Debut yang Sukses

1437 Kata
Pak Tua Zandar, manusia yang memiliki umur terpanjang di Dunia Khartapanca, umurnya mencapai hampir tiga ratus tahun dimana bahkan manusia normal tidak akan pernah mencapai separuhnya. Dia datang ke kiosku untuk menantang mautnya sendiri, dengan memakan... Racun paling berbahaya di dunia ini, Kentang. “Oy Pak Tua, jika kau benar-benar mati ini bisa buruk bagi kios kami, lho.” “Tenang saja Anak Kecil Bertubuh Besar, kau tidak perlu mengkhawatirkan aku akan menuntutmu jika aku mati, aku tidak akan melakukannya. Malahan... Aku akan sangat berterima kasih padamu dan kiosmu ini,” jawab Pak Tua Zandar. “Baguslah, kalau begitu aku bisa memberikan kentang goreng ini untukmu,” kata Hathor. Pak Tua Zandar mengambilnya dan memperhatikan sebungkus Kentang Goreng yang di berikan oleh Hathor. “Ini masih hangat, aku bisa melihat uap panas yang keluar dari benda ini. Itu membawa aroma yang menarik keluar seleraku, aku tidak percaya dengan wangi yang ku cium ini, apakah ini benar-benar kentang yang seumur hidupku aku hindari?” “Kakek, jika anda sebelumnya ingin mati, kenapa tidak memakan kentang secara langsung. Bukankah itu tumbuhan yang bisa di temui di sepanjang hutan,” kataku. “Haha... Apa kau ingin aku memakan benda yang berbau busuk itu? Bahkan binatang saja enggan memakannya. Aku tidak seputus asa itu meskipun aku sudah bosan dengan hidup.” Katanya dia ingin mati, tapi dia tidak mah bunuh diri. Pak Tua yang merepotkan, mungkin itu adalah alasannya dia berumur panjang sampai saat ini. “Aku tidak mencium aroma busuk dari kentang yang kau goreng, ini... Luar biasa. Makanan ini bahkan terlihat berkilauan, tidak kalah mewah dengan apa yang di sajikan di meja Raja.” Eh... Padahal hanya kentang goreng. “Aku tidak mengerti bagaimana kau menyulap Racun menjadi makanan yang tampak menggiurkan ini, caramu memotong, caramu memegang pisau, caramu memperlakukan bahan, seakan... Kau adalah Dewa Koki.” Haha, lucu sekali pak tua. Saat aku pertama kali datang ke Desa Nimiyan orang-orang memanggilku Dewa Tabib, ada juga yang mengatakan kalau aku Dewa Pertanian, sekarang Dewa Koki, kah? “Tidak! Jika memang kau bisa mengolah racun yang ada pada kentang menjadi sebuah makanan yang nikmat, kau pasti adalah Dewa Koki yang sebenarnya,” imbuh Pak Tua itu. “Tapi! Hal itu mustahil, kau pikir kenapa selama berabad-abad tidak ada orang yang mendekati benda ini? Racun yang sangat berbahaya, terkandung dalam tumbuhan ini,” kata Pak Tua Zandar. “Meski kau mengolahnya dengan baik sekalipun, racun yang ada dalam benda ini tidak akan pernah hilang. Dan tidak bisa dihilangkan... Tapi ini sangat membantuk, ada beberapa keuntungan jika aku memakannya.” “Pertama, aku bisa mengakhiri hidupku yang membosankan ini. Kedua, mati dengan menyantap makanan yang tampak lezat, rasanya tidak buruk juga. Ketiga dan terakhir, aku bisa menunjukkan pada para orang yang berkumpul disini, bahwa makanan yang menggugah selera mereka adalah bahan beracun, saat aku mati, aku mencegah mereka berbuat hal yang sama denganku.” “Berapa banyak nyawa yang ku selamatkan di akhir hidupku? Sampai akhir hayatku aku akan tetap di kenal sebagai Zandar sang Pahlawan. Cara mati yang penuh gaya... Keren, bukan?” ucap orang itu. Perkataan Pak Tua Zandar menyentuh hati orang-orang yang menyaksikan keberaniannya, banyak yang bertepuk tangan bahkan bersiul untuk menyemangati Pak Tua itu. Tapi yah... Pak Tua Zandar tidak akan mati hanya karena memakan Kentang Goreng buatanku, kan. Lagipula aku mengolah bahannya dengan baik, dan aku memastikan sendiri bahwa itu bebas racun. Krezzz!!! Satu gigitan terdengar. Beneran! Apa Pak Tua itu baru saja menggigitnya? Hal yang membuatku terkejut adalah, bahkan di usianya yang sudah jauh dari kata tua, dia masih memiliki beberapa gigi yang mampu menggigit kentang gorengnya. Walaupun kentang buatanku itu memang mudah untuk di gigit, tapi membayangkan Pak Tua itu masih memiliki gigi. Benar-benar jauh dari dugaanku. Eh?! Satu gigitan terdengar dan gigitan lain tidak ada? Jangan bilang kalau dia setelah memakannya?! “Pak Tua Zandar mati!” “Pak Tua Zandar menghembuskan nafas terakhirnya setelah memakan Kentang yang di goreng oleh mereka!” Si4l! Pak tua itu benar-benar mati, matanya memutih setelah memakan satu gigitan kentangnya. Gawat... Ini masalah. “Bagaimanapun juga, Racun tetaplah Racun. Mau itu di olah hingga memiliki tampilan yang mewah, itu tidak bisa mengubah fakta kalau racunnya tetap ada.” “Mereka telah membunuh Tuan Zandar, mereka telah menjual racun untuk semua orang.” Mereka harus di hukum!!!” Semua orang mulai panik dan mulai marah, Hathor yang tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi tidak sempat bersiap. Tanpa tombaknya, dia harus menghadang semua orang yang marah ini dengan tubuh besarnya. Hathor maju untuk melindungiku, Orang-orang itu semakin marah dan emosi mereka sulit sekali untuk di bendung, sampai... Seseorang yang menuntun Tuan Zandar melihat mata Pak Tua itu mengeluarkan air mata. “Semuanya tenang! Kakek masih belum meninggal!” “Dia masih bersama kita,” imbuhnya. Semua keramaian itu langsung hening seketika. Mereka yang awalnya ingin menerobos maju tiba-tiba mundur secara perlahan. Pak Tua Zandar mendengus karena menahan ingusnya. Ntah kenapa Pak Tua itu benar-benar menangis. Perlahan Pak Tua Zandar memakan kentang gorengnya, tiap kali dia memakannya dia akan mendengus dan terus mengeluarkan air mata. Untunglah Pak Tua itu masih hidup. Jantungku juga hampir berhenti tadi. Tanpa mengatakan apapun Pak Tua itu terus makan, hingga satu bungkus kentang goren itu habis tak bersisa. “Jika aku hidup lima tahun lagi... Apakah aku masih bisa memakannya? Kenikmatan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Aku ingin... Hidup lebih lama, untuk menikmati kelezatan ini.” “Kentang Gorengnya... Luar biasa!” imbuh Pak Tua itu yang lalu mendengus dengan wajah yang tampak bahagia. Setelah itu keramaian kembali meledak, namun kali ini bukan di dorong oleh kemarahan, melainkan rasa penasaran. “Tuan Zandar memakannya dan dia masih hidup!” “Makanan yang beracun itu ternyata tidak berbahaya!” Oy oy! Jangan terlalu senang seperti itu, bagaimanapun makanan beracun itu berbahaya, jangan membuat orang lain salah paham. “Bukankah mustahil membuat makanan dengan racun sebagai bahan utamanya?” “Tapi Tuan Zandar sudah bilang, hanya Dewa Koki yang mampu mengolah racun menjadi makanan yang sangat nikmat.” “Itu artinya...” “Pria berambut hitam pekat yang memasak adalah Dewa Koki!!!” “Oh... Ibu! Dewa Koki telah turun ke dunia dan singgah di Kota Damaa untuk memuaskan lidah orang-orang!” “Aku ingin makanan itu! Aku akan membayarnya sebanyak 1 keping emas!” “Dasar orang gila! Itu adalah makanan yang di masak oleh Dewa Koki, lho. Bagaimana kau bisa menghargainya segitu? Aku akan bayar kentang gorengnya sebanyak 5 Keping Emas!” Oy oy oy! Meskipun kau kaya sekalipun, lima keping emas itu bukan uang sedikit, bagaimana bisa uang sebanyak itu kau habiskan untuk membeli sebuah kentang goreng?!! “Aku juga akan membayarnya lima keping emas!” “Aku pun!” Eeeehhh.... Yang benar saja! Suara dari renyahnya kentang gorengku pun terdengar di seluruh kota, mengalahkan suara langkah kaki, hari itu setiap orang memegang satu bungkus kentang goreng dan membawanya berkeliling sebagai teman nyamil mereka. Kiosku tutup dalam sekejap. Tumpukan Kentangnya menjadi tumpukan emas, ini seperti... Aku baru menjarah sebuah makam. Orang-orang benar-benar bersedia membayar 5 keping emas, bagi mereka yang lelah mengantri bahkan memberikanku uang lebih agar mereka mendapat pesanannya terlebih dahulu. Karena debut pertamanya yang sukses, Kentang Goreng ini menjadi buah bibir di seluruh Kota Damaa, dan Tuan Simon yang tendanya hanya ada beberapa Blok dari kiosku, mendengar kabar ini. “Tuan Ichigaya! Apakah kau adalah orang yang menjual kentang goreng itu?” kata Tuan Simon yang datang tiba-tiba dengan terengah-engah. “Ah! Tuan Simon, apakah kau hendak membeli Kentang Goreng itu? Sayang sekali, Kentangnya sudah habis, dan aku tidak bisa menggorengnya lagi,” jawabku. “Daganganmu habis?” “Haha, seperti yang kau lihat Tuan Simon. Semuanya tidak bersisa. Kau benar, mendapatkan barang sekeping atau dua keping emas di Kota Damaa itu sangat mudah.” “Be-benar, kan?!” ucap Tuan Simon yang pura-pura tertawa, tapi dari wajahnya sangat jelas, dia sedang kebakaran jenggot. “Harusnya aku sisakan beberapa, tapi karena pesanannya terlalu banyak... Aku tidak bisa melakukannya. Debut perdana Kentang Goreng ini luar biasa! Bukan hanya sekeping atau dua keping emas. Aku mendapatkan bahkan dua kotak penuh emas, haha!” “Ka-kalau begitu syukurlah! Aku senang karena kau berhasil di hari pertamamu. Kalau begitu aku akan kembali saja, lagipula Kentang Gorengnya sudah habis.” “Baiklah Tuan Simon, semoga harimu menyenangkan!” ucapku dengan memberikannya sikap yang sangat ramah. Tapi aku tau, matanya yang selalu menyorot ke arah emas yang aku dapatkan itu menyiratkan kedengkiannya. Mana mungkin harinya akan menyenangkan setelah mendapat tamparan keras seperti ini. Haha... Sepuluh keping emas yang aku berikan pada pak tua tamak itu tampaknya bukanlah uang yang seberapa. Sekali lagi Tuan Simon... Semoga harimu menyenangkan! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN