Part 18

1727 Kata
Rama POV Malam menjelang saat aku dibangunkan Febri masih dengan suhu badan yang panas. Kupikir tadi Nissa yang membangunkanku, tahunya bukan. Memang begini nasib pengantin baru tapi harus segera pergi untuk training camp. Yang tadinya bangun tidur, entah pagi, entah tidur kapanpun itu lihat istri, sekarang jadi lihat si Febri. Masih kucoba membuka mata dengan susah payah. "Salat magrib, woy!" bentaknya karena aku tidak kunjung bangun. Aku langsung bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi, membuatnya terkekeh di atas tempat tidur sementara kudengar pemain lain tengah sibuk bercanda-canda. Waktu magrib memang sudah hampir habis. Seandainya ada Nissa di sini, sudah pasti Nissa mengomel dengan wajahnya yang lucu itu agar aku segera salat. Harus tepat waktu dan jika tidak hujan harus ke masjid. Dia istri yang baik. Usai menjalankan salat magrib, Febri mengajakku turun ke bawah. Tunggu, sebelumnya dia sudah menawariku membawakan makan malam ke kamar saja, biar aku istirahat tapi aku tolak. Hanya demam biasa, nanti juga turun, toh aku sudah bawa obat dari Nissa. Tapi ya masa' mau dibawakan makan ke kamar, kan kelihatan aja manja gitu. Kalau yang bawain Nissa sih jelas nggak akan nolak. Kubuka koperku dan aku tersenyum saat melihat satu kotak obat yang cukup lengkap. Aku pikir ketika Nissa bilang dia membawakanku Paracetamol ya hanya itu saja. Nyatanya banyak obat-obatan lain yang dia bawakan. "Gila, jadi apotek berjalan sekarang lu, Capt," tegur Febri yang melihat kotak bening dengan banyaknya obat-obatan itu. "Istri yang bawain," jawabku dengan bangga. Entah tapi aku bangga saja mengatakan jika Nissa yang membawakannya. Selain tanda bahwa sudah punya istri, eh, perhatian sekali lagi kan. Biar dia pengen dan segera menikah. "Istri, istri, istri, bisa gila gue!" Keluh Febri keluar lebih dulu dari kamar. Kubawa satu kotak itu mengikuti Febri ke tempat dimana makan malam akan dilaksanakan, juga akan segera merapat untuk memulai training camp kali ini. Hanya materi sepakbola biasa sebelum esok pagi segera terjun ke lapangan. Aku tersenyum getir ketika melihat banyak sekali makanan tapi aku tidak selera. Terlebih harus mengambil sendiri, biasanya Nissa yang mengambilkan dan mengharuskan aku makan meski aku tidak ingin makan. Aku sungguh merindukan kehadirannya. "Rama," sapa Papi. Kujelaskan, Papi itu dokter khusus timnas U-23, beliau sedikit gemuk dan berkumis. Semua pemain memanggilnya Papi, dokter andalan kami. "Iya, Pi," jawabku menjabat tangannya. "Demam kau?" Tanyanya menyentuh dahiku. Kalian tahu siapa yang aku ingat sekarang? Nissa. Iya, aku justru terbayang Nissa ketika menyentuh dahiku. Dia sangat lembut. "Sudah minum obat?" "Ah, ini, Pi. Tadi dibawakan obat sama istri, benar atau tidak ya?" Menunjukkan satu kaplet Paracetamol. "Oh iya, ini Paracetamol. Istrimu perhatian sekali membawakan obat sakit gigi segala, obat magh sampai obat diare pun ada. Hahaha." Sambil melihat-lihat isi kotak obatku. "Alhamdulillah, Pi." "Jangan-jangan kau ini demam karena keseringan olahraga malam ya? Tadi Papi dengar kamu habis honeymoon," canda Papi yang sudah kuyakini beliau tahu dari David dan Febri. Dua manusia itu kadang suka lemes mulutnya kalau lagi sama pemain timnas atau official. Aku ingin menjawab seperti saat aku menjawab candaan yang sama tadi siang. Tapi tak akan mungkin bercerita pada Papi. Bisa ditertawakan habis-habisan aku punya istri yang polosnya minta ampun. "Habis ini kau istirahat, jangan tidur terlalu malam! Besok harus sembuh!" Sambil menepuk bahuku. Mengangguk. Jika biasanya aku suka berkumpul dulu dengan rekan lain di meja makan, sekarang aku lebih pilih masuk ke dalam kamar lebih dulu. Badanku masih tidak karuan rasanya, dan aku juga ingat belum menyentuh ponselku sejak tadi. Ada kabar apakah? Hanya aku sendiri yang naik lebih dulu, itu pun atas izin offisial agar aku beristirahat. Besok benar-benar sudah mulai latihan di lapangan, banyak yang harus dipelajari, semakin intens juga. Lumayan lah target yang ditetapkan oleh PSSI, semifinal di Asian Games, dengan musuh-musuh kelas dunia. Jujur itu cukup berat, dan harusnya memang sedikit realistis dengan peta kemampuan Timnas Indonesia. Tapi aku ingat kata Ibuku, selama Allah Swt. berkehendak, apapun yang kita inginkan pasti diberi. Kulihat ponsel yang sejak tadi tergeletak di atas meja kecil dekat tempat tidur. Banyak sekali notifikasi yang masuk, paling ramai jelas i********:. Tiap hari dapat DM, tag gambar, komentar, like, jika tidak dengan spesifikasi bagus, bisa rusak ponselku hanya karena banjir notifikasi. "Nissa?" gumamku. Aku ingat tak mengabari Nissa hari ini, rasanya percuma sudah bilang rindu di hari pertama bahkan belum sampai setengah hari berpisah dengan Nissa tapi aku juga tidak menghubunginya begitu sampai di Bali. Kutelepon ulang sampai beberapa kali. Sedikit heran juga Nissa sampai menelponku lebih dari 31 kali. Kenapa dia sampai segitu banyaknya? Sebelumnya dia meneleponku sana jarang. Suara beratnya yang di seberang seperti habis menangis, menjawab salam ku begitu parau. "Niss, are you oke?" "Mas gimana? Sudah mendingan, Mas? Kenapa nggak ngabarin Nissa?" Menghela napas. Dia tidak menjawab pertanyaanku tapi dia justru melontarkan banyak pertanyaan. Sepertinya dia sedang ada masalah, dari suara paraunya itu jelas sekali. Mungkin dia enggan membuat aku khawatir atau memang dia belum bisa bercerita. Sayangnya aku juga begitu, tidak mungkin menjawab pertanyaan Nissa yang terakhir dengan tepat. Kalau aku bilang lupa karena kelelahan dan tidur, bisa jadi dia khawatir. Percaya diri sedikit boleh kan? "Sudah. Maaf tadi sampai langsung sibuk sama offisial tim." Astaghfirullah, malam-malam begini lagi LDR, masih sempetnya bohongin istri. "Maaf kalau Nissa ganggu, Mas," katanya selalu meminta maaf untuk hal-hal yang sebenarnya tidak berarti apa-apa. "Enggak, Mas malah seneng kalau kamu yang ganggu, Niss. Mas boleh bilang sesuatu?" "Apa, Mas?" "Mas rindu sama Nissa," kataku begitu lembut. Ini benar-benar dari hati, aku jujur sekali tentang ini. Yang di seberang diam cukup lama. Atau mungkin terkesan sangat lama bagiku yang menunggu jawaban cepatnya. Mungkinkah dia juga merasakan hal yang sama atau hanya aku saja? "Nggak apa-apa kalau Nissa nggak rindu sama Mas. Mas cuma pengen ngomong aja sama Nissa. Biar Nissa tahu." Tetap saja belum ada jawaban. "Cewek Bali cantik-cantik, Mas?" Benar-benar enggan menanggapi kata rinduku. Memang jelas sekali sekarang hanya aku, Nissa belum merasakan apapun. Rasanya aku harus sedikit bersabar. Aku tersenyum kecil. "Belum sempat lihat cewek Bali." "Loh memangnya jalan dari Bandara ke hotel sambil merem?" "Maksudnya yang di pantai, Nissa. Cewek yang di pantai Bali kan..." "Stop! Mas ndak boleh ke pantai!" Kedua alisku terangkat. Kenapa Nissa jadi sedikit posesif begini? Aku sungguh berharap Tuhan segera memperjelas perasaan kami berdua. Tidak enak rasanya menikah tanpa perasaan apapun, tidak leluasa, apalagi ketika baru satu saja yang memiliki rasa. "Kenapa, Niss?" "Ya, ya." Nissa terdengar sedang terbata. "Angin pantai kan kenceng, nanti Mas sakit lagi." "Tenang, Mas lebih suka memandangmu lekat kok, Niss." Yang di seberang juga langsung diam. Aku membayangkan Nissa sedang tersenyum, tersipu malu dengan pipi merahnya. Aku selalu menyukai itu. "Mas janji nggak nakal di sini, Niss. Tapi janji juga ya jangan keseringan mantengin instagramnya Miftahul Hamdi, sudah punya istri dia. Hehehe." Nissa terkekeh kecil di ujung sana. "Bisa Mas minta foto kamu sekarang?" Jujur bukan soal apa-apa, jika hanya soal rindu aku punya puluhan foto Nissa di ponselku. Sudah cukup untuk menjadi teman tidurku. Masalahnya aku ragu dengan kondisi Nissa, suaranya begitu parau beberapa kali. Seperti orang habis menangis. "Untuk apa, Mas?" "Obat rindu." "Mas kenapa sekarang jadi kaya gini? Bersikap manis, banyak bicara..." "Boleh atau tidak? Kenapa setiap yang Mas lakukan harus ada alasannya, apa suami perlu alasan jelas ketika minta satu foto istrinya." Nissa terdiam cukup lama. Bukan bermaksud membentak Nissa sebenarnya, aku hanya tidak sabar ingin mengetahui kondisi Nissa sekarang. "Sebentar," katanya dan aku bersedia menunggu. Pesan masuk dari Nissa setelah satu menit. Satu foto dengan mata tertutup oleh tangan tapi bibirnya mengembangkan senyum yang selalu manis. "Kamu habis nangis, Niss?" "Enggak," jawab Nissa cepat tapi terdengar menutupi sesuatu. "Mas keturunan dukun lho, Niss. Kamu tahu kan dukun Jawa Timur manjur?" "Musyrik!" "Ada apa?" tanyaku lembut, aku sungguh ingin menjadi tempatnya bercerita. "Enggak, cuma masalah kecil di KKN, kata Kakak tingkat masalah semacam ini biasa. Cuma Nissa sedikit sakit hati saja. Nissa minta maaf sebelumnya ganggu Mas malam-malam begini cuma buat dengerin keluhan Nissa. Harusnya Nissa bisa jadi istri yang pengertian, sauminya udah jauh, lagi sakit, lagi fokus sama latihan, eh masih harus dengerin Nissa mengeluh soal masalah nggak penting." Kudengar tangisnya begitu jelas dengan angin yang sesekali bertiup. "Nissa manja ya, Mas? Cuma masalah nggak penting aja nyariin suami." Jujur aku tidak mengerti masalah tidak penting yang dia maksud itu apa tapi aku mencoba memahami dia saja. Terlebih mendengar tangisnya yang tidak terbendung, seolah ada sesak yang aku rasakan. "Nissa tahu sekarang Mas pengen ngapain?" "Ngapain?" "Pengen meluk kamu," kataku 100% jujur. Aku ingin memeluk Nissa dan menenangkannya. "Mas nggak paham apa masalah Nissa, tapi Mas tahu Nissa adalah perempuan yang tangguh. Menghadapi Mas yang dingin saja Nissa tidak menyerah, soal masalah ini pasti Nissa juga nggak pengen menyerah kan?" Nissa tak menjawab. "Soal manja, Mas pengen kamu selalu manja sama Mas. Apalagi kalau Mas lagi di dekat Nissa, boleh banget tuh. Melukin, mainin rambut kaya kemarin malam, atau yang lebih panas dari itu," candaku ingin dia tersenyum. "Mas! Kenapa masih bahas kaya gitu! m***m!" Protesnya yang kubayangkan dia sedang cemberut tapi pipinya merah merona. "Tunggu aja kalau Mas pulang, Niss. Hehehe." "Apa sih, Mas? Nggak usah pulang kalau gitu sampai Nissa siap!" "Ya harus siap." Aku hanya menggodanya. "Ihhh apa sih? Mas makin nggak jelas! Sudah ya, Nissa tutup assalamualaikum!" Klik... Telepon mati begitu saja tanpa menunggu jawaban salam dariku. Nissa berhasil membuatku tersenyum malam ini, meski aku benar-benar sedang ingin kembali dan memeluknya. "Astaghfirullah," teriakku kaget karena ada David, Bagas, Ricky Fajrin dan Febri yang ternyata menguping pembicaraanku dari pintu kamar menuju balkon. Iya, aku memang menerima telepon di balkon. "Sadis gila! Sama istri masa' kaya gitu, mau olahraga malam aja pakai bumbu-bumbu ancaman segala," David menggeleng ketika aku melaluinya. "Pantas dikatain m***m. Orang mau olahraga malam aja pakai bilang, dibahas-bahas dulu. Kalau langsung aksi pasti nggak dibilang m***m," timbrung Febri. "Hahaha, ngakak gue. Tinggal gas aja kenapa sih? Udah halal juga. Kalau omong doang malah kesannya lu kaya laki-laki penggoda, Capt!" Masih David. Bagas dan Ricky memilih diam meski dia juga tertawa. Habis mereka nggak banyak tahu tentang cerita ini. "Iya?" Aduh kenapa bibirku harus menanggapi mereka. Harusnya aku diam saja daripada jadi bahan bullyan malam ini. "Ah, dia yang udah nikah, kita yang lebih ngerti, Vid." "Hahaha, iya, Feb. Nggak garang dia sama istrinya. Konyol." Bagas dan Ricky kembali hanya tertawa. Daripada mendengarkan ocehan mereka. Lebih baik tidur saja. Lelah rasanya dibully terus karena belum melakukan apa-apa dan dibilang m***m sama Nissa. Mereka tidak akan ada habisnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN