HILANG

1322 Kata
Hari sudah menjelang gelap, begitu mata ini kubuka. Mungkin petang atau sudah malam. Sementara semerbak harum bumbu masakan tercium dari arah dapur, menuntun kaki untuk segera turun dari tempat tidur. Apalagi bunyi perut terus berontak meminta jatah. Dengan langkah limbung, kutuju ruang belakang. Di mana suara gesekan penggorengan sesekali terdengar dari sana. Itu pasti Ibu, yang sedang memasak. Tak seperti biasa, jam-jam begini masih sibuk mengolah makanan. "Sudah bangun rupanya kau, Nak," ujar Ibu begitu kuberdiri di sampingnya. "Kamu pasti lapar, 'kan?" Aku mengangguk. "Hari ini, Emak masak makanan khusus buat kamu. Tunggu sebentar ya?" "Memangnya masak apa, Mak?" tanyaku sembari melongok ke dalam penggorengan. Ibu tersenyum, lalu menjawab, "Pokoknya, kamu pasti suka." Aneh, hari ini Ibu tak banyak mengomel apalagi membangunkan. Seingatku, jika waktu-waktu Subuh atau Magrib seperti ini, mulut wanita setengah baya itu akan nyaring mengingatkan agar aku lekas bersiap-siap ke langgar. Sebagaimana saat sebelumnya. "Cepetan mandi, Nak. Sebentar lagi Magrib, lho," kata Ibu kala itu. "Pergi ke surau, salat berjamaah, dan ngaji sama kawan-kawanmu sana." "Tapi aku ngantuk, Mak," timpalku beralasan. Mata Ibu membelalak galak. "Pamali tidur abis waktu Asar. Kata ustaz, bisa menyebabkan penyakit gila, Nak." Ibu menyodorkan kain sarung, lengkap dengan baju koko putih dan peci hitam. Imbuhnya, "Tuh, pakaiannya sudah Emak siapkan. Cepetan kamu mandi sana. Terus ke surau, pupujian sebelum waktu Magrib tiba." Jika tak segera dituruti, mulut Ibu tak akan berhenti bicara. Akhirnya, mau tak mau aku segera mandi, lalu pergi ke surau berkumpul dengan teman-teman lain menyenandungkan kalimat puja-puji ke hadirat Ilahi. Lanjut salat Magrib berjamaah, belajar mengaji pada ustaz Mahfudin, hingga waktu Isya nanti tiba. "Makan dulu, Nak." Suara Ibu mengagetkanku. "Itu sudah Emak siapkan di dapur." "Iya, Mak," kataku seraya beranjak dari duduk di ruang tengah. Sebuah cempor diletakkan di dapur sebagai sarana penerangan. "Bapak belum pulang juga, Mak?" Ibu menggeleng, seraya mengikutiku. Membantu mengambilkan nasi putih serta lauk-pauk ke atas piring. "Makanlah dulu. Buat Bapakmu, Emak sudah siapkan sendiri." Aku menerima sodoran piring dari Ibu, lalu perlahan menyuapkan makanan tersebut selagi masih hangat. "Enak, Mak," kataku usai menelan satu suapan. Ibu tersenyum senang. "Makanlah yang banyak ya, Nak," timpalnya. Aku menikmati sedikit demi sedikit, hingga semua yang tersaji di piring ludes. "Tambah lagi, Nak?" tanya Ibu dijawab anggukanku. Dia mengambilkan nasi serta lauknya kembali. "Emak tak marah, 'kan?" Kulirik wajah itu di sela-sela menikmati makanan tambahan. Ibu menggeleng. "Apanya yang harus Emak marahkan? Emak baik-baik saja kok," jawabnya seraya tersenyum manis. "Aku kan, tak pergi ke surau hari ini, Mak," sahutku. Wajah Ibu terlihat masam, tapi tak lama kemudian berubah ramah kembali. Lalu ucapnya, "Tak usah dipikirkan. Lebih baik cepat habiskan makanan itu, Nak. Lalu segeralah pergi tidur. Hari sudah mulai larut malam." Aneh, Ibu baik sekali kali ini. Masih ingat petang itu, aku sengaja pergi dari rumah tapi tak menuju langgar. Duduk-duduk berdiam diri di sebuah gubuk tua di dekat kebun milik orang. Lalu tak berapa lama rasa kantuk pun datang. Tertidur beberapa saat di sana, dan terbangun ketika ada sesosok yang menepuk-nepuk bahu. Dia adalah ibuku sendiri. "Duh, Nak. Emak cari-cari ke sana ke mari, ternyata kamu ada di sini toh?" kata Ibu begitu kubuka mata. "Sedang apa di sini? Ayo, pulang." "Mak?" Aku terperanjat. "Emak ingat, tadi kamu minta makan, 'kan?" Ibu menarik tanganku. "Ayo, pulang dulu. Nanti Emak masak buat kamu di rumah." Ya, tadi memang aku merengek minta makan. Namun Ibu belum masak apa-apa. Alasannya karena di rumah belum tersedia bahan makanan. Aku pun pergi begitu saja dengan hati kecewa dan marah. "Emak ngutang dulu ke warung, sambil nunggu bapakmu pulang nanti," tutur Ibu saat kami berjalan pulang di tengah keremangan petang. "Lain kali, tak usah ngambek seperti itu lagi ya, Nak?" Aku tak menjawab. Pikiran ini tiba-tiba diliputi rasa kasihan pada Ibu. Sepanjang perjalanan hanya mengikuti langkahnya yang terburu-buru. Mungkin takut kemalaman. "Tunggulah di sini ya? Emak mau masak dulu," ujar Ibu begitu kami tiba di rumah. Bangunan kecil beratap rumbia serta beberapa buah lampu cempor yang terpasang di empat penjuru serta di dalam. "Jangan ke mana-mana. Diam di kamar, sampai bapakmu nanti pulang." "Iya, Mak," jawabku kembali di dera rasa kantuk. Sambil menunggu Ibu masak, berbaring di atas kasur dalam kamar. Remang cahaya lampu dari ruang tengah, membuat mata ini semakin berat. Akhirnya tertidur beberapa saat, dan terbangun begitu aroma masakan tadi menyelinap dinding gedek. "Bapak kapan pulangnya ya, Mak?" tanyaku usai menghabiskan makanan tambahan sambil mengelus perut. Kenyang. Ibu melirik sejenak seraya membereskan bekas makan. "Emak tak tahu. Mungkin nanti malam," jawabnya lirih. "Bapakmu sibuk menjaga kebun dari gangguan babi hutan. Sebentar lagi 'kan, panen." "Tapi Emak tak marah 'kan, aku hari ini tak pergi ngaji?" Wanita itu tersenyum. "Sudahlah. Tak usah dipikirkan," jawab Ibu kembali. "Sekarang, lebih baik kamu tidur lagi." Memang benar. Setelah makan banyak barusan, kelopak mataku terasa berat sekali. Tanpa dipikir panjang, segera menuju kamar tidur dan berbaring seperti tadi. Diikuti Ibu sambil duduk di tepian ranjang. "Maafkan Emak ya, Nak. Selama ini, Emak terlalu keras sama kamu," ujarnya sembari mengelus lembut kepalaku. "Tak apa, Mak. Itu karena Emak sayang sama aku, 'kan?" Ibu tersenyum. "Ya, sudah. Sekarang, tidurlah. Emak temenin kamu sampai terlelap ya?" Belaian jemari Ibu di rambutku, membuat mata ini lekas mengatup. Kemudian, tak lama terpejam nyenyak. Namun sesaat berlalu, perlahan terdengar seperti suara gaduh dari kejauhan disertai teriakan-teriakan seseorang. "Mak?" panggilku mencari-cari sosok Ibu. Gelap. Tak ada penerangan sama sekali. Mungkin semua lampu di dalam rumah sudah dipadamkan. "Emak!" Untuk kedua kali kupanggil Ibu. Tak ada sahutan. Sepi. Sementara riuh suara-suara itu semakin mendekat. "Ya, Tuhan! Suara apakah itu? Mengapa malam-malam buta begini terdengar gaduh sekali?" Dalam kegelapan, aku berusaha menjejakkan kaki hendak menuruni tempat tidur. Namun, mendadak tak bisa menapak di atas tanah. Lalu, meraba-raba sekeliling seperti menyentuh sebuah dinding yang lembab dan licin. "Emak ada di mana, Mak?" Wanita itu lagi-lagi tak menjawab. Hanya ada suara-suara jeritan jangkrik di bawah sana. Bawah? Aku merasa tiupan angin kian kencang menerpa tubuh. Dingin menusuk pori. Mendadak takut untuk segera menuruni tempat tidur sendiri. Lalu, suara gaduh yang seperti berasal dari tetabuhan benda-benda keras dan padat itu, semakin mendekat. Disusul teriakan salah seorang dari arah lain, "Aku menemukan anak itu! Aku menemukan anak itu!" "Di mana?" tanya suara berikutnya. Di jawab sekencang mungkin hingga membuatku tersurut ketakutan, "Di atas pohon itu! Cepat kemari!" "Ya, Tuhanku! Benar! Dia ada di atas pohon aren! Cepat, panggilkan Ki Jafar!" Aku bingung harus berbuat apa. Samar-samar terlihat beberapa orang berdiri mendongakkan kepala ke arahku. Sebagian dari mereka berteriak, "Turunlah, Nak! Lekas turun! Ibumu mencarimu dari tadi sore!" Tidak, aku tak ingin ke mana-mana. Bingung dan takut. Entah di mana saat ini berada. Karena setahuku, dari tadi ada di dalam kamar sendiri. Tertidur. Lalu Ibu ke mana ya? Salah seorang dari mereka menghampiriku. Mau apa? Berani sekali memasuki rumah tanpa seijin pemiliknya. "Turunlah sekarang juga, Nak. Ayo, aku bantu," kata seorang lelaki tua berjanggut panjang dan putih. Aku tak bisa menjawab. Masih bingung dan takut. Gerangan apa yang sedang terjadi saat ini? Kemudian, dari mulut lelaki itu menyembur air yang banyak dan berbau busuk. Pengaruhnya, mendadak tubuh ini melemah dan pasrah begitu saja, kala jemari kasar itu menarik paksa. Lalu perlahan aku terkulai, menuruni tempat tidur dalam pelukan sosok tersebut. "Anakku!" jerit seorang wanita tua menghambur peluk ke arahku. Itu ibu. Mengapa baru datang sekarang? Dari tadi dipanggil tak menyahut. Lalu mengapa menangis? Bukankah tadi mengantarku tidur? "Cepat, bawa pulang anakmu! Nanti di sana, aku yang akan mengurus!" Kembali lelaki tua berjanggut panjang dan putih itu berteriak. Seketika, aku pun digendong oleh salah seorang dari mereka. Membawa pergi dari kamar sendiri menuju rumah Ibu. Sementara Ibu masih terisak disepanjang perjalanan, sambil tak henti-hentinya menceracau, "Emak bilang juga, menjelang Magrib jangan ke mana-mana, Nak. Inilah yang Emak takutkan selama ini." Aku tak tahu, apa yang Ibu maksud. Bukankah selama sore tadi bersamanya? Memberi makan yang enak sekali, lalu menyuruh tidur. Benar-benar membingungkan. T A M A T
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN