Kemarahan

1921 Kata
PLAK. Tangan Rachel mendarat keras di pipi Keith. Tampak Rachel penuh amarah ke Keith. Air mata Rachel berlinang saat ini. Untung saat Rachel menampar Keith, Keith sudah menaruh baki ke meja. Keith menahan dirinya, sadar sudah mengambil kesucian Rachel, tanpa izin Rachel. “Pak Keith,” Rachel bicara dengan menatap marah Keith, “Baik Saya mau pun Anda belum saling mengenal. Anda pun tahu kakek saya sedang anfal. Kenapa anda melakukan perbuatan yang lebih rendah dari Pak Robert? Anda menolong saya, tapi memangsa saya!” “Tidak benar semua itu, Rachel.” sela Keith membela diri, “Aku tulus menolongmu dari Robert, membawamu kemari untuk mengobati semua luka-lukamu, termasuk menetralkan obat perangsang yang ada dalam badanmu.” dibantah penghakiman Rachel atas dirinya, “Tapi ternyata obat itu sangat kuat dalam dirimu, sehingga menyulut gairahku, dan,” “Dan anda lakukan ke saya? Anda pikir saya murahan, Pak Keith?” “Rachel, tidak ada terpikir olehku hal itu.” “Buktinya Anda mampu melakukan itu.” “Rachel, Aku pria normal, dan tersentuh hati dari awal kita berkenalan.” “Apa pun itu, Aku menyesal mengenalmu.” Rachel semakin berlinang air mata, lalu bergegas berlari ke tangga. “Rachel tunggu!” seru Keith segera mengejar Rachel, “Rachel, Aku pasti bertanggungjawab atas semua hal yang terjadi semalam.” diraihnya lengan Rachel, saat gadis ini menurunin tangga. “Tidak perlu!” Rachel menyentak lengannya, agar terlepas dari pegangan tangan Keith, “Aku tidak sudi menerima pertanggungjawaban apa pun darimu. Aku ingin kamu mendekam di Penjara.” “Penjara?!” Keith terkejut mendengar ini, “Apa maksudmu?” “Anda sudah melakukan tindakan pemerkosaan atasku, Pak Keith!” “Aku tidak memperkosamu.” “Tidak kata anda? Anda melakukan disaat saya dalam keadaan luka-luka dan mabuk karena obat tersebut, apa itu bukan pemerkosaan?” JRENG! Keith tersentak mendengar hal ini. Tangannya sampai terlepas dari tangan Rachel. ‘Apa yang kulakukan semalam memang bisa dikatakan pemerkosaan,’ bisik hati Keith, ‘Karena Rachel dalam keadaan tidak sadar siapa dirinya, lalu penuh luka cambuk.’ Dia kini menyadari memang melakukan pemerkosaan atas Rachel, ‘Pantas Om Walter mengatakan apa yang kulakukan bukan hal baik, meski hatiku mengatakan semua terjadi atas dasar aku jatuh cinta ke Rachel.’ Dia juga menyadari kenapa Walter memarahinya tadi. Sementara di lantai 2, tepatnya dibalik tangga, Vienna dan Walter mendengar pertengkaran Rachel dan Keith. Keduanya saling memandang, lalu menghela napas bersamaan. “Sudah tahu apa kejahatan anda, Pak Keith?” Rachel menegur Keith, air matanya kembali berlinang, “Anda melakukan pemerkosaan atas diri saya!” dia sedikit memukul dadanya, tampak raut wajahnya penuh amarah. JLEGER! Keith mendengar ini bagai disengat thunder stroom di pagi hari. Tidak pernah ada perempuan yang seberani Rachel mengatakan kebenaran ke dia. Dipandangin Rachel, rasa menyesal semakin menikamnya. Rachel segera kembali menurunin tangga. “Rachel!” Keith tersadar Rachel pergi darinya, kembali mengejar Rachel, kembali ditangkap lengan Rachel, “Tenang dulu, kamu bisa terpleset jatuh menurunin tangga dengan emosi dan air mata berlinang.” pintanya sebab Rachel emosi dan air mata berlinang menurunin Tangga. “Baik, kalo kamu ingin membuatku mendekam di Penjara. Aku akui bersalah ke kamu.” Dia mengalah, memenuhi keinginan Rachel yang ingin membuatnya mendekam di penjara karena sudah merenggut kesuciannya. “Kalo begitu kenapa masih menahanku pergi?” “Kamu masih pakai baju tidur, Rachel.” Keith menunjuk pakaian di badan Rachel, “Baiknya kamu mandi, pakai baju yang layak, lalu sarapan. Setelah itu silahkan kamu bikin aku mendekam di penjara.” JRENG! Vienna tersentak mendengar semua pembicaraan ini, mau bergerak naik ke tangga, mau memohon ke Rachel agar tidak mengirim Keith ke penjara. Tapi Walter cepat meraih tangannya, dibawa pergi menjauh dari tangga. “Lepas Walter!” Vienna menjadi kesal dicegah Walter untuk menemui Rachel. “Stss, kecilkan suaramu!” desis Walter kini membawa mereka ke ruang tengah di lantai 2 ini. Dibawa mereka duduk berhadapan di sofa. “Kamu tenanglah dulu.” dibuka pembicaraan. “Bagaimana tenang, Walter? Anakku mau diperkarakan.” “Memang itu sudah semustinya terjadi, Vie.” “Walter!” “Vie, Keith memang melakukan tindakan pemerkosaan atas Rachel,” Walter menghela napas, “Sebab Rachel dalam keadaan terluka di badan, lalu dalam pengaruh obat perangsang.” JRENG! Vienna tersentak kaget mendengar ini, lalu memandang Walter dengan tatapan memelas. “Tapi apakah harus Keith di penjara karena itu? Keith sudah menolong kakeknya Rachel, dan juga Rachel.” “Jangan kamu sebut semua itu untuk menekan Rachel, Vienna Carter!” Walter setengah menghardik Vienna, “Dan sejak kapan kamu membeberkan anakmu itu sudah berbuat baik ini itu? Apa kamu sudah melupakan apa yang aku dan Brylee ajarkan ke kamu, bahwa jangan pernah membeberkan kebaikan yang dilakukan anakmu, kamu, atau kita!” ditegurnya Vienna dengan tegas. JRENG! Vienna tersentak kaget mendengar ini, lalu menghela napas. “Aku salah, Walter.” Dia mengakui sudah salah bersikap. “Bagus kamu cepat menyadarinya.” Walter mengusap sekali kepala Vienna, “Kamu tenang ya, sebab Keith sudah waktunya belajar untuk tidak seenaknya ke perempuan gegara libidonya itu. Selama ini Keith dengan seenaknya main perempuan, sekarang kena batunya.” “Tapi kalo dia di penjara, gimana?” “Biar saja. Biar dia merasakan hasil tidak mampunya menahan hasrat lelakinya.” Vienna menghela napas, kalo Walter sudah berkata begitu, dia tidak bisa membantah lagi. Vienna sangat patuh sama Walter dan Brylee. Karena kedua pria itu, meski tidak sempurna akhlak baiknya, namun mengajarnya dan Keith mengenai bertanggungjawab yang benar. Kembali ke Rachel, Keith masih membujuk Rachel. “Rachel.” Keith menegur Rachel yang sedari tadi tidak memberikan respon atas bujukannya, “Ayo kamu segarkan dirimu dulu.” Rachel menggelengkan kepala, kedua matanya sesekali melihat ke border line merah yang tampak di badannya, seperti di lengan. “Rachel,” Keith menghela napas dengan pelan, “Kurang pantas kamu pergi dengan memakai baju tidur.” kembali ditunjuk pakaian di badan Rachel. “Bagaimana aku mandi, kalo di badanku ada luka bekas cambuk?” Rachel pun berbicara, lalu memamerkan salah satu tangannya yang terhias bekas cambukan. Keith melihat tangan itu, lalu menghela napas, “Semalam,” Keith bicara, “dokter bilang kamu bisa lap badanmu dengan air hangat yang dicampur antiseptik. Agar lukamu tidak infeksi, dan kamu bisa merasa segar.” Diberitahu apa pesan dari dokter Altar untuk Rachel. “Tidak perlu.” Rachel menolak, sebab sudah tahu rasa perih diluka jika terkena cairan antiseptik. “Biar aku ganti baju saja.” Dia memutuskan mengganti pakaiannya. Lalu mendadak dia mengernyitkan wajahnya. “Ada apa?” Keith melihat ini, menjadi cemas. “Tidak ada apa-apa.” Rachel tidak mau mengatakan bahwa bagian sensitifnya kembali terasa nyeri. Jelas nyeri, sebab semalaman diobrak-abrik hasrat Keith. “Anda semalam buas memperkosa saya ini.” keluhnya mulai feeling penyebab kesensitifannya nyeri. JLEB. Keith menelan salivanya, lalu tersenyum tipis. Dia memang ganas bermain semalam, tapi merasa tidak enak yang dilakukan itu disebut Rachel adalah memerkosa Rachel. “Auhh!” Rachel memekik pelan, sebab kembali merasa nyeri. “Astaga!” Keith terkesiap, spontan saja meraih Rachel ke dalam gendongannya, bergegas dibawa ke kamarnya. JRENG! Rachel tertegun dengan yang Keith lakukan. Ditatapnya Keith yang tampak sangat cemas saat ini. Tapi dia menjadi ketakutan saat Keith membaringkannya di tempat tidur. “Anda mau apa?” dia segera bangun, “Masih belum puas memerkosa saya?” dia mengira Keith mau kembali mengintiminnya. “Rachel,” Keith mendesau pelan, “Miss V kamu sedang nyeri, bagaimana aku memerkosamu?” dia merasa nyesek dikira mau memperkosa Rachel, “Aku mau mengobati Miss V kamu itu.” “Mengobatin? Nonsen!” “Terserah apa katamu!” Keith sedikit tersulut emosinya, “Sekarang,” dia tatap Rachel yang tersentak mendengar suaranya tadi yang sedikit meninggi dimana raut wajahnya sedikit kesal, “Kamu baring, biarkan aku mengobati Miss V kamu itu.” diberi perintah tegas ke Rachel. “Ngga mau!” Rachel menolak. “Lalu kamu mau terus merasa nyeri, hmm?” “Kamu mau mengobatin dengan apa?” “Mengompres dengan larutan antiseptik dan salep!” “Hah?!” Rachel melongo mendengar ini. “Rachel,” Keith menurunkan emosinya, “Jujur, Robert berusaha merusak keperawananmu, sehingga Miss V kamu juga lecet. Jadi dokter Altar memberitahuku bagaimana mengobati lecet itu. Beliau kasih cairan antiseptik dan salep.” dijelaskan treatment dari dokter Altar yang bukan hanya mengobatin luka cambuk di badan Rachel. “Aku yang minta beliau mengecek seluruh badanmu, agar tahu dimana saja Robert melukaimu. Hal lain, saat aku datang menolongmu, aku melihat jelas Robert berusaha merusak keperawananmu. Aku feeling bagian itu pasti lecet.” Rachel melongo mendengar ini, “Anda sudah memperkosa berapa banyak wanita?” tanyanya polos ke Keith. “Maksudmu?” “Anda sampai tahu bahwa bagian sensitif itu pasti lecet kalo dipaksa oleh sensitifnya pria.” TUING-TUING! Keith mengerucutkan bibirnya, terkena perkataan Rachel. “Rachel,” Keith mengelus dadanya, “Aku baru pertama kali memperkosa, yaitu kamu. Lainnya,” dia tidak meneruskan, takut imagenya dimata Rachel semakin jelek, “Ah sudah lah, aku siapkan dulu obatmu, juga baju gantimu. Kamu tetap di tempat tidur.” Dia mengalihkan pembicaraan, segera turun dari tempat tidur, lalu menyiapkan obat untuk bagian sensitif Rachel yang terasa nyeri itu. Dia juga menyiapkan obat untuk luka cambuk di badan Rachel. Rachel menyisiri sekitarnya, lalu melihat tas yang dari Vienna tadi pagi ke Keith tergeletak di atas meja kerja Keith. Segera dia mengambil tas itu, merasa lega isinya ada baju ganti. Dia bergegas mengganti pakaian, lalu dengan menahan-nahan rasa nyeri, dia pergi tanpa berpamitan ke Keith. Dia melupakan tasnya, sebab memang tidak ada dalam pikirannya. Yang dipikirkan segera membuat Keith mendekam di penjara. Dia tidak mau menerima pasrah begitu saja kesuciannya direnggut pria, mau yang dikenalnya atau tidak. Dia tidak ingat bahwa Muria masih di rumah sakit, meski sudah menjalani operasi, sedang recovery di ICU. Langkah Rachel terhenti menuruni anak tangga, sebab dihadang Vienna. Walter yang menyuruh Vienna menghadang Rachel, sebab dilihat olehnya Rachel tergesa berjalan sambil menahan rasa nyeri. Walter tidak mau Rachel pergi dalam keadaan masih terluka. Dia pun meminta Vienna membawa Rachel ke kamar Vienna untuk istirahat. Soal Keith, biar Walter yang menanganin. Rachel memandangi Vienna, merasa Vienna mirip Keith, meski Keith lebih mirip ke Walter. “Rachel.” Vienna menegur Rachel, “Aku Vienna mamanya Keith.” Dia perkenalkan dirinya sebab Rachel mengamatinya dengan heran, “Ayuk kita ngobrol di kamar saya.” dipegang lengan Rachel, diberikan rasa nyaman untuk Rachel yang shock ini. “Ayo nak.” “Nyonya,” Rachel pelan melepas tangan Vienna, “Maaf, izinkan Rachel pulang.” “Rachel, kamu masih terluka.” Vienna dengan sabar dan penuh kasih sayang tulus membujuk Rachel, “Jadi sebaiknya istirahat di kamar saya, paling tidak sampai kondisi phisikmu menguat.” “Terima kasih, Nyonya,” Rachel tersenyum tipis, bersikap sopan ke Vienna,”Saya tidak bisa, sebab nanti Pak Keith pasti akan menemui saya di kamar anda.” Vienna menghela napas, ‘Iya sih, kalo Keith tahu aku membawa Rachel ke kamarku. Apalagi Keith punya feeling tajam, dia tahu Rachel masih terluka, belum sanggup pergi dari rumah ini, lalu aku memberikan bantuan ke Rachel.’ “Nyonya, saya permisi.” Rachel kembali bersuara, sedikit menggeser dirinya ke samping, lalu mau menuruni anak tangga, tapi tangan Vienna cepat meraih lengannya, “Nyonya?!” Vienna hendak berbicara, namun terdengar suara Keith yang panik. “Rachel!” terdengar suara Keith yang panik, “Rachel, kamu dimana?” dia kelimpungan tidak menemukan Rachel di kamarnya, “Rachel!” Rachel dan Vienna saling memandang mendengar suara Keith yang panik kehilangan Rachel. Tampak Rachel memohon agar Vienna membantunya lepas dari Keith. Vienna menghela napas, bingung harus bagaimana. + TO BE CONTINUE +
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN