Kerajaan Palapis

1544 Kata
Dia memang menawar padaku, tapi dia begitu memaksa. Earl Balezza ini bahkan bertindak tidak tau malu dengan membuat para penjaganya bergerak untuk menghadangku. “Duduklah dulu Tuan Ichigaya, mari kita bicarakan soal harganya sampai kau benar-benar menemukan harga yang cocok. Tidak usah buru-buru menolak, dan ku sarankan kau jangan menolak, ini demi kebaikanmu,” ujar Tuan Balezza. Benar-benar orang yang sangat memaksa. Apa hanya karena di sini adalah kotanya, Pria Earl ini merasa bisa bertindak seenaknya. Baiklah, akan kubiarkan dia melayang tinggi sejauh yang dia bisa. Aku akan menjatuhkannya setelah itu. Aku lalu duduk dan berpura-pura mendengarkan omong kosong yang akan di katakan oleh Earl Balezza. Prajuritnya lalu menyarungkan pedang mereka kembali dan bersiaga di samping pintu. “Penawaran terakhirku adalah seribu dua ratus keping emas, kau harus memberikan benda yang ku inginkan itu. Pikirkanlah baik-baik Tuan Ichigaya, lebih baik kau menerima uangnya daripada kau harus menerima tebasan dari para prajuritku.” “Mereka adalah para elit yang terlatih, mereka adalah pemberantas kriminalitas yang ada di kota ini, tidak ada kesempatan untuk seorang penjahat melancarkan aksinya,” imbuh Tuan Balezza sambil menyombongkan prajurit yang ia bawa. Jadi meraka yang sedang berbaris di sini adalah polisi kota yang ku maksud. Karena kota ini milik Balezza, wajar kalau mereka mengikuti permintaan konyol orang tua ini. “Orang lain tidak mendapat kesempatan melakukan kejahatan mereka, tapi anda bisa dengan bebas melakukannya. Tuan Earl, memberikan ancaman itu adalah sebuah tindak kriminal,” ujarku. “Lalu? Ada apa dengan itu? Ini kotaku, ini aturanku. Jika aku mengatakan benar, maka benar. Jika salah, maka salah. Jika tidak terima, mati saja.” “Tuan Earl, asal anda tau saja. Saya... Sangat membenci dua hal. Yang pertama adalah buah Alp yang sangat asam yang saya cicipi pertama kali saat tersesat di tengah Hutan Nimiyan. Yang kedua... Ancaman.” Kemudian aku menyobek kertas yang ku pasang mantra agar Hathor segera pergi ke tempatku. Butuh waktu satu menit untuk dia sampai kemari. Tapi kalau Hathor sudah sampai... Bahkan satuan unit prajurit ini akan terlihat seperti bayi di hadapannya. Aku melempar kertas mantra yang sudah ku sobek ke hadapan wajah Tuan Earl Balezza agar dia kesal. Lalu aku tersenyum sinis kepadanya. “Tuan Ichigaya, apa kau berani menyinggung dan melawan seorang Earl sepertiku? Seorang Kepala Desa yang bahkan tidak memiliki pangkat Baron berani?! Jangan terlalu menganggap tinggi dirimu, Nak!” “Tuan Earl, jangankan melawan orang yang berstatus Earl sepertimu, bahkan aku pernah membayangkan untuk mengkudeta seorang raja. Kenapa untuk orang rendah sepertimu aku harus takut melakukannya?” dengan sikap arogan aku mengatakannya. Sudah ku duga orang itu akan tersulut amarah dan mulai memberikan isyarat tangan untuk membuat prajuritnya bergerak. Tapi! Semua itu sudah terlambat. Dengan satu ayunan tombaknya Torn menembus dinding kayu dan menghempaskan prajurit Earl Balezza yang berdiri di baliknya. “Aduh-aduh... Bagaimana jika kau mengenaiku? Bukankah aku bisa terkapar seperti mereka juga?” ucapku sambil tersenyum. Hathor tiba dengan sikap yang begitu ganas, bahkan tubuhnya seperti mengeluarkan asap dari mulutnya. Benar-benar pemandangan yang mengerikkan. “Earl Balezza... Perkenalkan... The Incredible Hathor!” seruku yang lalu berdiri dari kursi tempatku duduk. Earl Balezza nampak sangat ketakutan, sekarang kesatuan perajurit yang ia sombong-sombongkan sudah tersungkur dan tak dapat bangkit lagi. “Jangan mendekat! Atau aku akan menggunakan sihirku padamu!” Pak tua itu ketakutan dan perlahan merangkak mundur. Meskipun dia melepaskan sihir sekalipun, memangnya sihir hebat seperti apa yang bisa di keluarkan oleh orang dengan Level 21. Bahkan dengan ketahanan sihirku mungkin aku bisa menahan satu atau dua mantra dari orang ini. Setelah bersikap angkuh dia benar-benar gemetaran kali ini. Sungguh menyedihkan. “Aku bilang untuk tidak mendekat!” ucap Sang Earl. “Tuan Ichigaya, sebaiknya anda hentikan semua ini. Atau anda akan sangat sulit keluar dari kota ini nanti,” torso memohon padaku dengan wajah memelas. “Benar apa yang di katakan oleh Torso, jika kau tidak segera menghentikan kegilaan ini. Kau akan sulit keluar dari Tarsa,” imbuh Earl Balezza sambil cengar-cengir merasa masalahnya akan selesai. Aku menghentakkan kakiku dengan keras tepat di antara sel4ngkangannya. “Oy gendut, apa kau mengancamku lagi? Situasi yang kau hadapi saat ini adalah hasil dari mengancamku, apa kau tidak belajar dari sana?” bentak ku. “Ma-ma-maafkan aku, aku benar-benar salah telah mengancammu, Tuan Eishi.” “Tolong lepaskan aku, tolong!” pria gendut itu berlutut memohon di hadapanku. Benar-benar orang yang memuakkan, setelah merasa dirinya di atas segalanya dia menyombongkannya. Hanya terjatuh sedikit lebih rendah dia kemudian menjadi samp4h. “Tuan Earl, kekacauan ini dipicu oleh mu. Kuharap semua kerusakan yang di terima oleh Penginapan ini, kau dapat menggantikan biaya perbaikannya. Bukankah kau menawarkanku banyak uang tadi? Menghabiskan untuk merenovasi kerusakan di sini tidak akan menjadi masalah untukmu, bukan?” “Tidak masalah Tuan, saya akan melakukannya. Saya akan memperbaiki kerusakannya.” “Bagus, di sini ada Torso yang menjadi saksinya, ku harap kau tidak akan lepas dengan tanggung jawabmu kepada penginapan ini.” “Baik Tuan Ichigaya, saya akan melakukan sesuai dengan apa yang telah di katakan oleh anda,” jawab Earl Balezza. “Hathor, mari pergi. Kita harus berangkat sekarang. Kita tidak boleh menghabiskan terlalu banyak waktu untuk urusan kony0l ini. Kerajaan Palapis sedang menunggu kita.” “Baik Kepala Desa!” **** Kami mulai melanjutkan perjalanan kami lagi, untungnya Earl Balezza tidak cukup bod0h untuk menentang kami lagi, dia langsung lari ketakutan ketika memiliki kesempatan untuk kabur. “Aku mendengar suara ledakan dari penginapan, sesuatu sebesar apa yang terjadi disana?” ujar Paman Bern. “Seorang bangsawan mencoba memalak kita, dengan mengedepankan posisi dan kekuatannya dia berpikir bisa menekan kita dan mengambil apa yang dia mau. Berkat Hathor, aku bisa selamat dari ruangan itu.” “Jadi seorang Earl yang disebutkan oleh Torso menyembunyikan niat buruk, ya?” “Sesuai dugaanku, dia mengincar barang menarik milik kita. Bagaimana pun karena persediaan logam kita terbatas, mana mungkin kita menjual benda dari logam yang kita punya? Sampai memiliki tambang yang cukup untuk memproduksi sepeda secara massal. Kita tidak akan oernah menjual sepeda ini kemanapun.” “Oh ya? Bagaimana dengan kalian? Earl Balezza membawa orang-orangnya masuk ke dalam ruangan untuk mengancamku, apa dia meletakkan orang-orangnya di kandang kuda juga?” “Ya, kami berhadapan dengan tiga orang yang cukup sombong,” jawab Torn. “Mereka bilang tidak lama lagi kau akan menyerahkan sepeda ini pada mereka.” “Mereka bilang apapun yang di inginkan oleh Earl akan di dapatkan olehnya.” “Tidak ada orang yang bisa keluar dari Tarsa jika tidak menuruti apa yang di katakan oleh Earl.” “Lalu yang paling menyebalkan adalah, saat mereka bilang untuk menyerah saja.” “Ketika suara ledakan itu terdengar mereka pun mulai menyerang kami, untungnya aku dan Lyod sudah mulai terbiasa untuk bertarung.” “Berkat kemampuan yang kita latih bersama Guru Hathor, bahkan kita merasa bisa menghadapi siapapun,” ujar Lyod. “Hahaha... Tidak boleh terlalu besar kepala. Kita masih belum seberapa, sebaiknya kita harus terus berlatih sampai bisa menghempaskan lima orang dengan satu ayunan tangan kita, seperti yang Guru Hathor kita lakukan,” sahutku. “Teman-teman lihat! Kastil yang memiliki menara menjulang tinggi itu pasti adalah kastil raja Kerajaan Palapis. Kita sudah sangat dekat dengan tujuan kita, ayo!” seruku. *** Memang tidak jauh berbeda dari tembok yang ada di Kerajaan Badamdas, Kerajaan Palapis pun memiliki tembok yang sama besarnya. Antrian yang ingin masuk ke dalam kota pun terbilang cukup ramai. Apa karena ini adalah salah satu kerajaan dengan perekonomian yang maju? Aku bisa melihat berbagai macam orang dengan ciri-ciri fisik yang berbeda, pakaian-pakaian unik yang mereka pakai menunjukkan bahwa mereka berasal dari luar negeri. “Bisa sebutkan nama kalian dan tujuan kalian datang kemari?” ujar seorang penjaga yang menjaga gerbang. Ku dengar Kerajaan Palapis terdiri dari Ras Dwarf, tapi aku tidak bisa melihat orang kerdil di manapun. Sebaliknya, aku melihat begitu banyak orang dengan ciri-ciri yang di miliki oleh sang Penjaga Gerbang. Dengan kulit sawo matang atau kecoklatan dan tubuh yang tinggi, serta rambut merah menyala dan telinga lancip tapi ukurannya pendek, mereka memiliki gigi bertaring dan retina mata mereka tampak memiliki garis lurus seperti mata kucing. “Torn, lihat... Mereka adalah Dwarf,” bisik Lyod pada Torn, aku mendengarnya samar-samar. Apa yang mereka maksud adalah orang-orang ini? Jadi mereka sebenarnya Dwarf? Kenapa sangat berbeda dengan versi Dwarf yang ku tahu. Memang tampilan mereka tidak jauh berbeda dari manusia pada umumnya, tapi ada sisi unik yang membuat identitas mereka mudah untuk di bedakan. Jadi seperti itu bentuk Dwarf yang di kenal di dunia ini. “Bisa sebutkan nama anda? Anda yang memimpin rombongan ini, bukan?” “Benar, itu saya!” sahutku. “Nama saya Eishi Ichigaya. Saya seorang Kepala Desa, urusan saya datang kemari adalah untuk berdagang.” “Baiklah, apa anda punya kartu serikat perdagangan?” tanya penjaga itu. Kartu Serikat Dagang, ya. Kalau tidak salah Paman Bern pernah memberikanku itu. “Apa ini bisa di gunakan di tempat ini?” “Kartu Serikat Perdagangan Kerajaan Badamdas. Kalau tidak salah pemimpin serikat disana adalah seorang pria bernama Tarich.” “Benar, Tuan Tarich merupakan Guild Master Serikat Perdagangan di kota Irishe,” sahutku. “Jadi kalian orang-orang yang berasal dari Badamdas, dengan ini identifikasi kalian sudah selesai. Tidak ada hal yang mencurigakan. Kalian boleh masuk ke dalam.” “Selamat datang di Negeri para Dwarf, Kerajaan Palapis!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN