Gista merasa kesal luar biasa dengan Ikbal karena sudah tega menjadi pengkhianat. Apalagi sampai tega menjebloskan Elang ke dalam penjara.
Sembari menggerutu dan misuh-misuh, Gista mengepalkan kedua telapak tangannya kuat dan memukul ke udara sebagai ungkapan rasa kesalnya.
“Gis!” teriak Rio, dari arah kantin. “Woi! Sini!” Rio melambaikan tangan agar Gista menghampiri posisinya. Gista yang melihat langsung saja berjalan cepat menuju ke arah Rio.
Ketika sampai di depan Rio, Gista meninju d**a pria itu. “Awww! Gila lo! Kenapa gue yang ditinju?” protes Rio, merasa tidak terima.
“Gue kesel banget sama Ikbal! Pengin banget gue tampol wajah dia!” semprot Gista, emosi.
“Lah kenapa tadi enggak lo kasih bogem aja? Harusnya lo tinju aja wajah dia biar sadar,” kompor Rio, masih terus mengusapi bagian d**a yang terkena pukul.
Gista mendengkus saja ketika Rio justru semakin mengkompori dirinya. “Terus kita mau gimana? Langsung ke polisi?” tanya Gista, merasa tidak bisa berpikir jernih.
“Yaudah yuk!” Rio setuju untuk langsung pergi ke kantor polisi. “Tapi gue naik motor. Lo gapapa bonceng naik motor?”
Gista mendecih sekaligus meninju lengan milik Rio. “Lo kayak sama siapa aja deh! Emangnya lo enggak pernah lihat gue naik motor apa gimana?” Gista melemparkan lirikan tajamnya.
Rio yang melihat tatapan tajam milik Gista langsung mengangkat tangan ke atas dan membentuk huruf V sembari bibirnya menyengir lebar.
Mereka berdua akhirnya berjalan menuju ke parkiran khusus sepeda motor. Rio mengambil motor matic sejuta umat itu dari arena parkiran.
“Gue bawa helm satu doang. Lo gapapa enggak pakai helm?”
“Gapapa, yaudah yuk! Palingan kalau ada polisi yang ditilang juga lo.”
“Enak aja! Gue udah ada SIM. Lo nanti turun lah kalau ada polisi.”
Gista dan Rio masih saja memperdebatkan soal helm. Namun, mereka tidak menyadari jika dari jarak jauh Ikbal memperhatikan mereka berdua dan memotret kebersamaan Gista dengan Rio yang dikirimkan ke nomor ponsel Sadewa.
Saat melihat Gista dan Rio sudah pergi, Ikbal pun mengikuti di belakang sepeda motor mereka. Sedangkan Gista dan Rio sendiri masih saja sibuk berantem soal cara menyetir sepeda motor Rio yang tampak ugal-ugalan hingga membuat perut Gista sakit.
Gista yang kesal akhirnya melampiaskan dengan memukuli helm milik Rio dari belakang. Sampai akhirnya mereka sampai di depan kantor polisi.
Tak disangka jika kedua orangtua Elang baru saja turun dari dalam mobil. Mereka berempat saling ketemu yang membuat Rita—Mama dari Elang langsung menghampiri Gista dan menangis.
“Gista, Elang ditangkap polisi. Anak Mama gimana, Gista? Katanya dia pergi sama kamu?” Rita tampak menatap Gista penuh tanda tanya. “Kronologisnya gimana Gista? Ceritain ke Tante,” pinta Rita, menangis tergugu.
Gista yang terbawa suasana pun akhirnya ikut menitikan air matanya. Perempuan itu mengusap kasar pipi mulusnya itu sembari mencoba tetap tersenyum agar Rita—Mama dari Elang kuat.
“Iya, Tante. Gista juga enggak tahu kenapa tiba-tiba Elang ditahan Polisi dengan tuduhan pencurian,” cicit Gista, masih tidak paham soal hukum.
“Pokoknya nanti kamu jelaskan di dalam, oke? Memangnya kamu enggak kasihan sama Elang?” Rita tampak penuh harap ke Gista agar bisa membebaskan Elang. Dan, perempuan itu mengangguk sebagai jawaban.
Pada akhirnya mereka berempat pun masuk ke dalam kantor polisi secara bersama-sama. Rita menggandeng Gista begitu akrab. Tentu saja momen ini sudah terfoto dengan sempurna yang tinggal dikirimkan ke nomor Sadewa.
Saat sudah berada di dalam kantor polisi, kedua orangtua Elang menceritakan semua keluh kesahnya dan pembelaan kepada Elang. Tapi tampaknya polisi tetap keukeh menahan Elang karena pihak pelapor masih ingin menuntut.
Gista yang mendengar merasa sedih. Rio yang duduk di samping Gista pun merasa sangat emosi sekali. Bahkan kedua bola mata Rio sudah sangat memerah karena menahan tangis.
“Lo mau diam aja, Gis? Kasihan Tante Rita nangis gitu,” kata Rio, mencoba mengungkapkan perasaan hatinya.
Gista menggelengkan kepala sebagai jawaban. “Gue bingung harus bertindak apa, Yo. Sepertinya gue ngomong sampai berbusa pun akan percuma saja. Polisi tetap keukeh, kan? Kunci-nya hanya sama Ikbal.”
“Anjing emang tuh bocah! Tega-teganya sama sahabat gitu!” umpat Rio, memaki Ikbal.
Gista sendiri tidak banyak komentar lagi. Setelah kedua orangtua Elang masuk ke dalam ruang khusus menjenguk, Gista menghela napas kasar.
“Coba lo minta bantuan sama suami,” celetuk Rio, tiba-tiba.
“Maksudnya?” Gista menoleh ke arah Rio dengan kening mengerut bingung. “Sadewa maksudnya?”
Rio mengangguk sebagai jawaban. “Ya! Suami lo orang hebat pastinya dia punya kenalan pengacara yang top! Coba Gis minta bantuan dia.”
Gista langsung murka mendengar permintaan aneh Rio. Mana mungkin Sadewa menolongnya. Apalagi ia merengek kepada Sadewa demi pria lain. Rio tidak tahu saja kalau Sedewa itu mengerikan kalau marah.
“Gimana, Gis? Lo mau, kan? Demi Elang lho!” tambah Rio, memberikan semangat kepada Gista.
“Lo gila apa sinting, sih! Yakali gue merengek sama Sadewa demi bebasin Elang? Otak lo tuh geser!” balas Gista, skakmat.
Rio menghela napas panjang dengan kasar. “Tapikan lo bisa rayu dia. Kasih kecupan atau apa kek!” seloroh Rio, tanpa tedeng aling-aling.
Gista hanya menggelengkan kepalanya saja ketika mendapat masukan dari Rio. Benar-benar sinting anak itu.
Sampai akhirnya kedua orangtua Elang keluar sembari mengusapi kedua mata. Rio pun menyenggol lengan Gista agar melihat kondisi orangtua Elang.
Mereka berdua langsung berdiri—menghampiri Rita dan Danang. “Tante, gimana kondisi Elang?” tanya Rio, mencoba menanyakan kondisi sang sahabat.
Rita justru semakin menangis tergugu yang dipeluk sang suami. Danang sendiri mengembuskan napas panjang karena sulit berkata-kata.
“Sangat memprihatinkan. Kami benar-benar tidak tega sebagai orangtua. Hati kami sakit,” jelas Danang, menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata.
Rio pun semakin terasa ikut sedih. Gista pun sama-sama merasakan sakit dan penderitaan kedua orangtua Elang.
“Gista, Elang katanya kepengin ketemu sama kamu,” ujar Danang, memberitahukan kepada Gista soal permintaan anaknya.
Gista pun mengangguk pelan sebagai jawaban hingga akhirnya Gista pamit pergi—masuk ke ruang untuk menjenguk para nara pidana.
Di sana sudah ada Elang yang tengah duduk dengan wajah muram. Gista sendiri mulai duduk dengan pelan sembari mengamati perubahan fisik dari Elang.
“Elang,” sapa Gista, lembut.
Elang tersenyum tipis saja. “Kamu apa kabar, Bee?” tanya Elang, menatap penuh kerinduan.
Gista langsung memukuli meja sembari menangis kencang. Gista rasanya tidak tega dan sanggup melihat Elang seperti ini.
“Harusnya aku yang bertanya soal kabar bukan kamu! Kamu apa kabar? Wajah kamu kenapa ada lebam, Elang?” tanya Gista, penuh perhatian.
Elang tersenyum sembari meringis kesakitan. “Biasalah cowok,” jawab Elang, santai.
Gista yang melihat Elang tampak santai justru merasa kesal sendiri. Bisa-bisanya pria itu bersikap santai di saat kondisi terpuruk seperti ini.
“Aku khawatir saat kamu pingsan. Di dalam penjara ini yang ada di pikiranku hanya kondisi kamu. Tapi melihat kamu bisa datang ke sini membuatku tenang,” jelas Elang, merasa lega karena kondisi Gista baik-baik saja.
“Aku sempat dirawat di rumah sakit Indramayu. Sadewa menjemputku dan merawatku di rumah. Tadi pagi aku udah lepas infus sendiri,” balas Gista, menjelaskan soal kondisinya.
“Lepas infus sendiri? Memangnya kamu bisa?”
“Bisa dong! Nih buktinya.” Gista menunjukkan lengan ke arah Elang dengan senyuman lebarnya. Sedangkan pria itu mengusapi lengan Gista dengan lembut karena bagian lengan Gista tampak membengkak.
“Lain kali jangan nekat!” omel Elang, mencubit pipi Gista gemas. “Dari dulu selalu nekat!” lanjutnya masih mengomel.
Gista menyengir saja ketika diomeli oleh Elang. Lagian Gista enggak betah pakai infus lama-lama. Sadewa juga diam saja ketika tahu dirinya melepaskan infus.
Kini Elang menatap Gista dengan pandangan serius. Elang masih berharap agar Gista tetap mencintai dirinya dan selalu setia menunggu.
“Kamu sama dia belum melakukannya, kan?” tanya Elang, lirih.
“Maksudnya?” Gista masih tidak paham apa yang ditanyakan oleh Elang. Kata-kata yang dilontarkan oleh Elang sangatlah ambigu.
“Hubungan suami istri,” terang Elang, memperjelas. “Aku harap mahkota yang selama ini kamu jaga untuk aku, Bee. Soalnya setiap aku ajak buat begituan pasti kamu nolak dengan alasan pengin menikah dulu,” imbuh Elang, menunduk sedih.
Di sini perasaan Gista terasa bimbang. Apalagi ia tidak tahu dan menyangka kalau yang menikahi dirinya terlebih dahulu adalah Sadewa bukan Elang. Apakah Gista sanggup mempertahankan kesuciannya dari Sadewa? Bagaimanapun ada hak Sadewa di dalam tubuhnya.
“Bee, maukan menjaga itu untuk aku? Tadi aku sama keluarga sudah berdiskusi soal pembebasanku. Mereka akan jual semua aset yang ada untuk menyewa pengacara,” ujar Elang, menerangkan.
Gista hanya diam saja, namun kepalanya mengangguk pelan. Gista tidak mampu menjawab pertanyaan soal ini. Apalagi bayang-bayang perselingkuhan papa mertuanya mendadak muncul. Apakah Sadewa nanti akan seperti papa-nya yang selingkuh dengan perempuan lain.
Meski tidak ada perasaan dengan Sadewa, tapi kenapa Gista merasakan sakit hati jika pria itu mendua nantinya.
Tak lama datang polisi yang memberitahukan jika waktu kunjungan habis. Elang pun meminta waktu sepuluh menit lagi yang disetujui oleh polisi. Kini Elang mengajak Gista berdiri. Pria itu memeluk Gista dengan erat. Hanya saja kedua tangan Gista tidak membalas melainkan tetap berada di samping.
Elang pun mencoba ingin mencium bibir ranum milik Gista tetapi perempuan itu langsung menghindar dengan memalingkan wajah hingga yang terkena hanyalah pipi.
“Kenapa?” tanya Elang, kecewa.
“Tidak enak, Elang. Ini di kantor polisi.” Gista mencoba memberikan jawaban yang masuk akal. Elang sendiri pun mengangguk mengerti.
Sampai akhirnya Elang mengacak-acak puncak kepala Gista dengan gemas. Elang pun pergi sembari melambaikan tangan ke arah perempuan itu. Gista sendiri kembali terduduk dengan kondisi yang sulit dijabarkan.
Entah kenapa sekarang Gista merasa aneh dengan pikirannya sendiri. Setiap kali Elang ingin mencium dirinya, pasti bayang-bayang wajah Sadewa muncul di depan mata yang membuat Gista menolak secara spontan.
“Kenapa perasaanku jadi seperti ini,” gumam Gista, lirih. “Kenapa bayang-bayang Sadewa selalu muncul!” geram Gista, kesal sendiri.
Sampai akhirnya Gista merasa cukup untuk duduk dan memilih keluar yang disambut oleh Rio, Rita, dan Danang. Kedua orangtua Elang mengajak Gista untuk makan siang bersama. Rio sendiri mengangguk pelan sebagai dukungan dan izin agar Gista ikut makan siang bersama dengan kedua orangtua Elang.
Kini Gista ikut pulang bersama Danang dan Rita. Selama di perjalanan, Rita selalu mengeluh soal kondisi Elang yang lebam akibat dipukul oleh nara pidana lainnya.
Gista yang mendengarkan semua keluh kesah Rita merasa ikut berpikir bagaimana caranya membebaskan Elang.
“Gista, Tante sama Om mau sewa pengacara. Tapi uang kami tidak cukup untuk membayar pengacara itu. Kamu ada tabungan?Tante dan Om boleh pinjam dulu? Nanti Tante dan Om ganti kok,” kata Rita, mulai berani mengungkapkan tujuannya—meminjam uang.
Gista langsung tegang dan merasa bingung sendiri. Pasalnya uang dan semua perhiasan sudah diminta sang Ibu untuk melunasi utang cicilan tas. “Tidak punya, Tante,” jawab Gista, lirih.
“Aduh! Gimana nasib anak kita, Pa!” Rita menangis menjerit di dalam mobil. Gista yang duduk di belakang sendirian merasa tidak enak sendiri. Sampai akhirnya perempuan itu memegang sebuah cincin yang terlingkar di jari manisnya. Gista melihat cincin itu yang begitu elegan dan mewah. Ada sebersit pemikiran ingin menjual atau menggadai cincin kawin ini, tapi Gista takut kalau Sadewa tahu pasti akan murka.
Drrrt! Drrrt! Drrrt!
Gista merasa ponselnya bergetar hebat. Gista merogoh dan melihat di layar ponsel jika yang menelepon itu Ibu-nya. Gista ingin mengangkat tetapi bingung dengan kondisinya yang masih berada di dalam mobil bersama kedua orangtua Elang.
Ting!
Tak lama notifikasi pesan masuk yang membuat Gista langsung membuka dan membacanya. Hati Gista merasa teremas-remas ketika posisinya seperti ini. Merasa tidak berguna, tapi banyak orang yang berharap akan bantuannya.
Ibu : Gista! Ibu butuh uang, kamu ada uang? Ibu pinjam dulu. Nanti Ibu ganti kalau ada rejeki. Ibu Handoko ke sini ngamuk-ngamuk gara-gara Ibu belum bayar utang ke dia. Buruan balas!
Selesai membaca pesan itu, Gista menghela napas panjang. Pikirannya benar-benar pusing. Apa mungkin dulu Kak Gendis seperti ini? Merasa tertekan karena Ibu selalu meminta uang terus-terusan? Jujur saja Gista sudah merasa tertekan luar biasa. Padahal Gista belum bekerja, tapi tampaknya Ibu tidak berpikir jauh ke sana.
Gista : Gista enggak punya uang, Bu.
Ibu : Memangnya kamu tidak dijatah Sadewa?
Gista : Sadewa belum memberi Gista uang.
Ibu : Andai Gendis masih ada. Ibu enggak bakalan pusing! Hanya Gendis yang bisa mengerti Ibu!
Gista yang membaca kalimat terakhir Ibu-nya sampai menitikan air mata karena merasa sakit hati. Kata-kata yang keluar dari Ibu-nya seolah-olah menginginkan jika yang meninggal dirinya bukan Kak Gendis.
“Gista, kamu mau membujuk Ikbal tidak? Polisi bilang yang bisa membebaskan hanya Ikbal. Kamu seumuran sama Ikbal siapa tahu bisa saling mengerti,” celetuk Rita, menoleh ke belakang—menatap Gista penuh harap. “Tante mohon semua ini demi Elang. Pacar kamu,” imbuh Rita, menatap Gista penuh kesedihan.