3. Emerrath

1189 Kata
Gia sedang berjalan-jalan di sekitar hutan itu menggunakan jubah hitamnya. Tiba-tiba saja sebuah anak panah mengarah kepadanya, tetapi anak panah itu meleset dan menancap pada pohon. Marc tiba-tiba saja muncul di samping Gia hingga membuatnya terkejut. “Marc, kau mengejutkan aku,” ujar Gia. Jantungnya berdetak cukup kencang, dan membuat Marc menyeringai karena dapat mendengarnya. Pria itu mencari asal anak panah itu, dan melihat ada banyak hewan disekitar sana. “Putri, sebaiknya kita segera pergi dari wilayah ini,” ujar Marc. “Bagaimana dengan Ollmund?” tanya Gia. “Aku di sini, Putri.” Suara Ollmund terdengar dari belakangnya. Gia membalikkan tubuhnya dan melihat Ollmund berdiri di sana. Akhirnya mereka kembali berjalan dan tidak menghiraukan siapa yang hampir saja memanah Gia. Sementara itu, setelah kepergian mereka, seorang pria dengan menunggang kuda mencabut anak panahnya. “Putri Aarin kembali, kali ini aku tidak akan melepaskannya,” gumam pria penunggang kuda itu. Ia segera pergi dari sana dan menuju ke tempat yang di tuju oleh Gia bersama kedua Hellhound itu. Tidak hanya pria itu yang ada di sana dan menyaksikan kehadiran Gia sebagai Putri Aarin, seorang pria lain yang ada di balik bayangan melihat semuanya. “Dan aku juga akan pergi ke sana untuk merebut dirimu Putri,” ujar pria itu yang akhirnya menghilang di dalam bayangan. Ollmund dan Marc dapat merasakan kehadiran pada Dewa yang tidak tahu diri di dalam hutan itu. Dan hal itu membuat keduanya menjadi bersiaga agar tidak kehilangan kewaspadaan pada Putri Aarin. “Kalian kenapa? Kenapa mata kalian berubah menjadi merah?” tanya Gia yang sedikit takut. “Tenanglah, Putri. Mata ini hanya sebagai kewaspadaan kami terhadap keselamatanmu hingga sampai di Meteora,” ujar Marc. “Baiklah, tetapi aku takur melihat mata itu,” ujar Gia sekali lagi. “Gunakan kerudung hitam itu untuk menutup kepalamu, Putri,” sahut Ollmund. Gia tidak punya pilihan lain selain menuruti keinginan kedua Hellhound itu. Kini ia berjalan di tengah mereka dengan bagian kepala yang tertutup oleh kerudung dari jubah yang dikenakannya. Mereka memasuki sebuah gerbang dua dunia, perisai yang tidak dapat terlihat oleh mata manusia biasa, kini dapat dilihat oleh Gia. “Apa itu? Kenapa ada kabut?” tanya Gia. “Itu adalah gerbang yang akan mengantarkan kita ke dunia Emerrath, Putri,” jelas Marc. “Dunia Emerrath? Apa itu?” tanya Gia yang tidak mengerti. “Setelah melewatinya kau akan tahu,” sahut Ollmund. Akhirnya mereka melewati gerbang dua dunia itu, dan Gia sampai di sebuah hutan yang sangat sejuk. Udara di sana sangat berbeda dari sebelumnya. Ada banyak sekali hewan dan tumbuhan aneh yang tidak pernah Gia jumpai di alam manusia. Bahkan di sana ada hewan yang sudah dinyatakan punah. “Indah sekali,” gumam Gia. “Sebaiknya kita cepat menuju Meteora, karena Leora pasti bisa merasakan kehadiran Putri Aarin. Jika kita terlambat, akan ada mereka yang tidak ingin aku temui,” gerutu Ollmund. “Aku juga. Putri, maaf jika kali ini kami lancing,” ujar Marc yang akhirnya meraih tubuh Gia dan membawanya berlari dengan cepat hingga sampai di satu tempat. Dan mereka telah di jantung dari hutan itu. Di sana ada sebuah air terjun dengan batu yang tersusun rapid an menjulang tinggi ke atas langit. Pada puncak batu itu, tidak hanya manjadi pusat air itu berada, tetapi juga ada sebuah tempat yang bernama Meteora. Byur … Suara seseorang yang baru saja masuk ke dalam air. Gia yang terkejut melihat Marc dan Ollmund masih berada di sisinya, tetapi siapa yang sudah masuk ke dalam air. “Marc, apa ada orang lain di sini? Karena mata kalian berubah lagi menjadi merah,” tanya Gia. “Kalian sudah datang rupanya.” Suara laki-laki dari balik pohon. Ketiganya menengok ke asal suara, dan melihat seorang pria tampan di sana, dengan pakaian layaknya bangsawan terlihat jelas pria itu sedang menyeringai melihat Putri Aarin berada di hadapannya. “Putri Aarin, akhirnya kau kembali,” ujarnya lagi. “Diam di sana Asreus,” tegas Ollmund. “Kalian hanya peliharaannya saja, kenapa begitu posesif pada sang Putri,” celoteh pria bernama Asreus. Asreus adalah seorang dewa bayangan, ia selalu mengetahui siapa saja yang datang ke dalam Emerrath menggunakan kekuatannya. Pria itu adalah salah satu dari sekian banyaknya dewa yang mencintai Putri Aarin di masa lalunya. Selain Asreus, nampak pria lain yang muncul dari dalam air. Pria bertubuh kekar dengan tubuh yang hanya tertutup pada bagian bawahnya saja, kini berjalan mendekati Gia. Belum sampai ia mendekat, kedua Hellhound itu kini berubah menjadi anjing hitam yang berukuran sangat besar. Bahkan ukuran tubuh keduanya melebihi ukuran manusia biasa. Gia yang melihat semua itu hanya bisa membulatkan matanya dan berjalan mundur. Takut dan gelisah, ingin sekali ia berlari dan kembali ke dunianya sendiri. Tetapi, sebelum kekacauan terjadi, seorang peri cantik datang untuk mengambil Gia dari kerumunan itu. Tanpa peduli dengan para pria di sana. “Si-siapa kau?” tanya Gia. “Diam, dan ikuti aku.” Wanita itu membawa Gia terbang menuju Meteora. Teriakan Gia yang baru pertama kali melakukan hal itu membuat wanita peri itu terheran. Apa kelahirannya sebagai manusia membuat keberanian seorang Putri Aarin menghilang? Sampai di dalam Meteora. Gia kini duduk dengan tubuh yang bergetar. Beberapa kali ia menelan ludahnya secara kasar. Matanya kini tertuju pada wanita yang membawanya pergi dari kerumunan para pria di bawah sana. “Ma-maaf, si-siapa kau?” tanya Gia tergagap. “Putri, maaf jika aku lancing dan berani padamu. Aku adalah Leora, peri penjaga yang sellau menjaga Meteora atas perintahmu dulu,” jelasnya. “Leora, jadi kau adalah peri yang mereka bicarakan?” tanya Gia. “Mereka?” Leora mengulang. “Ollmund dan Marc.” “Ahh … dua ekor Hellhound itu rupanya yang menemukan Putri,” ujar Leora. ‘Peri ini sangat aneh, beberapa waktu lalu ia terlihat sangat jahat, dan kini ia menjadi baik. Aku harus berhati-hati dengannya,” batin Gia. “Putri Aarin, berhati-hatilah saat membicarakan aku di dalam pikiranmu, karena aku dapat membaca pikiran siapapun di dalam dunia Emerrath ini,” ungkap Leora. Tentu saja perkataannya membuat Gia membulatkan mata. Kini ia bahkan tidak berani berbicara lewat pikirannya, dan hanya sesekali seperti mengepalkan tangan menahan emosi. “Baiklah, apa kau bisa memberitahu aku, siapa para pria yang ada di bawah itu,” tanya Gia. “Mereka? Bukankah seharusnya kau mengingat mereka?” “Yang aku ingat, namaku adalah Gia, bukan Putri Aarin. Jika kalian mengira aku adalah renkarnasi dari Putri Aarin, maka kalian hanya akan menemukan tubuhnya saja, karena di dalam diriku hanya ada aku, Gia.” Penjelasan itu membuat Leora terkekeh. “Putri aarin, kau akan mengetahui kebenarannya setelah ini, sebaiknya ganti pakaianmu terlebih dahulu,” ujar Leora sembari berjalan menuju tempat penyimpanan pakaian milik Putri Aarin. Gia menerima pakaian yang menurutnya aneh, tetapi sangat indah jika dikenakan. Setelah mengenakan pakaian itu, Gia kembali mengenakan jubah hitamnya. Dan hal itu membuat Leora menggelengkan kepalanya. “Kenapa kau gunakan jubah itu lagi, Putri?” tanya Leora. “Karena aku menyukainya, aku sangat nyaman saat menggunakan jubah ini,” jelas Gia. “Baiklah jika begitu,” ujar Leora sembari memberikan beberapa mantera pada jubah itu. Gia hanya terdiam saat Leora melakukan tugasnya. Dan setelah selesai, mereka duduk bersama. Leora ingin menceritakan tentang suatu hal pada Gia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN