Bab 9

1108 Kata
"kamu ngapain disini?" Tanya Rafka pada Nayra yang menatapnya penuh keterkejutan. Nayra sampai melangkah mundur karena tidak menyangka Rafka ada dihadapannya. Pasalnya, mini market ini cukup jauh dari rumah, tapi kenapa Rafka bisa sampai ke tempat ini. Nayra mencoba menutupi keterkejutannya dengan kembali meneliti isi kulkas untuk mencari barang yang kurang. Melihat Nayra yang menyibukkan diri, Rafka kesal, dia menarik Nayra untuk kembali menatapnya. "Abang tanya, kamu ngapain disini? Pakai seragam mini market pula, kamu kerja?" Cerocos Rafka tidak henti. Nayra menggerlingkan matanya malas, tangannya melepas cekalan tangan Rafka dari lengan atasnya. "Kelihatan nya?" Nayra menatap sinis Rafka. "Indira?" Panggil Nayra pada gadis seumuran dengannya, gadis dikepang satu itu mendekat kearah Nayra "Iya mbak?" Nayra memberikan secarik kertas kepada gadis bernama Indira itu "Tolong isi kulkas yang ini!" Katanya. Indira membaca barang-barang yang mesti ia bawa kemudian mengangguk "Iya mbak." "Terima kasih." Ucapnya begitu ramah. "Nayra?" Panggil Rafka lagi. "Apasih? Mau lo apa? Barang yang lo mau lagi dibawa, sabar aja." Balas Nayra seraya menahan marah. Baru ingin pergi untuk kembali mengecek barang yang lain, Rafka kembali menghentikannya "Lo kerja?" Nayra berbalik dengan mata menatap tajam kearah Rafka "Iya. Kalau gue kerja emang kenapa? Gak nyusahin lo juga, kan?" Ingin rasanya mengusir laki-laki di depannya, hanya saja ia takut orang lain mengira dia pekerja yang buruk, dia tidak bisa kehilangan pekerjaan yang sudah lama ia tekuni itu. "Uang jajan dari abi kurang sampai lo kerja begini?" Tanya Rafka masih memandang adiknya keheranan. Rafka tentu tahu, abinya memberikan uang yang cukup untuk Nayra, tapi kenapa Nayra sampai harus bekerja paruh waktu? Pantas saja Rafka selalu melihat adiknya pulang larut malam, rupanya karena bekerja. "Emang lo tahu abi kasih uang ke gue buat apa? Abi emang kasih uang, tapi cuma untuk sekolah, bukan untuk kepentingan pribadi gue. Gue bukan lo atau Naura, yang mau apa aja langsung bilang dan diturutin. Gue kerja juga halal, gak bikin malu." Jelas Nayra setengah sewot. "Lebih baik lo gak usah ganggu gue. Gue mau kerja!" Kata Nayra yang berlalu tanpa melihat Rafka yang kini terdiam. Seseorang datang menyapa, orang yang menjadi alasan Rafka berada di minimarket tersebut. "Raf? Udah lama?" Tanya seorang pemuda yang lebih tua dua tahun dari Rafka. Berdiri tegap dengan wajah tampan. Dia memberikan senyum ramah pada Rafka. Rafka melirik sahabatnya "Belum. Baru sampai kok!" Jawabnya. Rafka mulai penasaran akan sesuatu hal, pemuda itu melirik sahabatnya untuk mempertanyakan hal yang mengganjal dihatinya. "Pegawai lo, ada yang namanya, Nayra?" Tanya Rafka to the point. Sahabatnya terdiam, kemudian matanya tertuju pada gadis yang sedang sibuk meneliti expired makanan ringan. Pemuda itu menunjuk Nayra "Itu." Rafka ikut mengarahkan pandangan pada orang yang ditunjuk Sahabatnya. "Cuman dia gadis yang namanya Nayra. Dia karyawan gue." Jawab pemuda tampan tersebut. Tangannya dengan santai masuk kedalam saku celana. "Udah lama?" Tanya Rafka lagi, dia semakin penasaran. "Udah hampir enam bulan kalau gak salah. Dia karyawan yang paling gue percaya. Dia teliti juga bisa kerja cepat. Dia gak suka ngeluh, sama temennya yang lain juga ramah. Dia orangnya baik dan jujur." Ungkap pemuda itu pada Rafka, membuat Rafka panas sendiri saat mendengar pujian untuk adiknya. Tangan Rafka terkepal. "Lo suka sama dia?" Tanya Rafka seraya melirik tajam orang di sampingnya. Pemuda itu diam. "Arya?" Panggil Rafka. Arya tersenyum tipis "Suka sih enggak, cuman salut aja. Padahal dia masih sekolah, tapi mau kerja paruh waktu, sampai pernah gue kasih kerja lembur, pulang tengah malam pun dia gak nolak. Cuman herannya, besoknya dia kerja pakai masker, katanya sakit. Dari saat itu gue nyesel dan gak pernah kasih dia lembur lagi!" Jelasnya lagi. Rafka terdiam sejenak mendengar perkataan Arya barusan. Pernah sekali Nayra pulang tengah malam dan di pergoki Abi, berakhir dipukul dan ditampar sampai dikurung digudang untuk kesekian kalinya. Tapi saat Abi membuka pintu gudang di pagi harinya, Nayra masih tetap berangkat sekolah mengenakan masker bahkan tanpa sarapan. Rafka menunduk. "Waktu itu gue ngomporin Abi dan bilang Nayra keluyuran." Ucapnya dalam hati, sesal menyeruak memenuhi rongga dadanya. Seorang gadis datang dengan beberapa dus yang ia dorong menggunakan troli, gadis yang Nayra panggil sebelum Arya datang. "Permisi!" Ucap Indira, Arya dan Rafka bergeser, mempersilahkan Indira menata minuman yang baru. "Kita ngobrol di luar aja yuk? Ada hal yang mau gue obrolin." Ajak Arya pada Rafka. Rafka mengangguk menyetujui. "Tunggu sebentar, kak!" Indira menghentikan langkah keduanya, mereka bersamaan berbalik menatap Indira. Gadis itu melangkah mendekat, mengulurkan sekotak s**u rasa coklat ukuran besar "Ini minuman yang tadi kakaknya mau, takut kelupaan. Tapi belum dingin. Mbak Nayra bilang, kasih saja." Ujar gadis itu kemudian kembali bekerja saat Rafka mengambilnya. Mata Arya menyipit "Perasaan, lo gak suka s**u coklat." Katanya merasa aneh. Rafka gelagapan. "Gue cuman beli, ini buat orang lain." Jawabnya mencoba mengeles. Arya hanya tersenyum cengengesan. *** "Yang berantem sama mbak, siapa?" Tanya Indira tiba-tiba saat dirinya baru saja selesai mengisi kulkas yang lain. Indira ikut berjongkok disebelah Nayra, gadis itu sedang membereskan lemari bagian Snack. "Yang mana?" Tanya Nayra tidak mengalihkan fokusnya. "Itu, cowok yang mbak kasih s**u coklat ukuran besar itu." Kata Indira kepo. Nayra terkekeh pelan "Gak ada ya gue ngasih, dia yang mau. Kebetulan di kulkas habis, makanya gue nyuruh lo." Jelas Nayra, Indira hanya mengangguk sok mengerti. "Menurut mbak, antara cowok yang tadi sama pak Arya, ganteng yang mana?" Tanya Indira dengan alis di naik turunkan, menggoda. Nayra mendelik tajam sekilas, kemudian kembali bekerja "Gak ada. Gantengan calon suami gue." Indira tampak terkejut, matanya membulat, mulutnya terbuka "Mbak udah punya calon suami?" Tanya nya syok. Nayra dengan santai mengangguk "Mudah-mudahan." Wajah Indira berubah kecewa "Aku kira beneran." "Serius amat." *** "Lo mau ngobrol perihal apa?" Tanya Rafka saat mereka sudah duduk di kursi teras mini market. Menatap lalu lalang pelanggan yang datang. "Gak penting juga sih, gue cuman butuh temen." Kata Arya seraya menyalakan rokok yang dipegang nya. Rafka terdiam seraya memainkan s**u kotak ditangannya. "s**u itu sebenarnya buat siapa?" Tanya Arya penasaran. "Buat cewek yang gue suka." Jawabnya tanpa mengalihkan pandangan. "Siapa?" "Cewek yang kerja di minimarket lo." Arya terdiam mengingat-ingat. Karyawannya banyak, kebanyakan perempuan juga, lalu siapa yang sahabatnya maksud. "Cewek yang kerja di tempat gue banyak, kebanyakan juga cewek. Terus yang lo suka, siapa?" Rafka terdiam, ragu untuk mengatakannya. "Indira?" Rafka menggeleng, dia tahu wanita dengan nama itu, karena kebetulan tadi Nayra memanggil orangnya tepat di depannya. "Nana?" Arya menyebut satu-persatu perempuan yang bekerja di tempatnya. Rafka menoleh "Siapa Nana? Kenal aja kagak!" "Ya terus siapa? Jangan-jangan Nayra, cewek yang lo tanyain tadi ya?" Rafka menghembuskan nafasnya kasar "Iya." "Suka banget?" "Cinta." Arya tersenyum sumringah "Untung gue gak berminat sama dia. Kalau sampai terjadi, waaaah, udah di tonjok gue sama elo." Kata Arya dengan ekspresi muka yang dibuat-buat. Keduanya terdiam sejenak "Lo bisa pecat dia gak?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN