Catatan

1941 Kata
Amarahku sama sekali tidak bisa padam selama perjalanan, wajah Raja Thane benar-benar membekas di benakku. Tatapannya yang sombong dan nada bicaranya yang seperti tidak mempedulikan apapun yang baginya tidak penting benar-benar membuat hatiku mendidih. Tapi melihat gerbang desaku, rasanya hatiku kembali tentram. Terlebih dengan adanya orang yang menyambut kedatanganku disini. “Kepala Desa dan Hathor sudah kembali!” seru Lyod mengabarkan pada yang lainnya. “Torn, sampaikan pada seluruh warga untuk segera berkumpul di Balai Desa!” “Baik Kepala Desa.” Mereka semua berkumpul di Balai Desa, aku bisa melihat wajah mereka yang terlihat gembira, apa mereka mengira Negosiasi ku dengan sang Raja Berhasil? Astaga, aku tidak enak mau menyampaikannya, tapi tetap harus ku katakan. Ini adalah tanggung jawabku. “Kepala Desa, bagaimana... Apa anda bertemu dengan sang Raja?” “Ya, aku dan Hathor berhasil menemuinya secara langsung,” jawabku sambil tersenyum ramah pada mereka. “Luar Biasa, bahkan Tuan Baron tidak bisa menemui Raja secara langsung atau bicara pada sang Raja. Tapi Kepala Desa kita berhasil melakukannya, itu keren!” ujar Torn. “Nak Eishi, itu artinya negosiasi dengan sang Raja telah berhasil. Kita tinggal menunggu hasil panen kentang kita kalau begitu. Dengan begini kita bisa bernafas dengan lega,” sahut Paman Mizzre. “Yeay!!! Apapun masalah yang terjadi, selama ada Kepala Desa berdiri disini bersama kita. Semuanya akan baik-baik saja.” “Benar, Kepala Desa selalu berhasil memikirkan jalan keluar.” “Kita harus bersyukur karena Kepala Desa mau melindungi kita.” Penduduk Desa Nimiyan adalah orang-orang yang sangat sederhana, kebahagiaan yang ingin di raih oleh mereka pun sederhana, selama mereka bisa tersenyum satu sama lain... Rasanya sudah cukup bagi mereka. Di antara orang-orang baik ini, banyak dari keluarga mereka telah pergi mendahului mereka. Bahkan Raja Thane pun tidak peduli pada tawa sederhana itu. Aku harus mengatakannya! “Sebenarnya negosiasinya tidak berjalan begitu baik, kami berdua pulang setelah mengatakan kalau kita para warga Desa Nimiyan akan tetap membayar upeti seperti biasa, tapi untuk masalah kentang yang kita bicarakan, aku tidak memberi tahu pada Sang Raja.” “Kita tidak akan memberikan kentang kita pada mereka, baik itu kentang ataupun cara pengolahannya,” imbuhku. “Nak Eishi, apa yang terjadi?” tanya Paman Bern. “Sederhana, Sang Raja membuatku marah. Aku telah memberanikan diri untuk bicara baik-baik padanya, tapi dia... Seolah tidak peduli, dia tau apa yang terjadi pada kita, tapi dia tidak melakukan apapun. Padahal kita membantu mereka menutupi kekurangan pangan mereka, untuk menghadapi musim dingin yang panjang, tanpa kita... Apa Raja mampu bertahan? Orang seperti dia... Pantas jika kita jatuhkan dari alasnya.” “Nak, itu berlebihan... Kalimat yang baru saja kau ucapkan itu di sebut dengan kalimat pemberontakan, jika ini sampai di telinga sang Raja kau bisa mendapat hukuman yang berat.” “Kabar mengenai desa yang di landa bencana pun sudah lama sampai pada telinga sang Raja, tapi dia tidak melakukan apapun. Kali ini pun akan sama... Lagipula Desa Nimiyan tidak ada sangkut pautnya dengan Kerjaan Badamdas, sejak awal tanah kita adalah tanah yang berdiri sendiri. Tidak ada orang asing yang boleh memperlakukan kita semena-mena di tanah kita sendiri.” Mereka diam saja, mereka tidak memberikan tanggapan apapun. Apa mereka takut memberontak? “Jika memang tidak adil, kenapa kalian harus takut? Bencana terbesar yang di alami oleh manusia adalah saat mereka semua diam terhadap ke tidak adilan. Tetap membuka mata tanpa melakukan apapun saat melihat saudara kita di tindas, itu adalah kejahatan yang paling keji. Apa kalian orang Nimiyan... Sekeji itu?” Maaf... Meskipun kalimat ini menyakitkan untuk kalian, tapi aku harus mengatakannya. Marahlah... “Saat anak, suami, orang tua atau saudara kalian jatuh sakit dengan tubuh mereka yang perlahan mengering, mereka... Melihatnya juga, saat kalian menangis, meratapi, berusaha sekeras mungkin, mereka duduk diam menikmati makanan yang kalian berikan. Orang Nimiyan... Sebod0h itu?” Mereka memalingkan wajah mereka, tertunduk tidak berani menatap mataku. “Kita bukan orang keji, kita juga bukan orang bod0h. Kita... Kita hanya lemah,” jawab mereka dengan nada lirih. “Bahkan jika kalian lemah, kalian masih mampu mencabut satu batu bata dari dinding istana. Kita lakukan perlahan saja, kerajaan itu pasti runtuh. Sejak aku pergi dari Istana itu aku sudah memutuskan jalan apa yang harus aku ambil. Jika kalian tidak mau mengikutiku di jalan ini, kalian bebas melakukannya. Ini adalah jalan yang terjal dan tidak mudah untuk dilewati.” “Tapi jika kita bersama, kita mungkin bisa melaluinya,” celetup Rya. “Aku akan berada di jalanmu, Ichigaya!” seru Rya. “Kepala Desa, seperti bayangan anda... Saya tidak akan pernah pergi jauh. Saya akan terus bersama anda, tak peduli seterjal apa jalan itu nanti,” ujar Hathor. “Ichigaya, jangan lupakan aku dan Lyod. Bukankah kita teman. Teman tidak akan pernah meninggalkan satu sama lain bukan.” Satu persatu mereka mulai mau mengangkat kembali wajah mereka, dengan mantap mereka bersedia ikut satu persatu, meskipun sebagian dari mereka masih ada yang ragu. “Tidak ada yang perlu kalian khawatirkan, meskipun terkesan memberontak tapi kita tidak akan melakukannya secara terang-terangan. Raja tidak akan pernah tau saat wajah kita berpaling darinya. Kita lakukan secara perlahan... Namun pasti!” “Karena itu aku sudah membuat sebuah Rencana,” imbuhku. *** Sudah banyak bangunan terselasaikan di desa kami, saat ini orang-orang sudah memiliki tempat tinggal mereka masing-masing, bahkan mereka sudah menemukan pekerjaan yang cocok untuk mereka, sabun di produksi dengan lancar, Potion dengan kualitas lebih tinggi dari Potion biasa pun juga, pertanian kembali hidup, walupun di musim dingin ini kami hanya menanam kentang. Di pagi ini aku di temani oleh Rya, senyumannya yang hangat membuatku lupa bahwa hari ini, pergantian musim akan segera terjadi. Mungkin nanti akan turun salju juga di desa kami. Aku penasaran apakah mereka merayakan Natal di sini? “Ichigaya, mengenai soal rencana yang kita bahas bersama drngan warga desa semalam...” “Rya, sebaiknya kau panggil aku Eishi. Aku lupa bilang padamu, bahkan pada yang lain juga. Sebenarnya... Di tempat aku berasal nama keluarga itu terletak di depan, sedangkan nama asli kami di belakang. Semua keluargaku bernama Ichigaya, dan Eishi adalah namaku.” “Eh?!! Begitu ya? Jadi selama ini aku memanggilmu dengan nama marga,” ucapnya terkejut. “Hehe... Iya, jika kau memang ingin lebih dekat denganku, kau harus terbiasa memanggil namaku, Eishi.” “Ba-baik...” suaranya kecil hingga hampir tidak terdengar dj telingaku, tapi saat wajahnya memerah mengucapkan hal itu, dia terlihat sangat cantik. “Be-benar juga, bukankah tadinya aku mau mengatakan soal Rencana yang kita bahas semalam? Rencana soal membentuk perdagangan dengan negeri lain.” “Iya, tadi kau menanyakan hal itu, bukan? Jadi bagaimana menurutmu, aku akan menyerahkan masalah ini padamu, bukankah kau orang yang bertanggung jawab atas perdagangan yang ada di Desa ini, Nona Rya,” ujarku sambil sedikit menggodanya. Aku sudah mulai terbiasa berbicara dengan gadis, rasanya bukan hanya desa ini saja yang maju, bahkan akupun terus maju. “Apa kau tau negeri mana yang mungkin kita bisa membentuk hubungan perdagangan dengannya. Setidaknya itu bukan negeri yang terlalu jauh dan perekonomian disana juga setidaknya harus stabil. Apa kau tau ada negeri seperti itu?” “Kalau begitu, bagaimana dengan Kerajaan Palipis? Letaknya tidak jauh... Yah... Meskipun kita membutuhkan satu minggu perjalanan dari desa ini dengan kereta kuda menuju Kerajaan itu. Itu adalah kerajaan lain yang terdekat, dan perekonomian di Kerajaan tersebut juga cukup stabil.” Membutuhkan waktu satu minggu itu artinya delapan hari perjalanan. Cukup lama juga untuk sampai ke tempat itu. Tapi ini kesempatanku untuk menjelajahi tempat baru, mungkin aku bisa bertemu dengan Sinbad di suatu tempat. Bagus! Ini adalah kesempatan yang bagus. “Rya... Apa kau cukup tau tentang Kerajaan itu?” “Emm... Kurasa aku tidak mengetahui banyak hal tentang Kerajaan itu, aku sama sekali belum pernah ke luar desa. Semua yang ku tahu tentang Kerajaan Palipis hanya sejauh apa yang di tulis di dalam buku.” “Tapi temanku tau banyak soal Kerajaan itu, dia pernah sekali pergi kesana. Bahkan dia menambahkan ulasan dan meletakkannya ke dalam buku yang ada di perpustakaan. Tapi kau tidak akan bisa menemuinya untuk bertanya, dia... Sudah pergi semenjak epidemi menyerang desa saat pertama kali,” dengan wajah sendu Rya mengatakannya. “Aku turut berduka untuk temanmu, maafkan aku membuatmu mengingat tentang hal yang menyedihkan.” “Tidak apa-apa, aku yakin Rariti sudah tenang di sana. Dia adalah gadis yang baik dan juga ramah, jadi aku yakin... Bahkan saat ini dia sedang tersenyum memperhatikan kita. Warga lainnya pun, mereka pasti...” Aku melihat ke arah Rya secara langsung, aku menatap dalam ke arah matanya lalu menganggukkan kepalaku dan tersenyum padanya. “Seperti apa yang kau bilang, mereka sedang tersenyum memperhatikan kita. Mereka pasti lega melihat desa mereka kembali hidup perlahan-lahan.” “Oh iya, Rya... Jika kau berkenan... Apa tidak apa-apa kalau kita pergi ke perpustakaan? Aku ingin melihat catatan yang di tinggalkan oleh temanmu, Rariti.” “Tentu, kalau begitu ayo kita pergi melihatnya,” jawab Rya. **** Perpustakaannya ternyata sangat bersih dan terawat, bahkan aku tidak merasakan ada debu yang menempel pada rak-rak buku ini. Meskipun Desa Nimiyan bukanlah desa yang terlalu besar, tapi buku-buku yang ada disini banyak sekali. “Siapa yang menjaga perpustakaan ini?” “Dulu Rariti dan Neneknya yang menjaga tempat ini, tapi... Sekarang aku yang menjaga tempat ini, aku setiap hari pergi dan membersihkan tempat ini, sayang jika tempat ini berdebu, lagipula... Di tempat ini aku sering menghabiskan waktuku,” kata Rya. Aku melihat-lihat tempat ini, dan ada sebuah gambar yang di tempelkan di dinding, gambar dengan tinta hitam yang menempel pada kertas keras berwarna kecoklatan, gambar yang terkesan seperti lukisan anak kecil, berisi dua orang yang saling bergandengan tangan dengan buku di tangan mereka. Ada tulisan juga yang menunjukkan itu adalah Rya dan juga Rariti. “Kau melihat apa?!” kata Rya yang terkejut, dengan wajah yang memerah dia mencoba menutupi gambar itu. “Itu adalah gambar yang bagus, aku suka. Kenapa kau menutupi gambar itu? Memangnya apa salahnya aku mengaguminya?” “Itu adalah gambarku, kalau kau mau tertawa ya tertawa saja,” sahutnya dengan wajah yang nampak kesal. “Gambar itu melukiskan betapa cantiknya kalian berdua, kau dan Rariti.” “Jika dia masih hidup mungkin kami akan sama-sama jatuh hati padamu, dia itu suka pria yang memiliki banyak pengetahuan sepertimu, mungkin tanpa berpikir panjang dia akan memintamu bertunangan.” Ah... Aku merasa pernah melihat orang seperti itu. “Rya, buku yang kau bicarakan itu ada dimana?” “Sebentar, aku akan mengambilkannya untukmu.” Rya pergi dan butuh sedikit waktu untuk kembali dengan buku yang aku minta. Dia langsung membukakan bagian yang menceritakan tentang Kerajaan Palipis. “Kerajaan Palipis merupakan Kerajaan yang besar, walaupun tidak bisa di katakan sebagai kerajaan paling besar, namun perekonomian disana sangat stabil. Pengolahan lahan yang efisien, pemanfaatan sumber daya alam dan manusia yang dilakukan semaksimal mungkin membuat Kerajaan Palipis menjadi kerajaan yang solid.” “Kurang lebih aku mengerti dengan apa yang coba di tulis dalam buku ini, mungkin aku akan mulai membaca catatan milik Rariti saja.” Di balik halaman buku yang baru saja aku baca terdapat sebuah kertas kecil yang di tempel, itu adalah tulisan tangan Rariti, isinya tentang ulasan yang ia dapat setelah pergi ke Kerajaan Palipis itu. “Kerajaan Palipis yang pernah k*****a di buku, hari ini aku berjalan dengan kakiku sendiri melewati jalan yang ada di Kerajaan Besar ini. Kerajaan yang sangat ramai, orang dengan ramah memanggil menjajakan apa yang mereka jual, wangi-wangi makanan, karpet yang berwarna-warni, alat-alat yang mampu menghasilkan bunyi merdu. Rya... Kuharap suatu hari kau bisa melihat pemandangan ini!” “Begitulah yang di tulis oleh temanmu, Rariti,” imbuhku. “Itu artinya sudah di putuskan. Rya... Aku akan pergi ke Kerajaan Palipis, dan kau akan ikut bersamaku!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN