10.Kematian

1651 Kata
Megan kembali ke Belgia dengan raut lelah yang terlihat jelas di wajahnya. Kecelakaan tunggal yang terjadi kepada kekasihnya membuatnya terpukul berat. Selain itu, dia juga harus mengurus jenazah kekasihnya dan ikut kembali ke negara asal mereka. Sesampainya di sana, dia juga menjadi samsak kemarahan orang tua kekasihnya karena mereka menyalahkannya, bahwa jika tidak menyusul dirinya, maka kekasihnya tidak akan kenapa-napa. Megan menghabiskan kurang lebih satu minggu di negara asalnya, tetapi setelah itu dia harus kembali lagi ke Belgia karena kuliahnya masih terbengkalai. Ia menyeret langkah lelahnya memasuki rumah yang dia tempati selama di Belgia. Hawa dingin langsung menusuk kulitnya, dan udara itu sangatlah berbeda dengan udara di luar yang terasa sangat panas. Namun, karena kelelahan, dia tidak terlalu peduli dan segera menjatuhkan tubuhnya pada sofa empuk di ruang tamu. Bayangan kekasihnya kembali memasuki pikirannya. Teringat tentang kisah bahagia yang pernah mereka lalui bersama. Sungguh, dia tidak menyangka bahwa kekasihnya saat ini sudah tidak ada lagi di dunia. Ia menghembuskan napas berat. Membawa pandangan menelusuri setiap sudut ruangan. Rumahnya tampak baik-baik saja selama dia tinggalkan beberapa hari. Tidak ada yang berubah, hanya saja semakin terasa dingin. Setelah beberapa saat, dia beranjak dari duduknya, membawa barang-barangnya ke lantai atas dan memasuki kamarnya. Tepat melewati pintu kamar, indra penciumannya menangkap aroma yang biasanya selalu dia cium di dekat pintu tersebut. Aroma wangi yang sulit untuk dijelaskan, dan belum pernah dia cium di mana pun sebelumnya di tempat lain. Biasanya dia tidak terlalu memperdulikan aroma itu, tetapi saat ini aroma tersebut menarik perhatiannya. Dia melepaskan pegangannya pada koper kecil yang dia bawa. Memundurkan badan dan mencari asal dari aroma tersebut. Mendekatkan hidung pada pintu dan kusen, tetapi aroma yang dia cium itu tidak berasal dari sana. Dia juga mencoba menjauh sebanyak beberapa langkah dan tidak lagi mencium aroma itu, tetapi setelah kembali mendekatkan badannya, aroma tersebut kembali memenuhi indra penciumannya. Seakan aroma itu hanya terdapat pada bagian tengah pintu, dan tidak pernah pudar meski dia sudah meninggalkan rumah selama berhari-hari. Tidak menemukan jawaban apa-apa. Dia memutuskan untuk mengabaikannya dan membawa langkahnya ke arah ranjang. Merebahkan tubuh lelahnya di sana dengan pikiran yang masih berkelana pada bayangan indah bersama kekasihnya dulu. Tidak membutuhkan waktu lama, dia akhirnya tertidur. *** Megan terbangun ketika matahari sudah kembali menyinari bumi, mengintip ke dalam kamarnya secara malu-malu di balik hordeng balkon yang tidak sepenuhnya tertutup. Dia dengan perlahan membuka mata. Merentangkan kedua tangannya untuk meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku, seraya mengerjapkan mata beberapa kali untuk membiasakan retinanya terhadap cahaya. Tubuhnya saat ini sudah jauh lebih baik dan segar. Dia seakan kembali hidup lagi setelah beberapa hari mengalami hari yang amat sangat sulit. Selain itu, suasana hatinya juga sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Dia mengalihkan pandangan pada jam yang terdapat di kamarnya. Melirik jarum jam yang sudah menunjukkan pukul enam pagi, dan dia pun baru menyadari bahwa dia sudah tertidur cukup lama. Sebab, kemarin dia menginjakkan kaki negara yang dia tempati saat ini pukul 11.00. Sampai di rumah sekitar pukul 11.30 dan dia menghabiskan waktu untuk istirahat sejenak sekitar setengah jam sebelum akhirnya memasuki kamar. Bisa dikatakan dia tidur dari pukul 12.00 siang hingga pagi tanpa terbangun sama sekali. Serta, dia baru menyadari bahwa dia tidak lagi bermimpi tentang hal-hal erotis yang biasanya dia alami. Sepertinya kejadian naas yang terjadi pada kekasihnya mengubah pola tidurnya dan tidak ada lagi keinginannya untuk memikirkan hal-hal demikian. Ia beranjak dari ranjangnya. Membuka pintu balkon dengan lebar dan menghirup segarnya udara pagi yang sudah cukup lama tidak dia rasakan. Namun, ketenangan yang dia rasakan seketika sirna melihat tatapan aneh salah satu tetangga yang melihatnya. Entahlah. Dia tidak tahu kenapa semenjak menempati rumah itu, para tetangga selalu menatap aneh kepadanya. Ia mengabaikan tatapan tersebut. Kembali memasuki kamarnya tanpa menutup pintu balkon agar udara segar tetap memasuki kamarnya, lalu ia pun beranjak ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Namun, sesampainya di sana dia melihat water heater sudah menyala, padahal dia yakin mematikannya terlebih dahulu sebelum ia mengurus kepulangan jenazah kekasihnya. Lalu, kenapa tiba-tiba benda itu menyala? “Apakah aku salah ingat?” gumamnya. Mencoba untuk mengingat-ingat kembali, dan setelah itu dia meyakini dirinya bahwa dia memang lupa mematikannya. Mungkin karena pikirannya sedang kalut tentang berita kematian kekasihnya dan dia juga terburu-buru. Yang tadinya ia berniat untuk mandi air dingin, tetapi sekarang tidak jadi dan memutuskan untuk mandi air hangat karena kebetulan water heater itu menyala. Dia melakukan aktivitas mandinya seperti biasa. Setelah selesai, dia keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang terbalut handuk, dan ia pun menempatkan tubuhnya pada kursi meja riasnya. Mulai membubuhkan riasan tipis ke wajahnya yang terlihat sedikit pucat karena belum makan sedari kemarin siang. Kekasihnya masih terbayang di pikirannya, tetapi entah kenapa dia tidak lagi merasa sedih seperti beberapa hari sebelumnya. Seakan dia sudah mampu menerima kenyataan atas kematian kekasihnya. Hal itu sangat aneh dia rasakan, tetapi hatinya terasa cukup lega dan tidak ada beban. Saat ini, riasan tipis sudah menghiasi wajahnya. Wajahnya sudah terlihat lebih segar dan cukup berwarna dengan gincu nude yang dia poles pada bibir plumnya. Serta, dia juga menggunakan sedikit sapuan blush-on pada kedua pipinya. Setelah selesai, dia menyempatkan diri untuk memesan makanan dan barulah berganti pakaian, serta mempersiapkan keperluan kuliahnya. *** Seusai kampus, Megan kembali bersama teman-temannya. Beberapa orang pria juga ikut karena terdapat tugas kelompok yang harus mereka kerjakan. “Apakah kamu sudah lama tinggal di sini?” tanya Bertan, seraya melayangkan pandangan pada rumah cukup besar yang ditempati oleh Megan. Membawa langkahnya semakin memasuki rumah tersebut dan mendudukkan tubuhnya di sebuah sofa yang terdapat di ruang tamu. “Sudah satu semester. Sedari aku menempati negara ini,” jawab Megan. Pandangannya tertuju kepada Bertan, kemudian beralih pada benda pipih yang saat ini dia genggam. Memesan beberapa makanan sebagai cemilan ketika mengerjakan tugas nanti. Teman-temannya yang lain juga menempati sofa di ruang tamu tersebut. Mengeluarkan peralatan yang mereka butuhkan dan mulai mengerjakan tugas secara bersama-sama. Kegiatan mereka diiringi oleh candaan kecil untuk mencairkan suasana. Jika yang lain sibuk dengan kegiatan tugas kelompok, berbeda dengan Bertan yang sibuk memperhatikan Megan. Dia terlihat terpesona dengan kecantikan seorang Megan. Sejujurnya, dia sudah cukup lama menyukai Megan, tetapi sebelumnya dia tidak bisa mendekati Megan karena Megan sudah memiliki kekasih, terlihat dari story yang selalu Megan upload di sosial media. Namun, sekarang dia juga tahu bahwa kekasih Megan sudah meninggal, dan berita tentang kecelakaan yang menimpa kekasih Megan juga menggemparkan negara mereka. Oleh karena itu, saat ini dia ingin mendekati Megan secara bertahap dan akan menjadikan Megan menjadi kekasihnya ketika Megan sudah mampu melupakan kekasihnya secara seutuhnya. Tidak berselang lama, Megan berdiri dari duduknya ketika pesanannya sudah sampai. Pandangan Bertan masih tertuju kepada Megan, memperhatikan tubuh ramping Megan yang terlihat begitu mungil. Semakin lama, rasa sukanya kepada Megan semakin menjadi-jadi. Dia sama sekali tidak bisa mengalihkan pandangannya dari pesona wanita berdarah Asia itu. Tubuh Megan yang ramping, tidak terlalu tinggi dan memiliki wajah yang bulat, benar-benar kriterianya. “Ini cemilan. Makanlah terlebih dahulu,” ucap Megan sembari menyajikan cemilan yang dia pesan tadi kepada teman-temannya. Mereka pun memutuskan untuk berhenti terlebih dahulu dan menikmati cemilan yang disajikan oleh Megan. “Jika seandainya aku berkunjung ke sini untuk menghilangkan suntuk di saat kita tidak mengerjakan tugas, apakah boleh?” tanya Bertan. “Rumahmu sangat nyaman, adem dan bagus untuk refreshing. Aku tertarik dengan rumahmu, dan sepertinya aku akan sering berkunjung ke sini,” lanjutnya. “Boleh. Tidak masalah. Datanglah sesukamu,” jawab Megan. Membuat senyuman terukir di bibir Bertan. Sedangkan teman-teman yang lain langsung meledekinya karena modusnya untuk mendekati Megan terlihat sangat jelas. Selesai ngemil, mereka kembali sibuk dengan tugas kampus mereka. Namun, Bertan merasa perutnya tidak nyaman dan menanyakan keberadaan toilet kepada Megan untuk menyelesaikan masalah pada perutnya. Setelah mendapatkan arahan. Dia langsung berdiri dari duduknya dan semakin memasuki rumah dua tingkat tersebut. Menuju ke arah belakang dan memasuki ruangan yang dia yakini adalah toilet, karena sesuai dengan ciri-ciri yang disebutkan oleh Megan. Tebakannya sangat tepat. Ruangan yang dia temukan benar-benar toilet, tetapi ketika dia baru saja memasuki tempat itu, hawa yang sangat dingin langsung menusuk kulitnya. Mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari keberadaan AC, tetapi dia tidak melihat benda itu di sana, bahkan ventilasi pun tidak ada. Dia mengabaikan keanehan dari rasa dingin yang tidak biasa itu. Langsung menyelesaikan urusannya. Lalu ia pun berdiri di depan cermin sembari memperbaiki penampilannya. Namun, di saat itu juga lampu toilet tiba-tiba mati, disertai dengan pintu yang tiba-tiba terkunci. “Hahaha … berapa usia kalian? Tidak seharusnya kalian bercanda seperti anak kecil,” ujar Bertan seraya masih merapikan rambutnya. Namun, wajahnya langsung berubah serius ketika benda yang berada di toilet itu bergerak dengan sendirinya. Ia juga dikejutkan oleh keran yang tiba-tiba menyala. Rasa panik sudah menghantuinya. Dia hendak berlari keluar, tetapi kaki dan tubuhnya tidak bisa untuk digerakkan. Bahkan untuk sekedar membuka suara pun dia juga tidak bisa. Sebuah tulisan terbentuk pada cermin besar yang berada di depannya. Tulisan itu berisikan kata-kata untuk segera menjauhi Megan. Tertulis jelas dengan cairan berwarna merah dan cairan dari tulisan itu mengalir ke bawah, bercampur dengan air keran yang saat ini masih menyala. Rasa panik sudah kian dirasakan oleh Bertan. Dia ingin berlari dari ruangan itu secepatnya, tetapi dia sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Setelah beberapa menit kemudian, ruangan itu kembali seperti semula dan dengan perlahan tubuhnya sudah mulai digerakkan, tetapi dia tidak ingat apa yang sudah terjadi. Dia berjalan seperti biasa ke arah luar dan keluar dari toilet. Namun, saat ini dia terlihat sangat berbeda dari sebelumnya. Dengan tatapan yang terlihat kosong, dia membawa langkah kembali ke arah teman-temannya dan duduk di sofa tanpa berbicara. Bahkan, dia tidak lagi melihat kepada Megan seperti yang dia lakukan sebelumnya. Tatapannya terlihat sangat kosong dan muram. *** Pada malam harinya, Megan kembali mengalami mimpi erotis seperti yang dia rasakan pada malam beberapa hari sebelumnya. Namun, bedanya, sesuatu terasa memaksa masuk ke dalam organ sensitifnya. (Cek info visual setiap tokoh di sosial media author, ig : secrett_zr, sss : secrett_zr, t****k : secrett_zr, dan join grup sss : Readers SecretZR)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN