Rachel menghentikan langkah Keith, dia ingin tahu kenapa pria tampan ini membawanya ke Carter Hospital, padahal Muria dirawat di rumah sakit Sentosa. Rachel juga memandang Keith dengan sorot mata penasaran.
Keith menghela nafas, lantas memanggil Veron.
“Veron!”
Veron yang berada di sisi Walter, menghentikan langkahnya, bergegas mendekati Keith.
“Saya, Tuan Muda.”
“Kamu bawa Mama dan Om Walter ke Nico di lantai 5.” Keith meminta Veron membawa Vienna dan Walter menemui Nico yang masih bertugas menjaga Muria. “Biar Mama dan Om Walter bisa membesuk Pak Muria. Saya sama Rachel segera menyusul.”
“Siap Tuan Muda.” Veron paham perintah Keith, “Nona Rachel, anda tenang saja.” Dia menegur Rachel yang terheran mendengar pembicaraan baru saja. “Kakek Anda ada di sini, melanjutkan pengobatannya.” Dia menjelaskan sedikit mengenai pembicaraan tersebut.
Rachel terkesiap, dialihkan pandangan ke Keith, kembali terlihat sorot matanya penasaran. Keith menghela nafas, melirik Veron dengan gemas. Assistennya ini sudah menyampaikan apa yang belum disampaikan olehnya ke Rachel.
“Hehehe,” Veron cengegesan dilirik gemas atasannya ini, “Selanjutnya anda yang menjelaskan ke Nona Rachel, Tuan Muda.” Dia dengan innosen meminta Keith memberi penjelasan lebih jauh ke Rachel, “Saya permisi Tuan Muda.” Dia pun terbirit meninggalkan Keith, menghampiri Vienna dan Walter yang menanti tidak jauh dari Keith dan Rachel berada saat ini, “Nyonya, Tuan Walter,” ditegurnya Vienna dan Walter, “Mari kita duluan membesuk Tuan Muria. Tuan Muda menyusul sama Nona Rachel.” Diberitakan mengapa Keith memanggilnya barusan.
Vienna dan Walter menganggukan kepala, lantas mengikuti Veron menuju lift.
Keith pelan meraih tangan Rachel, digandengnya sambil membawa mereka ke deretan kursi pengunjung yang berada tidak jauh dari tempat mereka berhenti tadi.
Rachel merasa tidak nyaman digandeng Keith, dihentak kasar tangan pria itu, lantas memandang dengan geram.
Keith menghela napas, menyabar-sabarkan diri dengan sikap galak Rachel.
“Pak Keith.” Rachel bersuara, “Bisa anda jelaskan benarkah kakek saya berada di rumah sakit ini? Mengapa beliau berada di sini?” dicecernya Keith dengan pertanyaan, dimana sorot mata Rachel terlihat penasaran berbaur kekesalan.
Keith menghela napas pelan, ‘Bagaimana mengatakannya ke kamu? Aku tidak ingin kamu tahu bahwa aku yang memindahkan kakekmu ke Carter Hospital setelah operasi pemasangan ring di jantungnya berjalan baik.’ desaunya kebingungan bagaimana menjelaskan apa yang Rachel ingin tahu. ‘Kalo aku mengatakannya, apa kamu tidak bertambah shocknya? Kamu saat ini masih shock karena aku perawanin. Apa kamu tidak akan bertambah membenciku, sebab pasti dipikiranmu aku perawanin kamu karena sudah menolong kakekmu. Padahal semua yang kulakukan murni dari hatiku yang jatuh cinta ke kamu.’
Deg, Keith terkesiap setelah hatinya bicara barusan. ‘Aku jatuh cinta ke gadis cantik ini?’ ditatapnya Rachel, sebab sampai detik ini, dia masih kebingungan sendiri mengenai perasaannya ke Rachel, ‘Rasanya memang aku jatuh cinta sama dia.’ Dia menghela napas, ‘Kalo tidak, bagaimana mungkin aku melakukan semua hal itu dengan tanganku sendiri.’
Keith selama ini sekiranya melakukan sesuatu, pasti melalui tangan Veron, itu pun bukan untuk seorang perempuan. Bukan berarti dia tidak pernah menolong perempuan, tapi perempuan yang ditolongnya bukan yang memujanya atau yang pernah ditidurinya.
“Pak Keith!” Rachel berseru setengah menghardik Keith, “Saya menunggu jawaban anda!” dia beritahu sedari tadi menunggu Keith menjawab pertanyaannya.
Keith menghela napas, “Acha, ada baiknya kamu segera menemui kakekmu.” Dia memutuskan tidak memberi jawaban yang diinginkan Rachel, “Kamu dari kemarin malam tidak bersamanya.” Dialihkan perhatian Rachel ke Muria.
“Pak Keith,” Rachel menghela napas, “Saya tidak bersama kakek karena Pak Robert dan anda!” dia tidak terima seolah dipersalahkan tidak bersama Muria semalam.
“Aku tahu.” Keith tersenyum lembut, “Ayo Acha, kesian kakekmu. Dia mencemaskanmu.”
“Mencemaskanku?”
Jleb, Keith terkesiap, lalu tampak raut wajahnya kecut.
‘Tuhanku, keceplosan aku.’ Dia tersadar terlepas perkataan. ‘Aku harus bagaimana ini?’ dia melihat Rachel bertambah penasaran.
“Pak Keith, apa maksud anda?” Rachel mencecer kembali Keith. “Kenapa anda mengatakan itu? Anda sudah kenal kakek saya?” terus dicecer pria itu dengan sederet pertanyaan sepanjang rel kereta Jakarta-Bandung.
Keith menghela napas, ‘Baiknya mengaku saja ini,’ desaunya merasa tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari Rachel. ‘Daripada terus dicecernya.’ Dia mengeluh sebab mati pikiran karena dicecer gadis itu dengan sederet pertanyaan.
“Pak Keith!”
“Baik Acha,” Keith bersuara juga, “Iya, aku sudah mengenal kakekmu,” dia membuat pengakuan ke Rachel, “Kamu ingat, saat kita di menara Carter Oil Company?” diputar ulang peristiwa kemarin dalam ingatan Rachel.
“Ingat.”
“Apa ingat juga aku bicara sama penelponmu?”
“Ingat.”
“Karena semua itu, aku memutuskan menemui kakekmu.”
Rachel terngangga mendengar ini, lalu,
“Apa anda menghubungi Pak Sukro?”
“Iya, Acha.” Keith terpaksa membenarkan pertanyaan Rachel, padahal dia tahu dari Veron.
“Anda tahu nomor ponsel Pak Sukro dari mana? Perasaan anda tidak memegang ponsel saya.”
Keith menahan napas mendengar ini, ‘Sudah tahu kenapa kamu bertanya apa aku menghubungin Pak Sukro?’
“Pak Keith, setahu saya, dari mana anda tahu nomor ponsel Pak Sukro?”
“Pentingkah itu kujawab?” Keith malah memberikan pertanyaan, “Acha, semua itu tidak penting, sebab ada yang sangat penting untuk kamu segera lakukan. Kamu temui kakekmu.” Dia terpaksa menegur Rachel sedikit keras. Dia kembali mengalihkan perhatian Rachel ke Muria.
Rachel menghela napas, “Baik, saya ikutin perintah anda.”
“Acha, “ Keith menjadi gemas ke Rachel, “Aku tidak ada memerintahmu. Kamu tadi di rumah bersikeras mau menemui kakekmu. Lantas sudah sampai di sini, kamu malah mencecer aku dengan pertanyaan ini, pertanyaan itu. Jadi aku arahkan kamu agar kembali fokus ke kakekmu.”
Rachel menghela napas, merasa perkataan Keith benar semuanya.
Keith lantas meraih tangan Rachel, digenggamnya,
“Ayo sekarang kita temui kakekmu.” Dia tanpa basa-basi segera membawa mereka berjalan.
+++
Di dalam sebuah gudang yang berada di pelabuhan, tampak Robert diikat di sebuah tiang besi. Pria itu terlihat lemas, karena terkena pukulan-pukulan keras dari Keith. Wajahnya tampak bengep dibeberapa bagian.
Perlahan Robert mengangkat kepalanya, menyisiri sekitarnya, masih ada orang-orang Keith yang membawanya kemari.
“Hei!” dia berseru lantang dimana pandangannya tertuju ke orang-orang Keith yang berjumlah 4 orang. “Hei kamu semuanya!” kembali dia berseru dengan suara lebih lantang.
Salah satu dari orang-orang tersebut mendekati Robert.
“Ada apa?”
“Saya lapar, juga haus!” Robert merasakan perutnya lapar, tenggorokannya kering.
“Huh, sudah mau pergi dari dunia, masih merasakan lapar dan haus?”
“Hei, kata siapa aku mau pergi dari dunia?”
“Anda ini lupa, atau sengaja lupa? Semalam anda melakukan apa ke istri Tuan Muda kami di hotel itu?”
Robert melongo mendengar ini, sejurus kemudian dalam benaknya terputar kejadian malam di mana dia menyiksa Rachel, dan memaksa mengambil kesucian gadis malang itu.
“Apa yang anda maksud?” Robert bicara ke orang dihadapannya, “Rachel?”
“Nyonya Rachel, Pak Robert, Nyonya Rachel.” Si pria mengoreksi cara Robert menyebut nama Rachel, “Beliau itu istri Tuan Muda kami.”
“Maksud anda, dia istri Tuan Keith Carter?”
“Tepat sekali.”
“Tidak mungkin,” Robert sedikit menggelengkan kepalanya, merasa tidak mungkin Rachel adalah istri dari Keith Carter atasannya di Carter Oil Company. “Rachel bukan istri Tuan Keith. Dia mantan pacar Anto kenalan saya.”
“Terserah anda berkata apa,” si pria tersenyum sengit, “Mengenai anda lapar dan haus, maaf tidak ada makanan dan air minum untuk anda. Tuan Muda melarang kami memberi anda makan dan minum, sebab beliau segera menghantar anda pergi dari dunia ini!”
Robert tersentak mendengar ini, “Kenapa begitu? Apa kesalahan saya? Rachel bukan istri Tuan Keith, maka saya berhak mendapatkannya.”
Si pria hanya tersenyum tipis, lantas meninggalkan Robert.
“Aneh sekali,” desau Robert dengan pandangan kebingungan, “Setahuku Acha tidak mengenal Tuan Keith, lantas mengapa disebut istri Tuan Keith?”
+++
Air mata Rachel meleleh saat melihat Muria memandangnya. Dia dibawa Keith ke ICU menemui Muria. Perasaan bersalah menyeruak keluar dari hatinya. Membuatnya tidak berani mendekati Muria. Hanya berdiri disisi Keith.
Muria tersenyum melihat ini, dia paham perasaan bersalah yang dirasakan Rachel. Dia pun paham, Rachel dari kecil sekiranya berbuat salah, tidak berani mendekatinya atau Emily. Hanya berdiri sambil berlinang air mata.
“Acha!” sayup terdengar suara Muria menyebut nama Rachel, “Acha cucu kakek!” dia kembali memanggil Rachel. Satu tangannya diangkat ke atas, diarahkan ke Rachel, “Kemarilah, cucuku.” Dia meminta Rachel mendekatinya. Dia merasa lega Rachel diselamatkan Keith.
Air mata Rachel semakin berlinang, dia tidak ada keberanian memenuhi panggilan Muria. Selain perasaan bersalah tidak menunggui Muria di rumah sakit, dia takut Muria melihat border line merah di beberapa tempat di wajah cantiknya. Kedua tangannya yang terjulur disisi-sisi pinggangnya, dirangkumnya, diremat-remat.
Keith menghela napas, perlahan meraih satu tangan Rachel, dilepas rangkuman ditangan tersebut, digenggam lembut olehnya. Rachel memutar pandangan ke pria ini.
Keith tersenyum, perlahan membawa mereka mendekati Muria. Entah kenapa Rachel tidak menolak sikap Keith ini. Bahkan saat mereka menghadap Muria, dia merapat disisi badan Keith, seolah berlindung ke Keith.
Muria tersenyum melihat yang dilakukan Rachel. Nuraninya semakin kuat mengatakan bahwa Keith jodohnya Rachel. Namun masih panjang perjalanan untuk kedua insan itu bersatu.
“Pak Muria.” Keith menyebut nama Muria.
“Pak Muria, Mas Keith?” Muria merasa heran mendengar Keith memanggilnya dengan “PAK MURIA”, “Bukan kah semalam Mas Keith sudah setuju untuk memanggil saya dengan kakek?” dia memberi teguran ke Keith dengan mengingatkan kejadian semalam, bahwa Keith setuju memanggilnya dengan kakek.
Jleb, Keith menelan salivanya, ditarik bibirnya ke dalam, terlihat resah.
“Kakek.” Rachel menegur Muria, “Kakek bilang apa tadi?”
“Hehehe.” Muria tersenyum geli dengan pertanyaan Rachel, “Acha, semalam Mas Nico sepupu Mas Keith menelpon Mas Keith, lantas kakek minta Mas Keith memanggil dengan kakek, tidak Pak Muria. Sebab Mas Keith kan rekan di tempatmu bekerja.”
Rachel melongo mendengar ini.
Keith merasa situasi segera menyudutkannya kembali, bergegas dialihkan pembicaraan ini.
“Acha,” ditegurnya Rachel yang terlihat ingin kembali mencecernya dengan sederet pertanyaan sepanjang rel kereta Jakarta-Bandung. “Ayo salam ke kakekmu. Tidak baik, kamu hanya berdiri dihadapan beliau.” Disuruhnya Rachel mencium tangan Muria.
Muria tersenyum geli melihat Keith menjadi gugup saat ini. Pria ini merasa Keith tidak ingin Rachel mengetahui bahwa Keith berkenan akrab dengannya. Tapi bukan demi Rachel. Keith merasa Muria seperti almarhum ayahnya Brylee. Sosok yang momong cucu dengan kasih sayang dan ketegasan.
“Acha!” Keith kembali menegur Rachel yang semakin melongo melihat sikapnya barusan, “Kok malah bengong? Ayo lekas salam ke kakekmu.”
Rachel menghela napas, pelan dirundukan setengah badannya sambil meraih tangan Muria, lantas dicium pucuk tangan Muria. Ketika bibirnya menyentuh kulit pucuk tangan tersebut, air mata Rachel kembali meleleh. Dibenaknya kembali menyeruak semua peristiwa semalam, termasuk peristiwa tadi pagi dimana dia marah ke Keith yang merenggut kesuciaannya.
Gadis ini lantas memeluk Muria, air mata semakin berlinang di wajah cantiknya ini.
Muria mendekap punggung Rachel, bicara dengan penuh kelegaan,
“Terima kasih Tuhan. Terima kasih sudah menyelamatkan cucuku dari bahaya. Terima kasih Engkau memberinya jodoh sejati.”
Rachel mendengar ini tersentak kaget, dilepas pelukannya, lantas menatap Muria dengan ekspesi kaget berbaur heran.
Keith menggaruk sedikit keningnya, dia merasa Muria mengetahui dia jatuh cinta ke Rachel. Sejurus kemudian, pandangan kedua matanya bergerak mengarah ke Muria, ditelusuri pandangan Muria ke dia.
‘Astaga,’ desaunya, ‘Apa kakek berkata seperti tadi karena tahu aku sudah memiliki kesucian Acha?’
+++
Rachel memandangin dirinya di depan kaca besar di meja rias dalam kamarnya. Muria tadi memintanya istirahat di rumah, tidak mengapa dia tidak menunggui pria tersebut. Muria sadar Rachel mengalami shock dan keletihan setelah semua peristiwa semalam terjadi.
Pelan satu tangan Rachel menyisiri permukaan wajah cantiknya yang masih tampak hiasan-hiasan border line merah. Air matanya meleleh dari kedua mata indahnya yang berwarna coklat muda. Dalam benaknya mulai menari-nari peristiwa yang dialami semalam. Dipejamkan kedua mata, air mata semakin deras membasahi wajahnya. Tidak lama dibuka kedua matanya.
“Tuhanku,” dia bicara sambil memandang dirinya di kaca, “Aku lepas dari Pak Robert, tapi dimangsa Pak Keith,’ rintihnya pilu, “Sepertinya kakek tahu hal itu dari indera keenamnya.” Dia feeling Muria mengetahui dia sudah kehilangan kesucian diri. Lantas dia menutup kedua telinganya, menggelengkan kepala, tampak sorot matanya luar biasa shock, “Tidak! Aku tidak terima dimangsa kamu!” dia mulai racau yang mengarah ke Keith, sebab dalam benaknya menari-nari bayangan Keith yang membujuknya agar mengizinkan pria itu bertanggungjawab ke dia. “Kakek!” dia pun beralih ke Muria, “Maafkan Acha! Maafkan Acha! Acha sudah kehilangan kehormatan diri.” Napasnya memburu terbaur gejolak hatinya yang tidak menerima direnggut kehormatannya tanpa menikahinya terlebih dahulu.
Dia segera melepaskan kedua tangan dari telinganya, bergegas menarik laci meja riasnya ini, lantas mengambil gunting dari laci tersebut. Dihadapkan ujung gunting ke atas, dipandanginya dengan sorot mata putus asa dan emosi.
+ Bersambung +