“Apa?” Jarret memita peelasa. Suara Luke terlalu pela sehigga ia tidak bisa medegarya dega elas. “Buku agedaku tidak ada.” “Hilag?” “Sepertiya,” sahut Luke lemas. “Kau tidak melihatya?” Gelega yang meadi awaba membuatya meggsk-gsk waah frustasi. “Aaargh! Bayak catata petig Keraaa di buku itu, da agedaku selama cuti uga ditulis di saa! Keapa bisa hilag!?” “Hey, hey. Teaglah dulu. Mugki saa teratuh di suatu tempat. Mugki semalam saat kau di ala pulag, atau bisa saa teratuh di bar? Kau selalu membawaya kemaa-maa, ‘ka?” Atuh…. Bisa adi. Semalam ia begitu terburu-buru, mugki saa tertiggal etika ia megambil matel di Bar. Kebetula uga mampir ke bar adalah salah satu kegiataya di ageda hari ini. Luke akhirya turu dari kasur. “Biar aku yang membuat sarapa.” Sebelum sag lelaki bagsawa melewat

