RIRIWA

1664 Kata
Dentang sebelas kali baru saja terdengar. Bunyi pukulan keras pada tiang telepon oleh petugas ronda yang lewat jalan di depan, menjelang tengah malam. Aku terhenyak dari lelap golek sejak usai waktu petang tadi. Mengerjap sebentar seraya mengitari pandang ke segala penjuru ruangan. Gelap diiringi sepoi dingin angin malam menyapu di hampir setiap pori yang dilalui. "Sudah hampir dini hari rupanya. Pantas saja dingin sekali. Hoaammmzzz ...." Tak jauh dari kediamanku berada, segerombolan anak muda tengah duduk melingkar beralaskan tikar pandan sambil membacakan lafaz-lafaz tertentu, di bawah terang lampu minyak yang tergantung di tengah-tengah. Semua fokus mengikuti lantunan seseorang di antara mereka dengan wajah tertunduk dan gigil kedinginan. Sampai tak ada yang menyadari kehadiranku perlahan mendekati. "Wangi melati ...." bisik salah seorang dari mereka seraya mengendus-enduskan hidung. "Bukan, ah," tandas kawan di sebelahnya turut mempertajam penciuman. "Kayak bau bunga kamboja." Yang lain ikut menanggapi sambil menyikut sosok terdekat. "Sssttt ... jangan ngomong macem-macem. Kita fokus saja baca-baca." "Gimana mau konsen? Baunya makin menyengat." Yang terkena sikutan menimpali dengan belalak lebar. Mungkin kesakitan, karena setelah itu dia mengusap-usap lengan. Lobang hidungnya sampai bergerak-gerak kembang-kempis. "Tapi beneran, kok, ini kayak bau ... minyak wangi." Tiba-tiba sang pimpinan mendeham beberapa kali. Seakan mengingatkan yang tengah berbicara agar segera diam, mengikuti bacaannya. Suasana pun kembali seperti sedia kala. Serempak melafalkan kalimat-kalimat tertentu. Kali ini malah saling beringsut merapatkan posisi duduk. Aku semakin penasaran. Perlahan melangkah lebih dekat kerumunan tersebut. "Ehem ...." Semua mata serentak menoleh dengan roman kejut menghiasi wajah mereka. "Eh, Mang Oding!" sahut salah seorang setelah lama mengamati-amatiku. "Siapa yang meninggal, Dak?" tanyaku sembari mengamati gundukan merah memanjang, diselimuti pelepah pohon kelapa yang ukurannya sama. Belum ada tulisan apa pun ditancapan kayu berukir di sisi kedua ujung batas longgokan. "Bu Idah, Mang!" jawab mereka berbarengan. "Bu Idah? Perawan tua yang tinggal dekat rumah Pak Kades itu?" Aku mulai menerka-nerka. "Iya, Mang!" Kembali mereka menjawab dengan suara nyaring. 'Kapan meninggalnya? Kok, saya baru tahu?' Aku bergumam sejenak. 'Padahal rumah saya tak jauh dari area pekuburan ini. Huh! Pasti karena seharian tadi terlalu banyak tidur. Cuaca akhir-akhir ini memang benar-benar membuat malas kemana-mana.' "Mang Oding mau ikutan ngaji sama kami?" tanya salah seorang dari mereka kemudian. Aku tersenyum diiring menjawab, "Terima kasih. Kapan-kapan saja, deh. Kalo kalian perlu air panas buat ngopi, datang saja ke rumah." "O, iya, Mang. Terima kasih ...." Aku bergegas meninggalkan mereka yang mendadak terdiam beku. Satu dengan lainnya saling lempar pandang dengan mulut terbuka lebar. Ah, biarkan saja. Mungkin karena masih diliputi rasa kejut karena kemunculanku secara tiba-tiba tadi. Apalagi karena di sini daerah kuburan umum. Pikirku hanya satu, tentang sosok Idah tadi. Perempuan tua yang belum pernah menikah, tapi berharta banyak. Pasti saat ini di rumahnya masih ramai. Tak disangka harus pergi selama-lamanya sebelum ada seorang lelaki yang mau mempersunting. Tak terkecuali, Pak Kades sendiri. Kudengar dia pun sudah lama berusaha mendekat. 'Tak ada salahnya saya bertandang ke rumahnya sebentar. Memastikan suasana di sana apakah masih seramai yang saya perkirakan? Bukankah malam ini memang kami ada janji bertemu?' tanyaku akhirnya, seraya berbelok ke arah jalan setapak menuju kediaman perawan tua tersebut. Benar saja. Tak lama setelah tiba di tempat tujuan, keadaan dalam rumah Idah memang masih terang benderang. Sejenak aku berhenti tepat di depan pintu pagar setinggi d**a, melongok ke dalam dengan d**a berdebar-debar. "Kang Oding!" seseorang memanggil. Aku terkesiap. Seluruh aliran darah ini terasa langsung tersedot ke arah kepala. Diikuti detak jantung yang kian mengencang. "Astaga! Siapa itu?" sahutku celingak-celinguk mencari-cari asal suara tadi. "Ini saya, Kang ...." Satu sosok menghampiri dari arah samping rumah. Aku tersurut dengan mata membelalak besar dan mulut menganga lebar. Gumamku disertai suara bergetar hebat, "Idah? Bukankah kamu--" "Akang ini kenapa, sih? Kayak lihat hantu saja? Masuklah," ajak perempuan yang ternyata Idah. Aku menggeleng. Bagaimana mungkin, orang yang telah dikabarkan meninggal itu kini masih hidup dan menyapaku malam-malam begini. "Idah? Ini beneran kamu?" Aku masih tak percaya. Perempuan itu mengerutkan kening. "Memangnya Akang pikir saya ini siapa? Saya Idah." "Tapi ... saya denger ... kamu sudah meninggal?" Idah mendengkus kesal diikuti bibir mengeriting bulat. "Sembarangan! Siapa bilang? Nyatanya saya masih hidup, Kang. Ada-ada saja, deh, ah!" Aku ragu untuk melangkah menuruti ajakannya. Sehingga Idah kembali mengulang ucapan seperti tadi. "Masuklah. Kebetulan di rumah saya sedang ada acara." Acara? Jangan-jangan benar adanya, Idah sudah meninggal dunia dan saat ini sedang berlangsung aktivitas tertentu. Sekali lagi kuperhatikan sosok perempuan itu, masih tampak segar bugar. Tak ada raut pucat maupun sedih. Ah, mungkin saja gerombolan anak muda tadi telah membohongiku. Bisa saja Idah yang mereka maksud, bukanlah perempuan yang kini ada di hadapan. "Acara apa, sih, Idah?" Aku menyelidik seraya membuntutinya masuk ke dalam rumah melalui jalan samping. "Syukuran, Kang. Biasalah, ini 'kan sudah rutin saya adain saban sebulan sekali. Masa Akang lupa, sih?" tanya Idah genit. Aku mengekeh. Sikap khas perempuan yang satu ini belum juga hilang. Dari dulu dia kerap menggoda. "Mau ngopi, Kang?" Lanjut Idah sebelum masuk ke rumah. Aku mengangguk pelan. "Di dalam saja, yuk. Kita ngobrol-ngobrol sebentar." "Tak usahlah. Saya di luar sini saja. Lebih adem," jawabku seraya melongok ke dalam melalui celah daun pintu yang terbuka lebar. "Lagian, gak enak. Malam-malam saya bertamu ke rumah kamu." "Di dalam cuma ada beberapa orang dari keluarga saya, Kang. Gak apa-apa, kok. Masuk, yuk," ajak Idah setengah memaksa. Aku tetap menolak. Menjawab disertai gelengan berulang kali, "Cukup di sini saja, Idah. Terima kasih. Saya gak mau ada orang lain yang berpikir macam-macam." Idah cemberut, tapi kemudian senyumnya hadir menyeruak dengan manis. "Baiklah. Akang tunggu di sini sebentar, ya. Saya bikinin kopi dulu. Sekalian bawain rokok juga buat Akang. Hehehe." "Terima kasih, Idah." Lama aku menunggu di luar, sampai kemudian perempuan itu kembali menemui. "Kang ...." panggilnya mendayu-dayu. "Kopi sama rokoknya sudah saya siapkan di kamar. Akang masuk saja dulu, nanti saya menyusul." "Keluargamu?" Aku bertanya-tanya. Khawatir mereka akan mengetahui kedatangan diri ini malam-malam seperti itu. Idah kembali tersenyum seraya menjawab, "Tenang saja, Kang. Mereka gak akan tahu. Akang masuk, deh, ya?" "Baiklah," kataku akhirnya. Perlahan aku menapaki langkah, memasuki ruangan yang ditunjuk Idah tadi melalui jalan belakang. Menjejak penuh kehati-hatian agar tidak menimbulkan suara mencurigakan. Sementara perempuan itu menutup pintu dan mempersilakanku masuk ke dalam kamar khusus. "Tunggu aku di sana, ya, Kang. Aku ganti dulu pakaian." "Iya, Idah. Jangan lama-lama. Saya kangen sama kamu ...." "Ih, Akang, mulai nakal!" seru Idah sambil mencubit kulit perutku. "Aih ... sakiittt." "Sssttt!" Aku tertawa kecil. Kemudian beranjak meninggalkan Idah, masuk ke dalam kamar yang sudah dipersiapkan. Sebuah ruangan kecil temaram, dilengkapi tempat tidur rapi dan taburan bunga berwarna-warni di atasnya. Tak jauh di sudut sana, mengepul sebuah dupa dengan asap putih semerbak mewangi getah styrax dikelilingi beberapa gelas minuman serta sebutir telur ayam kampung. Dua kopi hitam pekat, s**u, dan juga teh manis. Tak lupa sebungkus rokok berwarna merah menyala tergeletak siap dinikmati. Idah memang tidak pernah lupa menyediakan semua kegemaranku setiap kali datang berkunjung. Biasanya kami akan melewati semalaman penuh bersama-sama di kamar hingga pagi menjelang tiba. "Saya ingin membuka usaha baru, Kang," ujar Idah sekali waktu. Aku menoleh ke samping. Menatap tubuh perempuan itu yang masih tersingkap pakaiannya di beberapa bagian, usai kami menuntaskan satu ritual khusus. "Usaha apalagi? Memangnya yang sudah ada selama ini belum cukup?" tanyaku heran. Idah membalikkan badan seraya balas menatapku dalam-dalam. "Belum, Kang. Saya ingin yang lebih banyak. Bahkan mengalahkan kekayaan orang-orang kampung sini. Akang bisa membantu saya, 'kan?" Aku tersenyum. "Kenapa tidak? Selama ini saya sering membantumu, bukan?" "Terima kasih, Kang," ucap Idah dengan wajah berbinar-binar. "Asalkan dengan syarat---" "Apa pun yang Akang pinta, akan saya lakukan. Selama ini juga, saya gak pernah lupa, kok." "Saya tahu itu." Sudah lama aku dan Idah saling mengenal. Pertama kali dia datang dengan raut pilu. Bercerita panjang lebar tentang kehidupannya, serta meminta tolong mencarikan jalan keluar dari himpitan ekonomi yang sedang dia derita. Aku menyanggupi. Sejak itulah hubungan kami bertaut. Hanya saja, tidak bisa bertemu setiap waktu. Cuma pada saat-saat tertentu aku bisa menemui perawan tua tersebut. Memadu kasih layaknya sepasang suami-istri, hingga harus kembali berpisah untuk jangka masa yang direncanakan. "Kang ...." Satu suara mengejutkan lamunan. Sesosok perempuan sudah berdiri di dekatku. Mengenakan pakaian putih memanjang hingga menutupi kedua pijakan kaki, serta rambut panjang terurai menutupi bagian d**a. Aku terkesiap. "Kau? Siapa kamu?" tanyaku dengan suara terpatah-patah. "Saya ... Idah, Kang," jawab sosok itu diiringi cekikiknya. "Masa Akang lupa, sih?" "B-bukan! Kamu bukan Idah! Kamu ...." "Ih, beneran. Saya Idah! Hihihi!" jawab Idah kembali tertawa kecil menyeramkan, seraya mempermainkan ujung rambut dengan jemarinya yang berkuku hitam. "Tidak! Kamu bukan Idah!" sentakku kasar. "Apa yang terjadi dengan Idah? Kamu apakan dia, hah?!" "Hihihi!" "Jawab pertanyaan saya, Makhluk jelek!" "Idah sudah mati, Kang. Saya cekik dia sampai mampus," jawabnya mengejutkan. "Saya tak tahan harus menahan cemburu, setiap kali Akang bertemu dengan manusia itu dan saling memadu kasih. Sudah lama saya menyimpan rasa suka sama Akang." "b*****h! Keterlaluan kamu!" Tiba-tiba aku merasa sedih. Tak menyangka akan berpisah dengan Idah secepat itu. Bahkan dengan cara yang tidak pernah diharapkan sama sekali. "Maafkan saya, Kang. Saya terpaksa melakukannya karena gak tahan terus-terusan dilanda cemburu." "Tiada maaf bagimu, s****l!" "Saya mencintai Akang ...." "Tidak!" "Kang!" "Tidak! Tidak! Tidaaakk!" Aku segera berlari meninggalkan sosok buruk yang mengaku-ngaku sebagai Idah. Tidak peduli walaupun jeritan tangisnya begitu memilukan memanggil-manggilku. Berarti benar adanya. Kuburan baru yang tadi kulihat itu adalah makam Idah. Dia telah meninggal dunia, dan kini jasadnya tertanam jauh di bawah sana. Sambil bersusah payah berlari, aku segera memburu area pemakaman. Di sana sudah tak ada lagi kerumunan pemuda yang sempat ditemui. Hanya menyisakan hamparan tikar kosong, gelas bekas kopi berserakan, serta lampu minyak masih menyala tak bertuan. Kemanakah mereka semua? Pergi? Entahlah, mungkin kabur begitu otak-otak manusia itu sudah kembali jernih menjelaskan siapa aku sebenarnya. Dengan rasa sedih mendalam, aku kembali ke tempat kediaman dimana selama ini menetap. Melangkah dengan tubuh ini hanya berbalut lembaran kain berlapis kumal berhiaskan ikatan-ikatan di beberapa bagian, menahan gerikku dari gerak leluasa serta lompatan tertatih-tatih. Menuju sana, sebuah rumpun bambu yang lebat, gelap, dan sunyi. TAMAT
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN