Bab 3

1083 Kata
Tok tok tok Ketukan di pintu dengan cukup keras itu membuat penghuni kamar yang sedang termenung seketika berbalik badan. Dia sedang menatap langit melalui jendela kamar yang terbuka, mempersilahkan angin malam masuk lebih banyak. Penampilannya sudah lebih rapi dari sebelumnya, walau sembab dimata belum hilang. Tok tok tok Suara berubah menjadi gedoran. Tidak sabaran. Nayra melangkah dengan cepat untuk membuka pintu. Trek Pintu terbuka, menampakkan sosok Abi yang menatapnya marah. "Abi? "Saya tidak ingin basa basi. Benar, kamu berada didalam kamar bersama Rafka sebelum kejadian kalian jatuh dari tangga?" Tanya Abi tiba-tiba. Matanya tidak lepas menatap Nayra kecewa. "Iya. Tapi Nayra gak tahu kalau Abang ada dikamar. Naura waktu itu tiba-tiba datang dan aku baru sadar ada Abang." Jawab Nayra begitu polos. "Kenapa kalau tiba-tiba Naura datang? Mengganggu?" Nayra menggelengkan kepalanya cepat. Perkataan abinya tentu saja tidak benar. "Bukan. Aku bersyukur karena Naura datang, aku jadi tahu ada Abang di kamar aku." Tambahnya masih berusaha menjelaskan. Tapi sepertinya alasan itu tidak masuk di akal abinya. Abi Karim bersidekap "Ngapain Rafka di kamar kamu?" Nayra kembali menggeleng dengan pertanyaan abinya. Nayra mulai merasa tertuduh. Pertanyaan yang terlontar dari mulut Abi seperti menyalahkannya. "Aku gak tahu. Abang yang masuk tanpa sepengetahuan aku." Jawabnya lagi. "Ada hubungan apa kamu sama Rafka?" Nayra menatap abinya. Ini pembicaraan paling panjang. Tidak biasanya Abi mau mengobrol banyak dengannya, hanya saja tema nya tidak sesuai yang diinginkan. Raut marah terlukis diwajah abinya. "Gak ada. Harusnya Abi tanya Abang, bukan tanya aku. Kesannya Abi nuduh aku." Abi diam. Tangan Nayra di tarik secara paksa oleh abi, tidak tahu mau dibawa kemana. Ada sakit di bagian lengan sana, hanya saja Nayra menahan. Bukan ini yang Nayra mau. Nayra ingin Abi yang banyak bicara padanya karena perhatian seorang ayah pada anaknya. Nayra ingin sentuhan lembut tanda sayang ayah pada anaknya, bukan kasar seperti ini. "Abi mau bawa Nay, kemana?" Tanya Nayra. Merasa heran karena abinya menariknya keluar dari rumah dan berjalan menuju belakang rumah tempat gudang berada. Selama perjalanan melewati ruang keluarga, ruang tamu dan dapur tadi, tidak ada seorang pun yang berada di sana. Mereka jelas berada dikamar dan tidak tahu keadaan dirinya sekarang. Abi menghentikan langkahnya tepat didepan gudang, tarikan ditangan Nayra pun terlepas. Gadis itu hanya diam menunduk, tidak berniat bertanya. Terlihat Abi membuka kunci gudang kemudian membuka pintunya lebar. Dari luar sudah terlihat di dalam sana tidak ada kenyamanan. Lampu nya saja remang-remang. "Untuk malam ini, renungi kesalahanmu di sini." Kata abi tiba-tiba tanpa alasan yang jelas. Nayra menoleh kearah abinya tidak percaya. "Apa salah aku?" Terdengar Abi menghembuskan nafas kasar "Kamu dan Rafka itu saudara, jangan berusaha menggoda atau memiliki perasaan. Jangan menyakiti Naura juga hanya karena apa yang kamu rencanakan gagal." Mata Nayra membesar saat mendengar perkataan Abi terhadapnya. "Abi gak percaya sama penjelasan Nayra sebelumnya? Nayra bersumpah Abi, Nay gak menggoda Abang atau bahkan menyukainya. Nay masih sadar. Nay masih SMP, gak mungkin lakuin hal kayak gitu. Nay juga tidak pernah menyakiti Naura." Abi tidak menghiraukan. "Renungi kesalahanmu. Jangan pernah lakukan hal itu lagi." Kata Abi. Nayra menunduk menyembunyikan kesedihan yang dirasanya kali ini "Abi melakukan ini bukan karena hal itu kan? Tapi karena emang Abi gak pernah anggap Nay anak." Abi Karim mendelik tajam seketika. "Saya gak akan sudi menyekolahkan kamu atau bahkan membiarkan kamu tumbuh sebesar sekarang kalau tidak anggap kamu anak." Jawab Abi dengan penuh penekanan. "Terus kenapa Abi gak percaya sama aku?" Ucap Nayra dengan air mata yang terus mengalir. Tatapan penuh harap dari anak kepada ayahnya, dia hanya butuh abinya percaya. "Apa yang harus saya percaya dari kamu?" Pertanyaan yang begitu menohok, seolah selama ini dia hanya berbohong tentang apapun. Nayra mengepalkan tangannya, berusaha memberanikan diri untuk menyampaikan perlakuan Rafka yang telah melecehkannya. "Abi, Abi percaya gak kalau bang Rafka udah lecehin aku? Udah cium-cium aku paksa?" Mata Nayra berubah sendu, berharap kali ini abinya mau mendengar. Tapi sepertinya sama saja, yang ia lihat saat menunduk adalah kepalanya tangan Abi. Rahang yang mengeras menahan marah saat Nayra kembali berkata "Bang Rafka bilang, dia cinta sama aku." Plak Satu tamparan membuat Nayra kembali pada kenyataan. Senyum pahit tercipta dibibir nya. Tangannya dengan cepat menyentuh wajah yang terkena pukulan tangan dari seorang ayah. Sakit diulu hati begitu kentara, menyelekit. Sesak sudah tidak bisa ia sembunyikan. "Jaga bicara kamu Nayra. Saya yakin Rafka tidak mungkin melakukan itu. Benar kata Naura, mungkin kamu yang menggodanya." Ujar Abi. Kini Nayra tahu siapa yang mengadu pada Abi. Naura memang ingin dirinya di benci Abi sampai kapanpun. Nayra memaksakan diri untuk tersenyum "Kenapa Abi begitu yakin? Abi tidak tahu isi hati dia kan?" "Abi juga lebih percaya Naura dari pada kejujuran Nay, kan?" Nayra terisak, menekan dadanya kuat. Sakitnya sungguh luar biasa. "Dari dulu abi memang gak pernah percaya sama Nay. Abi itu seorang ayah, kenapa perihal adil sama anak aja Abi gak bisa? Nay gak akan permasalahin tamparan abi ke Nay. Itu udah cukup buat Nay tahu, dari dulu abi emang pilih kasih." Ucap Naura begitu menyakitkan. Abi yang mendengarnya sampai tertegun. Nayra mengusap pipinya yang basah "mulai dari sekarang, Nay gak akan berusaha jelasin apapun, mau Nay bener atau salah, akan tetap salah di mata Abi. Tapi suatu saat, tanpa Abi minta pun kebenaran akan terungkap sendiri. Gimana bang Rafka yang sebenarnya, gimana Naura yang suka bohong dan manipulatif. Nay memang masih SMP, tapi Nay udah tahu mana yang benar dan salah." Jelas Nayra membuat Abi kesal setengah mati. Abi menggeram tidak dapat menahan emosi. "Lebih baik kamu tidak membuka mulut sampai kapan pun. Dari kecil sampai sekarang tidak ada perubahan. Bisanya cuma melawan orang tua dan berbicara seenaknya. Bikin malu." Kata Abi begitu menohok. Nayra di dorong paksa masuk ke dalam gudang membuatnya tidak memiliki keseimbangan yang kuat. Nayra terjatuh dengan debu yang mulai beterbangan memenuhi seisi gudang. Nayra hanya bisa memandangi abinya yang mulai menutup pintu gudang dan mengunci dari luar. Air mata kembali mengalir. "Diam di sana sampai kamu sadar dan mau meminta maaf pada Naura karena telah membuatnya cidera." Kata Abi dari luar sana. Nayra refleks menyentuh dahi yang diplester "Padahal Nay juga luka. Bahkan hati Nay lebih terluka karena Abi gak bawa Nay ikut serta ke puskesmas untuk memeriksa keadaan Nay. Tidak ada suara, kemungkinan sudah pergi. Nayra beringaut mendekati pintu. Tok tok "Abi?" Panggil Nay memastikan, berharap Abi tidak sekejam itu mengurungnya di gudang yang pengap dan penuh debu. "Abi?" Panggilnya lagi. Tidak ada jawaban. Nayra terisak "hiks, jangan tinggalin Nay, bi!" Serunya pelan. "Nay takut gelap." Ungkapnya seraya memeluk lutut dan menenggelamkan wajahnya diantara lipatan tangan. "Nay_ takut gelap."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN