Hari sudah berganti... Aku tidak ingat ini sudah pagi keberapa kali sejak aku tiba di dunia ini, tapi rasanya aku sudah terbiasa. Walaupun aku harus tidur di ranjang yang masih beralaskan kayu tanpa adanya kasur yang lembut, tapi punggungku sudah tak sakit lagi, ini tak seperti pagi pertamaku di Dunia Khartapanca, saat aku bangun rasanya punggungku mati rasa.
Benar juga, hari ini adalah hari pertama bagi para warga desa baru untuk mulai beradaptasi dengan lingkungan di Desa Nimiyan ini.
“Kepala Desa, selamat pagi! Sarapannya sudah kami siapkan di bawah, cuci muka lebih dulu, dan bersiaplah pergi ke Balai Desa... Bukankah kau harus menghadiri pertemuan untuk menyambut warga baru kita,” kata Rya yang sedang menyapu koridor di sekitar kamarku.
“Benar juga. Oh ya, Rya. Kemana perginya semua orang? Seingatku semalam beberapa orang yang aku bawa dari Kota Irishe menginap disini.”
“Pagi-pagi sekali mereka sudah pergi menuju Balai Kota bersama Ibu dan juga Tuare.”
“Kalau begitu aku pun harus segera pergi, aku tidak bisa membiarkan mereka semua menunggu di saat mereka sangat antusias untuk mengikuti pertemuan itu.”
“Ichigaya... Jika kau tidak keberatan... Apakah kita bisa berangkat bersama?”
Tentu saja, sejak dulu aku ingin ada seorang gadis yang mengajakku berangkat ke sekolah bersama. Namun sejak SMP bahkan sampai aku beranjak ke bangku SMA, masih tidak ada seorangpun yang mengajakku. Walaupun bukan ke sekolah, diajak berangkat bersama oleh seorang gadis cantik, kenapa aku harus menolak kesempatan ini?
“Tentu, tapi temani aku sarapan,” balasku sambil tersenyum padanya.
****
Benar saja, Orang-orang sudah banyak yang berkumpul di Balai Desa, bukan hanya penduduk yang ku pindahkan dari Kota Irishe saja, tapi para penduduk Desa Nimiyan juga turut berkumpul di tempat itu. Mereka benar-benar menyambut pendatang baru dengan sangat baik.
Dari kerumunan orang di Balai Desa ada satu orang yang mencolok bagiku, tentunya itu bukan Hathor. Dia memang pria berbadan tinggi dengan otot kekar yang melekat di tubuhnya, tapi hanya itu saja. Yang sangat mencolok untuk kulihat adalah seorang gadis yang tampak kesal sedang berjalan ke arahku sambil mengembungkan pipinya.
Tanpa mengatakan apapun dia dengan tiba-tiba datang dan menyerobot di tengah-tengah saat aku dan Rya sedang berjalan beriringan.
“Tuare... Ada apa denganmu?” tanyaku.
“Diam! Aku hanya tidak suka kau dekat-dekat dengan Kakakku. Tapi jangan pernah kau berpikir kalau aku cemburu melihat kalian berdua, ya. Aku hanya ingin menjaga Kakakku saja.”
“Ya ya, kerja bagus adik kecil,” ujarku sambil mengelus rambut Tuare, hehe... Lebih ke mengacak-acak rambutnya mungkin.
“Jangan panggil aku adik kecil, kau bukan Kakakku, kau juga bukan suami Kakakku.”
Mendengar itu wajahku menjadi merah, tapi kurasa bukan hanya diriku yang begitu. Bahkan Rya juga memerah setelah mendengarnya. Ntah kenapa itu membuatku ke GR an.
“Dasar kalian ini! Masih mau menunjukkan kemesraan juga, ya?! Ayo cepat jalan! Orang-orang sudah menunggu sejak pagi,” dengan kesal Tuare mengatakannya sambil menarik tangan kami berdua.
Saat ku lihat dari dekat ternyata para penduduk yang ku pindahkan dari kota Irishe ini sedang membantu para warga Desa Nimiyan menyiapkan sarapan, semua orang bekerja sama dengan cukup baik dan mereka tampaknya sudah saling mengakrabkan diri.
Mendengar mereka saling memanggil dengan menyebut nama mereka masing-masing membuat perbedaan di antara mereka semakin samar. Ku harap mereka bisa saling hidup rukun dan tetap bahu membahu seperti sekarang ini.
“Selamat pagi Kepala Desa!” sapa para wargaku dengan senyum hangat mereka.
Jika orang-orang bumi tau jika aku seorang anak berusia 16 tahun memimpin sebuah desa sebagai seorang kepala desa, mungkin mereka semua akan terkejut, dan tak salah lagi wajahku akan muncul di televisi bahkan koran dan majalah.
“Aku... Aku tak tau harus mengatakan apa pada kalian setelah melihat semua ini. Hanya satu hal yang sedang aku pikirkan di kepalaku, sebenarnya sejak kapan hal ini terjadi?” dengan tersenyum aku mengatakannya.
Orang-orang pun akan tersenyum sama seperti ku jika melihat semua ini. Mungkin pemandangan yang sederhana inilah yang selalu disebut sebagai sebuah kedamaian. Sedarhana... Namun senyum serta canda tawa tersebar dimana-mana.
“Sejak kapan kalian akrab dan saling mengenal satu sama lain? Bahkan saat ini aku tidak bisa membedakan siapa penduduk asli Desa ini, kalian benar-benar berbaur dengan sangat baik. Kurasa tidak ada lagi yang ingin ku katakan.... Hanya saja kalian memang cocok untuk menjadi bagian dari Desa ini. Kalian bisa menulis nama kalian di buku catatan kependudukan. Rya akan mengurusnya, jika kalian sudah dapat lencana kependudukan kalian maka status kalian akan menjadi penduduk Desa Nimiyan.”
Sekarang penduduk Desa telah bertambah, dan pemandangan yang kulihat saat ini sudah berubah. Semuanya menjadi semakin baik, Paman Mizzre dan Paman Bern mendapatkan rekan baru yang seumuran dengan mereka, mereka tampaknya akrab berbicara satu sama lain. Para wanita juga semakin terlihat bahagia, itu karena teman yang bisa diajaka untuk saling bertukar cerita semakin banyak.
Torn dan Lyod, mereka mendekati para remaja dan memamerkan otot mereka. Kurasa Torn dan Lyod hanya ingin terlihat hebat di hadapan para junior mereka, sudah kuduga... Memang mereka hanya dewasa secara usia, akalnya masih saja kekanak-kanakan, itulah kenapa mereka menjadi teman yang sangat asyik untukku.
Para anak-anak semakin giat bermain, tawa mereka semakin keras setiap kali aku mendengarnya. Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi anak-anak selain memiliki banyak teman. Bahkan saat aku seusia mereka aku pun sangat senang dengan jumlah teman yang aku miliki.
“Kepala Desa, Anda tidak makan?” Hathor mengejutkanku dengan duduk di sampingku membawa semangkok makanan.
“Aku sudah sarapan, kau sebaiknya makan yang banyak Hathor, aku yakin orang sebesar dirimu membutuhkan banyak nutrisi. Jangan ragu untuk memintanya, mereka semua baik dan tidak akan ragu untuk memberi selama kau memintanya juga dengan baik.”
“Kepala Desa benar, mereka... Para warga Desa Nimiyan adalah sekelompok orang-orang baik. Mereka orang-orang yang tidak pernah ragu untuk menolong sesama. Kepala Desa, apakah anda tau? Hari ini saya sangat bersyukur karena bisa mendapatkan makanan lebih awal, Gild dan juga istri saya Astrid juga... Mereka pasti sangat bahagia. Kami tidak harus menahan lapar selama berhari-hari, semua ini berkat anda, Kepala Desa.”
“Semangkuk makanan hangat di pagi hari, kebahagiaan semacam ini yang saya rindukan. Terima kasih!” sambil menyeruput supnya itu Hathor terlihat bergelimang air mata.
Kehidupannya sebagai seorang pengemis dulunya pasti benar-benar sangat menyedihkan, bahkan dia sampai menangisi semangkuk makanan. Mereka yang tidak harus mengemis, mereka yang hidupnya berkecukupan, bahkan mereka terkadang menyia-nyiakan semangkuk makanan yang di tangisi oleh orang yang bernasih seperti Hathor. Apa hati mereka tidak sakit jika melihat pemandangan ini?
“Makananlah yang banyak, Gild dan juga Nyonya Astrid tidak akan pernah kelaparan lagi,” ujarku sambil menepuk-nepuk punggung Hathor yang besar itu.
“Terimakasih, Kepala Desa.”
Hathor ini, walaupun badannya kekar dan juga besar, meskipun memiliki wajah yang garang, tapi hatinya mudah sekali tersentuh, dia juga orang yang selalu ringan untuk mengucapkan terima kasih. Orang sepertinya pasti selalu ingat bagaimana caranya bersyukur.
“Aku harus memberikan beberapa sambutan untuk kalian. Habiskan makananmu.”
Aku masuk ke dalam Balai Desa, awalnya hanya ada 30 dari kami, tapi sekarang jumlahnya sudah melebih angka 100, setidaknya populasi penduduk Desa ini telah berkembang. Semuanya duduk di lantai yang beralaskan karpet lembut, hanya ada satu kursi di depan, apa kursi itu di sediakan untukku?
“Kepala Desa? Kenapa kau tidak duduk di kursinya? Kami telah menyiapkan kursi yang nyaman itu untukmu,” ujar Paman Bern.
“Warga Nimiyan harus menjunjung kesetaraan, semua warga Desa Nimiyan ini sama, tidak ada yang spesial atau di spesialkan, termasuk diriku. Lagipula tempat paling nyaman adalah tempat dimana aku bisa duduk setara dengan kalian. Dengan begini aku bisa bicara dengan lebih santai,” jawabku sambil duduk bersila di depan mereka.
“Sekali lagi ku ucapkan selamat datang untuk kalian para warga baru, ku harap kalian betah tinggal di desa kecil ini, dan bisa saling hidup rukun dengan yang lain. Ingatlah, tidak ada yang membedakan kita disini, kita semua teman, kita semua tetangga, kita semua saudara, kita semua keluarga. Kita adalah orang yang paling pertama mengulurkan tangan kita untuk sesama, kita adalah orang pertama yang merangkul. Kita senang bersama, sedihpun bersama, kita rekan yang saling berbagi rasa sakit, dan itu semua yang menjadikan kita semua... Nimiyan!”
“Desa ini begitu kecil, namun potensi yang dimiliki desa ini sangat besar. Desa ini merupakan tanah surga, apa yang kalian tanam memberikan hasil lebih. Namun karena potensinya yang terlalu besar, hal itu menimbulkan perasaan iri untuk orang lain. Sehingga... Tidak lama ini, desa ini di kabarkan mengalami kemunduran.”
“Karena kalian merupakan bagian dari desa ini, kalian perlu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Kalian mungkin pernah mendengar kabar mengenai tersebarnya sebuah wabah penyakit yang menyerang desa ini.”
“Memang benar, hal itu benar-benar terjadi. Banyak sodara kita yang meninggal akibat peristiwa itu, dan seperti yang kalian lihat. Orang-orang yang kalian sapa hari ini adalah mereka yang berhasil bertahan dari kemalangan tersebut.”
“Banyak rumah-rumah yang ditinggalkan kosong, dan banyak bangunan yang belum jadi padahal sempat akan di bangun.”
“Kepala Desa, apakah saya boleh mengatakan pendapat saya?” ujar salah satu penduduk baru sambil mengangkat tangannya.
Aku mempersilahkan dia dengan memberikan sebuah isyarat tangan.
“Saya dulumya adalah seorang penduduk dari kerajaan tetangga, dulu saya mendengar salah satu teman saya ingin pergi ke sebuah desa bernama Nimiyan, dia berkata bahwa hidup di desa itu akan membuat semuanya lebih mudah. Dia berkata bahwa tempat itu adalah sebuah tempat impian. Lalu beberapa minggu kemudian sebuah kabar terdengar ke kerajaan kami, sebuah desa sedang di kembangkan menjadi kota, begitulah isi berita tersebut. Karena kerajaan kami sedang berseteru dengan kerajaan lainnya, dan keadaan di desaku sudah tidak bisa terkendali lagi, aku memutuskan untuk pergi mengembara, dan satu-satunya hal yang terlintas di pikiranku adalah Desa Nimiyan.”
“Namun setelah aku sampai ke Kerajaan Badamdas, aku kembali mendengar kabar soal kemalangan yang terjadi secara tiba-tiba di Desa Nimiyan, kabarnya Desa itu sudah menjadi Desa mati, ada yang mengatakan bahwa dewa mengutuk tanah tersebut, penduduk mati dan penyakit menyebar. Setelah mendengarnya aku mengurungkan niatku untuk tinggal, aku memutuskan untuk kembali ke desaku, tapi desa itu sudah rata dengan tanah. Hidupku berakhir di lorong gelap di Kota Irishe, tapi kali ini aku sangat senang. Akhirnya aku sudah sampai di Desa Nimiyan, dan setelah sehari aku tinggal disini, aku mendapatkan alasanku kembali untuk menyebut desa ini sebagai Desa Impian.”
“Tempat dimana semua penduduk dapat hidup dengan perasaan bahagia, bukankah desa ini seperti desa yang berada di akhir dari semua cerita dongeng? Semuanya bahagia.”