Baru hampir satu bulan sejak aku meninggalkan tempat ini, tapi jelas disini ada yang berbeda.
“Sudah hampir sebulan tapi tidak ada apapun yang berubah dari kota ini,” ucap Hathor.
“Apa kau tidak melihat para penjaga yang berkeliaran itu? Mereka jadi lebih waspada dan jadi lebih giat berpatroli, itu karena masih belum lama ini kekacauan terjadi. Parahnya kita adalah dalang di balik kekacauan itu.”
Sejujurnya ini membuatku sangat tidak nyaman, para penjaga itu memasang mata dan memfokuskannya hanya untuk memandangi para pengunjung baru, bukan hanya aku dan Hathor, tapi pengunjung lainnya pasti merasa seperti itu.
“Setelah masuk ke dalam sini, saya masih belum mengerti rencana apa yang akan kita jalankan selanjutnya. Jika memang harus bertemu raja, bukankah tidak ada yang bisa kita lakukan? Tidak mungkin pengunjung biasa bisa bertemu dengannya, kan?”
“Astaga, kau benar sekali. Tapi!”
Lalu aku melirik ke arah Hathor kemudian tersenyum.
“Selain Istrimu, Nyonya Astrid. Siapa orang lain yang sering kau temui?” imbuhku dengan bertanya pada Hathor.
“Pu-putri saya, Gil?”
“Benar sekali, begitu pula dengan sang Raja, jika itu adalah putrinya... Maka tentu dia akan dengan senang hati bertemu dengannya.”
“Maksud Kepala Desa? Anda akan menggunakan sihir perubahan untuk merubah diri anda menjadi Sang Tuan Putri? Bukankah itu mustahil, penyihir utama di dalam Istana Kerajaan Badamdas akan segera mengetahui perubahan anda dalam sekilas pandang.”
“Tentu bukan itu hal yang akan ku lakukan, bukankah aku sudah pernah bilang aku tidak memiliki sihir semacam itu. Kenapa kau tidak berpikir dengan lebih mudah saja, seperti menemui si Tuan Putri dan meminta agar kita di pertemukan dengan ayahandanya.”
“Hah??? Jangankan meminta, menemuinya saja pasti akan sulit, Kepala Desa.”
“Kalau aku bilang aku bisa menemukannya bagaimana?”
“Benarkah kita akan bertemu dengan Sang Putri? Lalu... Bagaimana anda akan meminta dia mempertemukan kita dengan ayahandanya?”
“Tentu saja dengan merayunya, apalagi yang bisa kita lakukan memangnya?” ucapku dengan santai.
“Me-me-me-merayu?!!! Kepala Desa apa anda benar-benar memikirkan hal itu sekarang? Jika benar anda akan melakukannya seperti itu, anda bisa berpisah dengan kepala anda. Jangankan merayu, orang yang berbicara tidak sopan pada keluarga kerajaan pasti akan di penggal di tempat.”
“Percayalah, hal itu tidak akan mungkin terjadi.”
Saat pertama kali aku datang ke kota ini, saat aku berjalan bersama dengan Paman Bern, Lyod dan juga Torn, aku tidak sengaja membuka tabel informasi. Ntah ini semacam takdir atau bukan, tapi orang pertama kali yang kulihat informasinya adalah seorang gadis bertudung yang sedang menyembunyikan wajahnya. Level gadis itu adalah 25, dan namanya adalah Sean, lalu status yang tertulis di bawah namanya itu adalah... Tuan Putri.
Meskipun kesempatan tidak akan datang sebanyak dua kali, namun... Aku sangat berharap untuk datangnya kesempatan ke dua ini. Demi menemui Sean, hanya itulah alasanku kemari, seorang yang bisa menjadi perantara antara diriku dengan sang Raja.
“Jika kau melihat seorang gadis bertudung sedang menyembunyikan wajahnya, tolong segera katakan padaku!”
“Baik, Kepala Desa!” jawab Hathor dengan tegas.
Gadis itu pasti memiliki kebiasaan kabur dari Istana. Kalau dia memang berniat jalan-jalan ke kota, dia tidak akan perlu sembunyi-sembunyi, sebab para warga kota pasti akan sangat senang hati menyambutnya. Atau mungkin dia memang tidak ingin menyebabkan keramaian, pasti dia merasa kesulitan jika banyak orang mengikutinya kemanapun ia pergi, seperti pasukan ksatria yang di tugaskan untuk mengawalnya.
Pokoknya, untuk bertemu dengan Sean kembali, aku harus mengaktifkan tabel informasiku, di kesempatanku yang ke dua ini, pasti tidak akan mudah menemukan gadis itu.
“Open Information!!!”
Baiklah, sekarang Nama, Level, dan Job dari semua orang sudah tertera. Aku bisa dengan jelas melihatnya, sekarang... Dari sekian banyak orang yang berkerumun di kota ini, Sean... Dimanakah kau berada?
“B-Bronk? Mungkinkah, gadis bertudung yang sedang mengikuti kita ini adalah Tuan Putri?” bisik Hathor.
Tidak mungkin Tuan Putri akan ada di belakang kita untuk mengikuti kita, kesempatan kedua itu tidak datang semudah itu. Biasanya kesempatan kedua akan berhasil kita dapat ketika kita sudah hampir putus asa. Jadi mana mungkin yang ada di belakangku saat ini adalah... Tuan Putri Sean!!!
Meskipun wajahnya tertutup oleh tudungnya, tapi identitasnya sudah jelas terpampang di hadapanku. Gadis yang sedang menutupi wajahnya ini tidak salah lagi adalah sang Tuan Putri, Sean!
“Ano... Tuan, apakah anda bisa memperlihatkan benda itu kepadaku?!”
Suara yang indah, lembut juga menyenangkan. Tudungnya yang terjatuh karena dia maju dengan bersemangat, membuat wajahnya yang putih berseri itu terlihat. Rambutnya terurai terhembus angin, hitam pekat juga berkilau. Rasanya seperti melihat langit malam dengan taburan bintang, dan warna matanya yang sehijau batu zamrud, membuat keindahannya tidak bisa terlukiskan. Satu kata yang pantas di sematkan untuk gadis ini... Cantik.
Aku baru sadar kalau Tuan Putri mendorong tubuhnya jauh ke depan, bahkan aku harus mundur sedikit ditambah aku harus membengkokan punggungku agak ke belakang. Aku takut jika aku secara sengaja atau tidak sengaja menyentuhnya... Aku akan di pancung saat ini juga.
Tapi apa yang membuat gadis ini begitu bersemangat sampai melihat langsung ke arah mataku?!
“Itu loh, yang menempel pada mata anda,” imbuhnya dengan mata yang berkilauan.
“Nona Muda, anda tidak boleh bersikap seperti itu di depan orang lain, anda tidak sopan Nona Muda,” ujar seorang perempuan yang ada di sampingnya.
Mencengangkan, wanita yang masih tampak muda yang berada di samping Sean ini adalah seorang Assassin, terlebih levelnya sudah 36. Di usia yang masih semuda itu dengan level setinggi ini. Bagaimana wanita bernama Ghanira ini menghabiskan masa kecilnya?
Tapi bukankah seharusnya Ghanira ini memanggil Sean dengan sebutan Tuan Putri? Jadi sebenarnya mereka memang menyamar dan pergi ke luar kota diam-diam, ya.
“Ghanira, aku kan hanya penasaran dengan benda yang menempel pada mata orang itu,” dengan Nada manja Sean mengatakannya sambil menunjuk ke arah kacamata yang ku pakai.
Dengan sigap Ghanira menepuk tangan Sean agar dia tidak menunjuk ke arahku sembarangan.
“Nona Muda, anda adalah bangsawan. Menunjuk orang asing secara sembarangan itu tidak sopan, sama sekali tidak anggun,” kata Ghanira.
Nampaknya Sean sangat penasaran dengan kacamata yang ku pakai, jadi ini sebenarnya yang membuat dia diam-diam membuntutiku. Wajar saja, meskipun kau adalah seorang bangsawan sekalipun, benda seperti ini pasti kau masih pertama kali melihatnya, kan?
“Apa anda tertarik dengan benda yang saya kenakan ini?”
Aku memberanikan diri untuk membuka pembicaraan dengan Tuan Putri, kuharap ini tidak di anggap sebagai suatu kelancangan. Sambil membuka kacamataku dan memamerkannya pada Tuan Putri Sean.
“Ya! Ya! Saya sangat tertarik dengan benda itu? Apakah saya boleh memegangnya?” ujar Sean dengan sangat bersemangat.
“Tentu...”
“Nona!!! Anda tidak bisa sembarangan menyentuh benda asing yang tidak pernah anda tahu benda apa itu sebenarnya, jika itu benda yang bisa membahayakan nyawa anda, maka saat anda menyentuhnya sudah terlambat untuk saya mencegah hal buruk apa yang akan terjadi,” dengan nada tegas, wanita yang bertindak sebagai pengawal pribadinya itu menatap sinis ke arahku.
Dia bahkan sampai menyelaku, wanita ini... Seram.
“Te-tenang saja, Nona. Benda ini sama sekali tidak berbahaya, bukankah kalian melihat saya menggunakannya tadi, tidak ada bahaya apapun pada benda ini.”
“Kalau memang begitu, sebelum Nona Muda menyentuhnya, maka aku akan memastikannya terlebih dahulu. Maaf, tapi bisakah anda berikan benda itu pada saya?” dengan menyodorkan tangannya ke arahku, wanita tegas itu mengatakannya.
Orang ini mengingatkanku pada guru bimbingan konseling ku di SMA, dia juga seorang wanita, dan saat dia mengatakan sesuatu, dia selalu memberikan tekanan yang cukup membuat bulu kuduk ku bergidik.
Wanita itu memperhatikan kacamataku, dia seperti mencari tahu bagaimana cara kerjanya.
“Dihh! Ghanira curang, bukankah seharusnya aku dulu yang menyentuh benda itu?! Hmmmph!!!” Sean membuang wajahnya karena kesal, tapi matanya sesekali melirik kacamata yang ada di tangan Ghanira.
Perlahan Ghanira mencoba melakukan seperti yang aku lakukan, dia memakainya.
“Imutnya...!” kata Sean dengan perasaan takjub, aku juga mengatakannya dalam hati secara bersamaan dengan Sean. Menurutku, Ghanira yang memakai kacamata terlihat lebih cantik. Terlebih saat dia mengangkat kacamatanya sedikit dan berlagak seperti kakak-kakak galak. Hatiku benar-benar cenat-cenut di buatnya. Kombinasi Ghanira dan Kacamata... Sungguh luar biasa.
“Benda yang aneh, saya tidak merasakan apapun setelah memakainya, tidak ada energi sihir atau apapun, sama sekali tidak ada yang berbeda,” ujar Ghanira sambil melepas kacamatanya.
“Kau bercanda? Itu adalah benda yang membuatmu terlihat lebih cantik, bahkan jika di bandingkan dengan perhiasan atau baju bagus, benda itu terlihat lebik baik jika di kenakan,” ucap Tuan Putri Sean.
“Sekarang berikan benda itu padaku, aku sangat penasaran,” imbuh Sean dengan mengambil kacamata dari Ghanira secara tiba-tiba.
“Sebenarnya benda itu bukan perhiasan, tapi... Ya... Itu bisa digunakan juga untuk sekedar bergaya,” kataku.
“Wah! Sebenarnya apa benda bening yang menempel di kedua gagang ini? Saking beningnya aku bisa melihatnya sampai tembus pandang. Ini... Ini lebih bersinar dan lebih bening jika di bandingkan dengan berlian. Di-dimana benda seperti ini di tambang?”
Iya ya, kenapa aku baru menyadari hal ini, sesuatu yang baru itu sebenarnya bukan kacamatanya. Tapi kaca yang ada di kacamata itu, di dunia ini... Bukankah masih belum di temukan sebuah kaca. Ya ampun, kenapa aku tidak menyadari hal ini? Bukankah itu adalah salah satu hal yang memicu sebuah revolusi?
Tapi karena Sang Putri Tertarik, mungkin ini bisa di jadikan sebagai bahan negosiasi, sebagai gantinya aku akan meminta dia menjadi perantara antara aku dan Raja Badamdas. Yosh! Tanpa di duga... Sesuatu yang sangat sempurna terjadi.
“Itu adalah sesuatu yang di sebut kaca, sebenarnya itu bukan sesuatu yang dapat di tambang. Itu adalah sesuatu yang di buat dengan tangan,” ujarku.
Apa aku mengatakan sesuatu yang salah? Aku mengatakan yang sejujurnya, kok. Kaca itu aku sendiri yang membuatnya. Kenapa si Tuan Putri sampai terperangah seperti itu? Dia tampak takjub dan memperlihatkan ketertarikan yang sangat kuat.
Tuan Putri itu menoleh ke kanan dan ke kiri, tampaknya dia menyadari sesuatu. Benar juga, mungkin kerumunan orang yang mulai memperhatikannya itu membuat dia tidak nyaman. Kemungkinan orang-orang ini sadar kalau Sean ini adalah Tuan Putri Kerajaan Badamdas.
“Tuan... Saya tertarik dengan benda ini, tentu juga dengan cara membuatnya. Jika anda berkenan mengajarkan saya, saya akan bersedia memberikan harta sebanyak apapun yang anda minta.”
“Tuan Putri?!”
Hmmph! Keceplosan dia.
“Tuan! Tolong ikuti kami!” ujar Sean dengan memasang kembali tudungnya dan segera bergegas berlari pergi. Tentu saja aku akan ikut, ini adalah kesempatan keduaku yang tidak bisa ku lewatkan.
“Hathor! Ayo!”