Aarin kembali terbangun, ia turun dari atas ranjang dengan perlahan. Hingga akhirnya langkah kaki itu menuju ke kamar mandi yang bisa melihat indahnya pemandangan Emerrath. Seperti sedang dimanjakan di sana, air hangat ke luar dari sebuah lubang bambu yang entah dari mana asalnya. Aroma terapi yang Rhuvlous berikan di dalam sana, membuat pikiran Aarin merasa tenang. “Terlalu tenang, kemana semua para suamiku?” gumam Aarin. Tidak lama kemudian, Rhuvlous muncul dari pintu kamar mandi. Pria itu membuat Aarin terkejut, dan tanpa sadar memercikkan air ke arah Rhuvlous. “Hei, kau membuat tubuhku basah.” “Maaf, kau mengejutkan aku, Rhuvlous.” “Kau sudah lebih baik?” tanya Rhuvlous. “Ya, terima kasih.” “Kau ingin aku temani?” “Kau tidak jijik dengan tubuh ini?” Rhuvlous melepaskan pakaian

