Kabar

1819 Kata
Bulan depan sudah di putuskan akan menjadi hari pernikahanku dengan Rya. Saat perjalananku pulang ke desa aku memberitahukannya pada Charuru dan Nyonya Dayaru untuk meminta mereka juga datang di hari yang penting itu. Pakaianku yang kemarin aku minta sebagai tanda terima kasih karena telah mengantarkan Nyonya Dayaru pulang ke desanya dengan selamat juga telah di buatkan. Tinggal menagih janji dari si kecil Charuru mengenai Gaun Pengantin yang akan di rancang olehnya untuk Rya dan aku. “Maaf Charuru, aku mengabarimu tentang hari pernikahanku sangat mendadak,” ujarku. “Kak Eishi tenang saja, sebulan itu waktu yang cukup untukku merancang gaun terbaik. Atau aku tidak akan di panggil desainer hebat di masa depan,” sambil membusungkan dadanya gadis kecil itu mengatakannya dengan sangat percaya diri. “Haha... Nyonya Dayaru, tolong bimbing Charuru dengan baik. Aku yakin dia akan mencapai impiannya di masa depan.” “Nak Eishi, atas bantuanmu beberapa hari yang lalu. Saya mengucapkan banyak sekali rasa syukur untuk anda. Senoga kau senantiasa sehat dan urusanmu di permudahkan sepanjang jalannya,” kata Nyonya Dayaru. “Terima kasih Nyonya Dayaru, kalian juga jaga selalu kesehatan kalian. Kalau begitu kami semua pamit, banyak yang harus di persiapkan setelah ini.” Perjalanan pulang yang begitu mulus tanpa hambatan, di Ngarai Bajra kami bisa melaluinya tanpa menimbulkan masalah, atau tepatnya para Bandit Bajra yang tidak berani mencari masalah dengan kami. Kami semua bahkan di antarkan sampai keluar dari ngarai. Pemimpin bandit Gunduz telah menepati janjinya, karena itu aku juga mengundangnya untuk datang. Waktu yang di butuhkan oleh kami untuk pulang terasa lebih singkat. Tak terasa, hanya beberapa hari aku sudah sampai di Hutan Nimiyan. “Sabun yang kita bawa terjual habis, dan kita juga mendapatkan banyak uang kali ini. Warga desa pasti akan sangat senang,” kata Lyod. “Kita dapat banyak uang, tapi aku kehilangan pedangku.” “Torn, kau tidak boleh murung begitu. Kau kan dapat dua ribu keping emas dari menjualnya. Dua ribu keping itu uang yang sangat banyak, lho.” “Kau bisa minta Eishi untuk membuatkanmu pedang baru. Itu bukan hal yang sulit untuk Dewa Penempa sepertinya,” sambung Lyod menyendirku. “Tentu saja aku akan buatkan, tapi bagaimana dengan biaya penempaannya? Aku sudah di berikan pengakuan langsung dari penempa terbaik Bangsa Dwarf, lho. Aku pantas mematok biaya untuk hasil kerjaku.” “Tidak masalah, karena aku sekarang memegang banyak sekali uang. Aku akan membayarmu, haha... Berapa yang kau perlukan, Eishi?” “Torn, karena kau adalah temanku, aku tidak berani mematok harga yang sangat tinggi. Bagaimana kalau dua ribu keping emas?!” gurauku. “Hah?!!! Dua ribu? Kau bercanda, bukankah aku tidak akan punya uang sama sekali setelah ini? Padahal uang ini akan ku gunakan untuk melamar Nona Ririna, Resepsionis Guild Dagang Kota Irishe.” “Apa kau bilang?! Melamar Nona Ririna? Kau pikir aku akan membiarkanmu. Eishi! Tolong tambah biaya tempanya jadi tiga ribu keping. Biar Torn jatuh miskin dan tidak jadi melamar Nona Ririna,” kata Lyod. “Kenapa kau begitu kejam, memangnya kau punya masalah apa?!” “Nona Ririna itu tidak pantas denganmu, hanya aku yang boleh melamarnya!” “Memangnya kau punya uang, ha?!” “Torn... Kau pikir aku tidak bisa punya uang? Kalau perlu aku akan kembali ke Kerajaan Palapis untuk menemui Bos Dundar, dia juga pasti akan membeli pedangku dengan harga tinggi.” Torn dan Lyod terus berdebat sepanjang hutan, bagaimanapun mendengar perdebatan antara kedua teman itu menyenangkan bagiku. Meskipun mereka terdengar seperti sedang berkelahi tapi kerusuhan yang mereka buat seperti mencerminkan kedekatan hubungan mereka. Aku tidak pernah mempunyai hubungan pertemanan sedekat Torn dan Lyod. Tidak pernah sampai kita berkelahi lalu berbaikan seperti semula, mulai tertawa lagi, mulai merasa kesal lagi, sampai akhirnya saling memaafkan. Jujur saja terkadang aku iri pada mereka. “Gerbangnya sudah terlihat, mari kita kejutkan mereka dengan apa yang kita bawa.” Semua warga desa senang dengan kepulangan kami, aku juga tidak lupa membawakan mereka oleh-oleh yang ku beli di setiap perjalanan pulang. Selain itu aku juga membawakan kabar yang sangat mengembirakan untuk wargaku. Benar, itu adalah kabar mengenai keputusanku untuk menikahi Rya bulan depan. “Jadi kau memutuskan untuk menerima lamaran Rya dan bersedia untuk jadi suaminya? Apa yang membuatmu mengambil keputusan ini tiba-tiba, Eishi. Kupikir kau masih perlu waktu,” kata Paman Jerome. “Mau bagaimana lagi, Paman. Aku sama sekali tidak tau caranya menahan pesonaku, kemana pun aku pergi, para gadis akan selalu menyanjungku dan membuat mereka tak tahan untuk melamarku.” Rya mencubit bagian perutku karena bergurau pada ayahnya. Padahal aku ingin sedikit bersantai dan membuat situasinya tidak terlalu serius. “Seorang Tuan Putri Kerajaan Palapis melamar Eishi beberapa hari yang lalu. Raja menginginkan sebuah pernikahan segera untuk putrinya itu,” kata Rya. “Benar, Paman. Tapi aku tidak bisa melakukannya. Apalagi pernikahan adalah masalah yang sensitif. Urutan seorang istri itu penting untuk menentukan ke dudukannya. Itu sebabnya aku ingin pernikahanku dan Rya menjadi yang pertama, dan Rya sebagai Istri utamaku.” “Setelah itu aku baru bisa mengiyakan tuntutan Raja Goktug, Penguasa Kerajaan Palapis. Untuk segera menikahi putrinya,” imbuhku. “Wah... Wah... Bukan hanya berhasil mempesona Tuan Putri Kerajaan Badamdas saja, tapi bahkan Tuan Putri Kerajaan Palapis juga. Kepala Desa benar-benar pria yang sangat di berkahi, mungkin suatu saat anda benar-benar memiliki delapan orang istri,” kata Nyonya Astrid, Istri Hathor. “Tidak semua pria dapat memiliki delapan istri, itu karena mereka yang mempunyai banyak istri adalah mereka yang di anggap mampu memberikan kesejahteraan bagi Istri mereka, dengan kata lain orang yang memiliki kasta sosial yang tinggi, orang-orang yang kaya atau orang-orang yang berbakat. Dengan banyaknya pelamar yang bersedia jadi istri anda, semua orang pasti akan mulai menghormati anda, Kepala Desa.” “Karena anda adalah orang yang hebat, hal seperti ini wajar. Di usia yang masih tujuh belas tahun dan berhasil menikahi dua orang gadis. Pencapaian seperti ini sulit sekali di raih. Benar, kan... Torn dan Lyod?!” sindir Paman Mizzre. “Iya-iya... Kami tau, usia kami memang sudah melewati masa untuk menikah. Tapi mau bagaimana lagi, kami masih tidak menemukan orang yang cocok,” kata Torn. “Apalagi... Ketika kami berjalan di samping Eishi, sinarnya benar-benar menutupi pesona kami,” imbuh Lyod. “Jadi begitulah, dalam jangka waktu kurang dari sebulan, aku ingin meminta tolong pada kalian semua. Bisakah kalian menyiapkan persiapan pernikahannya?” kataku. “Serahkan saja pada kami, Pernikahanmu akan menjadi perayaan yang meriah bagi kami semua.” “Benar juga, ada kabar bahagia yang lain selain kabar pernikahanku dengan Rya.” “Dagangan kita laku keras di Kerajaan Palapis, dan kita mendapatkan banyak uang dari sana,” kata Paman Bern. “Ya, bahkan Torn sekarang memiliki dua ribu keping emas di kantongnya. Dia akan menyumbangkan lima ratus keping untuk dana pengembangan desa,” imbuh Lyod. “Oy! Apa yang kau bicarakan, sejak kapan aku membicarakan soal itu? Kau hanya ingin menguras uangku agar aku tidak jadi melamar Nona Ririna, kan? Dasar rubah licik.” Semua orang tertawa melihat Torn dan Lyod bertengkar. Dasar... Setiap hari yang ku jalani bersama mereka para warga desa, selalu di liputi oleh kegembiraan. Tak peduli sekecil apa pun kenangan yang ku rasakan ketika bersama mereka. Setiap hari selalu berharga. Rasanya aku ingin istirahat sejenak, mengobrol dan makan-makan bersama mereka di balai nanti. Tapi waktu pembayaran upeti pada Kerajaan Badamdas sudah tidak lama lagi. Aku sudah memutuskan untuk tidak memberikan kentang pada Kerajaan itu, karena itu aku perlu memikirkan cara lain. Desaku juga di musim dingin yang mendesak ini hanya bisa menanam kentang, tidak ada bahan pangan lain yang bisa di berikan. Itu sebabnya aku harus menjual kentang untuk membeli bahan pangan lain, dan bahan pangan yang sudah ku beli, bisa ku serahkan pada Kerajaan Badamdas. Bagaimanapun kentang ini bagaikan keajaiban bagi semua orang yang ada di dunia Khartapanca, seumur hidup mereka menganggap kalau kentang adalah racun dan benda yang tidak bisa di manfaatkan. Jika ini bisa menjadi berkah bagi dunia ini, jelas aku tidak ingin membagikannya dengan Raja Thane Badamdas yang congkak itu. “Aku ingin tidur dan istirahat sejenak. Hathor, sebaiknya kau juga istirahat. Kita akan segera berangkat lagi,” ujarku. “Eh? Berangkat lagi? Kemana kau akan pergi, Eishi?” tanya Paman Jerome. “Sebenarnya kami hanya berhasil menjual sabunnya di Kerajaan Palapis, aku mengurungkan niat untuk menjual kentangnya.” “Sekarang semua kentang yang awalnya ingin di jual disana, sudah ku masukkan ke dalam sihir ruangku. Tidak perlu khawatir... Kentangnya tidak akan pernah membusuk di sana, karena tidak ada konsep waktu di dalam sihir ruang, jadi... Semua baik-baik saja.” “Tidak Eishi, kami tidak mengkhawatirkan soal sihir ruang ataupun kentangnya. Yang ku khawatirkan itu justru dirimu,” kata Paman Jerome. “Apa yang di katakan Jerome benar, kau baru saja sampai di desa. Setelah perjalanan yang panjang dan melelahkan, bukan kau berhenti sejenak di sini, tapi kau sudah memutuskan untuk pergi lagi,” sahut Paman Mizzre. “Setidaknya beristirahatlah selama dua hari dulu,” imbuh Bibi Merry. “Eishi, kau yakin akan berangkat lagi? Semua yang di katakan oleh para warga benar. Kau adalah orang yang paling bekerja keras dalam perjalanan kemarin, kau pantas mendapatkan istirahat yang cukup,” kata Rya. “Jangan terlalu memaksakan dirimu,” imbuhnya dengan raut wajah khawatir. “Kau tidak perlu khawatir, aku tidak sedang memaksakan diriku. Tenang saja, aku juga tidak akan melewati batas!” “Tapi mungkin aku juga tidak sengaja melewatinya, sedikit,” gurauku. “Tapi bukankah Hathor akan selalu melindungiku kemanapun aku pergi. Tidak akan ada sesuatu yang buruk yang akan mendekatiku, selama Hathor bersamaku.” “Anda bisa Percaya pada saya, Nona Rya. Seperti yang di katakan oleh Kepala Desa, tidak akan ada bahaya apapun mendekat selama saya di sisinya.” Kalimat yang ku katakan atau yang di imbuhi oleh Hathor tidak cukup untuk meyakinkan Rya. Bahkan tidak hanya dirinya, warga desa juga kelihatan murung dan merasa tidak enak padaku. Mendapatkan perhatian dari orang sebanyak ini saja membuatku sangat senang. Menjadi orang yang dapat di andalkan dan di cemaskan oleh mereka, aku merasa tidak ada yang seberuntung diriku. “Maaf semuanya, tapi aku masih harus pergi. Istirahat bisa menunggu, tapi waktu tidak. Tenggat waktu terakhir yang di tetapkan oleh Kerajaan Badamdas sudah dekat. Kita tidak pernah telat dan kita tidak akan menunda-nunda.” “Tapi...” “Baiklah, aku mengerti. Setelah semua ini selesai... Aku akan habiskan satu minggu waktuku untuk beristirahat dengan tenang.” “Tapi sebaiknya kalian semua menggantikan pekerjaanku.” “Apa kalian mau?” Wajah mereka mulai berubah, seperti bunga layu yang di siram oleh air. Wajah yang kusut itu kembali segar dan ceria. “Tentu saja! Kepala Desa... Anda bisa lebih mengandalkan kami!” “Ya! Kami juga sering melihat caramu melakukannya,” “Meskipun tidak sebaik dirimu. Jika kami semua bekerja sama, hasilnya pasti tidak akan jauh berbeda dari pekerjaanmu.” “Ya! Serahkan pada kami!” Astaga... Kalian benar-benar orang yang bisa di andalkan. Aku senang telah di kagumi oleh orang-orang seperti kalian. Aku pun akan berusaha! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN