Sial!
Maaf, jika awal cerita ini kumulai dengan kata tersebut. Itu rutuk terhalus yang ingin diucap, usai menahannya dari beberapa waktu lalu. Bagaimana tidak, di tengah perjalanan malam ini, harus terhambat dengan masalah tak diharapkan. Perkara klasik. Ban kendaraan bocor setelah menginjak kerikil tajam. Dalam kondisi melaju cepat, karena ingin segera tiba di rumah, sempat beroleng-oleng berapa saat hingga akhirnya terjerembap di pinggiran jalan.
Kakiku sakit. Perih. Mungkin terkilir, atau bisa juga tergores permukaan aspal. Sambil melangkah tertatih-tatih, memaksakan diri lanjut jalan, menuntun kendaraan bermotor yang tak kunjung mau menyala.
Dari kejauhan, kulihat nyala sebuah lampu kecil di sisi jalan. Sebuah bengkel berbentuk gubuk kecil dengan peralatan sangat sederhana. Kabar bagusnya, pintu 'gaplok' depan bangunan tersebut masih terbuka lebar. Artinya sang pemilik masih terjaga di jelang malam buta seperti ini.
Betul saja, seorang laki-laki muda bertubuh ceking tengah duduk berselonjor di atas bangku panjang. Asyik memejam mata sambil mendengarkan suara radio di sebelahnya.
"Permisi, Mas," sapaku seraya meminggirkan kendaraan. Sosok itu tak merespons. Diam di tempat seperti semula. Kuulang untuk kali kedua hingga perlahan dia membuka mata. "Hehe. Maaf mengganggu, Mas."
Laki-laki itu bangkit. Menatapku tajam disertai batuk-batuk kecil. Usai mendahak beberapa kali, dia bertanya, "Bocor, Pak?"
"Iya, Mas," jawabku pendek.
Sosok itu menghampiri. Melihat-lihat dulu sebentar kondisi ban kendaraan. "Pantas saja."
"Kenapa, Mas?" Aku ikut memperhatikan arah pandang yang dia tuju. Jawabnya, "Bannya udah botak begini."
Aku terkekeh sejenak. "Iya, udah gundul ya, Mas? Hehe. Baru mau besok diganti."
Laki-laki itu melihat-lihat ke belakang bangunan. "Kalau Bapak mau, di belakang ada banyak ban bekas, tapi masih bagus dan layak pakai."
"Berapaan, Mas?" tanyaku tertegun. Maklum di kantong tak ada sepeser pun uang tersisa. Tadi sudah dibelikan bahan bakar mesin. Dia melirik sekejap, lalu berkata, "Tak usah, Pak. Ambil saja yang Bapak mau. Daripada numpuk di belakang."
"Yaaa ... tak bisa begitu dong, ah. Mas 'kan, lagi usaha," ujarku seraya merogoh kantong, mengeluarkan ponsel. "Bagaimana kalau saya kasih jaminan ini? Rumah saya tak terlalu jauh kok, dari sini."
Dia menatapku kembali. Matanya tampak merah disertai dengkus napas berat. "Saya bilang juga tak usah, Pak," katanya dengan nada suara meninggi. "Bapak meragukan niat baik saya?"
Kutarik kembali ponsel ke dalam genggaman. "Ya, bukan begitu sih, Mas. Saya hanya .... "
"Hanya saja mungkin tidak bisa saya kerjakan sekarang," sambung kata laki-laki tersebut.
"Kenapa, Mas?" Aku heran. Namun belum juga dijawab, dari dalam gubuk terdengar suara bayi menangis. Mata ini celingukan mencari-cari asal tangisan. "Suara bayi siapa, Mas?"
Laki-laki itu menoleh ke arah pintu gubuk. Lalu, perlahan menjawab, "Itu anak saya."
"Istri Mas?" Tiba-tiba timbul rasa penasaranku. "Ada di dalam," jawabnya kembali.
Aku mengangguk-angguk.
Tangisan itu semakin keras. Tak lama, terdengar suara perempuan berusaha menenangkan. "Sabar ya, Nak. Sebentar lagi kita pulang."
Aku mengernyitkan kening. Pulang ke mana? Bukankah ini rumah mereka? Atau mungkin saja gubuk yang ditempat saat itu tempat khusus kerja si suami. Laki-laki tersebut.
"Akhir-akhir ini, anak itu memang sering kali rewel," ujar sosok di depanku tiba-tiba. Aku menoleh heran. "Maksudnya sakit, Mas?" tanyaku seketika seperti diberi jalan untuk mengetahui lebih lanjut mengenai keluarga itu.
"Mungkin."
"Sudah dibawa berobat?"
Dia hanya tersenyum kecut. Tak pernah dijawab hingga kuputuskan pulang dan meninggalkan kendaraan di sana.
"Kalau begitu, saya mau pulang dulu deh, Mas. Motornya saya tinggal di sini ya?" kataku seraya bangkit. "Besok pagi saya ambil kembali."
Laki-laki itu melirik, lalu mengangguk. "Nama saya Odim. Besok ke sini lagi saja, Pak. Rumah saya tak jauh dari jembatan sungai di bawah sana."
"Oh, baiklah." Kupikir, tak apalah menitip motor di sana. Tak mungkin harus memaksakan menuntun hingga rumah. Terbayang, masih jauh dan akan melelahkan.
Usai bersalaman, kulanjutkan langkah yang sempat terhenti. Menyusuri jalan setapak area pesawahan, memotong tempat agar lekas tiba di rumah.
Pekat malam membutakan pandangan. Untunglah masih kubawa ponsel tadi. Dengan bantuan fitur lampu penerang di gawai, selangkah demi selangkah kutapaki permukaan tanah yang berlumpur.
Ada rasa takut yang menggelayut. Terutama pada penghuni alam kegelapan. Makhluk tak kasat mata yang senantiasa muncul dengan rupa menyeramkan. Sejujurnya, kalau saja tak diburu rindu, waktu dua hari berada di rumah dari sebulan kerja, tak akan bisa menahan lama dari perjalanan pulang ini.
Sebentar, itu di depan seperti ada sosok melayang. Melambai-lambai hitam busananya tertiup angin.
'Ya, Tuhan! Apakah itu?' Darahku tiba-tiba meriap mendirikan pori kepala. Degup jantung berpacu kian mengentak. Langkah ini terhenti sejenak, sembari menatap nun jauh di sana. 'Halusinasi ... atau benar penampakan ya?'
Kugosok-gosok mata ini. Berharap sekali apa yang terlihat tadi tak nyata.
'Ah, ternyata hanya daun pisang.' Lega kurasa kini. Namun masih tersisa kejut yang belum sirna sepenuhnya. Takut ini menjalari setiap inci nadi. Semoga tak ada lagi aral lain menghambat perjalanan. Tiba di rumah disambut dekapan hangat tubuh istri.
Tak ada rasa lelah yang mendera, walaupun curam menapaki jalan dengan tergesa. Aneh. Mungkinkah karena takut itu turut menawarkan letih? Aku tak tahu. Karena lama-lama ayunan kaki ini seperti mengambang di udara lengas.
Sial!
Tiba-tiba lampu ponsel padam. Gelap pun seketika menyambang. Tak ada bias cahaya lain yang mampu menerangi, kecuali hanya terka yang bisa berfungsi.
Ah, beberapa langkah ke depan, kulihat kerlip sinar kecil. Seperti nyala sebuah obor. Maka semakin mempercepat jalan ini, diiringi beberapa kali hampir tersandung menginjak kubangan lumpur. Kian dekat, sebegitu jelas asal cahaya yang tampak. Seorang tua tertatih-tatih mengayun langkah menyusuri tapak yang akan kulalui.
"Mbah, mau ke mana malam-malam begini?" tanyaku usai memastikan sosok itu nyata sebangsa manusia. Wujud padat disertai lenguh napas renta menghiasi keberadaannya.
Dia menoleh. "Eh, Oji. Dari mana, Nak?" tanya sosok tua itu sambil mendekatkan obor, menerangi wajahku.
"Pulang kerja, Mbah," jawabku sambil mengira-ngira siapa. Dari mana dia tahu namaku? "Mbah sendiri mau ke mana? Ini sudah larut malam begini lho."
Dia terkekeh. Kilatan gigi kecoklatan dan ompong, terpapar sinar lampu obor. "Aku dari kebun belakang, mau pulang, Nak."
"Kenapa sendirian?"
"Ya, memang aku hidup sendiri." Sekali lagi dia tertawa parau. Suaranya lucu terdengar.
"Rumahnya di mana, Mbah?"
"Itu!" tunjuk sosok tua itu pada sebuah rumah. Tak jauh beberapa langkah lagi di depan. Lengkap dengan kerlip lampu teplok menghiasi di dinding bilik bambu.
Aneh, perasaanku tadi tak melihat ada cahaya penerang di sana. Apalagi sebuah rumah. Kami berjalan sangat pelan. Atau mungkin saja karena letak tempatnya yang terhalang rimbunan pepohonan. Bisa saja.
"Saya antar sampai rumah ya, Mbah," kataku menawarkan jasa. Dia mengekeh, seraya menjawab, "Terima kasih, Nak. Kamu baik sekali. Hehehe."
"Sekalian jalan saja, Mbah."
Bersusah payah, akhirnya kami tiba di tempat tujuan. Kemudian dia memberikan obornya padaku. "Bawalah ini buat penerangan jalan."
"Tak usah, Mbah. Ini 'kan, biasa dipakai Mbah?"
"Sudah. Tak usah menolak, Nak. Cepatlah pulang. Keluargamu sedang menantikan kepulanganmu," ujarnya seraya memaksaku menerima pemberian.
Dengan berat hati, kuterima juga.
"Hati-hati di jalan ya, Nak. Salam sama anak dan istrimu," katanya begitu obor sudah berpindah tangan.
"Nanti saya sampaikan, Mbah," balasku. "Tapi saya kok, seperti baru bertemu. Mbah ini siapa namanya?"
Dia menjawab sebelum masuk ke gubuk. "Panggil saja Sarkiyem."
"Baiklah, Mbah. Saya permisi pulang ya, Mbah," kataku akhirnya. Sesaat sebelum melangkah, kubalik badan untuk berterima kasih. "Saya mau .... "
Lho, sosok itu menghilang. Beserta gubuknya. Mana mungkin? Hanya sekali menoleh ke arah lain. Lalu?
Serta merta aku langsung berlari sekuat tenaga. Tak peduli apa pun yang dipijak dan dilalui. Benak ini hanya ingin segera tiba di rumah. Berbekal penerangan obor yang makin meredup kehabisan minyak.
Tak seberapa jauh lagi, arah yang dituju segera mengakhiri pelarian ini. Rumahku. Terang benderang di jelang tengah malam dengan pintu depan terbuka lebar. Ada apa ini? Sesampainya di sana pun, beberapa orang sedang asyik bersila di ruang tengah. Membaca ayat-ayat suci di depan sesosok kaku terbujur di sana. Siapa dia? Istriku? Anakku? Namun ....
Wajah yang tertutup kelambu putih transparan, dengan sekujur tubuh ditutupi kain bermotif batik itu, rasanya sangat dikenal. Itu 'kan ... aku sendiri!
Ya, Tuhan! Apa yang sedang terjadi? Kalau aku adalah dia, lalu sosok kaku itu siapanya aku?
Orang-orang di sana tak menyadari ketibaanku. Mereka khusyuk dengan bacaannya. Juga istri yang duduk tak jauh di sana dengan mata sembab. Ingin berteriak memanggil, tapi suara ini tak juga keluar.
Perlahan tubuhku melemah. Ambruk dengan pandangan menggulita. Lalu ....
"Astaghfirullah!"
Hening sesaat dalam diam. Sampai kemudian, terjadi kegaduhan di sekelilingku. Orang-orang itu berhamburan menjauh. Menyisakan diri ini terpaku sendiri digayuti rasa heran.
"Mang Oji hidup lagi!" teriak orang-orang di luar sambil mengintip dari kejauhan.
Aku tertegun. Siapa yang mati? Dari tadi masih merasakan denyut nadi ini. Lalu kupanggil istri yang ikut berlari dengan orang-orang tadi. "Mah, Papah pulang! Mamah di mana?"
Tak ada yang mendekat.
"Mah, ini Papah pulang!"
Tak berapa lama, sesosok lelaki menghampiri dengan wajah tertekan. "Pak Oji. Ini benar 'kan, Pak Oji?"
Dia ketua RT kampungku. Kujawab secepatnya, "Iyalah. Ini aku. Bapak pikir siapa?"
Aku bermaksud bangkit dari golek di atas karpet, tapi tak jadi. Desir semilir angin tiba-tiba mengingatkan, bahwa kondisi tubuh ini tak layak untuk menyingkapkan lembar kain penutup tadi.
Pak RT segera memanggil istriku, "Bu Ratih, ini benar Pak Oji hidup lagi!"
'Ya, Tuhan! Tega sekali mereka menyumpahiku sudah meninggal rupanya. Nyatanya aku masih bugar begini .... ' gumamku dalam hati.
"Paahhh!" Istri menghambur dalam dekapan. Dia menangis sejadi-jadinya.
"Ada apa, Mah?" tanyaku heran. "Mengapa Papah ada di sini?"
"Syukurlah Papah hidup lagi. Mamah takut kehilangan Papah," jerit kembali istri seraya memelukku.
Aku makin tak mengerti. Kemudian kupandangi wajah Pak RT. "Ada apa sebenarnya ini, Pak?"
Lama lelaki itu berpikir, sampai kemudian berkata sambil terbata-bata. "Pak Oji ditemukan warga tadi petang tergolek di dekat jembatan sungai bawah sana. Kami pikir, Pak Oji meninggal karena kecelakaan. Lalu kami bawa ke rumah. Rencananya baru esok hari dikuburkan."
'Ya, Tuhan! Tega sekali mereka.'
"Aku masih hidup, Pak," kilahku dengan suara tercekat. "Tadi memang sempat terjatuh di sana. Bahkan motorku pun dititip di bengkel tak jauh dari jembatan itu."
"Bengkel?" Pak RT beserta warga yang perlahan masuk kembali ke rumah, serentak bertanya senada.
"Iya, bengkel tambal ban," lanjutku menjawab. "Masih kuingat nama pemiliknya itu ... Odim. Ya, Mas Odim!"
"Odim?" Kembali Pak RT bergumam.
"Ya, Odim. Ada apa rupanya?" tanyaku heran.
Pak RT memandang warga yang berkerumun, sesaat. Kemudian menjawab, "Oding beserta keluarganya ... seminggu yang lalu ditemukan meniggal terbawa hanyut. Mayatnya ditemukan, tak jauh dari jembatan di bawah itu. Mengenai bengkel yang Pak Oji maksud, setahu kami ... tak ada bangunan apa pun di sana, terkecuali ... makam mereka. Odim, istri, dan anaknya yang masih bayi."
Aku menggeleng tak percaya. "Mustahil!"
"Tapi kenyataannya memang begitu, Pak," kata Pak RT menegaskan. "Lalu ... Pak Oji bisa kembali hidup begini, bagaimana ceritanya?"
"Aku masih hidup, Pak. Aku tak pernah mati," jawabku setengah berteriak. "Bahkan sebelum tiba di sini, tadi sempat bertemu dengan nenek tua bernama ... Mbah Sarkiyem."
Tiba-tiba tangis istri berhenti. Dia melepas peluknya, seraya menatapku dalam-dalam. "Nek Sarkiyem?"
"Ya, Mbah Sarkiyem. Kamu kenal dia, Mah?"
Mata istri membulat. "Beliau itu ... nenekku, Pah."
"Apa?!" seruku dalam rasa kejut yang luar biasa.
Rasanya tak ingin bertanya lebih lanjut. Karena mendadak tubuh ini melemah, pandangan menguning, sampai akhirnya gelap menyapa alam sadarku.
T A M A T