Penolong Muria

1808 Kata
Rachel menatap Robert dengan heran, lalu memberanikan diri bertanya, “Maaf Pak, kenapa saya harus menemui anda di Hotel?” Robert tersenyum mendengar pertanyaan ini, “Kamu ingin menolong kakekmu kan?” “Lalu?” “Saya akan bantu kamu, tapi saat ini masih jam kerja, saya belum bisa memberikan uang tersebut ke kamu. Jadi kalo kamu mau, temui saya selepas jam kerja di Hotel.” Rachel menghela napas, ‘Anda ini mau menolong atau menerkam saya?’ feeling Robert ada niat buruk ke dia, dengan memanfaatkan kesulitannya saat ini. “Tapi,” Robert bicara lagi, “Semua terserah kamu. Kalo kamu tidak menemui saya di Hotel, maka permohonanmu meminjam uang batal.” ditekannya Rachel, “Ingat Acha, kakekmu bergantung sama kamu.” Rachel menghela napas lagi, “Pak, terima kasih niat baik anda berkenan meminjamkan dana untuk operasi itu. Tapi lebih baik batal daripada saya harus menemui anda di Hotel.” Robert terkejut mendengar ini, diamatin Rachel dengan menyelidik. “Kamu tega membiarkan kakekmu tidak jadi operasi malam ini?” “Tentu saya tidak tega. Tapi saya yakin ada jalan keluar lain untuk membuat kakek bisa operasi malam ini.” Robert kembali terkejut, ‘Benar kata Anto, gadis ini tidak bisa ditaklukan. Tiga tahun Anto berusaha, tapi akhirnya tidur sama wanita lain.’ bisik hatinya, ‘Hmm, perempuan seperti ini sangat menarik bagiku. Apa sih yang tidak bisa kudapatkan?’ “Pak,” Rachel bicara lagi, “Saya permisi dulu.” Lalu segera meninggalkan ruangan Robert. “Huh!” Robert menggerutu, “Perempuan tidak tahu diri. Hari gini minjam uang tanpa mau melayanin di ranjang? Tapi kamu tidak akan lepas dariku, Acha.” Sementara di luar ruangan, Rachel bergegas jalan menuju lift khusus staff. Dia tidak sadar diamatin Jack. Jack tidak ikut Keith ke rumah sakit, ditugaskan tetap mengawasi Rachel. +++ Keith tergesa masuk ke ground Rumah Sakit Sentosa sambil menelpon. Dia tampak cemas bukan main. “Veron!” Keith bicara sama Veron di ponselnya, “Kamu di mana? Saya sudah di ground rumah sakit tempat kakeknya Rachel di rawat.” Dia sambil meluaskan pandangan mencari Veron yang sebelumnya sudah dihubungin untuk menantinya di ground. Veron juga meluaskan pandangan, lalu melihat Keith, bergegas menghampiri Keith. “Saya di sini, Tuan,” sahut Veron ke Keith dimana ponsel masih online sama Keith. “Hallo Tuan, saya sudah di dekat anda.” Keith melihat Veron yang inosen menegurnya. “Iya, saya lihat kamu di dekat saya!” sahut Keith merespon pemberitahuan Veron dimana ponsel masih online sama Veron. Diakhiri panggilan telpon, lalu memandang gemas ke Veron, “Sudah selesai saya nelpon kamu, Veron!” ujarnya menunjuk ponsel yang masih ditempelkan Veron di telinga kanan Veron. “Hehehe,” Veron cengegesan, turunkan ponsel, direjectnya, lalu simpan ke dalam saku celana panjangnya, “Tuan muda kok sendiri? Mana Nona Rachel?” “Ngapain kamu tanya Rachel, hmm?” Keith sedikit tersulut cemburu. “Loh Tuan kan mau besuk kakek beliau, pasti kan bersama Nona Rachel.” “Rachel masih sibuk kerja, Veron.” Keith menghela napas, “Sudah, ayo temanin saya ke manager rumah sakit ini.” “Tuan, maaf, untuk apa menemui manager rumah sakit ini?” “Sudah ikutin saja yang saya bilang!” “Baik, Tuan Muda.” Veron menghela napas, baru kali ini Keith bersikap misterius, tepatnya sejak mengenal Rachel. “Mari silahkan ikut saya, Tuan Muda.” Dia persilahkan Keith mengikutinya. Keith menganggukan kepala, lalu berjalan berdampingan sama Veron menuju lift. “Veron, kamu sudah melihat kakeknya Rachel?” “Sudah Tuan, tapi hanya melalui jendela saja.” sahut Veron, “Selain keluarga beliau, yang lain tidak diperbolehkan memasuk ke ICU membesuk beliau.” “I see.” Keith paham, “Kamu sudah tanya semua hal mengenai penyakit dan penanganan kakeknya Rachel ke dokter penanggungjawab pengobatan beliau?” Veron belum menjawab, sebab bergegas ke depan lift yang terbuka pintunya, dan cepat menahan pintu itu kembali tertutup setelah customer meninggalkan lift. Keith segera masuk ke lift, baru Veron masuk. Veron mengarahkan lift ke lantai 5, tempat di mana ruang Kepala Bidang Perawatan rumah sakit ini berada. Veron selama di sini, bukan sekedar mencari tahu mengenai penyakit dan pembiayaan, tapi mencari tahu mengenai perkembangan kondisi Muria. Karena Keith menugaskan agar memantau terus kondisi Muria. “Veron, pertanyaan saya tadi belum kamu jawab!” Keith menegur Veron, sebab mereka di dalam lift diam saja. “Baiknya Tuan Muda nanti bertanya sendiri sama Kepala Bidang Perawatan ya. Nanti pun Tuan Muda bisa dipertemukan sama dokter penanggungjawab Tuan Muria.” “Tuan Muria?” “Itu nama kakeknya Nona Rachel, Tuan Muda. Muria Espanola.” “I see.” Mereka pun sampai ke lantai 5, lalu segera Veron membawa Keith ke ruangan Kepala Bidang Perawatan. KRING. Ponsel Keith berdering. Keith terpaksa menunda Veron mengetuk pintu ruangan di depan mereka dengan bergegas menjawab panggilan masuk. “Ya Jack?” Keith langsung bicara dengan Jack yang menelponnya, “Ada apa sama Rachel? Oke, saya dengarkan.” Keith lalu sejenak mendengarkan laporan Jack mengenai Rachel. Veron diam-diam mengamati Keith. ‘Tuan Muda kenapa ya? Perasaan baru kali ini Tuan Muda memperhatikan seorang perempuan. Biasanya perempuan yang memperhatikan anda. Apa anda tersentuh hati ke Nona Rachel?’ dia memikirkan Keith yang begitu perduli ke Rachel, sampai bela-belain ke rumah sakit ini untuk Muria. ‘Kalo anda tersentuh hati ke Nona Rachel, bahagianya Tuan Brylee dan Nyonya Vienna, sebab penyakit playboy anda hilang. Semoga Nona Rachel tersentuh hati pula ke anda. Jadi orangtua anda bisa segera momong cucu.’ Kekehnya. “Ya sudah,” Keith masih online sama Jack, “Kamu awasin terus, dan jaga Rachel. Saya feeling Robert tidak semudah itu menerima penolakan Rachel. Kalo terjadi sesuatu, cepat kamu hubungin saya. Satu lagi, minta nomor ponsel Rachel ke Veron, lantas minta Daren untuk memasukan nomor itu ke dalam monitoring Carter Oil Company. Jadi saya juga bisa tahu kemana dia berada lewat peta di ponsel saya.” Veron mendengar ini tersenyum, ‘Astaga! Tuan Muda benaran tersentuh hati ini ke Nona Rachel. Sampai selalu ingin tahu dimana jejak Nona Rachel lewat peta di ponselnya. Tidak mengapa, Nona Rachel itu cantik dan perempuan terhormat. Cocok bersanding sama Tuan Muda.’ Kekehnya masih setia menguping pembicaraan Keith dan Jack. Keith sudah selesai bicara di ponsel, dimasukan ponsel ke dalam saku celana panjangnya, lalu menjitak kening Veron. “Hayo dari tadi kenapa senyam-senyum ngeliatin saya?” Keith menjadi gemas sebab merasa Veron menguping pembicaraannya tadi. “Hehehe,” Veron cengegesan, “Tuan Muda, Nona Rachel cantik ya?” “Sangat. Kenapa memangnya?” “Anda tersentuh hati ya ke beliau?” Jleb, Keith terkesiap mendengar ini. ‘Aku tersentuh hati ke Rachel? Mungkin kah?’ tanya hatinya, ‘Ah sudah lah yang terpenting sekarang menolong kakeknya dan dia.’ Desaunya tidak mencari jawaban ke dalam hatinya sendiri mengenai perasaannya ke Rachel. “Sudah Veron!” dihardiknya Veron yang tersenyum geli melihatnya terkesiap dan bingung sendiri, “Lekas bawa saya menghadap Kepala Bidang Perawatan.” +++ Pak Sukro dan Bu Sukro mengamati Keith yang datang bersama Veron, dan Keith mengenalkan diri sebagai rekan kerja Rachel di Carter Oil Company yang tadi sempat menjawab telpon dari Pak Sukro ke Rachel. “Pak Sukro.” Keith menegur Pak Sukro. “Ah maaf Pak Keith.” Pak Sukro tersadar, dan kembali ke mode normal, “Mana Acha?” ditanyanya di mana Rachel. Padahal dia ingin bertanya siapa Keith sebenarnya, sebab selama mengenal Rachel, hanya Anto yang dikenal sebagai teman Rachel. Rachel kurang supel bergaul, sehingga jarang terlihat ada teman bersamanya. Hal lain, Rachel enggan membawa teman ke rumah, sebab Rachel menjaga kondisi rumah tetap tenang demi Muria. Kalo ada teman kan pasti akan ada mengobrol seru dengan suara keras. “Rachel masih di kantor, Pak Sukro.” sahut Keith, “Maaf, bagaimana kondisi Pak Muria saat ini?” dialihkan pembicaraan, takut dia tidak bisa memberi pertanyaan mengenai siapa dia disisi Rachel. Dia juga tidak ingin diketahui adalah Presiden Director Carter Oil Company, sebab Rachel sendiri belum mengetahui hal ini. “Hmm,” desau Pak Sukro, “Kondisi jantungnya kian lemah, Pak Keith.” Ujarnya memberi jawaban dari apa yang dipantaunya selama menjaga Muria, “Saya dan istri belum bisa membantu apa pun, selain menjaga Pak Muria. Penggalangan dana untuk beliau, baru besok dilaksanakan.” “I see.” Keith paham. “Veron!” dipanggilnya Veron. “Saya, Tuan Muda.” Sahut Veron lebih ke sisi Keith. “Hais Veron!” Keith menegur Veron, “Ngapain sih panggil saya dengan Tuan Muda!” diomelin Veron yang memanggilnya Tuan Muda dihadapan suami istri Sukro. Veron melongo mendengar ini, “Aduh Veron!” Keith menjadi gemas, sebab Veron tidak paham arah perkataannya, “Kamu itu rekan kerja saya juga di kantor. Kenapa memanggil saya dengan Tuan Muda?” dilirik pula suami istri Sukro, “Jangan sebut Tuan Muda di depan mereka ini.” bisiknya pelan ke Veron yang kembali melongo mendengar semua perkataannya. “Lalu saya memanggil apa, Tuan Muda?” Veron balik bertanya ke Keith. “Panggil Keith!” “Ngga berani, Tuan Muda! Saya bisa didatangin Tuan Besar nanti kalo memanggil anda dengan Keith.” Veron menolak perintah Keith, takut didatangin almarhum Brylee. “Terserah lah!” desau Keith, “Sudah mana berkas-berkas tadi?” “Berkas administrasi Tuan Muria, Tuan Muda?” “Iya Veron! Itu yang di dalam map di tanganmu!” Keith menunjuk map ditangan Veron. “Baik, Tuan Muda.” Veron paham, lalu memberikan map ke Keith. “Makasih.” “Sama-sama.” Keith sejenak memeriksa isi map, lalu memberikan ke Pak Sukro. “Pak Keith,” Pak Sukro terheran disodorkan map oleh Keith, “Maaf, maksudnya apa ini?” “Di dalam map ini semua berkas administrasi perawatan Pak Muria, termasuk berkas sudah dilunasi pembiayaan untuk operasi Pak Muria.” Pak Sukro dan Bu Sukro melongo mendengar ini, saling berpandangan sejenak, lalu serempak memandang Keith. “Saya sudah tahu Rachel butuh biaya untuk operasi dan perawatan Pak Muria.” Keith bicara lagi, “Lalu saya menghubungin Carter Foundation Yayasan milik Carter Oil Company, menjelaskan mengenai Pak Muria, dan mereka setuju membiayai Pak Muria selama di rumah sakit ini.” Pak Sukro dan Bu Sukro melongo lagi. “Apa Acha yang meminta ini ke anda?” “Tidak Pak Sukro. Saya inisiatif sendiri setelah mendengar kabar mengenai Pak Muria, dan juga melihat kesulitan Rachel memperoleh dana itu.” “Apa Acha tahu yang anda lakukan?” “Tidak, dan tidak usah tahu. Yang terpenting adalah menyelamatkan hidup Pak Muria, agar Rachel tenang.” +++ Rachel berjalan lesu meninggalkan gedung Carter Oil Company, terbayang dibenaknya Muria tidak bisa operasi malam ini. Rachel tidak mendapatkan biaya untuk itu. Sebuah jeep berhenti di dekatnya, lalu turun beberapa pria, dan segera mengepung Rachel. Belum Rachel berteriak, salah satu dari mereka, membekap mulut Rachel dengan saputangan berbubuhkan obat bius. Tidak lama Rachel pingsan, dan segera digendong oleh pria itu, dibawa masuk ke dalam jeep. Jack melihat semua ini tampak kaget. + Bersambung +
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN