Siska tidak pernah menyangka bahwa melihat Rindra menggandeng Clarissa akan memberikan efek seperti disiram air keras tepat di wajahnya. Bukan karena ia masih mencintai Rindra—cinta adalah kata yang sudah ia hapus dari kamus pribadinya sejak lama—tapi karena pengkhianatan itu terasa begitu... murah. Rindra adalah pelarian finansialnya, dan Clarissa adalah "murid" yang ia kasihani. Melihat keduanya bersatu di lobi hotel itu seperti menyaksikan semua investasi emosional dan harga dirinya terbakar habis dalam satu malam.
Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang melampaui batas kewajaran di jalanan Jakarta yang mulai lengang. Air mata tidak turun, tapi dadanya sesak oleh tawa kering yang tersangkut di tenggorokan.
"Hebat, Siska. Lo benar-benar guru yang hebat," gumamnya sinis sambil mencengkeram kemudi.
Ia tidak pulang ke apartemennya yang dingin dan penuh barang-barang bermerek yang kini terasa seperti sampah mewah. Ia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan setapak di kawasan Jakarta Timur, tak jauh dari rumah sakit tempat Bu Asih dirawat. Ia hanya duduk di sana, menatap kegelapan, hingga fajar mulai menyingsing dan memberikan warna abu-abu pada langit.
Pukul tujuh pagi, ia sudah berada di kamar Bu Asih. Riasannya berantakan, matanya merah, namun ia tetap mencoba memasang senyum saat melihat wanita tua itu sudah duduk di tepi tempat tidur, mencoba melipat selimutnya sendiri.
"Mbak Siska? Kok sepagi ini sudah sampai? Wajahmu... kamu nggak tidur, nduk?" tanya Bu Asih cemas.
"Siska cuma banyak kerjaan, Bu. Tadi langsung dari kantor," bohong Siska lagi. Ia duduk di kursi plastik di samping ranjang, menggenggam tangan Bu Asih. "Ibu merasa lebih baik?"
"Ibu sudah sehat, Siska. Ibu mau pulang saja. Rumah sakit ini mahal, nduk. Ibu nggak mau kamu habiskan uangmu cuma buat orang tua seperti Ibu."
Siska menggeleng kuat. "Uang Siska masih banyak, Bu. Jangan dipikirkan."
Namun, di dalam tasnya, ponsel Siska bergetar. Sebuah notifikasi dari bank menunjukkan bahwa saldo rekening utamanya baru saja terpotong otomatis untuk cicilan apartemen dan bunga kartu kredit yang membengkak. Saldo yang tersisa kini hanya cukup untuk bertahan hidup beberapa minggu jika ia tetap memaksakan gaya hidupnya.
"Ibu... kalau nanti Siska nggak tinggal di apartemen lagi, Ibu mau kan tinggal sama Siska di rumah yang lebih kecil?" tanya Siska tiba-tiba.
Bu Asih menatap Siska dengan pandangan yang dalam, seolah bisa melihat semua kebohongan yang selama ini Siska susun rapi. "Siska, Ibu lebih suka tinggal di gubuk tapi hatimu tenang, daripada di istana tapi kamu harus menjual jiwamu setiap malam. Ibu tahu, nduk. Ibu nggak buta."
Siska tertegun. Ia ingin bicara, tapi suaranya tercekat. Ia hanya bisa menyandarkan kepalanya di bahu Bu Asih, membiarkan keheningan rumah sakit menyelimuti mereka.
Flashback - Usia 16 Tahun (Puncak Kehancuran)
Hari itu adalah hari di mana rumah besar di Menteng resmi berpindah tangan. Siska berdiri di depan gerbang besi tinggi yang kini digembok. Di belakangnya, sebuah truk pengangkut barang membawa sisa-sisa kenangan masa kecilnya—beberapa potong baju, buku sekolah, dan sebuah boneka beruang yang sudah mulai kusam.
Freddy dan ibunya berdiri di dekat mobil masing-masing, tidak jauh dari sana. Mereka baru saja menyelesaikan urusan administrasi penjualan rumah. Tidak ada tangisan, tidak ada pelukan perpisahan. Hanya ada rasa lega yang terpancar dari wajah keduanya karena akhirnya ikatan terakhir mereka telah putus.
"Siska, ini uang saku terakhir dariku. Aku sudah transfer ke rekening Bu Asih," kata Freddy dingin sambil memakai kacamata hitamnya. "Aku harus segera ke bandara. Proyek di Kalimantan tidak bisa menunggu."
Ibunya, yang tampil glamor dengan syal sutra, hanya memberikan amplop berisi uang tunai. "Gunakan ini untuk biaya masuk SMA-mu, Siska. Salonku sedang sibuk-sibuknya. Kalau butuh apa-apa, telepon Bu Asih saja. Dia yang akan menjagamu."
"Kalian benar-benar nggak mau aku ikut?" tanya Siska kecil, suaranya nyaris hilang ditiup angin.
"Ikut ke mana, Siska? Aku akan tinggal di mess perusahaan. Nggak cocok buat anak kecil," sahut Freddy tanpa menoleh.
"Dan aku akan sering bepergian dengan rekan bisnisku. Kamu akan lebih aman dengan Bu Asih," tambah ibunya.
Siska melihat dua mobil mewah itu meluncur pergi ke arah yang berlawanan, meninggalkan dirinya berdiri di trotoar bersama Bu Asih. Ia merasa seperti sampah yang sengaja diletakkan di pinggir jalan karena sudah tidak berguna lagi.
Saat itu, Siska menoleh ke arah Bu Asih. "Bu, kenapa mereka jahat banget?"
Bu Asih mengusap air mata Siska. "Mereka bukan jahat, nduk. Mereka cuma terlalu mencintai diri mereka sendiri sampai nggak ada sisa buat orang lain. Tapi Mbak Siska punya Ibu. Kita ke rumah Ibu ya? Kecil, panas, tapi nggak ada yang akan teriak-teriak di sana."
Malam itu, di rumah kontrakan Bu Asih yang sempit, Siska bersumpah pada dirinya sendiri. Ia tidak akan pernah membiarkan dirinya ditelantarkan lagi. Ia akan membangun "istana" sendiri dengan uang yang ia cari sendiri. Ia tidak butuh cinta, ia hanya butuh kekuasaan agar tidak ada yang berani membuangnya lagi.
Masa Kini - Usia 35 Tahun
Siska keluar dari rumah sakit dengan langkah gontai. Ia harus mengambil keputusan besar. Ia tidak bisa terus bertahan di apartemen mewahnya. Beban biayanya terlalu besar, dan sumber pendapatannya mulai mengering.
Ia menuju kantor agen properti, meminta mereka untuk menjual apartemennya sesegera mungkin, meski harus dengan harga di bawah pasar (distress sale). Ia juga menjual mobil mewahnya ke sebuah dealermobil bekas. Saat ia menyerahkan kunci mobil yang selama ini menjadi simbol kesuksesannya, Siska merasa separuh nyawanya ikut hilang.
"Bomat," bisiknya, kali ini dengan nada pasrah. "Semuanya cuma titipan."
Sore harinya, ia kembali ke apartemen untuk mulai mengepak barang-barang. Ia melihat tumpukan tas desainer, sepatu-sepatu mahal, dan perhiasan yang ia dapatkan dari berbagai pria selama sepuluh tahun terakhir. Ia mulai memasukkannya ke dalam koper, bukan untuk dibawa pindah, tapi untuk dijual ke toko barang second-hand mewah di pusat kota.
Saat ia sedang sibuk membungkus sepatu, bel pintunya berbunyi. Siska mengintip melalui lubang intip. Rindra.
Siska membuka pintu dengan wajah datar. "Mau apa kamu di sini?"
Rindra masuk tanpa diundang, wajahnya tampak gusar. "Siska, aku dengar dari Linda kamu nerima tawaran Pak Handoko dan sekarang kamu mau jual apartemen? Kamu gila?"
"Gila kenapa? Ini punya aku. Aku bebas ngapain aja," sahut Siska ketus.
"Siska, kalau kamu butuh uang, kamu bisa minta aku! Jangan bikin malu aku dengan jual aset seperti ini. Orang-orang akan pikir aku nggak bisa kasih makan kamu!" Rindra berteriak, egonya sebagai pria kaya terusik.
Siska tertawa keras. Tawa yang membuat Rindra terdiam. "Kasih makan? Rindra, kamu pikir aku ini hewan peliharaan? Kamu ke mana saja waktu aku di rumah sakit? Oh, aku tahu. Kamu lagi sibuk 'kasih makan' Clarissa di hotel, kan?"
Wajah Rindra memucat. "Kamu... kamu lihat?"
"Aku lihat semuanya. Dan kamu tahu apa yang paling lucu? Clarissa pakai teknik yang aku ajarkan. Jadi secara teknis, kamu masih 'bersama' aku, cuma dalam versi yang lebih muda dan lebih bodoh."
Rindra mencoba mendekat, ingin memegang tangan Siska. "Siska, dengerin dulu. Clarissa itu cuma selingan. Dia nggak ada apa-apanya dibanding kamu. Aku cuma bosan sebentar. Tolong, jangan jual apartemen ini. Aku akan bayar semua cicilannya, asal kamu tetap di sini."
Siska menepis tangan Rindra dengan kasar. "Terlambat, Rindra. Aku sudah bosan jadi barang koleksi. Aku sudah bosan jadi 'pilihan kedua' setelah istri kamu atau selingkuhan baru kamu. Keluar dari sini. Sekarang."
"Siska, kamu bakal menyesal! Kamu nggak akan bisa hidup miskin! Kamu nggak akan tahan hidup tanpa AC sentral dan wine mahal!" ancam Rindra sebelum akhirnya melangkah keluar dengan gusar.
Setelah pintu tertutup, Siska merosot ke lantai. Ia menangis sesenggukan. Bukan karena kehilangan Rindra, tapi karena ia sadar betapa rendahnya ia selama ini di mata pria-pria itu. Ia pikir ia berkuasa atas mereka, tapi nyatanya ia hanya bagian dari anggaran hiburan mereka.
Ia melihat sekeliling ruang tamu mewahnya. Rumah kaca yang ia bangun dengan susah payah selama bertahun-tahun kini benar-benar pecah berantakan.
Ia bangkit, menghapus air matanya, dan melanjutkan kegiatannya mengepak barang. Ia menemukan sebuah kotak kecil di bawah tempat tidurnya. Di dalamnya ada sebuah ijazah sarjana yang sudah berdebu. Siska teringat saat ia kuliah dulu. Ia sebenarnya pintar. Ia lulus dengan predikat memuaskan di jurusan komunikasi. Tapi ia memilih jalan pintas karena ia pikir uang cepat adalah segalanya.
"Mungkin belum terlambat," bisiknya pada diri sendiri.
Malam itu, Siska tidur di atas lantai beralaskan karpet tebal, karena ranjangnya sudah mulai dibungkus untuk dikosongkan. Ia merasa asing di rumahnya sendiri. Namun, anehnya, ada perasaan lega yang mulai menyelinap. Ia tidak perlu lagi bangun pagi-pagi hanya untuk menutupi kerutan sebelum pria di sampingnya bangun. Ia tidak perlu lagi mengatur jadwal pertemuan rahasia di hotel-hotel mewah.
Besok, ia akan menjemput Bu Asih dari rumah sakit. Mereka akan pindah ke sebuah rumah kecil yang ia sewa di pinggiran Jakarta, dekat dengan lingkungan lama Bu Asih. Ia akan memulai hidup baru. Hidup sebagai Siska yang nyata, bukan Siska sang "Gadis Bomat" yang hampa.
Namun, saat ia hampir terlelap, ponselnya bergetar. Sebuah email masuk. Dari sebuah firma hukum.
“Perihal: Gugatan Hukum atas Pencemaran Nama Baik dan Pelanggaran Kontrak Rahasia – Pengirim: Pak Gunawan.”
Siska mematikan layar ponselnya dengan tangan gemetar. Pak Gunawan ternyata tidak melepaskannya begitu saja. Negosiasi di hotel kemarin hanyalah jebakan agar Siska mengakui tindakannya. Kini, ia terancam tuntutan hukum yang bisa menguras habis sisa uangnya dan bahkan menjebloskannya ke penjara.
"Terhempas," bisik Siska ke arah kegelapan. "Ternyata dasarnya masih jauh di bawah sana."
Ia memejamkan mata, memeluk boneka beruang kusamnya yang ia temukan kembali di dalam koper. Di tengah badai yang makin hebat, ia hanya berharap Bu Asih tetap kuat. Karena jika Bu Asih pergi, Siska benar-benar tidak akan punya alasan lagi untuk bertahan di dunia yang seolah tidak pernah mengizinkannya untuk benar-benar bebas.