8. ena-ena yang terganggu

1583 Kata
Jae langsung menghentikan aksinya dan pisau itu berhenti tepat di depan wajah Megan dengan jarak yang kurang dari 5 cm. Wajahnya seketika pucat melihat keberadaan kekasihnya yang hampir terluka karena perasaan negatif yang menghantuinya. Sementara Megan saat ini masih berdiri kaku dengan badan yang bergetar oleh keterkejutan. Bahkan, seluruh tungkainya terasa sangat lemah. ”Maafkan aku. Aku tidak tahu bahwa itu kamu.” Jae langsung membuang pisau di tangannya dan mendekati Megan sembari memegang kedua bahu Megan yang saat ini masih bergetar. Wanita itu masih terlihat sangat shock. Menuntun Megan duduk di kursi ruang makan. Menuangkan air untuk Megan dan memberikan kepada kekasihnya. ”Maaf sudah mengejutkanmu. Kamu tidak apa-apa?” ulangnya sembari menanyakan keadaan Megan, yang dibalas anggukan kepala oleh wanita itu sembari meneguk air yang dia berikan. Kejadian tadi masih terbayang jelas di pikiran Megan. Jika Jae tidak segera berhenti, maka pisau tersebut sudah dipastikan akan menancap di wajahnya, dan kejadian itu terjadi begitu tiba-tiba. “Tunggu di sini, ya, aku akan melanjutkan memasak. Setelah itu kita makan malam bersama,” ucap Jae. Setelah memastikan Megan sudah mulai tenang, dia kembali ke arah dapur dan melanjutkan kegiatannya yang sebelumnya tertunda. Tidak membutuhkan waktu lama, Jae menyelesaikan masakannya dan menghidangkan di meja makan yang saat ini masih terdapat Megan. “Ayo, kita makan,” ujarnya mengajak wanita itu untuk makan bersama. Dia dengan telaten mengisi piring Megan dan memberikan kepada kekasihnya tersebut. Mereka makan bersama sembari membahas hal-hal kecil, dan saat ini Megan sudah terlihat seperti biasa meski kejadian tadi masih membekas di ingatannya. Setelah selesai makan malam, mereka memutuskan untuk menonton TV bersama di ruangan tengah. Megan memeluk sebuah cup popcorn dan membawa ke dalam mulutnya sembari menyandarkan kepalanya di bahu Jae. “Aku sangat senang kembali bertemu denganmu,” ucap Jae. Mengecup pucuk kepala Megan. “Aku juga senang bertemu denganmu,” jawab Megan. Mereka menikmati acara TV yang ada di depan mereka sembari tangan Jae mengusap kepala Megan. Lama-kelamaan usapan itu turun ke lengan Megan dan semakin turun ke pinggang, serta pinggul Megan. Megan tidak bereaksi apa-apa. Dia tidak menyingkirkan tangan Jae ataupun berniat untuk melarang kekasihnya itu. Dia masih sibuk membawa copcorn ke dalam mulutnya dan menikmati tayangan film romantis di depan mereka. “Kamu menginginkannya?” tanya Megan, mengarahkan popcorn yang hampir dia masukkan ke dalam mulutnya kepada Jae. “Ya, aku menginginkannya, tetapi yang lain,” jawab Jae. Tangannya semakin bergerak turun dan mengusap paha Megan. Megan sama sekali tidak menampilkan reaksi apa-apa. Membuat tangan kokoh Jae semakin berani. Bergerak ke arah atas dan dengan perlahan mengusap b****g Megan. Sebelah tangan Jae menarik dagu Megan sehingga tatapan mereka bertemu pandang. Jae menatap dalam iris cerah Megan dan dengan perlahan tapi pasti mendekatkan wajahnya kepada Megan. Memagut bibir lembut Megan dan melumatnya dengan perlahan. Megan memejamkan mata merasakan sapuan bibir kekasihnya pada bibirnya. Sebelah tangannya yang tidak memegang popcorn mengalung di leher Sang Kekasih dan dengan perlahan dia membalas lumatan yang dibalas oleh Sang Kekasih. Detik demi detik berlalu. Hawa dingin seketika terasa di ruangan tengah tersebut, tetapi mereka tidak terlalu merasakan hal itu karena apa yang tengah mereka lakukan dapat menutupi aura dingin yang sangat mencengkam itu. Sebelah tangan Jae semakin menekan tengkuk Megan untuk memperdalam ciuman yang mereka lakukan. Lidahnya pelan namun pasti menerobos ke dalam mulut Megan dan melilit lidah Megan dengan lidah basahnya. Sementara tangannya yang lain mulai bergerak naik. Menelusup ke dalam piyama yang digunakan oleh Megan dan semakin bergerak ke arah atas, memberikan sentuhan lembut namun kuat pada permukaan pinggang Megan. Napas mereka sama-sama memburu. Ciuman yang mereka lakukan membuat mereka mulai terbakar oleh nafsu, dan dengan berani tangan Jae semakin bergerak naik di tubuh kekasihnya. Ketika hendak mencapai bukit kembar Sang Kekasih, tiba-tiba suara pecahan yang terdengar jelas mengejutkan mereka berdua. Apa yang sebelumnya mereka lakukan langsung berhenti begitu saja. Gairah dan nafsu yang memenuhi mereka seketika hilang, digantikan dengan rasa terkejut yang luar biasa. Pandangan mereka sama-sama tertuju ke arah vas bunga berukuran besar yang sudah pecah berserakan di lantai. Sebelumnya letak vas bunga itu berada di ujung tangga bagian atas. “Apakah kamu yakin sudah mengunci semua pintu?” tanya Jae menatap kekasihnya. ”Ya, aku sudah menguncinya,” jawab Megan. Dia mengingat dengan jelas bahwa dia sudah mengunci semua pintu di rumahnya. Jae beranjak dari duduknya. Mengambil botol minuman yang ada di atas meja dan membawa langkah menuju tangga yang terdapat pecahan vas bunga besar berserakan di sana. Dari hasil pengamatannya, sangat tidak mungkin vas tersebut jatuh sendiri. Mengalihkan pandangan ke arah tangga bagian atas. Dia tidak menemukan siapa-siapa di sana. Entah kenapa, dia merasa yakin bahwa itu adalah perbuatan manusia. Mungkin seseorang masuk ke dalam rumah karena biasanya Megan tinggal sendiri, terlebih Megan adalah seorang wanita muda. Dengan waspada, dia menaiki satu per satu anak tangga hingga berada di tangga paling atas. Mengedarkan pandangan ke sekeliling dan mencari orang yang sudah berani memasuki rumah kekasihnya. Namun, dia tetap tidak menemukan siapa-siapa, sehingga dia memeriksa satu per satu ruangan di lantai atas dengan botol minuman yang masih standby di tangannya. Bukan hanya ruangan, dia juga memeriksa pintu balkon dan jendela yang ada di lantai atas, tetapi hasilnya dia masih tidak menemukan siapa-siapa. Serta tidak ada jejak bahwa tangga dan pintu balkon itu terbuka. Sehingga, dia kembali ke lantai bawah dan memeriksa semua jendela maupun pintu di lantai bawah. Sesuai dengan yang dikatakan oleh Megan tadi, baik pintu maupun jendela di rumah itu tertutup dengan rapat. Tidak memungkinkan jika seseorang memasuki rumah. “Apakah kamu menemukan sesuatu” tanya Megan, menghampiri Jae. Menggeleng. “Tidak ada siapa-siapa. Apakah kejadian ini sering terjadi?” Jae kembali bertanya kepada Megan. “Tidak. Mungkin tadi karena letak vasnya yang terlalu di pinggir,” jawab Megan. Jae kembali mengedarkan pandangan. Kemudian dia membantu Megan untuk membersihkan kekacauan dari pecahan vas bunga di dekat tangga tersebut. Sebenarnya, jika dipikir-pikir tidaklah mungkin vas bunga itu jatuh dengan sendirinya. Terlebih ukurannya tidaklah kecil dan juga tidak ada yang menyandungnya. Namun, karena tidak ingin berpikir yang aneh-aneh, Jae tidak terlalu peduli. *** Pada malam harinya Jae terbangun karena rasa haus menggerogoti tenggorokannya. Dia beranjak dari ranjang, membawa langkahnya keluar dari kamar yang dia tempati dan menuju ke arah dapur. Sesampainya di dapur, dia langsung membuka kulkas dan menuangkan air mineral ke dalam gelas. Namun, dia merasa ada seseorang yang berdiri di belakangnya. Seketika membuatnya segera berbalik badan dengan cepat, tetapi dia tidak menemukan siapa-siapa. “Sayang, kamukah itu?” Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling dapur, tetapi tetap tidak menemukan siapa-siapa. Pada akhirnya, dia menggeleng cepat, lalu melupakan pikiran-pikiran mistis yang berkeliaran di otaknya. Setelah rasa hausnya hilang. Dia kembali ke kamarnya, mencoba untuk tidur, tetapi matanya tidak bisa diajak untuk bekerjasama. Hal-hal kotor pun mulai merasuki pikirannya, dan dia memutuskan untuk mengambil ponselnya dan menonton beberapa blue film hingga pikirannya saat ini benar-benar dipenuhi oleh hal-hal kotor. Dia menurunkan celananya. Menggenggam benda pusakanya dan melakukan kocokan ringan. Namun, seketika dia teringat dengan kekasihnya. “Tidak harus aku menahannya. Aku bisa melakukannya bersama Megan.” Gumamnya. Dengan cepat meletakkan ponselnya, memasang kembali celananya dan mengambil k*ndom yang sebelumnya sudah dia persiapkan. Senyuman terbentuk pada bibirnya ketika mengangkat dan menatap kondom tersebut. Memasukkan ke dalam saku celananya dan berjalan ke arah pintu dengan kelamin yang saat ini masih tegang. Namun, ketika tangannya hampir saja menggapai pintu, tiba-tiba dia dikejutkan oleh kunci di bawah gagang pintu tersebut berputar. “What the f**k!” pekiknya dengan badan reflek menjauh dan mata langsung mengedar ke sekeliling kamar, bersamaan dengan detak jantungnya yang berpacu cepat karena rasa terkejut luar biasa. Dia mengucek matanya untuk memastikan apa yang tadinya dia lihat hanyalah halusinasi. Namun, detik berikutnya kursi di kamar itu bergerak dengan sendirinya dan lemari pakaian juga terbuka, diiringi oleh rasa dingin yang menusuk tulang. Dia ingin berteriak dan berlari keluar secepatnya dari kamar itu, tetapi tubuhnya tiba-tiba tidak bisa digerakkan. Lampu kamar tersebut seketika berkedip-kedip dan jendela kamar tersebut terbuka dan tertutup dengan kuat. Menimbulkan suara yang menakutkan. Tubuh Jae bergetar dan dia dirundung oleh rasa takut sehingga nafsu yang tadinya dia rasakan hilang begitu saja, digantikan oleh celananya yang mulai basah akibat kencingnya sendiri. Dia benar-benar ingin melarikan diri dari sana, tetapi tubuhnya sama sekali tidak bisa untuk digerakkan. Bahkan dia tidak bisa membuka mulut untuk bersuara. Tidak berselang lama, lampu yang tadinya berkedip-kedip seketika menyala sehingga membuat benda-benda yang bergerak di kamar itu terlihat sangat jelas di depan mata kepalanya. Sesuatu cairan merah yang kental disertai aroma anyir mengalir dari arah jendela menuju kakinya. Membuat tubuhnya benar-benar bergetar karena ketakutan yang luar biasa. Namun, tidak lama kemudian lantai di depannya menampilkan tulisan dari darah tersebut. ‘Jika tidak ingin mati, maka segera tinggalkan rumah ini tanpa sepatah kata pun kepada Megan!’ Begitulah tulisan pada lantai yang terbentuk dari cairan yang persis seperti darah tersebut. Setelah membaca tulisan itu, tubuh Jae kembali bisa digerakkan kembali. Ia dengan terburu-buru keluar dari kamar itu dan terkejut melihat Megan yang berdiri di depan kamarnya. “Kamu kenapa?” tanya Megan. Menatap heran ke arah celana Jae yang terlihat basah. Jae hendak menjawab pertanyaan kekasihnya dan hendak membawa kekasihnya melarikan diri dari rumah itu, tetapi bayangan hitam yang berukuran besar di belakang Megan membuat mulutnya bungkam. Dia tidak lagi memperdulikan kekasihnya dan segera melarikan diri dari rumah tersebut. “Kamu ingin ke mana, Jae?” tanya Megan sedikit berteriak, tetapi Jae sama sekali tidak menjawab pertanyaannya dan semakin berlari menjauh. (Cek info visual setiap tokoh di sosial media author, ig : secrett_zr, sss : secrett_zr, t****k : secrett_zr, dan join grup sss : Readers SecretZR)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN