Sadewa yang belum tertidur bisa mendengar suara Gista tengah menerima telepon dari Elang—kekasihnya. Entah kenapa di dalam hati Sadewa terasa begitu panas.
Tanpa disadari pun kedua telapak tangannya sudah mengepal begitu kuat. Ingin rasanya Sadewa menghajar dan menghabisi pria itu.
Meski bagaimanapun Gista sekarang adalah istrinya. Hak-nya. Dan, tidak ada seorang pun yang boleh mengambil atau memonopoli sesuatu yang sudah menjadi miliknya ini.
“Elang, kamu kenapa?” tanya Gista, khawatir.
“Ada orang yang menculikku.”
“Hah?!” Gista yang merasa kaget langsung segera mengubah posisi tidurnya menjadi duduk. Gista benar-benar syok jika memang ucapan Elang itu sungguhan. “Menculikmu? Siapa?”
“Entahlah. Ini aku sedang kabur.”
“Kamu kabur ke mana?”
“Entahlah, Bee. Aku rasa ini perbuatan suami sialanmu itu!”
“Ma-maksud kamu Sadewa?”
“Iya.”
Gista langsung menoleh ke belakang—menatap Sadewa yang masih tertidur dengan posisi miring. Entah apa tujuan dari pria ini sebenarnya.
“Bee,” panggil Elang, ketika tidak ada sahutan dari Gista. “Kamu sebaiknya keluar dari hotel itu. Aku rasa dia punya rencana jahat sama keluarga kamu.”
“Tapi—“ Belum selesai menjawab ucapan dari Elang, ponsel milik Gista sudah direbut paksa oleh Sadewa dan dimatikan langsung panggilan bersama Elang.
Nit!
“Sudah malam waktunya tidur bukan untuk telepon atau menerima telepon!” ucap Sadewa, sinis.
Gista yang ponselnya direbut merasa kaget luar biasa. Bahkan kini ponselnya dipegang oleh Sadewa. Gista ingin melawan tetapi sorot mata dari pria itu membuatnya takut terlebih dahulu.
Alhasil Gista menurut dan mulai merebahkan diri kembali di atas ranjang. Perempuan itu kepikiran soal kata-kata yang diucapkan oleh Elang.
Sedangkan Sadewa melihat ponsel milik Gista yang menampilkan nama kontak milik Elang. Pria itu tersenyum misterius dan memilih kembali tidur.
Beberapa jam kemudian.
Tepat pukul enam pagi, Sadewa sudah terbangun dan berpenampilan begitu rapi. Pria itu menatap ke arah ranjang—melihat Gista yang masih tertidur begitu nyenyak.
Sadewa yang terbiasa bangun pagi merasa jengah sendiri ketika mengetahui jika Gista masih tertidur di jam segini.
“Gista bangun!” ucap Sadewa, ngegas.
Tidak ada respon dari Gista membuat Sadewa menarik napas panjang dan mengembuskan dengan perasaan kesal. “GISTA!” ulangnya sedikit berteriak.
Lagi-lagi tidak ada respon yang membuat Sadewa benar-benar kesal. Sampai akhirnya Sadewa langsung menyibak selimut yang menutupi tubuh Gista.
Gista yang merasa kaget langsung membuka mata. Perempuan itu langsung terduduk dengan wajah bantalnya.
“Bangun dan mandi!” titah Sadewa, tegas.
“Aku masih ngantuk,” sahut Gista, merasa malas untuk mandi pagi-pagi buta seperti ini. “Lagian aku baru tidur dua jam,” sambungnya lagi ketika melihat arah jarum jam dinding yang menempel di tembok.
“Aku tidak menerima alasan! Cepetan mandi atau—“
“—Oke!” potong Gista, cepat. “Dasar iblis! Enggak manusiawi banget!” tambah Gista menggerutu pelan.
Gista langsung turun dari atas ranjang dan berjalan menuju ke arah kamar mandi. Perempuan itu segera mengguyurkan kepala dengan air dingin yang membuatnya segera berjengit kaget.
“Sialan! Kupikir sudah memutar air hangat,” omelnya menggerutu. “Ini semua gara-gara Sadewa! Lagian nyuruh bangun sama mandi di saat matahari belum muncul! Di rumah juga biasa bangun siang!” tambahnya mendumel panjang lebar.
Selesai mandi, Gista keluar dengan bathdrobe yang membalut tubuhnya. Perempuan itu menoleh kanan kiri ketika tidak mendapati sesosok Sadewa di dalam kamar.
“Baguslah pria iblis itu tidak ada,” komentar Gista, bermonolog.
Gista akhirnya bisa berjalan santai menuju ke arah koper miliknya. Ia merasa tidak takut dibentak-bentak lagi seperti tadi. Gista pun memutuskan untuk menggunakan dress selutut berwarna ungu muda. Tidak lupa perempuan itu menambahkan aksesori di kepalanya dengan bando yang berwarna senada.
Tidak ingin terlihat pucat, Gista memoles wajahnya dengan beberapa make-up. Ketika sudah terlihat cantik seperti aktris Korea, Gista pun keluar kamar dengan senyum manisnya.
“Acara sarapan bersamanya di mana, sih?” ucap Gista, mendumel sendiri.
Perempuan itu terus berjalan mengikuti instingnya saja. Gista langsung menuju lift dan menekan tombol ke arah bawah yang terdapat banyak beberapa restoran di sana.
Ting!
Ketika sampai di lantai lobby, Gista bertemu dengan Sarmilawati—Mamanya. Entah Mamanya habis pergi dari mana kenapa pagi-pagi sudah berada di lobby saja.
“Ibu!” sapa Gista, menghampiri Sarmila.
“Gista,” balasnya langsung menarik lengan sang anak. “Elang kenapa nomornya tidak aktif?”
Gista mengerutkan kening bingung. Semalam Elang menghubunginya dan mengatakan kalau dia tengah diculik oleh Sadewa.
“Dia sudah janji sama Ibu mau kasih uang buat bayar cicilan tas. Orangnya sudah ke sini menagih,” ujar Sarmila, memberitahukan Gista soal keresahannya. “Kamu ada uang?”
Gista menggeleng sebagai jawaban. Sedangkan Sarmilawati langsung mendengkus sebal ketika tahu kalau Gista tidak akan pernah punya uang karena belum bekerja.
“Andai Gendis tidak meninggal. Pasti Ibu tidak stress seperti sekarang ini, Gista!”
“Emang cicilan tas-nya berapa, Bu?” tanya Gista, merasa tertohok dengan kata-kata Ibunya yang merasa kehilangan Gendis. “Gista ada tabungan emas yang dikasih sama Mbak Gendis.”
“50 juta, Gista. Mana emasnya? Sekarang kamu ambil! Tapi jangan sampai Ayah tahu.”
“Iya, Bu.”
“Buruan Gista! Orangnya sudah menunggu di depan Lobby. Ibu tidak mau nanti keluarga Rajata tahu kalau tas yang dipakai ini hasil menyicil!”
“Iya, Bu, Iya.”
Gista akhirnya berbalik badan dan menuju ke dalam kamar pengantin lagi. Gista mencari kotak merah yang berisi perhiasan miliknya. Sengaja Gista bawa karena takut sewaktu-waktu akan butuh. Dan, benar saja Ibu-nya membutuhkan.
Buru-buru Gista keluar kamar. Akan tetapi baru membuka pintu kamar, mendadak berpapasan dengan Sadewa yang menatapnya curiga.
“Kamu bawa apa?”
“Bukan apa-apa.”
“Keluarga sudah menunggu. Ini ponsel kamu,” kata Sadewa, menyerahkan ponsel milik Gista sembari menatap curiga.
“Oh, makasih.”
Gista langsung berjalan pergi melewati tubuh Sadewa. Perempuan itu segera menemui Ibu-nya. Sedangkan Sadewa masih menatap curiga dan aneh ke arah istrinya itu.
“Apa yang dibawa sama gadis nakal itu?” gumam Sadewa, penasaran.
Sedangkan Gista sudah bertemu dengan Sarmila. Gista menyerahkan seluruh perhiasan miliknya itu. Sarmila sendiri mengusir Gista agar segera pergi dari hadapannya. Bahkan menyuruh Gista untuk cepat-cepat ke salah satu restoran—menghadiri acara makan pagi bersama keluarga.
Ketika sampai di dalam restoran, Gista merasa canggung sendiri. Di sana sudah terdapat Sukma, Aryo, Teguh, dan Sadewa.
Buru-buru Gista langsung menghampiri dan duduk di samping Sadewa. “Pagi, Ma, Pa, Yah,” sapa Gista, tersenyum manis.
“Pagi juga cantik,” balas Sukma, tersenyum manis. “Kalau pengantin baru auranya kenapa beda, ya,” sambung Sukma, meledek.
Gista hanya mesam-mesem saja menanggapi ledekan dari mama mertuanya. Lagipula ia tidak tahu harus bereaksi apa atas ucapannya itu.
Sampai akhirnya Sarmilawati datang dengan sedikit tergopoh-gopoh. Sarmilawai langsung duduk di samping Teguh.
“Whoa, lagi pada membahas apa, nih?” timbrungnya ikut tersenyum.
“Ini lho lagi membahas aura seorang pengantin baru yang berbeda. Tampak terlihat berseri-seri,” jelas Sukma, menatap Gista penuh kasih sayang.
“Hahaha, tentu saja, Jeng.” Sarmila ikut tertawa dan menatap Gista penuh kode. “Anak saya ini Pasti lagi bahagia banget karena semalam kalian pasti sudah—ekhem!” goda Sarmila, menatap Gista dan Sadewa secara bergantian.
“Sudah Ibu-Ibu sebaiknya kita makan,” lerai Aryo, tegas. “Kasihan Sadewa sudah kelaparan.”
Sadewa yang diledek hanya diam saja. Sampai akhirnya semua orang sibuk mengambil menu makanan di meja.
Gista sendiri langsung mengambil nasi beserta lauk-pauk lengkap untuk dirinya dan Sadewa. Semua orang yang melihat merasa begitu senang ketika Gista bisa melayani Sadewa dengan baik.
Sampai akhirnya acara sarapan bersama keluarga ini berjalan dengan lancar. Sadewa pun langsung mengajak Gista pergi dari restoran menuju ke dalam kamar hotel.
Ketika sudah berdua saja, Gista kembali menatap sengit ke arah Sadewa. “Mau sampai kapan kita seperti ini?”
“Maksudnya?”
“Pernikahan durjana ini.”
“Oh … sampai waktu yang tidak ditentukan.” Sadewa membalas dengan begitu enteng. Bahkan Gista yang mendengar merasa jengkel sendiri. “Sebaiknya sekarang ganti pakaianmu yang sedikit tertutup.”
“Cih! Memang kenapa dengan pakaianku? Mama kamu saja memuji cantik.”
“Aku tidak suka! Apalagi kedua pahamu terlihat seperti itu. Apa kamu berpakaian minim seperti ini karena sengaja ingin menggodaku?”
“IHHHH!” sahut Gista, cepat. “Jangan ge’er deh!”
“Yasudah ganti karena kita akan pergi ke kantor.”
“Enggak mau! Lagian aku nyaman menggunakan dress ini.”
Sadewa tidak banyak komentar lagi. Pria itu langsung sibuk mengemasi pakaian kotor miliknya ke dalam koper.
Gista yang melihat itu segera ikut berkemas-kemas. Bagaimanapun ia takut disuruh membayar penginapan di hotel ini. Uang dari mana coba. Kerja saja belum.
“Kita langsung check-out?” tanya Gista, sembari memasukkan pakaian kotor miliknya ke dalam koper. Tidak lupa barang-barang lainnya juga. “Bukannya kita akan menginap seminggu di hotel ini?”
“Oh jadi kamu kepengin menginap seminggu di hotel ini?” goda Sadewa, datar dan ketus.
“Ihhh siapa juga! Lagian aku hanya tanya saja tidak lebih. Soalnya Mbak Gendis bilang setelah menikah akan menginap di hotel selama satu minggu.”
Sadewa langsung menoleh ke arah tubuh Gista. Menatap perempuan itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
Merasa ditatap terus-terusan membuat Gista salah tingkah sendiri. “Kenapa, sih, lihat-lihat!”
“Cih! Ge’er! Aku tunggu di mobil.”
Gista hanya memanyunkan bibir saja ketika Sadewa menjawab seperti itu. Ia juga memperhatikan kepergian Sadewa yang keluar kamar hotel sembari membawa koper. “Dasar pria enggak peka! Harusnya tungguin dan bawain ini koper kek!” maki Gista, menggerutu.
Setelah selesai mengemasi seluruh barang miliknya, Gista langsung segera keluar kamar hotel. Tetapi Gista berpapasan dengan seorang pegawai hotel yang membawa beberapa minuman dingin di lorong.
“Ibu Gista, ini ada minuman spesial dari hotel kami karena Ibu sudah menjadi customer VIP di sini.”
“Oh, makasih banyak, Mbak.”
“Sama-sama.”
Gista menerima segelas minuman dan segera menyeruput hingga habis setengah. Rasanya sangat segar karena terdapat campuran buah-buahan di dalamnya.
Perempuan itu langsung mencari Sadewa di tempat parkir. Ketika melihat pria itu tengah berdiri di depan mobil, Gista segera buru-buru menyeret kopernya ke arah sana.
“Lama!” komentar Sadewa, judes.
Gista hanya diam saja dan lebih menikmati minuman gratis yang diberikan oleh pihak hotel. Sedangkan Sadewa mengambil alih koper milik perempuan itu untuk dimasukkan ke dalam bagasi.
Setelah keduanya masuk ke dalam mobil, Gista langsung merasa mual dan sakit perut. Sadewa yang melihat itu pun mengerutkan kening heran.
“Aku ke toilet sebentar,” kata Gista, merasa perutnya begitu sakit.
Sedangkan Sadewa hanya memperhatikan Gista dari jarak kejauhan. Sampai akhirnya ia melihat segelas minuman di dalam mobilnya.
Sadewa yang penasaran langsung mengambil minuman itu dan ditatapnya curiga. “Dapat dari mana minuman ini?”
Merasa ada yang aneh, Sadewa langsung turun dari mobil dan segera menyusul Gista ke arah toilet. Entah kenapa perasaan hatinya terasa tidak enak. Feeling-nya mengatakan terjadi sesuatu kepada perempuan bandel itu.
Sadewa yang sudah cemas, merasa lega ketika Gista keluar dari toilet. “Kamu kenapa ikut ke sini?”
“Lama!” Sadewa langsung menarik lengan Gista kasar dan menyeretnya ke dalam mobil. Entah kenapa Sadewa merasa takut jika Gista akan diambil oleh seseorang. “Dapat minuman ini dari mana?”
“Dari pihak hotel. Lagian lumayan gratis.”
“Jangan pernah menerima makanan atau minuman dari siapapun terkecuali dari aku dan keluarga.”
“Emang kenapa?” tanya Gista, tidak paham dan mengerti dengan ucapan Sadewa. “Lagian ini minuman terima kasih hotel kepada kita karena menjadi tamu VIP.”
Sadewa memilih diam—menyudahi rasa khawatirnya ini dengan segera melajukan mobil menuju ke arah kantor.
Sedangkan Gista hanya menatap ke arah depan sana dengan perasaan jengkel yang luar biasa. Lagipula selama berpacaran dengan Elang, ia tidak pernah diatur seperti ini. Apalagi dari segi makanan dan minuman.
Tak berapa lama, perut Gista merasa diaduk-aduk kembali. Sakit. Bahkan keringat dingin mulai bercucuran di keningnya. Akan tetapi Gista memilih diam dan menahan rasa sakit itu karena gengsinya yang tinggi kepada Sadewa.
Tapi karena saking tidak kuatnya, Gista akhirnya berteriak. “Sa-Sadewa! Tolong berhenti sebentar di pom bensin depan sana,” kata Gista, menahan rasa sakit yang luar biasa.
Sadewa yang mendengar suara Gista seperti itu langsung menoleh. Pria itu merasa kaget ketika wajah Gista tampak begitu pucat. Keningnya bahkan penuh dengan keringat.
Tanpa banyak ucap, Sadewa menuruti Gista untuk berhenti di salah satu pom bensin. Perempuan itu segera keluar dan berlari menuju ke toilet. Lain hal dengan Sadewa yang semakin yakin jika minuman yang dibawa oleh Gista terdapat sesuatu.