Untung dan Rugi

1673 Kata
Sungguh memuakkan, setidaknya itulah yang aku pikirkan saat ini. Melihat Simon memperlakukan orang lain seenaknya, rasanya ingin sekali aku membalas pria itu. Dia begitu sombong walaupun dia berada satu level denganku. Ah... Benar juga, orang yang hidup di dunia Khartapanca ini sama sekali tidak bisa melihat seberapa kuat seseorang, meraka tidak bisa membedakan antara level dirinya dan level orang lain. Padahal jika Bone mengetahuinya, dia bisa dengan sangat mudah mematahkan leher orang gendut yang menyebalkan itu. “Tuan Ichigaya, dengan apa yang kau lihat barusan. Aku menegaskan kepadamu, bahwa di sini, akulah yang berkuasa. Berikan padaku resep cara mengolah kentang itu, dan kau dan juga rekanmu akan aku lepaskan,” ujar Simon. “Hathor? Apa kau dengar apa yang baru saja di katakan oleh si gendut itu?” “Kepala Desa, pria gendut itu bilang dia akan melepaskan kita, memangnya...” “Dia mengikat kita dengan tali?!” ujarku dan Hathor secara bersamaan. Kemudian kami menertawai Simon bersama-sama. Si Gendut itu terlihat mulai naik pitam, tapi kelihatannya dia masih bisa menahan diri, sebab dia masih belum mendapatkan apa yang dia mau. “Tuan Ichigaya, aku akan memaafkanmu atas perkataanmu yang barusan. Aku akan berpura-pura tidak pernah mendengarnya. Selagi aku masih berbaik hati, cobalah untuk bernegosiasi dengan benar, tidak usah kau memancing kemarahanku,” kata Simon. “Aku tidak sedang memancing kemarahanmu, Tuan Simon. Aku juga tidak sedang melawak di sini, aku hanya sedang mengatakan apa yang sebenarnya.” “Anak muda yang tidak tau cara berhenti untuk bersifat kekanak-kanakan. Kau pikir semua ini lelucon... Bahkan setelah melihat kepala yang terpisah dari tubuh orang itu? Tuan Ichigaya, kau salah berkata, kau mati. Begitu peraturannya disini.” “Sepertinya kau tidak takut karena kau belum tau siapa orang yang ada disini? Kedua pria kembar besar itu adalah pembunuh bayaran yang sangat terkenal. Mereka tidak pernah memilih target mereka. Mau itu anak-anak atau wanita, mereka akan membunuh semuanya tanpa pandang bulu.” “Bane dan Bone, kedua bersaudara yang telah melalui hidup dengan menaburkan darah dan juga daging, kedua pria hitam itu adalah orang yang mengabdikan hidupnya di jalan pembunuh.” “Pencapaian terakhir yang membuat beberapa kerajaan gempar adalah, kabar penaklukan seekor beruang merah. Kedua pria itu adalah orang yang menaklukkannya.” Beruang Merah? Apa itu jenis monster yang di bunuh dengan brutal oleh Hathor di hutan sebelum kami sampai ke kota ini? “Beruang Merah adalah jenis Monster yang berada di tingkat A. Butuh setidaknya tiga petualang ranking S, atau setidaknya satu kelompok party yang berisi dua belas orang dengan ranking A.” “Monster yang di kenal sangat ganas itu pernah menewaskan beberapa petualang Ranking S dalam pertempuran satu lawan satu. Bane dan Bone hanya membutuhkan kerja sama mereka untuk membunuh salah satu dari mereka. Luka cakar di punggung dan juga bahu mereka adalah bukti pertempuran epik mereka melawan monster tingkat atas seperti beruang merah.” Tunggu dulu, apa yang di ceritakan oleh si Simon ini adalah spesies beruang raksasa yang di kalahkan oleh Hathor di hutan? “Dengan mereka berdua disini, kalian tidak akan memiliki kesempatan sedikitpun,” ujar Simon. “Jadi sebaiknya kalian bersikap bijak jika kalian masih menyayangi nyawa kalian. Serahkan padaku resepnya segera, dan akan kubiarkan kalian pergi. Ini adalah penawaranku yang terakhir. “Beruang Merah? Aku ingin memastikannya, Tuan Simon. Apa beruang seperti ini yang kau bicarakan?” Aku mengeluarkan seekor mayat beruang merah yang telah di kalahkan oleh Hathor dari inventarisku. Semua orang itu terkejut melihat penampakan monster tingkat tinggi tergeletak di markas mereka. “Be-beruang Merah? I-itu adalah mayat Beruang Merah?!” si Simon itu gelagapan. “Kenapa? Bukankah aku yang bertanya padamu? Apakah beruang merah yang kau ceritakan itu beruang merah seperti ini?” “Sodaraku, itu bukan Seekor Beruang Merah biasa, itu adalah seekor Beruang merah alpha. Beruang Merah itu adalah Monster yang berada di ranking S,” ujar Bone pada Bane. “Monster Ranking S?!!!” mereka semua terkejut. Inginnya aku ikut terkejut sih, aku juga tidak menduga bahwa monster yang di bunuh oleh Hathor sendirian ini adalah seekor monster kelas S. Oy Hathor, sebenarnya seberapa kuat dirimu ini? “Jadi ini adalah seekor Beruang Merah Alpha, pantas saja ukurannya berbeda dari yang lainnya,” kataku, kemudian ku keluarkan dua ekor mayat Beruang Merah yang lain dari inventarisku. Bane dan Bone kemudian tersentak dan terjatuh ke lantai. Mereka terlihat sangat ketakutan melihat mayat-mayat beruang merah yang ku tumpuk itu. “Kalian berdua, apakah kalian berdua adalah orang yang telah membunuh monster itu?” si Simon itu membuka mulutnya. “Sayangnya tidak, ketiga Monster ini adalah monster yang di kalahkan oleh Hathor seorang diri,” ujarku. Aku mengulurkan tanganku kemudian mengembalikan lagi ketiga mayat monster itu ke dalam inventarisku. “Feld, apakah Tuan Ichigaya baru saja menggunakan sebuah sihir ilusi untuk menakut-nakuti kita semua?” tanya Simon. “Sayangnya Tuan, meskipun saya sudah menggunakan mata perspektif, saya sama sekali tidak menemukan bahwa skill yang baru Tuan Ichigaya keluarkan adalah sebuah skill ilusi. Itu.. Benar-benar berbeda, lebih tepatnya dia menggunakan sebuah sihir ruang,” jawab Feld. “Sihir Ruang katamu?! Apa kau membicarakan sihir ancient yang telah lama hilang dari dunia ini?” si Simon gemuk itu terkejut. “Kepala Desa, mereka sudah mengetahui kemampuan spesialmu itu. Kenapa anda menunjukkan itu di depan mereka?” ujar Hathor. “Paman Bern pernah berkata padaku, untuk tidak menunjukkan hal ini pada orang lain. Tapi aku menangkap maksud Paman Bern. Yang dia katakan adalah tidak boleh menunjukkan skill ini pada makhluk hidup, untuk orang yang akan segera mati. Tidak masalah menunjukkannya.” “Hathor! Kebaikan di balas dua kali lipat, kejahatan seratus kali! Bunuh mereka semua!” perintahku. Tombak di punggung Hathor memberikan nyala merah sesuai dengan elemen api yang ia punya. Pria itu sudah memasuki mode tempur. Sedangkan para pembunuh di kubu Simon sama sekali belum siaga. Mereka masih ketakutan ketika melihat sosok monster kelas tinggi di keluarkan begitu saja di markas mereka. Feld yang saat itu berada disana langsung menggunakan skill pembutaan yang sama dengan skill pertama yang ia tunjukkan untuk menghalangi kami menghafal jalan. Aku cukup terkejut, Feld ternyata adalah seorang dengan kelas Thief yang sangat terampil, orang itu cukup berbakat karena memiliki kemampuan pembacaan mantra yang lebih cepat dari rata-rata orang pada umumnya. Tapi seberapa pun cepat Feld mengucapkan mantranya, dia tidak pernah bisa mengalahkanku. Sekejap setelah hendak menyerang, Hathor berhenti karena kehilangan pandangannya. “Remove Debuff!” dengan tangan yang ku julurkan pada Hathor, kemudian Hathor mendapatkan kembali penglihatannya. “Pembatalan sihir?! Mustahil! Skill itu hanya bisa di miliki oleh seorang penyihir agung, siapa kau sebenarnya, Tuan Ichigaya?!” ujar Feld. Merasa bahwa Feld adalah orang yang paling merepotkan di kelompok itu, Hathor yang awalnya ingin bergerak mendekati Bone dan Bane langsung pindah haluan. Dia langsung berlari memutar mendekati Feld. “Orang mati tidak boleh bertanya!” ucap Hathor yang kemudian menebas leher Feld dengan cepat. Karena gerakan yang sangat cepat itu, mustahil bagi Feld untuk menghindar dan akhirnya kehilangan kepalanya. Kepala Feld menggelinding tepat ke arah Tuan Simon, pria gendut itu melotot ketakutan, seketika wajahnya memucat. Kemudian tubuh Feld jatuh ke tanah. “Bu-bunuh Ichigaya. Dia yang terlemah, kalian berdua pasti bisa melakukannya!” ucap Simon sambil menuding ke arahku dengan wajah yang ketakutan. Bane dan Bone itu segera melakukan apa yang di perintahkan oleh Simon, walaupun mereka bertubuh besar gemuk, tapi gerakan mereka cukup gesit sampai mereka tiba di hadapanku hanya dalam kedipan mata. Sudah jelas, karena minimnya pengalaman bertarungku dan levelku yang tidak sebanding dengan mereka berdua, aku tidak sempat sama sekali untuk memindahkan kakiku. Tapi sebelum kedua pedang besar yang di pegang oleh Bane dan Bone itu menebas ke arahku, Hathor tiba-tiba sudah berdiri di depanku untuk menghadang mereka berdua. TANGGG!!!! Suara berdengin itu cukup memekakan telinga, ke dua pedang itu menghantam ke arah tombak panjang milik Hathor, bukan hanya menahan serangan itu, ternyata Hathor juga memantulkannya. Kedua pria gendut itu terpental jauh ke belakang hingga akhirnya punggung mereka menghantam tanah. “Jika kalian semua bisa melihat langit, itu adalah jarak yang kalian miliki untuk membunuh Tuanku. Selama aku ada disini, jarak tersebut tidak akan pernah bisa di persempit. Sedangkan jarak kalian dengan kematian, sama halnya seperti urat di leher kalian. Sesalilah semuanya karena telah membuat kesal Tuanku!” Setelah mengatakan itu Hathor kemudian memutar-mutarkan tombaknya, semakin cepat, semakin cepat, dan tombak yang ia miliki semakin berwarna kemerahan. Tak lama kemudian kobaran api muncul. Bone dan Bane yang saat itu sadar dengan apa yang akan di lakukan Hathor segera berlari ke arah Simon, kemudian mereka melempar Pak Tua gendut licik itu ke atas. Lemparan mereka berbarengan dengan hentakan tombak Hathor ke tanah. Kobaran api menjalar dengan sangat cepat, aku tidak sadar kalau tubuhku di lindungi oleh barrier yang membuat api itu hanya melewatiku. Saat aku melihat sekelilingku, gerombolan pembunuh yang menjadi komplotan Simon hangus terbakar dalam sekejap. Hanya Bone dan Bane yang tersisa, begitu pula dengan Simon yang ditangkan oleh Bone ketika dia di lempar ke atas. Yang ku pahami dari skill Hathor yang baru saja di keluarkan adalah, hentakan api itu menjalar dengan bentuk lingkaran dan Hathor sebagai pusatnya. Jurus itu mengirimkan gelombang panas yang mustahil untuk di tahan. Tapi hanya oleh orang yang levelnya di bawah 40, seperti aku, Simon, dan sekelompok pembunuh itu. Bane dan Bone yang memiliki level lebih tinggi dari itu, mereka hanya mendapat luka ringan. Hanya saja area pembakaran dari jurus Hathor adalah tanah, jika kaki tidak menyentuh tanah saat kobaran api melewatinya, maka semua itu aman-aman saja. Bane dan Bone tadi melempar Simon ke atas, itu membuktikan bahwa mereka berdua tidak memiliki cara lain untuk melindungi Simon. Bane dan Bone... Mereka tidak bisa membuat Barrier. “Se-semuanya mati dalam sekejap? A-apa apaan ini? Aku sama sekali tidak memperhitungkan kejadian ini dalam rencanaku.” Melihat semuanya hangus terbakar membuat Simon semakin pucat, tak hanya kulit wajahnya yang memutih tiba-tiba, tapi sekarang sekujur tubuhnya gemetar dengan keringat dingin membasahinya. “Tuan Simon... Kau hanya orang yang selalu memperhitungkan keuntungan yang kau dapatkan. Seorang pembisnis yang baik, mereka juga harus memperhitungkan kerugian yang mungkin mereka terima.” “Bisnis dan juga hidupmu... Berakhir disini.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN