PULANG

2674 Kata
Kupicingkan kelopak, lalu menggerak-gerakkan bola mata ini, menyapu kondisi sekitar yang gelap gulita. Lembab tersentuh begitu jemari ini meraba-raba alas permukaan tempat dimana kutergolek kini, kemudian menggapai-gapai langit-langit serta dinding yang sama terasa basah, beraroma khas menyengat. 'Di mana ini?' tanyaku bergumam dengan benak dipenuhi ragam tanya. Sementara paru dirasa kian menyempit. Pengap ketika hendak menarik napas. Seketika aku berusaha menggerakkan badan, dari posisi miring semula. Mendapati diri ini seperti terikat beberapa utas tali di bagian-bagian tertentu dengan lembar kain lembab dan dingin menggigit. 'Ya, Allah ... apa yang terjadi padaku? Di mana ini? Aku ...." Sekali lagi, kuangkat tangan dalam kegelapan, menyentuh permukaan atas yang padat. Seperti lempengan tanah dan bilah kayu berbaris rapi. Mengorek-ngorek sedikit demi sedikit, hingga berjatuhan menguruki. Terus menerus entah sampai berapa lama, hingga kemudian menemukan sebuah titik cahaya menyembul di atas sana. Peluh telah lama membanjiri beriringan dengan usahaku yang tidak pernah berhenti, mencakari lapisan gembur dan sesekali mendapati bongkahan keras bebatuan di antara himpitan tanah. 'Tuhanku ... ini seperti di area pekuburan. Mengapa aku ada di sini? Mungkinkah aku sudah mati?' Kucubit tangan ini, lalu meringis sendiri. 'Sakit sekali.' Hening. Hanya ada aku sendiri. Berdiri menyembul dari dalam celah bekas cakaran tadi, di atas permukaan sebuah gundukan tanah panjang membulat dengan patok kayu berukir di kedua ujungnya. Dengan sisa tenaga yang ada, aku berusaha naik, keluar dari bongkahan sempit dan terduduk lesu bersimbah keringat. Sejenak melirik ke samping, tepatnya ke arah patok kayu tertancap lengkap dengan sebuah nama dan juga tulisan tertentu. 'Itu ... namaku! Mengapa ada namaku tertulis di sana?' Hati ini kian terperanjat begitu membaca tulisan di bagian akhir 'Meninggal : 27 Juni 2020'. 'Aku sudah meninggal? Lalu, mengapa sekarang bisa hidup lagi? Ini ... waktu kapan? Sekarang hari apa? Tanggal berapa?' Sejumlah tanya terus menggema memenuhi ruang kepala. Kemudian, sejenak aku beristirahat, mengumpulkan kembali tenaga yang tadi banyak terkuras, di bawah cahaya putih di atas langit sana. Rembulan membulat penuh dengan cantiknya. Entah sebanyak apa waktu yang kuhabiskan sedari tadi. Terkubur dalam pekatnya bumi. Usai berdiam diri di antara nyanyian binatang-binatang malam serta desau tembang angin menyentuh dedaunan, aku beranjak menapaki jejak tanah selangkah demi selangkah, menyusuri jalanan sempit dikelilingi bangunan-bangunan tua berbentuk kotak memanjang. Lengkap dengan tulisan serta tetumbuhan menancap kuat di atasnya. Menyeret ringkih kaki ini, masih dengan balutan kain putih penuh bercak kecoklatan dan basah. Tidak ada yang ingin kupikirkan saat itu, selain lekas keluar dari area mencekam ini. Pulang kembali ke tempat dimana sisa ingatan dalam benakku meminta. Rumah. Ya, ke sana. Sekaligus mencari jawaban atas apa yang telah dialami sepanjang waktu. Seberapa lama? Entahlah, mungkin nanti di sana akan mendapatkan kabar lebih pasti. Siapa tahu, Bapak dan Emak, juga saudara-saudara lain tengah menanti dalam isak mendalam. Berharap kepulangan atau sambutan hangat berpadu peluk erat menyesakkan .... Namun ternyata hal terjadi tersebut tidak sesuai dengan apa yang kuterka. Begitu jejak pertama ini tiba di lantai tempat tujuan, seisi rumah serentak menghambur, berlarian disertai raut ketakutan. Panik diiringi pekikan keras memecah gendang telinga, begitu pandang mereka mengarah padaku. “Ya, Allah ... Asep!” teriak mereka hampir bersamaan. Terdiam sejenak dengan mulut menganga dan bola mata membelalak, lalu bergerak menjauh ke belakang. “Emak! Bapak!” panggilku menyebut dua orang yang paling diharapkan menyambut kedatangan ini bersama peluk hangat mereka. “Ini ... Asep pulang!” Tak ada sahutan. Ruangan yang sedari tadi terdengar riuh dengan alunan kalimat-kalimat Tuhan, mendadak sunyi. Mencekam. “Emak! Bapak! Kakak!” Kucoba memanggil mereka satu per satu. Nihil. Sampai akhirnya sesosok wanita tua muncul ragu dari balik daun pintu ruang tengah. “Asep? Itu benar kamu, Nak?” tanyanya dengan suara bergetar hebat. “Iya, Mak. Ini aku. Asep. Anak Emak,” jawabku parau, “mengapa semua orang berlarian begitu melihat aku, Mak? Ada apa ini sebenarnya.” Perlahan wanita tua itu mendekat. Mengangkat kedua tangannya, hendak menggapai tubuhku. Kedua bola mata itu bergerak-gerak seakan tengah menguliti dengan saksama. “Alhamdulillah ... kamu memang Asep anak Emak. Ya, Allah ... terima kasih, ya Rabbi. Anakku telah Engkau kembalikan pada kami,” ujar Emak kemudian memeluk erat diiringi tangisan pilu membahana. “Asep?” Sosok lain muncul. Seorang laki-laki tua berwajah muram. Bapakku. Diikuti yang lainnya dari belakang. Masih dengan bias ketakutan dan ragu. “Bapak ....” “Ya, Allah ... Alhamdulillah, Nak. Akhirnya kamu pulang juga,” ujar Bapak turut bergabung bersama peluk Emak. “Bapak memang sudah yakin, kamu pergi tidak sebagaimana mestinya.” “Maksud Bapak, bagaimana?” tanyaku tercekat begitu mendengar ucapan Bapak tadi. Mereka berdua melepaskan dekapan. Menatapku pilu. Lalu saling melempar pandang diantara keduanya, berlanjut pada sosok-sosok lain di belakang kami. Saudara-saudaraku. Bapak tidak lekas menjawab, tapi malah meminta Emak untuk menyiapkan seember air hangat. “Mari, Bapak bersihkan dulu tubuhmu, Nak,” ujar Bapak seraya mengajakku ke kamar mandi. Kemudian menyuruh saudara lain mengambilkan pakaian bersih. “Ada apa ini sebenarnya, Pak? Mengapa Asep ....” Tiba-tiba aku teringat pada kejadian beberapa waktu lalu. Tepatnya ketika mendapati diri ini terkubur dalam timbunan tanah padat. Bangkit dari .... Ah! Masih banyak pertanyaan yang ingin segera kuajukan. Mengusir rasa penasaran serta berbagai keanehan sejak tadi. Bapak menarik tanganku ke kamar mandi, lalu berkata, “Gantilah terlebih dahulu pakaianmu, Nak. Setelah itu, nanti kita bicara bersama-sama.” Aku menurut. Sebelum kami menghilang di balik pintu kamar, Bapak menyeru pada salah seorang yang masih berdiri mematung di sana. “Tolong, panggilkan Ustaz Solihin ke mari. Kasih tahu, Asep sudah pulang kembali.” “Iya, Pak,” jawab seorang kakakku singkat. Sementara Emak dan saudara lainnya menunggu di luar, hingga Bapak selesai memandikan serta menggantikanku dengan pakaian yang lebih layak. “Kamu pasti lapar, ‘kan, Nak?” tanya Ibu begitu kami kembali ke ruang semula. Sudah ada Ustaz Solihin dan saudara-saudaraku di sana. Duduk berbaris seraya menatap penuh heran, dan mungkin juga bingung. Sama halnya sepertiku. Aku mengangguk. Benar, sedari tadi perut ini dirasa melilit perih. Seperti habis berpuasa panjang hingga berhari-hari. Untunglah Emak sudah menyiapkan makanan di sana. Bahkan tak segan menyuapiku langsung dengan jemari tangan beliau. Sementara Ustaz Solihin terlihat sibuk berkomat-kamit membacakan lafaz-lafaz suci, kemudian meniupkan napasnya ke dalam sebuah gelas berisi air bening. “Minumkan segera!” titah laki-laki bersorban dan berkopiah putih itu sambil menyodorkan minuman ke arahku. “Minum dulu, Nak,” kata Emak lembut. Aku menurut. Meneguk hingga habis isi gelas yang dimaksud. “Mau nambah lagi makannya, Nak?” Aku menggeleng. Emak meletakan piring ketiga bekas suapan makanku. Lalu bertanya pada sosok Ustaz Solihin yang duduk tidak berapa jauh dari tempat kami berada, “Selanjutnya apa, Pak Ustaz?” Laki-laki itu tersenyum sembari membenarkan letak sorban yang melingkar di lehernya. “Apakah Nak Asep mau bercerita sesuatu pada kami? Perihal apa yang Nak Asep alami beberapa waktu lalu, mungkin?” Aku berpikir sejenak. Berusaha mengembalikan ingatan-ingatan akan kejadian yang dialami sebelum mendapati diri --tersadar-- berada dalam kuburan tadi. * * * * * Siang itu, sepulang dari sekolah, seperti biasa aku berjalan menyusuri jalan kecil pematang sawah menuju perkampungan. Sendiri di bawah guyuran hujan lebat dan hanya berpayungkan selembar daun pisang untuk melindungi tubuh agar tak kuyup parah. Sampai kemudian, langkah ini terhenti begitu mendapati sebuah bungkusan plastik hitam tergeletak persis di tengah jalan yang hendak dilalui. Mungkin belanjaan seseorang terjatuh, pikirku saat itu. Berhubung kondisinya masih bersih dan terlihat baru. Hanya basah bagian luarnya terkena air hujan. ‘Bungkusan apa ini?’ tanyaku seraya membungkuk, mengambil. ‘Punya siapa, ya?’ Segera menepi ke bawah sebuah rindang pepohonan, membuka perlahan bungkusan tersebut. Isinya sangat mengejutkan. Bagaimana tidak? Penuh dengan lembaran uang berwarna merah. Berserakan tak rapi tanpa diikat maupun disusun sedemikian rupa. Kutaksir, jumlahnya mungkin jutaan rupiah. Entah milik siapa. Dengan tangan gemetar, segera kuikat kuat bungkusan tersebut, lantas memasukkannya ke dalam tas. Berdebar jantung ini, mengingat baru seumur hidup melihat jumlah uang sebanyak itu. Dikembalikan? Pada siapa? Bisa saja tiba-tiba banyak orang yang akan mengakui sebagai pemiliknya. Lalu, akan diapakan? Ah, bisik-bisik hati pun berkata, ‘Mungkin ini cara yang diberikan Tuhan terkait keinginanku selama ini untuk bisa memiliki handphone yang bagus seperti kawan-kawan lain. Gitar, mini compo, kamera, headset, speaker aktif, motor ... atau membelikan hadiah spesial untuk si Mirna, gadis idaman tercantik di sekolah?’ Aku tersenyum-senyum sendiri. Kemudian bergegas pulang. Mengurung diri di kamar agar tak ada orang yang mencari-cari, juga tentang uang tersebut. Tidak. Tak seorang pun boleh mengetahui. Termasuk orang tua dan saudara-saudara di rumah, nanti. Biarlah semua akan menjadi urusanku dengan Tuhan. Semula tidak ada hal apa pun yang terjadi. Sampai kemudian, selepas waktu Magrib, tiba-tiba saja aku merasa badan ini panas. Demam berkepanjangan hingga rasa haus tak berkesudahan. Seisi rumah panik, mengobati dengan berbagai ramuan hingga membawaku berobat ke sebuah klinik. Tidak ada satu pun yang bisa meredakan keanehan ini. Hingga menjelang malam kemudian, di antara kerumunan sesak orang-orang di sekeliling ruangan, tiba-tiba saja muncul sesosok lain. Tinggi, besar, dengan wajah tak jelas tertutup kain besar di kepala, menarik paksa dan mengajakku pergi dari sana. Anehnya, sekuat tenaga memberontak serta memekik keras, tak seorang pun yang menolong. Semua terdiam kaku menatap tubuh yang masih tergolek lemah di atas pembaringan sana. Bukan orang lain, melainkan jasadku sendiri. “Bapak! Emak! Tolooonnggg!” pekikku menjauh dari sana di antara tarikan keras sosok tinggi-besar tadi. Nihil. Kali ini pun sama saja. Tidak ada yang peduli. Bahkan hingga menjauh, melayang dalam kegelapan, hingga tiba di sebuah tempat asing. Penuh dengan sosok-sosok manusia teraniaya. Bekerja paksa di bawah entak cambuk mengerikan dari seseorang. Makhluk berwujud menyeramkan seperti yang tadi menyeretku sekuat tenaga. “Siapa dia?” tanya salah satu makhluk tersebut begitu kami datang mendekat. Sosok tinggi-besar di sampingku menyeringai. Jawabnya, “Dia tumbal baru yang akan menjadi b***k kita.” “Bawa dia ke hadapan Tuan Raja, untuk mendapatkan titah dimana dia nanti akan dipekerjakan!” seru sosok tadi. “Baik, Tuan. Perintah segera dilaksanakan!” Aku dibawa ke sebuah tempat lain. Mirip istana dengan nuansa serba kekuningan dan menyilaukan. Dihadapkan pada sesosok makhluk bermahkota, lengkap didampingi puluhan penjaga berwajah tidak kalah sangar. “Tuan Raja, hamba membawa seorang manusia baru yang akan menjadi b***k kita. Hamba menunggu titah paduka selanjutnya ....” kata sosok yang membawaku kemudian. Sementara diri ini tiba-tiba saja tak bisa berkutik maupun berkata-kata. Seluruh daya terkunci kuat disertai rasa takut teramat sangat. Terdengar gelak tawa membahana menggaung seisi ruangan. “Kerangkeng dia sampai nanti aku putuskan akan dibuat apa untuk kemegahan kerajaan kita. Hahaha!” Aku menatapnya penuh amarah, akan tetapi tidak mampu berucap apa pun. Dalam hati hanya bisa menyebut asma Tuhan. Berkali-kali hingga diri ini dikurung dalam sebuah ruangan gelap dan pengap di sana. Sementara dari kejauhan, sesekali terdengar pekik serta jerit manusia meraung seperti tengah menahan kesakitan. Diiringi suara cetar temali yang terayun keras mengenai tubuh-tubuh tak berdaya. Disiksa? Aku tidak tahu. Mungkin saja demikian. “Ampuuunnn! Ampuuunnn!” teriak mereka menyayat hati. Bergidik aku mendengar suara-suara tersebut. Terbayang jika posisi pada saat ini seperti mereka. Tentunya hal sama pun akan terjadi. Berteriak dan berteriak. Seperti sekarang. Tiba-tiba saja laksana ada kekuatan lain yang datang, memulihkan separuh daya tadi. Berontak kuat memenuhi jiwa, lalu perlahan bibir ini pun mengucap lafaz-lafaz suci milik Tuhan. Mengalun begitu saja di dalam pekatnya kegelapan. Seketika, suasana ruangan pun berubah panik. Cetar temali yang tadi tak henti bergema, lambat laun berkurang. Berganti dengan jerit beberapa sosok makhluk dilanda kebingungan. “Dari mana asal suara itu! Cepat cari dan hentikan!” Aku tidak peduli. Justru semakin bersemangat mengencangkan suara. Berbekal kekuatan yang entah datang dari mana, melafalkan kalimat demi kalimat kumpulan firman Tuhan dengan lantang. “Dia! Manusia baru itu penyebabnya, Tuan!” teriak salah satu makhluk tinggi-besar seraya menudingkan telunjuknya ke arahku. “Hei ... hentikan, Manusia! Berhentilah kau membacakan kalimat-kalimat itu! Tolong, diamlah!” Tidak. Aku tidak akan pernah mau menuruti mereka. Hati ini merasa bahwa akulah sebenarnya yang berkuasa pada saat itu. Bukan mereka. Apalagi makhluk bergelar raja tadi. “Keluarkan aku dari sini sekarang juga!” teriakku sejenak di antara pelafalan ayat-ayat suci. “Kalau tidak, aku tidak akan pernah berhenti membuat dunia kalian berguncang kepanasan!” Mereka semakin banyak berkumpul di depan kerangkengku. Menatap penuh ketakutan dan menghiba disertai gerak tubuh tak nyaman. Jawab salah seorang yang kukira sosok pemimpinnya, “Tidak, Manusia. Kau telah dipersembahkan untuk kami pekerjakan. Kau tidak akan pernah kami kembalikan ke duniamu!” “Baiklah kalau begitu ....” timpalku, “dengan begitu, aku pun tidak akan pernah berhenti mengaji!” “Berhenti!” teriak keras makhluk lain dengan kepala ditanduki mahkota. Sosok yang tadi disebut-sebut sebagai raja. “Kembalilah kau pulang, Manusia! Kau memang belum ditakdirkan harus mati di alam kami. Pulanglah!” Aku terhenyak. “Sungguh?” “Ya, kembalilah ke alammu, Manusia! Kehadiranmu di sini tidak kami kehendaki!” Aku berpikir sejenak. “Hhhmmm, bagaimana dengan manusia-manusia lain yang sedang kalian siksa itu? Mereka bisa ikut pulang denganku, ‘kan?” Makhluk-makhluk itu saling berpandangan. Lalu jawab raja mereka, “Tidak. Mereka sudah bersumpah dan berjanji akan mengabdi pada kami hingga kematian menjemput nanti. Mereka sudah menyerahkan sisa hidupnya untuk kami.” “Tapi aku tidak pernah mengadakan perjanjian apa pun dengan kaum kalian?” tanyaku setengah menyelidik. “Justru karena itu, makanya kau punya kesempatan untuk kembali. Tidak seperti yang lainnya.” “Hhmmm, bagaimana dengan para korban tumbal yang lain? Mereka bisa ikut terbebas sepertiku, ‘kan?” “Tergantung ....” “Maksudmu?” Sosok itu sejenak menoleh ke arah anak buahnya. Lalu perlahan menjawab, “Tergantung seberapa besar keluarga mereka mau membantunya untuk terbebas.” “Aku belum paham.” “Seperti apa yang sedang keluargamu lakukan sekarang ....” Keluargaku? Apa yang mereka lakukan? Sama sekali belum paham. Lanjut sosok tadi berkata, “Kembalilah ke rumahmu, Manusia. Tapi kami mohon, agar hal ini tetap menjadi rahasia antara kau dengan kami.” Rahasia? Apa pula itu? Aku benar-benar bingung. Jawaban itu tak pernah di dapat hingga menemukan diri ini tergolek lemah dalam sebuah sebuah celah sempit berdinding tanah lembab dan deretan kayu-kayu berjajar rapi. * * * * * Malam sudah menunjukkan hampir waktu tengah malam. Semua yang hadir dalam ruangan terentak kaget begitu dentum petir menggelegar diawali kilatan cahaya langit menyilaukan. “Astaghfirullahal’adziim ....” Aku mengurut d**a usai mengakhiri cerita. Emak memeluk erat dari samping diiringi isak memilukan. Sementara Ustaz Solihin mengangguk-angguk sambil menatapku dalam-dalam. “Entah kejadian apalagi ini selanjutnya, Ustaz?” tanya Bapak begitu menoleh ke arah jendela luar. Angin tiba-tiba bertiup kencang disertai hujan deras seakan tertumpah sekaligus dari langit. Ustaz Solihin bergumam, “Kita serahkan saja semuanya pada Allah, Pak. Tetaplah berzikir dan mengingat hanya kepada-Nya.” Ya, kami semua bersama-sama melantunkan kalimat-kalimat suci. Sebagaimana yang dilakukan oleh keluargaku selama aku berada dalam kungkungan mahkluk-makhluk penguasa alam kegelapan itu. Belum sehari dibawa ke sana, nyatanya sudah lebih dari sepekan terkubur dalam perut bumi. Itu menurut penuturan Bapak di sela-sela penuturan ceritaku. “Sejak kamu menghembuskan napas lalu, Bapak yakin sekali bahwa kepergianmu itu tidak wajar, Nak. Apalagi di dalam tas sekolahmu, Bapak menemukan bungkusan plastik hitam berisikan dedaunan kering yang sangat banyak. Makanya, kami sekeluarga dibantu Ustaz Solihin memutuskan untuk mengadakan pengajian selama beberapa hari, sampai kamu datang sendiri tadi petang,” tutur Bapak, sekaligus menjawab kebingungan akan pertanyaan-pertanyaan lalu yang belum sempat terjawab. Jadi, mungkin itulah yang dimaksud pihak makhluk penguasa alam tersebut. “Ustaz ....” panggil salah seorang saudaraku setelah sekian lama kami saling terdiam. “Ya, ada apa?” tanya Ustaz Solihin. “Hujannya sudah reda.” “Ya, terima kasih. Saya sudah tahu.” “Tapi ....” “Apalagi?” Saudaraku terdiam sejenak seraya memperhatikan layar ponselnya. Kemudian menjawab, “Ada kabar lain yang baru saja saya terima barusan ....” “Tentang apa?” Ustaz Solihin terkesiap. “P-pak Broto ... baru saja meninggal dunia.” “Pak Broto juragan tanah kampung kita?” “Iya, Ustaz. Siapa lagi?” “Innalillahi wainnailaihi raaji’uun.” Semua serempak melafalkan kalimat senada, disertai lirikan penuh makna satu dengan lainnya. Tanpa diperintah, hampir separuh dari kami pun menoleh ke arah jam dinding. Tepat. Waktu menunjukkan pukul dua belas tengah malam. T A M A T
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN