Bab 12

1226 Kata
"Gak ada gue bahas lo, gue cuman ngomongin kenyataan, Abi yang selalu bandingin gue sama lo. Lo pikir enak dibanding-banding? Lo gak pernah ngerasain kan? Kalau gue iri juga wajar. Lo sama gue itu sama-sama anak Abi dan umi, tapi lo bisa liat sendiri kan, gimana perlakuan mereka ke gue." Ujar Nayra dengan nada tinggi. Nayra memang sering kali menyebut nama Naura setiap kali dirinya cekcok dengan sang Abi, tapi dia tidak akan melakukan hal itu jika saja Abi, selaku ayahnya tidak membedakan antara satu anak dengan anaknya yang lain. Hal itu sudah Nayra sadari sedari kecil. Terus kalau pun Nayra iri, itu wajar. Walau sesekali Nayra memendam semua itu dan mensyukuri apa yang ia dapat. Tapi di hati kecilnya, tetap saja, rasa iri itu pasti ada. "Gue tahu rasanya. Lo lihat bang Rafka? Dia lebih peduli sama lo ketimbang gue. Gue gak suka setiap kali Rafka apa-apa selalu nanyain lo." Kini Naura yang berbicara, Nayra terdiam. Tapi baginya, perkataan Naura tidak ada benarnya. Nayra menyugingkan bibirnya tipis "Lo pikir apa? Dia peduli sama gue? Lo gak pernah kan dilecehin Abang sendiri? Lo mau di caci maki sama Rafka kayak gue? Itu yang lo mau dari kehidupan gue? Ambil Nau, ambil. Gue gak butuh laki-laki kurang ajar kayak dia." Teriak Nayra, mengingatkan bahwa kepedulian Rafka padanya bukan sekadar peduli, tapi obsesi yang melampaui batas. Tidak ada kasih sayang dari seorang abang yang ia terima. Dan Naura pun tahu sendiri beberapa kejadian tentang kelancangan Rafka terhadap nya. Nayra melangkah mendekati Naura, berdiri tepat di depan Naura, hanya menyisakan sedikit jarak "Kalau tuhan kasih kesempatan buat lo dan gue bertukar posisi, lo mau?" "Gak!" Dengan cepat Naura berkata tidak. Kepalanya menggeleng sebagai penolakan. Nayra terkekeh. "Lo gak mau kan hidup kayak gue? Disalahin terus sama Abi, dibanding-bandingin terus, dicaci maki sama Abang sendiri, dan_" Nayra menatap dalam mata saudarinya, tangan Nayra terangkat menunjuk Naura tepat di dadanya "Lo, gausah merasa tersakiti apalagi playing fictim. Nyalahin gue dan nutupin kesalahan lo. Dari kecil gue diem dan ngalah terus demi nyenengin lo. Sekarang jangan harap." Tekan Nayra. Gadis itu meluapkan semua emosi yang selama ini ia pendam terhadap Naura. Biar Naura tahu sekalian, bahwa selama ini ia tidak suka mengalah. Rahang Naura mengeras, giginya bergemeletuk menahan kesal "Emang kenapa? Gak suka? Terserah gue mau lakuin apapun. Gue gak suka kalah, gak suka ditolak. Lo mau tahu, gue ini egois. Gue mau Abi, umi dan rafka cuman sayang dan perhatian sama gue. Lo, gue harap lo pergi dari kehidupan gue. Gue gak mau tersaingi. Paham?" Naura menepis tangan Nayra yang sebelumnya menunjuk padanya. Ini sifat asli Naura yang hanya diketahui Nayra. Umi dan Abi bahkan tidak tahu itu. Naura selalu membuat Abi membencinya karena terkadang dari segi apapun Nayra selalu unggul. Naura tidak terima perhatian kedua orang tuanya beralih. Intinya, Naura enggan berbagi. "Lagi pula, apa yang lo punya dan bisa lo banggain yang gak ada di diri gue?" Katanya dengan sombong menatap Nayra. Nayra mendelik "Gue gak ngebebanin umi dan Abi. Gue bisa cari uang sendiri, gak cuman minta. Gue juga cuci gosok baju sendiri, gak kayak lo, apa-apa selalu umi. Kalau gue sih udah malu." Ujar Nayra dengan sindiran. Naura yang merasa, mengepalkan tangannya tidak terima. Walau pun itu kenyataan, kembali pada pernyataan Naura sendiri kalau dia itu egois. Tangan Naura terangkat berniat untuk menjambak rambut Nayra, dia kesal dengan sindiran adiknya itu. Bukan salahnya tidak bisa melakukan apapun, tapi perlakuan Abi dan umi yang selalu memanjakannya yang membuatnya pemalas seperti sekarang. Nayra dengan cepat menangkis tangan Naura yang melayang mendekatinya "Jangan berani sentuh gue kalau gak mau nama baik lo jadi semakin jelek. Di sekolah nama lo udah mulai jelek karena gak bisa nahan sabar, nama lo juga udah terdaftar di buku kenakalan. Lo mau melakukan itu di rumah biar apa? Biar lo bisa pura-pura kalau gue yang mukul lo, terus ngadu ke Abi?" Cerocos Nayra membuat Naura jengkel seketika. Semua bisa di tebak karena terlalu sering dilakukan. Gadis pemilik kamar menarik paksa Naura, membuka pintu kamarnya dan mendorong paksa Naura untuk keluar. Di sana ada Rafka yang berdiri kebingungan dengan botol air minum ditangannya, menatap keduanya bergantian. Rafka masih diam di tempat. Nayra dengan wajah sinis menatap Rafka sekilas kemudian beralih pada Naura "Jangan lagi-lagi lo masuk kamar gue dan gak usah sok kenal sama gue." Ujar Nayra dengan suara tinggi. Naura mendengus "Siapa juga yang mau kenal sama orang yang punya nasib buruk." Katanya sebelum berlalu. "Dasar pemalas." Balas Nayra pada Naura yang kini menutup pintu kamar disampingnya. Baru ingin menutup pintu, Rafka dengan cepat menahan pintu kamar Nayra. "Apaan sih?" Ucap Nayra jutek. "Kalian ngapain tengah malam begini berantem?" Tanya Rafka ingin tahu. Pantas saja saat ke dapur tadi pintu kamar Naura terbuka. Rafka pikir Naura sedang berada di dapur, tapi saat turun gadis itu tidak ada, rupanya sedang ada obrolan yang entah apa. Nayra kembali mendorong pintunya, lagi-lagi Rafka menahannya. "Minggir gak lo?" Gadis itu melotot. "Kamu belum jawab pertanyaan abang, kalian berantem karena apa?" Tanya Rafka lagi penasaran. "Bukan urusan lo!" "Jelas, itu urusan abang!" Ungkap Rafka, mata itu tidak lepas memandangi adiknya penuh pesona. "Ya tanya sama adik kesayangan lo." Plak Nayra menampar pipi Rafka cukup keras, tangan Rafka refleks menyentuh pipinya hingga tidak sadar melepaskan pintu, dengan cepat Nayra menutup pintu dan mengunci dari dalam. Rafka tersenyum *** "Abi, Nayra dapat nilai tinggi, matematika dapat seratus dan guru puji Nayra karena lukisan yang Nay gambar bagus." Ujar Nayra kecil seraya memberikan sebuah kertas ulangan yang bernilai kan seratus juga lukisan dengan nilai A+. Abi mengambil kedua kertas tersebut dan tersenyum bangga "Waah, Nayra pandai sekali melukis, terus jadi anak pintar ya, nak." Ujar Abi seraya mengusap kepala Nayra lembut. Gadis itu baru saja pulang dari sekolah, melihat abinya yang tengah santai di teras rumah, langsung menunjukkan hasil yang ia dapat. Saat Abi tersenyum hangat pada Nayra, Naura berjalan mendekat ikut melihat dua kertas milik Nayra. Abi beralih pada puterinya yang lain "Gimana sekolahnya hari ini?" Tanya beliau pada Naura. Naura memberengut, tanpa basa-basi Abi mengambil satu lembar kertas dari tangan Naura, nilai matematika yang bagus, hanya saja tidak sempurna, delapan puluh. "Bagus. Belajarnya harus lebih giat ya? Supaya dapat nilai lebih tinggi dari ini!" Ucap Abi lembut seraya menatap dalam Naura. Gadis yang merasa kalah karena nilai yang didapat nya lebih rendah, tiba-tiba menangis "Nilai Nau jelek, gak sempurna kayak punya Nayra. Nau gak mau." Naura membuang kertas miliknya, merebut kertas gambar milik Nayra dan merobeknya. Nayra yang melihatnya memelotot tidak percaya. "Sayang, sudah. Itu cuman nilai. Kamu hanya perlu belajar lebih giat." Kata Abi berusaha membujuk untuk tidak menangis lebih histeris. Nayra menatap sedih robekan kertas yang bercecer di lantai, bahkan ada bagian yang terinjak oleh Abi. "Nau gak suka Abi puji Nayra. Dia baru dapat nilai besar, aku dapat nilai bagus setiap hari." Rengek Naura tidak terima. Abi mengangguk "Iya. Abi tidak akan memuji Nayra lagi." Nayra menunduk dalam. Pantaskah mengatakan itu tepat didepan orangnya? Demi menyenangkan hati anak yang lain, beliau rela menyakiti hati Nayra tanpa menoleh dan melihat bahwa Nayra sedang menangis. Nayra memang sering unggul, tapi tidak pernah ia tunjukan pada Abi karena kesibukan beliau, jarang ada di rumah. Nayra lebih sering menunjukkan nya pada umi. Dari kejadian itu, Nayra lebih memilih menyimpan semua nilainya tanpa di beritahu kepada siapapun. Masih teringat bahwa Abi tidak akan memujinya lagi, dan itu benar-benar dilakukannya. "Egois banget lo Nau."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN