Lilac 6

1179 Kata
~~***~~ Valmera, masih dengan ekpresi dan senyum polosnya mengerjapkan mata beberapa kali. Kalimat yang barusan terlontar masih membutuhkan waktu untuk sampai ke otak lantas diprosesnya. Satu menit kemudian barulah raut mukanya berganti menjadi keterkejutan. “EEH!?” TUNANGAN!? Dia beberapa kali pernah mendengar kata itu dari Dara dan Nera saat berbincang santai. Kalau tidak salah saat itu mereka membicarakan kerajaan lain yang tengah mengadakan pesta pertunangan, lalu membicarakan diri mereka sendiri dan laki-laki tampan yang mungkin saja akan memakai cincin yang sama dengannya (sebenarnya hanya Nera yang membicarakan ini). Yang jelas dari percakapan itu, sedikitnya Valmera paham bahwa tunangan berarti Valmera sudah menemukan kekasihnya. Lebih tepatnya, Ayahnya yang menemukan kekasihnya. Antara bingung, terkejut, dan bahagia, Valmera tak tahu harus merespon apa selain membulatkan mata lebar-lebar dan bolak-balik menatap Neal dan Raja Arther—seakan meminta penjelasan. “Yang Mulia Raja Arther, mungkin biar saya yang bantu menjelaskan kepada Putri Anda. Dia terlihat kebingungan.” Raja Arther tertawa, lalu menginjinkannya. Pria tua itu pergi meninggalkan putri kecilnya dan kembali menyambut tamu-tamu yang baru datang. Neal melihat Dara dan Nera. “Boleh kami minta waktunya sebentar?” Tak butuh jeda, Nera langsung menyahut riang. “Tentu saja! Tentu saja, Pangeran Neal! Silakan nikmati waktu kalian sepuasnya!” Dia membungkuk hormat, lalu pergi seraya menarik Dara bersamanya. Perempuan itu sama sekali tidak ragu meninggalkan Nonanya bersama lelaki yang jelas-jelas adalah calon kebahagiaan sang Putri di masa depan. Lagipun ia tampan. Baik pula. Nera semakin rela meninggalkan Valmera berduaan dengan lelaki yang membuat pipi putri kecil itu semerah tomat. Sebuah uluran tangan tertuju kepada Valmera. “Mari, Putri.” “Ke—kemana?” “Ke tempat untuk menikmati malam yang indah.” Ballroom yang padat sesak mereka tinggalkan. Valmera dan Neal berjalan beriringan menyusuri koridor lalu berbelok pada balkon yang terbuka. Dari sana, keduanya bisa melihat rembulan yang sudah sejajar dengan pandangan mata. Orang-orang yang keluar masuk dari kejauhan juga bisa terlihat dari arah kiri. Namun, semua itu tidak dapat disadari oleh si gadis kecil, karena kepalanya yang dikuasai oleh tanda tanya besar dan ketidaksabaran. “Jadi, kau ingin aku mulai menjelaskan dari mana, Putri?” Valmera mengambil satu tarikan napas. “Apa yang Ayah katakana itu benar!? Tunangan? Apa itu serius? Aku? Dan kau, Pangeran Neal? Tapi, kenapa? Ayah tidak pernah memberitahuku sebelumnya. Tapi, Pangeran seakan sudah tahu semuanya. Kenapa—“ “Ya ampun, tenanglah, Putri. Kau jadi seperti orang kerasukan dengan pertanyaan sebanyak itu sekaligus.” Neal kemudian menjelaskan, “Sejujurnya aku pun terkejut dengan keputusan Ayah dan Yang Mulia Raja Arther tentang pertunangan ini. Aku tahu, bahwa Raja dan Ratu berhak memilihkan pasangan kepada putra-putri mereka—terutama untuk penerus tahta selayaknya tradisi yang sudah turun-temurun.” “Apa Yang Mulia Raja Varnard atau Ayah sudah memberitahumu sebelumnya?” Neal mengangguk. Valmera lanjut bertanya, “Kapan?” “Belum lama. Kurasa sekitar tiga hari yang lalu.” Neal menerawang mencoba untuk mengingat-ingat. “Curang!” seru sang gadis mengejutkan Pangeran. “Kenapa Pangeran diberitahu lebih awal, sedangkan aku tidak!? Memangnya mereka tahu aku akan setuju atau tidak dengan semua ini?” “Oh, apa itu berarti Putri sebenarnya akan menolakku?” Sontak saja Valmera berteriak, “Bu—bukan begitu!” “Putri tidak menyukaiku, ya?” Neal berlagak sedih. Membuat Valmera semakin gelagapan. Panik. “Ti—tidak! Tidak! Aku tidak membencimu, Pangeran! Tidak sama sekali!” Pipinya memerah. Valmera memalingkan mata magentanya. “Ha—hanya saja … aku … aku bingung. Aku tidak mengerti apa yang harus aku lakukan sekarang.” Tubuh berbalut setelan panjang berwarna hijau dengan dalaman putih, berjalan mendekati pembatas balkon, lantas menyandarkan kedua lengan di sana. Sejenak menikmati dinginnya angin yang menerpa wajah dan sayup-sayup keramaian di kejauhan. “Kau tidak perlu melakukan apa-apa, Putri. Jalani saja seperti biasa,” katanya kemudian. “Kalau terlalu dipikirkan, nanti kau tidak bisa menikmati apa yang ada di sekitarmu, lho.” Neal mendongak. Valmera yang merasa pemuda itu mencoba menunjukkan padanya sesuatu pun mengikuti. Dan, benar saja. Ia terlalu terfokus pada perkataan Raja Arther tadi hingga ke tempat ini, sampai-sampai tidak sadar akan betapa indahnya rembulan di malam bersalju ini. “Bulannya cantik.” Dia berucap takjub. “Ya. Cantik. Sama seperti perempuan di sebelahku.” Wajah Valmera meledak. “Ah, tidak.” Neal mengoreksi ucapannya sendiri. “Bulan itu masih kalah cantik dengan Putri Valmera dari Kerajaan Llaeca.” Kali ini Valmera benar-benar meledak dengan semburat merah yang sudah sampai ke telinganya. “Be—Berhenti! Ja—Jangan katakan apapun lagi!” Gadis itu tersentak ketika Neal tiba-tiba menoleh dan membuat iris birunya beradu dengan mata magenta miliknya. Valmera sontak menutup wajah dengan kedua telapak tangan, sedangkan Neal hanya bisa terkekeh melihat reaksi Tuan Putri di sampingnya. “Ah. Sepertinya kita harus kembali. Yang Mulia Raja Arther akan segera memberi sambutan.” “Tidak mau!” “Eh?” Neal tidak mengerti. Putri Valmera yang tiba-tiba menolaknya membuat dia terkejut. “Ke—kenapa?” “Pangera Neal menyebalkan!” “A—aku? Menyebalkan?” Valmera mengangguk. Mulutnya moncong satu sentimeter. “Pangeran Neal menggodaku terus! Menyebalkan!” “A—ah …! Sepertinya aku sudah kelewatan ya, Putri?” Dia berjongkok di hadapan Valmera. “Maafkan kelancangan saya, Tuan Putri Valmera. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Apa kau mau memaafkan aku?” Tidak ada jawaban untuk sesaat. Namun, Valmera lantas mengangguk begitu saja. Ya, pada dasarnya gadis kecil itu memang tidak bisa membenci Neal sepenuhnya, tapi tetap saja yang tadi itu menyebalkan baginya. Mendapati Valmera yang bersedia menerima permintaan maafnya, wajah Neal langsung berseri. Ia mengulurkan tangan, mengajak Valmera untuk kembali ke ballroom bersamanya. Sang gadis menerimanya setelah mengusap kedua mata yang berkaca-kaca. ~~***~~ Arther Springgleam baru saja selesai menyampaikan sepatah dua patah kata kepada tamu-tamu kehormatan dan rakyat-rakyatnya yang datang ke Pesta Tahun Baru Kerajaan. Tepukan tangan riuh terdengar mengakhiri kegiatan sang Raja di ruangan yang terbilang luas tersebut. Tak lama kemudian, seorang pria yang merupakan ayah dari Neal, Raja Varnard dari Kerajaan Vorenia. Valmera yang masih bersama pemuda pirang menyambut kedatangannya. Berbincang sejenak—terutama membicarakan perihal pertunangan yang membuat sang gadis kikuk seketika. Terlihat imut di mata semua orang. “Ah, Putri. Ada beberapa hal yang harus aku lakukan bersama Ayah dengan tamu-tamu lain. Apa kau tidak keberatan?” Valmera mempersilakan. Neal membungkuk hormat lantas pamit meninggalkan sang gadis di tepi ruangan. Menyaksikan keseruan orang-orang yang berdansa di tengah sambil sesekali meladeni orang-orang yang menyapa dan mengajaknya mengobrol sejenak. “Nera dan Dera kemana, ya?” tanyanya dalam hati. Sejak mereka berdua meninggalkannya bersama Neal, Valmera belum melihat lagi kehadiran dayang-dayang tersebut. Seharusnya mereka sudah harus menjemputnya di sini! Membiarkan seorang putri sendirian di antara lautan manusia, benar-benar tidak bisa dimaafkan! Valmera berniat memarahi habis-habisan Nera dan Dera setelah mereka bertemu lagi nanti. “Wah, wah. Lihat siapa yang sedang kesepian di sini?” Bak ada petir yang menyambar dirinya di hari yang cerah, tubuh Valmera mematung ketika gendang telinganya menangkap suara yang sangat-sangat-sangat familiar. Tanpa harus berbalik memandang sosoknya pun, dia sudah jelas sangat tahu siapa satu-satunya orang yang berbicara dengan nada seperti itu. ...oOo...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN