Chapter 11

1500 Kata
Dave tidak tahu apa yang membawanya hingga ia berdiri di depan bangunan tua ini. Bangunan tua tempat tinggal Rachel. Sejak ia melihat sorot mata terluka itu satu minggu lalu, hatinya tidak tenang. Dan ia tidak bisa menghapus ingatan itu dari benaknya.           Apalagi Rachel berubah menjadi lebih pendiam selama seminggu ini. Gadis itu tidak pernah lagi membantah perintahnya. Dan Dave tidak suka itu. Ia lebih suka gadis itu membantah perintahnya, ia lebih suka gadis itu memanggilnya singa gunung pemarah atau om-om tua.            Dave memencet bel beberapa kali sebelum akhirnya pintu itu terbuka. Di hadapannya, Rachel berdiri dengan kaos kebesaran yang menutupi pahanya sampai lutut, rambut digelung asal-asalan dan bertelanjang kaki. Dave menelan ludahnya susah payah.Gadis ini sialan seksi!!           “Kau selalu membuka pintu untuk tamumu dengan dandanan seperti ini??” Dave bertanya dengan marah. Entah kenapa ia tidak suka dengan pemikiran bahwa ada orang lain yang melihat gadis itu dengan pakaiannya itu, terutama jika Jamie yang melihatnya.           “Aku tidak pernah mempunyai tamu. Dan apa urusan Anda kemari pagi-pagi seperti ini, Sir? Ini hari libur!” ucapnya dengan ketus.           Kemarahan Dave sirna mendengar suara ketus itu. Sesaat Dave tersenyum. Kelinci kecilnya sudah kembali.  “Kau tidak mengijinkanku masuk?”           “Apa kau ada perlu denganku?”           “Mungkin aku bisa menjelaskan di dalam?” Bujuknya lagi.           Gadis itu cemberut, tetapi akhirnya menyingkir dari pintu.Dave masuk ke flat kecil itu dan mengamati sekelilingnya. Flat ini bahkan lebih kecil daripada kamar tidurnya, tetapi semuanya lumayan bersih.           “Aku tahu rumahku tidak steril seperti rumahmu. Jadi katakan apa maumu dan cepat pergi dari sini!”           Dave berbalik dan mengerutkan alisnya. Kenapa gadis ini galak sekali? Dia duduk di sebuah sofa panjang, satu-satunya sofa yang ada di sana, dan meraih tangan Rachel. Mengajaknya duduk di sebelahnya. Ia memandang Rachel yang duduk di hadapannya ini. Gadis itu polos tanpa make up sedikit pun. Namun anehnya, Dave menyukai kepolosan itu. Rachel tampak rapuh dan kuat pada saat bersamaan. Dan gadis itu juga tampak...cantik.           Dave menangkup kedua pipi Rachel. Ibu jarinya membelai pipi Rachel yang halus. “Katakan padaku,” ucapnya dengan suara pelan. Mata biru gadis itu menatapnya bingung. “Apa kau mencintai Jamie?” sambungnya lagi masih dengan suara pelan.           Rachel menunduk, tetapi Dave menangkap dagunya dan menegakkannya kembali. ”Katakan padaku, Rachel,” pintanya lagi saat gadis itu masih tetap terdiam.           Akhirnya Rachel mengangguk pelan. Dave menahan napasnya.  Kenapa ada yang sakit di dalam sana? Sebenarnya apa yang dia rasakan pada gadis ini? Kenapa dia peduli padanya?           “Berapa lama?” bisik Dave lagi.           Satu tetes air bening jatuh mengalir di pipi mulus Rachel. Dave mengusapnya lembut dan akhirnya memeluk tubuh mungil gadis itu. Rachel terisak-isak di dadanya. Dave mengelus punggungnya dengan lembut.           “Karena itukah kau pergi dari apartemennya?”           Rachel menggeleng.           “And then?” desaknya lagi dengan tidak sabar.           Rachel melepas pelukannya dan mengusap air mata dengan lengan kaosnya. Satu hal lagi yang tidak pernah dilakukan gadis lain di hadapannya. Itu terlihat sangat menarik bagi Dave. Gadis ini tidak mati-matian menjaga image di hadapannya. Dia selalu apa adanya.           “Jadi tujuanmu datang kemari hanya untuk mewawancaraiku?” Lagi-lagi Rachel bertanya dengan ketus.           Namun Dave menyukainya. Dia lebih senang melihat gadis ini mengomel daripada dia diam. ”Kau terlihat patah hati sekali saat melihat Jamie dengan gadis pirang itu,” ejeknya kemudian.           “Jangan ingatkan aku soal itu lagi, Sir!” Rachel membentak dan bangkit dari duduknya.           Dave ikut bangkit dan mengikuti langkah kecil gadis itu yang menuju ke dapur.  “Aku mau kopi, dengan satu sendok teh gula,” ucap Dave sambil duduk di kursi makan.           Rachel menoleh dan mencibir. “Siapa yang akan membuatkan kopi untukmu?”           “Ayolah, Rachel, aku ini tamumu. Aku bahkan tidak sempat memakan apapun tadi.”           “Aku tidak mengundangmu datang kemari.”           Dave cemberut, tetapi kemudian ia mendongak saat mendengar gadis itu tertawa.           “Apa yang lucu, little bunny?”           “Kau! Bukankah kau galak sekali di kantor? Kenapa sekarang kau menjadi seperti kucing rumahan yang suka merajuk?” Katanya dengan sisa-sisa tawanya.           “Kau juga! Di kantor kau takut padaku. Kenapa disini tidak?”           Gadis itu menjulurkan lidah padanya membuat Dave gemas ingin berlari ke arahnya dan mencium kembali bibir mungil itu, tetapi ditahannya keinginan itu sekuat tenaganya. Dia tidak ingin diusir dari sini.           “Aku hanya bawahanmu saat di kantor, dan ini rumahku. Jadi terserah aku, Tuan muda,” kata Rachel sambil membelakanginya. Tangannya bergerak lincah kesana kemari mempersiapkan entah apapun itu.           “Jangan panggil aku tuan muda!”           “Ah! Iya, aku lupa, kau kan sudah tua. Tidak pantas dipanggil tuan muda,” ucapnya tanpa berbalik.           “Racheeell,” ucap Dave dengan gemas sementara gadis itu hanya terkikik.           Gadis ini benar-benar berbeda dengan saat ia berada di kantor. Dan Dave lebih menyukai Rachel yang seperti ini. Rachel yang bermulut tajam dan selalu mengejeknya. Dave tersenyum saat melihat secangkir kopi dan setangkup roti di hadapannya.           “Maaf, hanya itu yang aku miliki. Aku belum sempat berbelanja.” Gadis itu duduk di hadapannya dengan sepiring roti yang sama dan satu gelas s**u.           Dave meminum kopinya pelan. Dia tahu ini hanyalah jenis kopi murahan yang di jual di minimarket kecil yang ia tidak akan pernah meminumnya. Namun saat ini, kopi itu bahkan terasa sama nikmatnya dengan kopi yang biasa ia minum di kafe mahal langganannya. Apa itu karena Rachel yang membuatnya?           “Jadi apa tujuanmu sebenarnya kesini, Sir?”           “Rachel, bagaimana kalau kau memanggilku Dave jika di luar kantor?”           “Tidak. Tidak, Sir, aku...”           “Kau sendiri yang bilang kalau kau hanya bawahanku di kantor. Mungkin kita bisa berteman di luar kantor?”           “Berteman?? Kau kan sudah tua! Mana mungkin aku berteman dengan pria tua sepertimu.”           Tidak tahan, Dave mencubit hidung gadis itu. “Aku tahu aku sudah tua, tetapi tidak perlu kau tekankan seperti itu!”           Rachel tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Dan Dave terpana sekali lagi. Bagaimana mungkin sebuah tawa bisa membuat seorang gadis terlihat secantik ini? Sekarang dia benar-benar percaya jika senyum adalah make up terbaik untuk seorang gadis. Smile is the best make up any girl can wear. There is no beauty like the one that come from inside of you.           “Om!”           Dave menggeram saat gadis itu memanggilnya om.           “Rachel! Jangan panggil aku om! Apa aku terlihat setua itu??”           “Ya, kau kelihatan tua karena mengomel seperti kakek-kakek.”           Dave cemberut dan menghabiskan kopinya.”Apa rencanamu hari ini?” Tanyanya kemudian.           Rachel mengangkat bahu. “Mengisi kulkas mungkin.”           “Abby merindukanmu, dia ingin kau datang. Kau mau ikut ke rumah?” Dave beralasan. Padahal Abby tidak menyuruhnya menjemput gadis itu.           “Merindukanku? Kami baru saja bicara di telepon tadi, dan dia tidak bilang apa-apa tentang itu.”           s**t!! *****           Rae terkikik geli melihat Dave yang tersenyum kikuk. Entah apa yang membuat pria steril itu mau datang ke flat kecilnya dan sekarang duduk di kursinya yang reot dan meminum kopi murahan seperti ini.           Tadinya, ia berniat tidur sampai siang baru setelah itu ia akan keluar ke minimarket dekat flatnya untuk berbelanja. Namun, pria tua ini merusak hari liburnya dengan mendatangi rumahnya pagi-pagi begini. Dia pikir itu Jamie karena pria itu bilang akan berkunjung, karena itulah ia hanya memakai kaos tidur andalannya. Kaos itu milik Jamie, pria itu memberikan kaos itu padanya saat akan pindah ke Edinburgh. Sejak itulah ia selalu tidur dengan kaos itu.           “Jadi kau tidak mau ke rumahku, Rachel?”           “Sir, I've told you, jangan panggil aku Rachel. Panggil saja Rae!”           “Aku juga sudah bilang padamu untuk memanggilku Dave. Jangan Sir!”Pria itu tidak mau kalah.            “Okey, fine, Dave! Puas kau??”           Pria itu tersenyum miring. “Sangat puas, RAE!”           Rae mencebik dan bangkit dari duduknya untuk membereskan sisa sarapan mereka.           “Kenapa kau tidak suka dipanggil Rachel?” Tanya Dave ingin tahu. Rae mengembuskan napasnya. “Aku tidak suka saja. Panggilan itu mengingatkanku pada ibuku,” jawabnya pelan. Sejujurnya dia merindukan ibunya. Seburuk apapun, wanita itu tetap ibunya.           “Ibumu di Donaghadee?”           Rae mengangguk tanpa menoleh.           “Kau ingin pulang?”           Rae berbalik. Bersedekap dan bersandar di pinggiran wastafel.           “Tidak, aku tidak ingin pulang. Aku yakin ibuku tidak merindukanku.”           Dave bangkit dan berhenti di depannya. “Tidak ada seorang ibupun yang tidak merindukan anaknya yang pergi.”           Rae menunduk. Apa dia harus pulang? Apa ibunya akan menikahkannya dengan kakek-kakek tua itu jika dia pulang?           “Aku takut,” bisik Rae pelan.           Dave mendekat dan kembali merengkuh pipinya. “Kenapa?”           “Ibuku...dia ingin menikahkanku dengan kakek-kakek tua untuk membayar hutang-hutangnya,” Rae bercerita sambil terisak.           Dave terkesiap. “Maksudmu, ibumu menjualmu?” Suara Dave terdengar sarat emosi.           Rae mengangguk dan Dave kembali merengkuhnya di pelukannya. Kali ini Rae balas melingkarkan tangannya di pinggang Dave. d**a itu terasa nyaman. Lebih nyaman daripada d**a Jamie yang selama ini menjadi satu-satunya tempatnya bersandar. Rae menghirup aroma Dave dalam-dalam. Wangi Dave sangat maskulin.           Dave melepas pelukannya dan merapikan rambut Rae yang sudah berantakan karena sanggulnya terlepas. “Mandilah. Aku akan membawamu ke Donaghadee.”        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN