PERMINTAAN NIKAH KONTRAK

1034 Kata
"Lo mau pulang kemana? Naik apa? Lihat ini pukul berapa? Gak usah sok jadi perempuan kuat dan berani. Kalau lo belum bisa jaga diri lo sendiri. Kejadian kayak tadi itu bakal terulang lagi. Lo itu seharusnya banayk terima kasih sama gue. Lebih tepatnya, lo itu hutang budi sama gue!" tegas Aksara mulai kesal. Capek juga jelasin panjang lebar kayak begini sama cewek keras kepala seperti Aruna. Ya, Dia itu memang Aruna Maheswari, namanya sellau dielu-elukan di seluruh Kampus. Bukan cuma parasnya yang cantik, tapi juga otaknya yang sangat encer dan satu hal lagi yang menambah kelebihan Aruna. Dia seorang aktivis perempuan di Kampus yang berani berorasi untuk keadilan. Jasanya sudah banayk sekali bagi para mahasiswa atau mahasiswi yang memang layak diperjuangkan. Tapi, malam itu mengubah semua cerita indah yang diukir Aruna menjadi sebuah cerita kelam yang dirasakan hingga saat ini. Musuhnya pun tak main-main, dia petinggi Kampus dengan anak buah yang mulai dipencar untuk menjatuhkan Aruna. Aruna melihat ke arah jam dinding yang menempel disana. Arah jarum jam pendek mengarah tepat pukul satu malam. Aruna menghirup napas dalam dan kembali dduk di kursi. Ia diam menatap nanar pada meja. Satu per satu kalau diruntut semuanya hilang. Beasiswanya dicabut tiba-tiba. Pekerjaan part timenya disebuah kafe internet pun mendadak diganti posisinya. Aneh tapi nyata. Dibilang tidak wajar tapi semuanya terlihat normal. Lalu, kos yang ia tempati saat ini sering kedatangan paket aneh di depan kamarnya. Mulai paket kepala kucing yang sudah mati, bangkai tikus, sampai kodok yang lidahnya keluar pun ada di depan kamarnya. Sungguh luar biasa permainan gila ini. Aruna mau marah? Tidak bisa. Ia mau marah dengan siapa. Aruna mau lapor? Kepada siapa? Pemilik kost tidak tahu menahu. Malahan, ia ditegur karena sudah membuat gaduh dnegan adanya paket aneh bin bikin mual itu. Aruna mengangkat wajahnya menatap Aksara yang masih tajam menatap Aruna. "Biaya kuliah Aruna bakal ditanggung sampai lulus? Sampai wisuda?" tanya Aruna melemah. Ia pasrah dengan keadaan saja. Kalau tidak diterima, ia mau cari kerja apa lagi? Tidak ada pekerjaan semudah di Kafe Internet karena bisa menyesuaikan jadwal Kampus. "Yap. Sampai lo lulus dan biaya make up, kebaya, pokoknya semua," jelas Aksara dengan senyum penuh arti. "Kalau gak menikah gimana? Jadi pacar? Atau apa gitu? Jadi pembantu dirumah ini, mungkin?" pinta Aruna berharap Aksara melupakan permintaannya tadi. "Me -ni -kah!" tegas Aksara tanpa mau dibantah lagi. "Alasannya?" tanya Aruna lagi. Aruan merasa takut. Pikirannya selalu jelek terhadap Aksara. Aksara mengambil sesuatu dari laci dan meletakkan kertas itu di meja tepat di depan Aruna. "Baca, pahami dan cepat ambil keputusan! Tidak usah banyak tanya dan suatu hari nanti, lo juga bakal tahu. Setelah lo tahu, gue jamin, lo bakal beribu minta maaf sama gue," tegas Aksara penuh percaya diri. "Dih, sok kepedean," jawab Aruna mengambil kertas itu dan membaca semua aturan yang ada. Diatas tertulis jelas pernikahan kontrak. Ada beberapa poin disana dan Aruna membacanya dengan baik. Jangan sampai ia tertipu dengan Aksara, si berandal kampus. Ya, dia itu Aksara Putra, kakak tingkat tiga tahun diatas Aruna. Dia bukan cuma di juluki Berandal Kampus tapi juga Mahasiswa Abadi tapi bukan pembuat onar. Menurut gosip yang ada, dulu Aksara itu adalah idola kampus. Ia pemain basket handal yang sering diikutkan turnamen di Kampus. Dan pastinya membuat nama baik Kampusnya itu menjadi harum. Tapi, ada satu cerita yang trelewatkan dan tidak pernah tersentuh hingga membuat seorang Aksara berubah seratus delapan puluh derajat. "Deal!" ucap Aruna sambil menyodorkan tangannya. Demi uang, demi baiya kuliah gratis, demi kebutuha hidup terpenuhi dan demi tempat tinggal yang cukup nyaman ini. "Deal! Besok pagi kita ke KUA, kita menikah disana, biar langsung dapat surat nikah. Besok gue anter ke kos lo, buat ambil berkas sama barang-barang lo yang penting aja. Sisanya lo sedekahin buat temen kos lo. Gue bakal beliin semua kebutuhan lo. Dah, sekarang lo tidur dikamar gue. Dan gue tidur di kursi yang lo dudukin sekarang," jelas Aksara lagi. "Oke," jawab Aruna pasrha. Entah kenapa malam itu, Aruna merasa menurut saja dengan Aksara. Semua kata-kata Aksara tidak ada yang salah dan perlu direvisi. Aksara menunjukkan kamar tidurnya kepada Aruna. Aruna langsung menutup pintu kamar dan berjalan pelan menuju ranjang. Jantungnya berdegup sangat keras, Ini benar-benar tidak normal detak jantungnya. Pandangan Aruna mengedar di seluruh kamar. Kamar yang bangunannya juga dari kayu dan interiornya sangat elegan. Semua barangnya nampak mewah dan tidak murahan. Aruna duduk di tepi ranjang. Tatapannya fokus kepada satu bingkai foto yang ada di meja belajar itu. Aruna kembali berdiri dan mengambil bingkai foto itu. Terlihat Aksara yang masih terlihat lebih muda dari pada saat ini. Ia berfoto dengan wanita setengah baya yang masih cantik. Apa mungkin itu kakak perempuannya? "Ganteng sih, tapi gak lulus-lulus," ucap Aruna terkekeh. Bayangkan saja, pagi-pagi sekali, Aksara sudah berada di Kampus. Ia bersiul-siul menggoda gadis yang lewat di depan tangga lobi. Tidak sedikit gadis-gadis itu baper dan berlari cepat untuk manahan salah tingkahnya. Dan itu menjadi kepuasan Aksara dan genk -nya. Kegiatannay hanay seputar itu, lalu makan di Kantin dan balik lagi duduk di tempat yang sama. Kadang teman-teman nongkrongnya ganti dan bahkan bertambah. Aneh sekali, pokoknya. Kedua mata Aruna mulai tak kuat menahan rasa kantuk. Bleum lagi rasa lelah seharian ini berada di Kampus untuk kuliah dan menyelesaikan proposal untuk mecari donatur acara seminarnya. Aruna pun langsung terlelap. Ditempat lain, Aksara sedang menatap langit-langit atap rumahnya yang unik ini. Malam ini, tidak seperti malam sebelumnya. Teror itu semakin nyata dan berani untuk melumpuhkan Aruna. Mungkin bisa jadi, mereka ingin melenyapkan Aruna karena kasus asusila itu? "Aku harus minta bukti itu ke Aruna," batin Aksara yang berusaha memejamkan kedua matanya. *** Keesokkan harinya, Aksara sudah bangun lebih dulu dan mmebuatkan s**u serta menyiapkan roti untuk Aruna. Aruna baru bangun dan keluar dari kamar. Ia sudah cuci muka di wastafel kamar mandi mini di dalam kamar itu. Aksara menoleh ke arah asal suara langkah dan menatap Aruna yang tetap cantik walaupun tidak berdandan. "Kenapa ngeliatinnya kayak gitu sih?" ucap Aruna kesal. "Hmm ... Sarapan dulu, baru kita ke kos lo," jelas Aksara menyeruput kopi s**u miliknya. Aruna duduk di kursi makan dan menatap sarapan dengan penuh senyum. Sudah lama ia tidak makan roti tawar kupas dengan selai nutela yang katanya enak dan harganya cukup mahal untuk kaum mendang mending seperti Aruna.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN