo. " Fredi mengangkat ponselnya. "Fred, Dimana kau. Tak bisa kah kau mempercepatkan urusanmu." Argetta berbicara di seberang sana. "Bisakah kau bersabar. Aku sedang melakukannya." Laura sepertinya mengetahui jika Fredi berbicara dengan argetta. "Apa kau akan terus menelpon." Laura bersuara. "Hah. Kau dengan wanita itu. Aku membencimu." Argetta begitu saja mematikan ponselnya lalu melemparkan sembarang tempat. "Shit." Fredi berumpat kesal. Fredi mengeras rahangnya mendapatkan perlakuan argetta yang sedikit cemburu pada Laura. "Telponnya begitu penting hingga kau sedikit kesal." Laura mulai menebak. Fredi duduk di hadapan wanita ini. "Apa kau tak bisa sedikit bertanya tentang urusan pribadiku." "Bukannya kau melakukan hal itu padaku." Laura meninggikan suaranya. "Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu." Fredi harus mengalah demo argetta. Nyawa wanita itu di tangannya. Fredi harus berhasil membujuk wanita di depan ikut bersamanya dalam dua hari. "Tidak masalah." Laura kembali merendahkan suaranya. Ia hanya mengikuti permainan fredi. Berbeda dengan ferdi yang otak memutar tentang argetta. Apa sungguh wanita cemburu. Fredi merasa bodoh, dia harus dalam situasi sangat sulit. Kenapa ia terlahir sebagai anak seorang mafia b***t. "Ck." =>=>=>=>=>=>=>=>=>=>=>=> Mohon maaf episode selanjutnya cerita ini menggunakan coin dan akan terkunci.. *Cara Beli Coin* Buka aplikasi Dreame. Buka menu Me > Store. Pilih jumlah koin yang ingin kamu beli. Ketuk pada menu G Pay. Lalu klik/ketuk tombol Beli untuk proses pembelian. Selanjutnya kamu tinggal simak instruksi dari aplikasi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN