Pemimpin Desa Nimiyan yang Baru

1625 Kata
Malam ini di penginapan Bulan Bintang, seluruh warga berkumpul karena kabar mengenai benda ajaib yang bernama sabun. Setelah itu, rapat dadakan pun dilangsungkan. “Selamat malam para warga Desa Nimiyan yang aku hormati, pada jam ini juga kita akan mengadakan rapat dadakan, rapat ini akan membahas rencana tentang bagaimana mengembangkan desa kedepannya. Kita sudah kehilangan sosok pemimpin yang harusnya mengarahkan kita, namun maaf atas kelancanganku ini, karena tak adanya dia yang bertanggung jawab, maka aku yang akan mengambil alih kendali.” Semua warga desa tersenyum, nampaknya tidak ada sanggahan dari mereka, namun aku perlu untuk memastikan sekali lagi, aku tidak ingin adanya pertentangan di lain hari. Aku tidak pernah menduga ini, aku yang terlalu takut untuk mengangkat tangan saat pemilihan ketua kelas, malah memberanikan diri untuk memimpin sebuah desa. Aku... Sudah menjadi lebih baik, kah? “Apa kalian tidak keberatan jika aku memimpin pengembangan desa ini sementara waktu?” “Nak Eishi, jika kau tidak datang ke desa ini. Mungkin saja saat ini atau satu bulan kedepan desa ini akan menjadi desa mati. Kami yang tidak tau apa-apa tidak dapat bertahan dari wabah jika tanpa adanya bantuanmu. Orang yang telah menyelamatkan seluruh desa dari kemalangan adalah dirimu, tanpa adanya pengetahuan dan pengalaman yang kau sumbangkan untuk desa, maka tempat ini hanya akan menjadi tanah tandus. Aku lebih baik menyerahkan masa depan desa ini pada pemuda yang memberikan harapan kemanapun ia pergi.” “Aku mendukung apa yang Kakak ku Bern ucapkan, pemuda yang sedang berdiri di depan kita itu adalah harapan bagi desa, dengan sihir yang ia punya, dia dapat membimbing kita menuju kemakmuran, aku menjaminnya. Karena... Dia adalah penyihir terhebat yang pernah aku temui dalam hidupku.” “Terimakasih Tuan Mizzre atas dukunganmu, tapi apa kau yakin pernah bertemu penyihir lain selain diriku sebelumnya?” gurauku. Semua warga menertawai Tuan Mizzre. Jika seseorang tidak tertawa saat kau sedang bergurau, maka tandanya orang itu tidak menganggapmu atau mempercayaimu, sekarang aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, seluruh warga Desa Nimiyan ini percaya padaku. “Kalian semua, 37 orang yang tersisa di desa kecil ini, kalian semua penduduk yang sangat penting, tak peduli apakah kalian itu manula, atau anak kecil sekalipun, tak peduli apakah kalian seorang pria, atau wanita sekalipun, tak peduli kalian miskin, atau warga yang berada sekalipun. Kalianlah yang paling punya tanggung jawab terhadap tanah ini. Aku hanyalah orang luar, yang singgah hanya untuk sementara waktu. Tapi tidak salah lagi kalau aku merasa bahwa tanah ini adalah rumahku, dan kalian semua adalah keluargaku. Jadi mari kita hidupkan kembali tanah ini bersama, kita dedikasikan pada mereka yang sudah terlebih dahulu pergi meninggalkan kita!” “Hidup Kepala Desa Nimiyan yang baru!” seru Pak Tua Bern. “Hidup!!!” serentak para warga menyambutnya. “Hidup Ichigaya Eishi!!!” “Hidup!!!” dengan kompak suara yang menggema itu kembali di serukan. Ini masih mengejutkanku, bahkan orang yang tidak mau menjadi ketua kelas sepertiku, malah memiliki keberanian diri untuk memimpin sebuah desa. Aku yang tadinya hanya tamu di desa ini, sekarang malah menjadi orang yang memimpin desa, aku adalah Ichigaya Eishi, Kepala Desa Nimiyan yang baru. *** Sesuai dengan arahanku para warga sangat antusias untuk segera melakukan perencanaan pengembangan desa. Pagi sekali mereka telah berkumpul di balai membawa peralatan yang di butuhkan. Aku meminta mereka semua untuk bersiap besok pagi karena kita semua akan pergi untuk menebang beberapa kayu di hutan, aku berpikir untuk membuat sebuah kincir air, nampaknya belum pernah ada satupun kincir air di dunia Khartapanca ini, saat aku menceritakan bagaimana bentuk dan fungsi kincir air itu pada para warga, mereka hanya bisa terkesan dan kagum terhadap cerita yang aku katakan. Itu artinya, ini akan menjadi kali pertama dunia ini akan memiliki sebuah kincir air, sudah tidak bisa di pungkiri lagi bahwa hal itu merupakan salah satu keajaiban, mungkin begitu para orang di dunia ini memikirkannya. Mereka akan sangat kagum saat melihat bagaimana bentuk dan cara kerjanya, bahkan benda itu di dunia ini akan sama mengagumkannya dengan tembok raksasa di China atau menara Eiffel di Paris, Prancis. Ada lima belas pria yang pergi bersamaku ke area hutan, semua itu terdiri dari beberapa Pak Tua, beberapa remaja, dan anak-anak yang akan memasuki usia remaja. Mereka semua membawa kapak yang terbuat dari besi dengan kualitas buruk. Tapi bagi mereka, selama itu bisa digunakan untuk menebang pohonnya maka tidak masalah menggunakannya. “Semuanya, mari kita tebang beberapa pohon di area utara, Kepala Desa, Lyod, Torn dan beberapa anak remaja lainnya akan menebang pohon di sekitar sini, Ayo kita bangkitkan Desa Nimiyan kita!” seru Paman Jerome. “Ouuu!!!” seru mereka sambil mengangkat tangan kanan mereka yang memegang kapak itu tinggi-tinggi. Padahal aku awalnya tidak meminta mereka membantuku untuk menebang pohon, karena dengan kemampuan Crafterku, menebang pohon itu sama saja seperti mematahkan sebuah lidi. Tapi mereka semua bersih keras untuk membantuku, alasannya adalah karena saat aku menggunakan sihirku, maka aku akan kekurangan MP. Apa yang dipikirkan para warga sebenarnya tidak salah. MP ku akan berkurang ketika aku menebang sebuah pohon dengan alatku, alat yang Dewa Garileon berikan padaku memakan MP saat digunakan, tapi... Penggunaan MP nya tidak seberapa. Malahan pemulihan MP ku lebih cepat dari pada pengurangannya, bisa di katakan kalau aku memiliki MP yang tidak terbatas jika itu berkaitan dengan pekerjaan pengrajin. Jadi walaupun aku berhasil menebang seperempat pepohonan yang ada di Hutan Nimiyan ini, aku tidak akan merasa kelelahan sedikitpun. Tapi untuk menghargai perasaan warga desa yang juga ingin membantuku, aku harus menuruti keegoisan mereka. Kuharap mereka segera kelelahan dan berhenti dari pekerjaannya sejenak. “Ichigaya, apa benda yang kau ceritakan itu benar-benar bisa di buat?” tanya Lyod. “Tentu saja, kau tidak percaya padaku?” “Bukan aku tidak mempercayaimu, kau memang hebat dalam membuat apapun, seakan apa yang tidak mungkin bisa saja menjadi mungkin jika di tanganmu. Benda yang telah kau ciptakan itu semuanya ajaib, ramuan yang bisa menyembuhkan segala jenis penyakit, sabun yang dapat memberikan bau wangi yang melekat di seluruh tubuh walau berkeringat seharian. Dan sekarang kau ingin membuat benda yang terdengar seperti hanya berada di dalam mimpi.” “Kincir air yang kau bicarakan semalam itu, adalah benda yang mampu membawa air dari sungai menuju seluruh ladang, tanpa menggunakan sihir elemen air, bagaimana hal itu mungkin dilakukan? Rasanya aku ingin mempertanyakan idemu itu, tapi selama ini kau mampu membuatku percaya.” “Lyod, selama orang itu Ichigaya, tidak ada hal yang cukup mustahil baginya, dia akan memperlihatkan mimpi yang kau lihat itu ke dunia nyata. Bukankah kita percaya padanya,” kata Torn dengan tersenyum sambil merangkul Lyod. “Benar juga, aku ingin memperlihatkan ini pada kalian.” Aku memberikan mereka gambaran dari kincir air yang kurencanakan ke atas sebuah kertas. Aku cukup terkejut, aku yang bahkan tidak tau cara menggambar bisa menggambarkan kincir air yang ku rencanakan dalam sebuah cetak biru, bahkan dengan detail dan akurasi yang akurat. Tapi yang lebih mengejutkan adalah melihat para warga yang juga terkejut dengan apa yang ku tunjukkan pada mereka. Saat aku berpikir bahwa mereka terkejut karena gambar yang aku berikan, mereka malah terkejut dengan kertas yang aku gunakan. “Ichigaya? Benda ini? Benda ini... Apakah benar ini adalah sebuah kertas?” Wajar jika mereka semua terkejut, kertas yang ada di dunia ini teksturnya sangat keras, bahkan sangat susah sekali untuk di tekuk. Wajar jika mereka terkejut dengan kertas yang saat ini mereka pegang. Kertas itu adalah hasil dari keisenganku saat melihat beberapa kayu bakar di penginapan, aku mengubah kayu-kayu tersebut menjadi kertas, bahkan bubur kertasnya masih sisa di kamarku. Berkat keisenganku itu levelku menjadi naik, tapi untuk mendapatkan skill, nampaknya aku masih harus berusaha untuk menaikkannya lagi. “Benda ini sangat lentur, sangat mudah di tekuk namun tidak merusaknya. Bahkan warnanya lebih cerah dari kertas yang biasanya, tulisan di kertas ini bahkan sampai terlihat sangat jelas. Ichigaya, apa kau yang membuatnya?” “Benar, aku membuat kertas itu. Aku berpikir kertas itu akan menjadi barang penting yang bisa di jual keluar, mengingat kualitasnya lebih baik daripada kertas yang tersedia di desa ini.” “Kau bercanda, bahkan kertas dokumen yang biasanya di gunakan oleh keluarga kerajaan tidak pernah sebagus kertas ini. Kau mungkin akan mendapatkan beberapa emas hanya untuk selembar kertas ini.” Eh? Benarkah? Itu akan menjadi bisnis yang sangat menguntungkan, dong. “Ichigaya, desa ini bahkan akan lebih maju daripada saat masa kejayaannya dulu jika kau yang memimpinnya. Pemimpin yang memiliki pengetahuan luas seperti dirimu, jangankan mengubah desa ini menjadi kota, suatu hari mungkin kau akan bisa membuat kerajaanmu sendiri.” “Berhentilah memujiku dengan terlalu berlebihan, sebaiknya kita kerjakan apa yang harus kita kerjakan, dan buat apa yang telah ku gambar di kertas itu menjadi nyata.” Mereka benar-benar terlalu melebih-lebihkan diriku, bagaimana bisa mereka berpikir bahkan orang sepertiku dapat mendirikan sebuah kerajaannya sendiri, aku padahal baru saja menjadi seorang kepala desa, dan jalanku untuk menjadi seorang raja dari seorang kepala desa itu... Masih sangatlah panjang. *** Butuh sedikit waktu untuk menebang banyak pohon dengan senjata ilahiku, atau lebih tepatnya alat ilahi. Tanah yang tadinya kosong telah terisi penuh oleh tumpukan kayu. Sedangkan para warga lainnya yang juga menebang pohon masih berhasil menebang satu atau dua pohon. Karena aku merasa apa yang di butuhkan sudah lebih dari cukup, maka aku meminta mereka berhenti, dan jika mereka bersih keras untuk tetap membantu, maka cara terbaik adalah dengan meminta mereka membawa kayu-kayu yang sudah berhasil di ambil dari hutan Nimiyan. Pekerjaan mengambil kayu bahkan dapat di selesaikan sebelum matahari bertempat di atas kepala kita, aku meminta mereka langsung membawa kayu-kayu tersebut ke dekat sungai, posisi yang paling strategis untuk meletakkan kincir airnya sudah ku dapatkan. Aku yakin dengan ini air akan sepenuhnya mengalir ke seluruh ladang. Baguslah, kalau begitu kincir air ini harus segera selesai di kerjakan. “Semuanya! Mari buat kincir air ajaib yang akan membuat seluruh ladang terairi dengan mudah!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN