“Soal jadwal latihan, nanti akan gue share."
Keelan kembali mengangguk sebagai jawaban. Namun ada satu yang mengganjal di pikiran Jaegar Tunggal itu saat ini. Apa kaitan Rakala dengan Saga? Keelan sebenarnya tidak peduli, hanya saja, Karena disana, jelas ada foto Saga. Keelan sebenarnya sudah menebak bahwa Rakala adalah putri Saga karena nama belakang mereka sama. Hanya saja dari cerita Issac, ayah Kaiser, Saga adalah sosok paling waras diantara yang lain. Saga juga orang yang sangat disiplin dan taat aturan. Jika Rakala putrinya, sifat itu nyaris berbanding terbalik.
Rakala menatap ke arah pandang Keelan yang jatuh pada sebuah lemari kaca berisi semua medali miliknya, "Itu semua gue dapat dari bela diri." Jelas Rakala.
“Keren juga lo.” Jawab Keelan.
“Keren?" Lirih Rakala. Manik karamelnya menatap netra kelam Keelan. "Gak ada yang keren dari bertarung, Kee."
“Seni itu namanya.”
“Seni melukai diri maksud lo?" Ucap Rakala. Satu hal yang Rakala bisa simpulkan mengenai seorang Keelan Jaegar ini. Keelan pribadi yang praktis dalam memandang sebuah kehidupan. Dan terlihat cukup menyenangkan.
“Itu bunda gue." Ucap Rakala lagi. Keelan yang mendengar itu mengikuti arah pandang perempuan ini. "Lo pasti udah lihat, bunda Adira namanya."
“Pretty." Puji Keelan. "Looks like you, Kal."
“Really?" Ucap Rakala remeh. "You're the first person to say that. Everyone says, i look more like my dad than my mom."
Manik Keelan kembali menatap ke arah figura. "Om Gaga papa lo?"
Rakala tertawa. "Om Gaga," Ia menjeda kalimatnya. "Emang gak kelihatan kalau gue anaknya? Gue bukan simpanan dia, Kee."
Kali ini Keelan yang tertawa. "Kaget aja."
"Kaget kenapa?"
“Om Gaga itu orang yang cukup ketat dan gak urakan kayak lo. Lihat lo sebagai anaknya agak gimana gitu rasanya, Kal."
“Makasih." Jawab Rakala santai. Perempuan itu menyandarkan tubuhnya. "Gue anggap itu satu pujian."
“ Jadi, lo tinggal di sini sendirian?"
Rakala tersenyum. “Penilaian lo terhadap sesuatu bagus juga ternyata.” Pandangannya mengedar, “Rumah ini dikasih khusus, hadiah dari papa buat gue. Sesekali kakak gue datang buat lihat kondisi gue.”
Keelan mengangguk-angguk. Rakala menaikan satu alisnya. “Udah? Gitu doang? Lo gak tanya?”
“Apa alasan lo tinggal sendirian di sini?" Rakala mengangguk polos. Keelan hampir lupa. Bagaimanapun Rakala, dia tetaplah perempuan yang memiliki pemikiran cukup rumit. "Bukan urusan gue, Kal. Mau lo di sini karena mau lo mandiri ataupun lo diusir juga gue gak peduli."
Rakala mendecak. "Lo, 'kan manusia pohon pisang ya."
Rakala jelas kesal karena ucapan Keelan. Tapi sejurus kemudian, Rakala kembali tersadar bahwa jika semua orang seperti Keelan, dunia sedikit terasa menyenangkan.
Karena kini pada gambaran Rakala, Keelan adalah orang yang tau tentang privasi orang lain dan tidak mudah terpengaruh.
Keelan tertawa. Rakala menyadari bahwa pelipis kiri laki-laki itu tergores, bahkan darah yang keluar sudah mengering. Tangannya terulur menarik laci meja yang tidak jauh darinya. Kemudian melemparkan sebuah plaster pada Keelan lalu berujar, "Tempel aja, darahnya udah kering. Kayaknya lo gak sadar kalau kena."
Keelan menyentuh lukanya. Manik jelaga kelamnya menatap ke arah plaster yang Rakala lempar. "Gak perlu, gue gak akan mati meski kena goresan kecil."
“Jangan batu, pakai aja. Apa perlu gue tempelin biar lo bisa pakai?"
Keelan menyeringai. Ia menyibakkan rambutnya ke atas. "Apa nih?" ucap Rakala.
Bisa Rakala simpulkan bahwa semua anak Kaustra benar-benar berbahaya. Rakala bisa menyium dengan jelas aroma woody Keelan dari jarak sedekat ini, aroma itu membuat Rakala hampir menggila.
Keelan benar-benar paket sempurna untuk kategori laki-laki idaman. Wajah tampan itu terlihat jelas dihadapan wajah Rakala.
“Gak jadi nih?" ucap Keelan. Rakala dengan cepat mendorong kening Keelan agar menjauh. "Katanya mau lo yang tempelin? Gue udah mau sekarang lo yang gak berani. PHP doang lo mah." Sambung Keelan.
“Yang waras bisa? Lo gak kepukul kok otak lo yang bermasalah."
“Lo sendiri tadi yang nawarin, sekarang malah ngatain gue. Labil banget jadi cewek.”
“Ya, bukan gitu maksudnya, ah udahlah, malas ngomong sama lo yang gak jelas gini.”
Keelan tidak lagi menjawab, ia cukup menyukai kegiatannya ini. Keelan tidak pernah menyangka menggoda Rakala semenyenangkan ini, perempuan itu sudah terlihat memerah, wajahnya sudah seperti tomat matang.
Rakala memilih untuk bermain handphone, guna menetralkan dirinya. Keelan Jaegar orang yang benar-benar berbahaya untuknya. Sama juga dengan Keelan, ia memilih untuk mengikuti Rakala dengan membalas obrolan-obrolan kecil yang teman-temannya lakukan.
Seperti biasa, grup yang berisi 4 orang termasuk Keelan itu akan selalu ramai dengan obrolan-obrolan yang Jovian bawa. Kadang Keelan sampai heran, Jovian bagaimana bisa mendapatkan banyak topik pembicaraan yang Keelan sendiri nyaris tidak akan pernah minat lakukan.
Obrolan ringan yang selalu membuat grup itu terlihat hidup, meskipun pada obrolan itu hanya di d******i dengan ocehan Jovian tentang apapun yang ia lakukan hingga membuat Levi membalas dengan kesal karena Jovian yang begitu berisik. Tapi hal itu tidak pernah membuat Jovian berhenti untuk mengulangi hal yang sama.
Grup itu dibuat Kaiser untuk menghubungi teman-temannya ketika ingin mengajak bermain futsal atau sekedar nongkrong, dengan alasan lain agar tidak menghubungi satu persatu.
“Ada apa?" tanya Keelan. Rakala cukup takjub, orang seperti Keelan yang tidak memiliki perasaan, cukup mengerti Rakala. “Raut wajah lo berubah.” Sambung Keelan.
“Enggak?”
“Gue emang gak punya hati, tapi gue gak buta sampai gak bisa lihat perubahan wajah lo.”
Rakala menarik napas sejenak, “Kakak gue."
"Mau ke sini?"
Rakala menggeleng. "Dia ngajak gue makan malam sama-sama, sama papa juga."
Jaegar Tunggal itu bisa menyimpulkan bahwa hubungan Rakala dan keluarganya tidak cukup bagus. Namun lagi-lagi Keelan langsung menyimpulkan bahwa Rakala memberontak selama ini karena keluarganya yang sibuk. Terlebih Keelan tau bagaimana Saga, pria itu adalah pemilik restoran cepat saji yang sudah sangat meroket. Nama Saga Dewangga sudah dikenal dimana-mana persis kedua orang tuanya, Jaegar dan Kaleesha.
Rakala kembali mendecih. "Jadi, mereka semua mau ngajak gue cuma karena tante Tamara mau makan di luar?"
"Tante Tamara?"
Rakala menoleh. "Istri Papa." Jawabnya tenang.
"Nyokap lo?"
Rakala menggeleng, "Bunda gue Adira, mama Dhava tuh."
Keelan lagi-lagi hanya mengangguk. “Kapan?”
“Kenapa mau tau?”
“Gue bisa temani lo. Gue tau, gak perlu dijelasin, cukup kasih tau gue kapan?”
“Kenapa jadi harus kasih tau elo? Ini acara keluarga gue.”
Keelan tertawa. “Masih lo anggap keluarga ternyata. Kalau emang lo anggap mereka keluarga, gak seharusnya reaksi lo seperti sekarang, Rakala.”
Bungkam. Rakala kalah telak, Rakala memang tidak akrab dengan Tamara sejak wanita itu resmi menjadi ibu sambungnya. Rakala sendiri yang lebih memilih untuk mengasingkan diri, menjauhi semua hal yang berkaitan dengan Dewangga.
“Emang seharusnya apa reaksi gue?”
Keelan mengangkat bahunya. “Dengan lo kabur kayak gini gak akan pernah nyelesain masalah apa-apa, Kal.”
“Gue gak kabur?”
“Terus apa sebutannya buat tindakan lo selama ini?”
Rakala benar-benar tidak bisa mengelak. Keelan orang yang baru akrab dengan dirinya hari ini bisa dengan mudah menebak seseorang. Rakala memang sudah mendengar Keelan adalah orang yang lebih hangat dari Jovian dan juga lebih peduli dari Kaiser, hanya saja tidak semua orang bisa mendapatkan itu. Mengingat, Keelan adalah orang yang hampir tidak pernah mau melibatkan dirinya dalam urusan orang lain.
“Kenapa jadi lo yang harus ribet sama urusan gue sih? Lagian kenapa tiba-tiba jadi peduli? Mana Keelan yang punya rasa angkuh setinggi langit itu?”
Keelan kembali tertawa. “Ini namanya hukum aksi reaksi, Kal. Gue hanya bereaksi sesuai dengan apa yang lo lakuin. Peduli atau enggak itu hakikat manusia, semua orang pasti peduli satu sama lain, caranya aja yang beda.”
“Kasih tau aja kapan waktunya, gue temani.”
“Gue gak pernah bawa orang ke acara keluarga gue, Kee. Apalagi cowok.”
“Kalau gitu, biar gue yang wujudin itu. Biar gue jadi yang pertama.”
“Jangan gila. Lo gak perlu sebegitunya.”
“Gue gak lagi kasih lo penawaran apapun, Rakala. Kasih tau kapan dan dimana tempatnya, itu pernyataan.”
Rakala kembali terdiam tunduk. Keelan bisa mendominasi dengan mudah atas semua hidupnya. Keelan juga orang pertama yang dengan tenang mengatakan semua ini, seolah semua yang Keelan lakukan bukanlah hal yang perlu untuk dikhawatirkan.
Tangan laki-laki itu menepuk-nepuk pelan kepala Rakala, membuat perempuan itu mendongak. Manik karamelnya menatap mata gelap Keelan. “Kasih tau kapan dan dimana acara keluarga lo itu. Gue temani, ngerti?”
Tanpa sadar, Rakala mengangguk.
“Good girl, gue suka cewek yang nurut. Jangan bantah apapun omongan gue kalau gak mau gue bikin lo nurut dengan cara gue. Ngerti lagi?”
“Ngerti Keelan.”