Kelahiran dan Rasa Bersalah

1422 Kata
"Aww ssh!" ringis Maia, tangannya terulur meraih perutnya yang terasa sakit. Rasanya sakit semula seperti rasa sakit saat ia sedang mules biasa. Namun, kemudian rasa sakit itu berubah kian terasa, ada rasa ngilu dan juga panas di bagian punggungnya. Ia bahkan merasakan seperti berhasrat untuk pergi ke toilet terus menerus. Seperti ingin buang air besar, tetapi tidak ada yang keluar selain rasa sakit yang ia rasa. Wajah Maia berubah pucat, bagian bawah bibir berwarna pink muda itu kini telah memiliki luka bekas gigitan Maia untuk menahan rasa sakitnya. Peluh bercucuran di area dahinya. Sesekali ia terlihat mengatur nafasnya, namun rasa sakit itu terus menjadi-jadi. Maia bergerak perlahan meraih ponselnya, ia menghubungi seorang sahabatnya untuk meminta pertolongan, membawanya ke rumah sakit dan mengabarinya jika akan segera melahirkan. "Sabarlah, aku akan segara kesana. Bertahanlah," tutur seseorang bernama Lany dari seberang sana sebelum sambungan telepon itu terputus. Tangan Maia kini bergerak meraih pena, ia menulis sepucuk surat untuk Grace yang saat ini sedang pergi berbelanja bulanan di swalayan. Ia meletakkan kertas itu di atas meja makan. Sembari menapakkan kakinya selangkah demi selangkah menuju kamar, ia terus menerus mengatur nafasnya. "Huh! Huh! Huh!" Rasa sakit itu sungguh amat tak terkira. Maia menyeret sebuah koper kecil berisi perlengkapan saat ia melahirkan yang telah ia siapkan jauh-jauh hari. Tak lupa ia juga membawa dompet serta ponsel yang ia masukkan ke dalam sling bagnya. Ia meletakkannya di ruang tamu. Sembari menunggu sahabatnya datang ia berjalan mondar-mandir dan melakukan sedikit gerakan berjongkok lalu kembali berdiri untuk mengurangi rasa sakitnya. Namun, rasa sakit itu terus dan semakin menyerangnya. "Oh, Sayang. Apakah kamu ingin segera merasakan dekapan hangat Ibu, hem? Tolong bantu Ibumu ini, Sayang," tuturnya lirih seraya mengusap-usap perutnya. Tap tap tap Suara derap langkah kaki terdengar ketara, suaranya begitu nyaring dan bersahutan pertanda tak hanya seorang yang sedang berlari ke arahnya. Maia dengan sigap membuka pintunya. Benar saja, ia melihat ketiga sahabatnya berdiri dengan nafas terengah beberapa senti di depan pintu apartemennya. "Astaga, kamu mengeluarkan darah." Lany menunjuk ke arah kaki Maia yang dialiri oleh darah segar. Ia terlihat begitu panik. Seorang diantara ketiganya adalah pria tampan blasteran dengan tubuh yang kekar. Ia langsung maju dan meraih tubuh Maia ke dalam gendongannya. Sementara Lany dan Kate mereka berbagi tugas membawa koper dan tas milik Maia. Mereka berjalan membuntuti di belakang Andrew. Begitu telah dekat dengan mobil, tangan Lany terulur membuka mobil milik Andrew dan meminta Andrew segera mengendarainya. Perjalanan yang mereka tempuh sekitar lima belas menit, saat ini mereka tengah berada di sebuah rumah sakit terdekat dari apartemen Maia. Ketiganya kini sedang duduk di kursi ruang tunggu tepatnya di depan ruang bersalin. Tiga jam, mereka akhirnya mendengar suara bayi, bukan hanya satu. Namun, ada dua suara yang mereka dengar. Mereka sungguh tak sabar ingin melihatnya. Mereka kini berdiri tepat di depan pintu ruangan Maia di rawat, mereka tak sabar menunggu dokter keluar dari sana dan meminta ijin untuk melihat Maia beserta anaknya. Begitu dokter keluar dan mengizinkan mereka masuk, ketiga terlihat antusias. Mereka bahkan sampai tidak memperdulikan penampilannya yang berantakan dengan pakaian yang terkena bercak darah Maia. Maia tersenyum bahagia menyambut ketiga sahabatnya, ia merentangkan tangan meminta pelukan dari ketiganya. "Terima kasih atas kebaikan kalian kepadaku," tutur Maia yang membuat ketiganya terharu. "Jangan berkata begitu, Mai. Kita ini lebih dari teman dekat, bahkan sudah seperti saudara. Its ok, no problem," tutur Kate. Maia menganggukkan kepalanya, ia kembali tersenyum. Wajahnya terlihat begitu lelah tak bertenaga, bibir pinknya kering dan pecah-pecah. Tubuhnya masih terbaring di atas brankar. Ia memandangi ketiga sahabatnya yang asik menggoda putra putrinya. "Aa, kamu tampan sekali. Matamu begitu indah seperti ibumu, kamu pasti akan menjadi idola kamu wanita," tutur Lany sembari terkekeh. "Lihatlah! Dia cantik sekali, matanya tak kalah indah, tetapi dia-" tutur Kate menggantung sambil memperhatikan wajah Maia. "Dia sama sekali tak mirip denganmu," tutur Kate jujur. Mendengar ucapan kedua sahabatnya itu membuat Maia teringat akan sosok mantan bos yang merupakan ayah dari kedua anaknya. "Putra putrimu telah lahir, maaf jika aku memilih pergi dan mempertahankannya. Mereka satu-satunya yang kumiliki," batin Maia sembari menitikan air mata. Adrew yang melihatnya pun bergerak mendekat mengulurkan tangannya menyusut air mata yang jatuh di pipi Maia. "Apa kau menangis bahagia?" Maia mengangguk, ia memeluk Andrew dengan erat dan kembali menangis. "Aku sangat bersyukur dan bahagia. Aku terharu, An," tuturnya. "Mereka anak-anak yang rupawan dan sempurna. Kamu sangat beruntung memilikinya, Mai. Aku akan siap membantumu jika kau membutuhkannya." Andrew berkata dengan nada lembut dan sedikit berbeda, Maia menyadari itu tetapi ia tak menanggapinya. *** Seorang laki-laki gagah dan rupawan melempar sebuah map keatas meja. Wajahnya terlihat sangat frustasi. "Sudah hampir setahun lamanya, Jo. Kamu bahkan tak bisa menemukan jejaknya?" Bagas menyunggar rambutnya berulang kali dengan kasar, wajah yang biasa terlihat dingin dan menakutkan itu kini berubah menjadi sendu. Ada kesedihan yang terpancar di matanya. Sudah segala upaya telah Bagas lakukan, ia bahkan menghabiskan banyak waktu serta tak sedikit uang untuk mencari keberadaan Maia-nya, tetapi ia sama sekali tak bisa menemukannya. Wanita yang saat ini mengandung buah hatinya itu menghilang bagaikan ditelan bumi. "Aku lama-lama bisa gila jika aku tak bisa bertemu dengannya, Jo. Tolong bantu aku mencarinya, aku ingin bertemu dan meminta maaf kepadanya. Cari detektif atau apapun itu yang paling terbaik untuk membantumu." Bagas mendudukkan tubuhnya yang terasa lemas di atas sofa panjang yang terdapat di ruangan kerjanya. Wajahnya tertunduk lesu, air wajahnya terlihat sendu dan sorot matanya nanar. Hatinya dipenuhi rasa bersalah atas perlakuannya terhadap Maia. Sungguh ia ingin menebusnya, ia ingin memperbaiki semuanya. Namun, apa dayanya? Dengan kekuasaan yang ia miliki pun tak bisa membuat Maia-nya segara kembali. Tok tok tok Suara ketukan pintu yang diketuk berulang kali membuat Bagas segera beranjak dari tempat duduknya, ia merapikan penampilannya sebelum kemudian duduk di singgasananya. Kepalanya mengangguk, mengisyaratkan kepada Jo untuk membukakan pintu. Seorang wanita dengan pakaian minim dan seksi berjalan anggun memasuki ruangan, parfumnya seketika menyeruak memenuhi segala penjuru ruangan. "Mengapa kau tak membalas pesanku, Sayang?" tanyanya dengan suara lembut memanja. Wajah Bagas sudah kembali datar, ia duduk dengan santai di singgasananya menatap kedatangan Selina, wanita yang saat ini berstatus sebagai tunangannya. Ia diam, tidak menanggapi Selina. Ah, lebih tepatnya malas. "Apa kamu sibuk, Sayang? Apakah kita bisa makan siang bersama? Atau-" tuturnya menggantung, bibir dengan lipstik merah menyala itu membentuk sebuah lengkungan senyum dengan ujung bibir ia biarkan terbuka agar terlihat menggoda. Bagas menatapnya dengan sorot mata tajam, tetapi wanita itu begitu bebal. Ia justru bergerak mendekat dan dengan rasa malu duduk di atas pangkuannya. Sebelah tangannya mengalung di leher Bagas, sementara sebelahnya lagi ia gunakan untuk memainkan dasi Bagas dengan gerakan menggoda. Wanita di pangkuannya ini, telah ia kenal sejak ia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, wanita ini juga yang membuat hidupnya selama sekolah tidak pernah tenang karena terus-terusan mengejarnya, meski Bagas telah menolak lebih dari ratusan kali. Namun, Selina tetap bersikeras mengejarnya. "Aku sedang banyak pekerjaan, Selina! Pergilah! Aku sedang tidak ingin diganggu!" Bagas meraih kedua tangan Selina lalu mendorong tubuh wanita itu menjauh dari dirinya. Meski ia pria normal, entah mengapa hanya mencicipi bibirnya pun ia tak sudi. "Kau ini dingin sekali padaku, Sayang. Apakah kau butuh bantuan dariku untuk merubahmu menjadi hangat?" ucap Selina diiringi dengan kerlingan mata yang membuat Bagas murka. Bagas bangkit dari singgasananya, ia menggebrak meja kerjanya. Tatapan tajam lurus ke depan ke arah Selina, tangannya mengepal kuat. Jo yang semula hanya berdiri di sudut ruangan segera meraih lengan Selina dan menyeretnya keluar ruangan tanpa permisi. "Jo! Jangan kurang ajar kamu! Aku akan memecatmu nanti! Awas saja! Kau sungguh keterlaluan! Aku belum selesai bicara!" maki Selina tak terima mendapatkan perlakuan kasar dari Jo. Jo kembali masuk ke dalam ruangan, setelah memastikan Selina benar-benar meninggalkan gedung perusahaan Bagas. Sebelum masuk ia menghela nafas, mempersiapkan dirinya untuk kembali mendengarkan amukan sang majikan. "Hah! Wanita macam apa dia itu, Jo? Aku sungguh muak melihatnya!" "Bagaimana aku bisa hidup satu atap bersamanya nanti? Dia itu tak ubahnya seperti wanita jalang yang sangat menjijikkan!" "Bisa-bisanya Mama sama Papa memilih dia sebagai calon istriku! Benar-benar wanita gila!" Jo yang sudah paham dengan karakter majikannya itu pun hanya diam mendengarkannya saja, ia membiarkan bosnya mengeluarkan segala amarahnya hingga tuntas. "Jo, kenapa kamu hanya diam? Katakan sesuatu kepadaku!" Tatapan Bagas kini beralih ke arah Jo yang sedari tadi menunduk diam. Jo menahan nafas, ia sejenak berpikir. Menimbang-nimbang kata yang tepat dan tidak membuat Tuannya tersinggung. "Tuan, mohon bersabarlah sebentar saja. Dia adalah satu-satunya alat untuk membuat misi anda tercapai. Bukankah anda ingin membalas dendam dan menghancurkan keluarganya?" tutur Jo mencoba mengingatkan kembali tujuan awal Bagas. Bagas membenarkan perkataan Jo, ia memang harus lebih menahan egonya demi tujuannya awalnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN