CEMBURU

1536 Kata
Antrian tamu undangan tampak mengular, menunggu bersalaman dan memberi selamat, pada pasangan pengantin di atas pelaminan. Diiringi alunan musik, mengalun syahdu memenuhi ruang resepsi yang didekorasi dengan d******i warna ungu. Senyum semringah kedua mempelai senantiasa terurai, saat menyambut uluran tangan dan doa restu. Sebuah pernikahan sederhana, tapi penuh nuansa cinta. Apalagi bagi Alya, perempuan muda yang telah lama mendamba hati seorang lelaki bernama Bramanditya. Duda mapan berusia empat puluh tahun. Tak usah dinyana, bias mata Alya memancarkan rasa bahagia tak terkira. Perawan dua puluh tiga tahun itu, berhasil menaklukkan lelaki gaek namun terlihat flamboyan penuh pesona. "Aku harap pesta ini segera usai, Lya," ujar Bram begitu antrian tamu undangan terakhir tadi, lewat di depan mereka. Alya tersenyum malu, lalu bertanya, "Memangnya kenapa, Om?" Gadis itu menundukkan kepala dengan pipi merona. Bram mencolek genit lengan Alya. "Aku ingin segera menghabiskan malam pertama kita nanti. Sepenuhnya denganmu, Sayang." "Aku juga, Om," balas Alya masih tetap menunduk malu. "Kamu juga menginginkan itu, Sayang?" tanya lelaki itu sambil leletkan lidah membasahi bibir. Alya menggeleng. "Bukan. Aku pegal. Dari tadi berdiri terus," jawab Alya kembali sambil menyeringai. Bram tertegun sejenak. Lalu berucap, "Oh, kalo begitu ... duduklah." Alya menarik napas lega. Akhirnya bisa meregangkan otot kaki, setelah beberapa lama berdiri menyambut tamu undangan. "Kamu cantik sekali, Alya," puji Bram usai duduk kembali berdampingan. Alya tersenyum berbunga-bunga, bisiknya kemudian, "Ingat, lho, Om. Ini malam pertama bagiku. Tak sepertimu dulu, yang pernah mengalaminya dengan Tante Widya. Aku ... takut, Om Bram." Lelaki perlente itu meraih, lalu meremas lembut jemari Alya. "Tenang saja, Sayang. Kita lakukan secara bertahap dan perlahan," katanya. "Kalaupun kamu tak bersedia untuk malam ini, aku tak akan memaksa. Kita lakukan di kemudian waktu. Bagaimana?" Alya menggangguk perlahan. "Baik. Aku setuju," jawabnya, direspons Bram dengan senyum manis. "Aku setuju, malam ini juga. Toh, sekarang, nanti, lusa, atau kapan pun, tetap saja aku akan melewati pengalaman pertama itu, 'kan?" Bram melengos. Bergumam sendiri tanpa memandang istrinya, "Sama saja." "Om Bram." "Hhmmm." "Aku ingin .... " "Sekarang juga?" Mata lelaki itu mendadak berbinar-binar. Basahi bibirnya dengan leletan lidah. "Bukan." "Lalu?" Pandangan Alya mengarah ke depan. Tertuju pada kerumunan bocah dan wanita setengah baya di depan seorang pelayan makanan. "Aku ingin cilok, Om. Sepertinya itu enak." Bram memajukan bibir, lalu mengeriting membentuk bulatan. "Ya, sudah. kalau ka—" "Permisi Bu Alya dan Pak Bram," kata seseorang mendekati mereka. Kedua mempelai serempak menoleh. "Saatnya ganti busana." Alya merengut. "Tapi cilok itu .... " "Nanti saja, Sayang. Habis ganti kostum," ujar Bram seraya menarik lengan istrinya mengikuti langkah orang tadi. Ternyata dia penata rias pengantin. Sementara Alya cemberut. Berjalan sambil memandangi pelayan makanan tersebut. Ruang rias Bram dan Alya berbeda. Alya menempati kamar pengantin. Sementara Bram di sebelahnya. Usai mengganti busana, riasan di wajah Alya diperbaiki. Gadis itu tersenyum-senyum sendiri di depan cermin. "Kamu kelihatannya bahagia banget, Lya," kata penata rias dengan sorot mata tajam dan menakutkan. Alya melirik melalui pantulan cermin, kemudian bertanya, "Ibu bicara sama saya?" Penata rias menyeringai menggidikkan. Jawabnya, "Dengan siapa lagi? Di ruangan ini hanya ada kamu dan aku!" "Ibu ... Ibu ini ... sadar, 'kan?" Alya mulai ketakutan. Riasan di wajahnya sengaja dibuat berantakan oleh wanita penata rias tersebut. "Hihihihi," dia tertawa. "Katakan pada suamimu, Mas Bram, ingat ... janji apa yang pernah dia ucapkan dulu padaku! Laki-laki pembohong amatiran! Sekarang dia telah berkhianat!" serunya sambil mengacak-acak tatanan rambut Alya. Gadis itu segera bangkit menjauh. "Siapa kamu?" Dia tak menjawab, tapi cekikikannya membuat Alya bergegas keluar kamar. Menjerit dan memanggil Bram. Lelaki perlente muncul dari dalam, memburu Alya yang ketakutan. Terlebih melihat riasan istrinya kini awut-awutan. "Ada apa, Sayang? Mengapa rambutmu seperti baru kesetrum listrik?" Alya memeluk Bram sambil menangis, lalu menunjuk kamar pengantin mereka. "Wanita itu menakutkan, Om. Barusan dia mengancamku." "Mengancam apa, Sayang? Bicaralah dengan baik dan benar, sesuai dengan aturan PUEBI, KBBI dan FBI." Bram ikut panik. Sebentar dia melongok ke dalam kamar yang ditunjuk tadi. Hanya ada seorang wanita penata rias. Tergolek di lantai tak sadarkan diri. "Dia pingsan!" "Aku takut, Om. Aku takut," rengek Alya kejer. "Kata dia, kamu telah mengkhianati janji." "Janji apa?" "Aku tak tahu. Dia cuma bicara begitu. Katanya, kamu pembohong amatiran," kata Alya menirukan ucapan penata rias tadi. Mempelai perempuan itu menangis sejadi-jadinya. Tak bisa berhenti walau telah ribuan kali dipinta untuk tenang. Tetap saja dia meraung-raung. Sampai akhirnya tangis Alya langsung reda, begitu dibawakan semangkok cilok. Lengkap dengan kuah, taburan bawang goreng, seledri, saus cabai, dan sedikit kecap. 'Pembohong amatiran? Rasanya aku kenal, siapa yang sering mengucap kata itu .... ' Dahi Bram berkerut. Tanda dia sedang berpikir keras. Lalu, mendadak mulutnya menganga lebar disertai belalak mata. Kemudian, kata lelaki tersebut, "Ya, Tuhan! Bukankah itu omongan .... " Memori Bram pun mengelana beberapa saat. Kembali pada puluhan tahun silam. Tepatnya ketika masih bersama Widya, istri pertama. "Mas," panggil Widya yang tengah terbaring pucat di ranjang pesakitan. Bram mengangkat wajah dari tidurnya di tepian tempat tidur. Jawab lelaki itu, "Ya, Sayang. Ada apa?" Bening kristal di pelupuk mata wanita itu meleleh menyusuri pipi. "Aku rasa, hidupku tak akan lama lagi, Mas." Bram meraih jemari istrinya. "Jangan bicara seperti itu, Sayang. Yakinlah, bahwa kamu akan kembali sembuh dan sehat seperti dulu. Aku bantu mendoakanmu, Sayang." Widya menggeleng. "Tidak, Mas. Aku sudah tak kuat." "Jangan, Sayang," ujar Bram lirih. "Ini ... aku bawakan batu. Kantongilah. Itu akan membuatmu sedikit bertahan." Widya menggeleng kembali. Kali ini agak lama dan banyak, sehingga lama kelamaan dia merasa pusing sendiri dan berkunang-kunang. "Aku tak tahan bukan hendak buang hajat, Mas. Tapi ... uhuk ... uhuk ... !!!" Wanita itu batuk-batuk sampai mengeluarkan darah segar dari mulutnya. Lanjut kemudian, "Jika Tuhan berkehendak, mungkin hidupku hanya tinggal beberapa tarikan napas." "Widya .... " "Aku pinta padamu, Mas. Selepas aku meninggal, tetaplah setia menjadi duda." "Widya, kamu .... " "Dengarkan aku dulu, Mas! Uhuk! Uhuk!" "Oke. Lanjutkan!" Widya mengelap bibirnya yang penuh lumuran darah. "Kamu adalah cinta pertamaku, Mas Bram. Aku tak rela ada perempuan maupun wanita lain, memilikimu. Termasuk waria sekalipun. Ingat itu, Mas. Kamu harus tetap menjadi milikku, walau raga dan sukmaku tak bisa lagi bersamamu." Bram mengangguk. "Baik, aku berjanji, Sayang." "Jangan bohong, Mas!" "Iya, aku janji." Widya tersenyum lirih. "Aku tahu banget sifat kamu, Mas. Kamu sering membohongiku, 'kan?" "Itu dulu, Sayang. Sekarang tidak akan lagi. Percayalah." Widya menggeleng. "Sekalinya berbohong, akan tetap berbohong, Mas. Namun sayangnya, kamu itu pembohong amatiran! Aku selalu tahu setiap kali kamu berbohong. Ingat itu, Mas." "Sudahlah, Sayang. Saat itu aku cuma ingin keluar malam-malam untuk nonton bola bareng teman. Aku takut kamu tak akan mengizinkan. Makanya aku membuat alasan kebagian tugas ronda. Itu saja," kilah Bram sengit. "Sayangnya kamu melakukan blunder, Mas." "Apaan?" "Kamu nonton bolanya di rumah janda! Atau malah kamu dan dia main bola-bola yang lain? Hah! Uhuk! Uhuk! Uhuk!" "Widya .... " "Ingat, ya. Kamu sudah berjanji. Itu akan selalu kuingat. Aku mencintaimu dan akan tetap mencintaimu. Sampai kapan pun, kauakan menjadi milikku. Hek!" Napas Widya mendadak berhenti. "Widya! Bangun, Sayang! Bangun!" Bram menangis sejadi-jadinya. Berteriak seperti orang kesurupan memanggil nama istrinya. "Widya! Bangun! Bangunlah!" Namun Widya tetap bergeming. Napas serta detak jantungnya telah berhenti total. "Bangun! Bangun!" Bram kembali menangis. "Bangun!" Menangis dan terus menangis. "Bangun! Bangun, Mas!" Bram menoleh. "Maaf, mengganggu, Mas. Bangun. Kursinya mau saya beresin. Soalnya yang punya WO nelepon, mau pasang dekor di tempat lain. Kursinya mau diangkut duluan," kata seorang anak muda kurus, hitam, berambut warna-warni mirip corak wallpaper di warung makan lesehan, serta celana jin compang-camping seperti bekas gigitan tikus. "Oh, silakan. Maaf, saya tadi melamun," ujar Bram seraya bangkit dari kursi pelaminan. "Tidak apa-apa, Mas. Kalau mau melamun, di sana lebih cocok .... " kata anak muda itu sambil menunjuk 'bilik merenung' di pinggiran tambak ikan lele. Bram mendelik sebal. "Istriku mana?" tanya Bram celingukan. "Ada di kamar pengantin. Silakan dinikmati, Mas. Jangan lupa, minum dulu rebusan akar pinang dan kuning telur bebek. Good luck pokoknya, Mas." Usai berkata begitu, anak muda tadi segera menggotong kursi pelaminan ke truk besar yang terparkir di depan. Bram bergegas menuju kamar pengantin. Khawatir terjadi hal yang tak diharapkan pada Alya, usai kejadian tadi. Ternyata tidak. Alya tengah menyisir rambutnya yang tergerai panjang. Dengan balutan busana s*****l, lengkap dengan parfum aroma terapi yang ada cap badaknya. "Hai, Mas Bram," sapa Alya dengan senyum menggoda. Perlahan Bram melangkah mendekati istri barunya. "Alya, kamu .... " "Ya, ini aku. Tenang saja. Tak usah takut. Bukankah malam ini akan menghabiskan waktu pertama kita, Mas?" Alya membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Penuh dengan pernak-pernik berbagai macam bunga. "Benarkah ini kamu, Alya?" Bram mendekat ke tepian ranjang. Alya mengedipkan matanya. Genit menggoda. "Tentulah, ini aku. Istrimu, Mas." "Tapi .... " Alya menempelkan telunjuknya di bibir Bram. "Kamu ingat, beginilah saat terakhir kali kita berpisah. Sekarang aku kembali untuk mengulangnya. Mencintaimu dan kauakan tetap menjadi milikku ... selamanya, Mas Bram tersayang. Hihihihi." "Alya?" "Apalagi yang akan kauucapkan, Pembohong Amatiran? Aku datang untuk menagih janjimu. Karena sejak tadi, tak tahan rasanya menahan cemburu ini. Kemarilah, Mas. Hihihi." "Widya?" "Sudah kubilang, 'kan? Kamu memang akan selalu menjadi milikku, Mas. Hihihi." Bram mengatupkan mata. Lalu menggelongsor dalam balutan alam pekat. Selanjutnya tak tahu apa yang terjadi. SELESAI
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN